Pesona Ibu Susu Baby Elnan

Pesona Ibu Susu Baby Elnan
Bab 143 - Liburan


__ADS_3

Dua minggu pun berlalu, Naya dan Richard beserta ketiga anaknya sudah bersiap-siap untuk berangkat ke bandara.


Richard memasukan satu persatu koper dari istri lalu anak-anaknya. Mereka berpamitan pada Mama Helen. Sebenarnya Richard tidak tega membiarkan Mama Helen sendirian di rumah. Meskipun ada pembantu, tetap saja mereka bukanlah keluarga.


"Ma, beneran mama tidak mau ikut? Cucu-cucu mama juga pasti senang kalau omanya juga ikut. Aku khawatir kalau mama sendirian di rumah," ucap Richard membujuk Mama Helen untuk ikut.


"Iya, biarlah kalian saja yang pergi. Nikmati masa liburan disana. Mama kan bisa menginap di rumah Alex dan Ele. Apalagi Ele baru memiliki bayi, jadi meski kalian pergi mama tidak akan kesepian," ucap Mama Helen.


"Baiklah kalau itu memang keputusan mama. Nanti aku akan minta Alex untuk menjemput mama ke rumah," ujar Richard lagi.


"Tidak perlu, kau ini suka sekali mengganggu orang-orang. Alex pasti punya kesibukan sendiri. Biar mama diantar supir saja," ucap Mama Helen menanggapi.


"Ya sudah kalau begitu. Jaga diri baik-baik ya ma. Aku, Naya dan anak-anak pamit."


"Iya hati-hati ya kalian semua. Semoga liburannya menyenangkan."


"Dadah Oma! Sampai ketemu dua Minggu lagi ya! Tenang saja nanti Ela bawakan oleh-oleh yang banyak dan spesial untuk Oma," ucap Ela dengan senyuman manis di bibirnya.


"Oke sayang. Oma simpan ya ucapan mu. Kalau berbohong, sudah tahu kan konsekuensinya?" tanya Mama Helen.


"Tahu Oma. Berbohong itu kan perbuatan tidak baik. Jadi, kita harus berkata jujur. Kalau Ela berbohong berarti Ela harus dihukum," ucap Ela.


Mama Helen pun tersenyum. Cucu perempuannya sangat pintar. Ia bahkan mudah sekali mengerti hanya dengan sekali diberitahu saja.


Sementara Rendra dan Elnan, keduanya hanya melambaikan tangan saja, karena bagi mereka ucapan Ela tersebut sudah mewakili mereka juga.


Mereka semua memasuki mobil. Richard duduk di samping kemudi dengan Ela yang dipangku olehnya. Naya duduk di belakang kemudi dengan posisi di tengah-tengah, Rendra di samping kanan dan Elnan di samping kiri.


Kurang lebih 45 menit waktu perjalanan sampai ke bandara. Lalu mereka masuk ke tempat check-in kemudian menunggu di ruang tunggu keberangkatan.


Di sela-sela waktu menunggu, Ela yang memiliki jiwa penasaran tinggi, selalu bertanya.


"Papa, apa nanti disana benar-benar akan ada saljunya?"


"Iya sayang, maka dari itu, papa meminta kalian bertiga untuk membawa pakaian yang tebal-tebal. Soalnya cuacanya sangat dingin," jawab Richard.


"Tapi, semalam Ela cuma menyiapkan satu jaket tebal papa. Apa kita harus pulang dan mengambil pakaian Ela yang lain?" tanya Ela lagi.


"Tidak perlu sayang, mama sudah membawa semua kebutuhan kalian. Semuanya sudah aman," ucap Naya ikut bicara sambil tersenyum.


"Mama memang terbaik!" ucap Ela sambil menunjukkan dua jempolnya.

__ADS_1


"Iya dong sayang," ujar Naya.


Waktu keberangkatan pun tiba. Mereka berjalan memasuki pesawat dan duduk di tempat yang sudah disediakan.


****


Minggu pertama liburan, mereka pergi ke Turki karena Elnan ingin melihat dan menaiki balon udara. Disana mereka berkeliling dan menikmati suasana di negara asing tersebut.


Tak jarang, mereka juga kerap kali berkunjung ke pusat kuliner yang terkenal di Turki. Semua yang ada disana, mereka coba agar tidak ada kata menyesal ketika nanti sudah pergi dari negara tersebut.


Minggu keduanya, mereka pergi ke Korea Selatan, sesuai permintaan anak gadis satu-satunya dari Naya dan Richard. Mereka datang di waktu yang tepat, yaitu di musim dingin, dimana di musim itu akan turun salju.


