
Selesai makan, Nicolas segera membersihkan tubuhnya. Lalu ia bersiap-siap untuk pergi ke kantornya.
Di perjalanan, ia sempat memikirkan seorang wanita yang pernah menolongnya dulu ketika ia kecelakaan tiga tahun yang lalu. Ia belum sempat berterimakasih padanya.
"Kau sekarang ada dimana gadis kecil? Aku selalu mencari-cari mu. Namun, tak pernah aku temukan sama sekali," lirih Nicolas.
Nicolas mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang tinggi, sehingga membuatnya cepat sampai di kantornya. Banyak karyawan yang menyapanya dan tersenyum padanya. Ia membalas semua sapaan dan senyuman itu.
Tepat di sebuah ruangan, ia melihat Denada sedang melakukan pemotretan untuk brand pakaian yang akan launching satu minggu ke depan.
Untuk ukuran seorang wanita, Denada sudah sempurna dengan memiliki tubuh yang seksi dan paras yang cantik, akan tetapi untuk ukuran sebagai istri, Nicolas tak ingin memiliki yang seperti Denada. Ia lebih menyukai wanita yang tidak bekerja dan mengurus rumah tangga saja.
Denada melihat Nicolas yang berada di depan ruangan pemotretannya, ia pun melambaikan tangannya pada Nicolas sambil memberikan senyum termanisnya. Sementara Nicolas hanya memberikan senyum tipis untuknya kemudian pergi menuju ke ruangannya.
"Richard, kira-kira bagaimana reaksi mu ketika bertemu kembali dengan mantan tunangan mu setelah bertahun-tahun lamanya? Apa kau akan merebutnya kembali atau kau akan bersikap bodo amat? Aku sungguh penasaran," tanya Nicolas sambil memikirkan reaksi apa yang akan ia lihat nantinya.
Posisinya di sini Nicolas tidak tahu kalau Richard sudah menikah. Karena di saat acara pernikahan, Richard hanya mengundang sahabat serta kolega bisnis terdekatnya.
***
Beberapa hari kemudian, Ele pergi berbelanja ke mal sendirian. Ia mencari hadiah yang akan ia berikan untuk kakak sepupu iparnya. Setelah menemukan barang yang ia cari, ia pun tersenyum senang.
"Bagusnya warna apa iya? Merah? Merah muda? Hitam? Atau bahkan warna yang senada dengan kulit kak Naya?"
Ele menimang-nimang pilihan warna barang yang akan ia beli. Setelah memutuskan untuk memilih warna merah muda, Ele pun langsung membayarnya. Ia meminta pelayan kasir untuk membungkusnya juga.
Senyum jail tercetak di bibirnya. Ia sudah tidak sabar melihat ekspresi kakak dan kakak iparnya esok pagi setelah melihat hadiah apa yang ia berikan.
"Setelah ini, kau harus berterimakasih padaku kak Richard. Aku berbaik hati membantu junior mu, hihi."
Ele cekikikan sendiri di jalan. Ia tak peduli bagaimana tanggapan orang saat melihatnya tertawa. Lagian tidak ada untungnya baginya.
Beberapa menit kemudian, Ele sudah sampai di kediaman Richard.
Hari sudah semakin gelap, Ele akhirnya mengendap-endap masuk ke dalam kamar Richard dan menaruh hadiahnya di atas ranjang. Berharap malam nanti mereka akan melakukan malam pertama. Untung saja kedua kakaknya tidak ada di kamar mereka. Ele bisa leluasa memasuki kamar tersebut.
__ADS_1
"Satu misi telah selesai, hehe."
Ele pun segera keluar dari kamar tersebut, sebelum Richard ataupun Naya masuk ke dalam kamar. Tanpa diduga mamanya melihat Ele keluar dari kamar Richard dan langsung menegurnya.
"Sedang apa di kamar kakakmu Ele?" tanya mama menginterogasinya.
Ele seketika kaget saat ada orang yang bertanya padanya. Saat tau itu adalah mamanya, ia hanya memberikan cengiran padanya.
"Memberikan hadiah kecil untuk pernikahan mereka. Kemarin kan aku lupa tidak memberikan apapun pada mereka," jawab Ele.
"Benarkah begitu? Kau tidak bermaksud untuk mengerjai kakakmu lagi kan?" tanya Helen sambil menelisik pikiran Ele.
Ele tak menjawab pertanyaan mamanya. Ia malah menarik mamanya untuk pergi ke kamarnya.
"Aku tidak mengerjai kakak lagi ma. Aku hanya ingin membuat mereka berdua bercinta, hehe. Aku membelikan kak Naya baju haram berwana merah muda, hehe. Supaya Kak Richard mengira bahwa kak Naya akan memberikan kejutan padanya, haha," jawab Ele sambil tertawa.
"Astaga! Akal mu ini tidak ada habisnya ya Ele! Tapi kali ini mama mendukungmu." jawab Helen.
Keduanya pun tertawa membayangkan bagaimana pasangan baru itu menikmati malam pertama mereka.
***
"Nay, lebih baik gendong Elnan ke kamar saja. Kau tidurkan dia. Ini sudah malam untuknya," pinta Richard. Naya mengangguk. Kemudian ia berdiri dari duduknya dan menggendong Naya di tangannya.
Naya berjalan menaiki tangga. Lalu masuk ke dalam kamar Elnan, memasukkan bayi kecil itu ke box bayinya, lalu mengayunkan boy bayi tersebut. Lama-lama Elnan pun tertidur dengan sendirinya. Sebelum kembali ke kamar, Naya membersihkan tubuhnya dulu dari keringatnya.
Sementara Richard, ia juga pergi dari ruang tamu menuju ke kamarnya. Saat membuka pintu kamarnya, ia terkejut karena ada sebuah kotak hadiah di atas ranjangnya. Apa isinya? Siapa yang menaruhnya? Itulah isi pikiran Richard.
Daripada banyak berasumsi, Richard memilih untuk membuka kotak tersebut. Betapa terkejutnya ia saat melihat sebuah lingerie berwarna merah muda di dalamnya.
"Apa ini semua ulah mu, sayang? Apa artinya kau sudah selesai dengan si merah sialan itu? Apa itu juga artinya aku bisa menembus kesucian mu malam ini? Memikirkannya saja sudah membuat juniorku menegang," ucap Richard sambil melihat juniornya yang sudah berdiri.
"Oh, ****! Jangan menegang dulu junior! Kau bahkan belum melihat Naya mengenakan lingerie ini. Tahan, tahan dulu. Nanti setelah Naya masuk, aku akan memaksanya untuk mengenakan baju haram ini," ucap Richard berbicara dengan juniornya. Gila memang.
Richard memilih untuk duduk di ranjang sambil berusaha untuk menasehati juniornya.
__ADS_1
Tak lama kemudian, terdengar suara pintu yang terbuka, memperlihatkan Naya yang masuk ke kamar dengan pakaian yang sudah berganti.
"Kau bahkan membersihkan tubuhmu terlebih dahulu untuk menghabiskan malam pertama kita sayang," lirih Richard.
Naya yang melihat Richard terduduk di ranjang dengan sebuah kotak yang terletak di sampingnya pun terheran-heran.
Ia tidak bermaksud memberikan hadiah untukku, kan?
Naya semakin mendekat ke ranjang, membuat junior Richard semakin menegang. Richard sudah tidak bisa menahan gairah itu. Ia pun bangkit dari duduknya dan langsung memeluk Naya dari belakang. Melingkarkan kedua tangannya di perut Naya dan menaruh kepalanya di ceruk leher Naya.
"Kau romantis sekali sayang, kau berniat untuk memberikan aku kejutan dengan pakaian yang ada di dalam kotak itu, kan?" tanya Richard kemudian mengecup leher Naya.
Naya bingung. Karena kotak itu bukanlah darinya.
"Memang apa isinya?" bukannya menjawab Naya malah bertanya balik.
"Jangan berpura-pura sayang. Cepat pakai pakaian itu! Aku ingin melihatnya," pinta Richard kemudian melepaskan pelukannya dan mengambil kotak itu lalu memberikannya pada Naya.
Naya terkaget-kaget melihat isi di dalam kotaknya. Pakaian tak layak digunakan menurut Naya.
Siapa yang membeli ini?
Beberapa detik kemudian, ia teringat dengan ucapan Ele yang akan memberikannya hadiah.
Astaga! Anak itu kenapa jahil sekali!?
Sementara di dalam kamar, Ele sedang tertawa terbahak-bahak membayangkan betapa terkejutnya keduanya di dalam kamar. Yang satu senang karena istrinya akan memberikan kejutan dan yang satunya terkejut tak percaya dengan hadiah yang ia terima dari sepupu iparnya.
***
Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.
Jangan lupa berikan like dan vote nya teman-teman.
Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.
__ADS_1
Kalian bisa juga memberikan dukungan untuk yoyo dengan menonton iklan yang ada di kolom pemberian hadiah.