Seperti sekarang, tak perlu main jauh-jauh dari vila, Ela sudah bisa bermain salju di depan vila tersebut.


"Kakak, kakak ayo sini! Kita buat boneka salju. Aku ingin punya satu yang seperti Olaf di film animasi Frozen," ucap Ela.


"Mana bisa begitu! Sekalipun kau membuatnya, boneka saljunya tidak akan hidup seperti Olaf! Makanya jangan kebanyakan nonton fantasi! Jadinya isi kepalamu khayalan semua!" ucap Rendra dengan ketusnya.


"Ish! Kalau tidak mau ya sudah, tidak apa-apa! Aku tidak memaksa kok!" ujar Ela yang sedikit bersedih hati.


Melihat hal tersebut, membuat Rendra merasa kata yang ia ucapkan sepertinya menyakiti saudara kembarnya.


"Yeee! Ikan Rendra memang terbaik!" puji Ela sambil menunjukkan satu ibu jari kanannya.


Tatapan mata Rendra langsung menusuk seperti mata elang. Membuat Ela langsung berpura-pura fokus untuk membuat boneka salju.


Sementara Elnan, ia sengaja tidak ingin ikut bicara, karena ia tahu pasti ujung-ujungnya akan adu mulut juga. Pemandangan yang tidak bisa terlewatkan sedikit pun. Ia memilih untuk jadi penonton setia daripada pemainnya.


Setelah puas bermain, ketiga anak itu masuk ke dalam vila dan duduk rapih di meja makan yang dimana disana sudah tersedia makanan-makanan Korea.


"Mama tidak ada chicken katsu kah?" tanya Ela. Ia benar-benar sudah rindu makanan dengan makanan itu. Selama di Turki kemarin pun, tidak ada makanan kesukaannya dalam menu makanan.


"Tidak ada sayang. Kalau mau makanan itu, berarti liburan harus kita sudahi," ucap Naya dengan lembut.


"Yah, tapi Ela masih ingin main," jawab Ela dengan wajah bersedih.


"Kalau begitu, makan saja apa yang ada sayang. Semuanya enak kok. Jangan pilih-pilih makanan sayang."


"Hm, iya deh ma."


"Ma, kapan kita pulang? Rendra sudah bosan."

__ADS_1


"His! Apaan sih kak! Jangan bosan dulu! Ela masih betah! Pulangnya nanti kalau Ela sudah puas liburan!" sahut Ela yang tidak terima kakaknya bosan dan ingin segera pulang.


"Tanya papa dong, kan papa yang ngajak kita jalan-jalan," ucap Naya.


Richard yang merasa terpanggil pun mulai bersuara.


"Dengarkan ucapan papa baik-baik. Liburan kita tinggal satu hari lagi. Papa hanya cuti dua Minggu. Jadi, untuk Ela yang masih ingin disini, kita tidak bisa sayang. Dan untuk Rendra, kau harus bisa menahan rasa bosan itu satu hari lagi. Jadi, sekarang nikmati saja semuanya."


"Oke pa," jawab Rendra dan Ela bersamaan.


"Pa, si kembar itu kenapa selalu berbeda pendapat terus sih? Padahal kembar, tapi selera mereka tidak ada yang sama satu pun," bisik Elnan pada sang papa.


Ucapan Elnan tersebut pun tidak diketahui jawabannya oleh Richard, ia pun ingin tahu akan hal tersebut. Ia akan berdoa, semoga saja ketika dewasa nanti mereka akan terus saling menyayangi dan tidak akan bertengkar seperti di masa kecil mereka ini.


****


Hari terakhir liburan pun sudah terlewati, kini mereka sudah sampai di bandara kota tempat mereka berasal sambil menunggu mobil keluarga Richard datang.


Tak lama kemudian, sang supir pun terlihat, mereka pergi menuju tempat mobil diparkirkan.


Sesampainya di rumah, Mama Helen menyambut cucu-cucunya dengan pelukan.


"Bagaimana liburannya? Apa menyenangkan?"


"Menyenangkan sekali Oma," jawab Ela.


"Menyenangkan Oma," jawab Elnan.


"Biasa saja, masih enak di rumah, Oma," jawab Rendra.


Hanya Rendra yang jawabannya berbeda. Namun, itu tidak masalah, memang Rendra ini memiliki sifat terlalu jujur dengan perasaannya sendiri.


****


Maaf ya teman-teman aku baru bisa update hari ini. Kemarin-kemarin aku masih sibuk dengan dunia real life-ku. Dan mungkin ini adalah episode-episode terakhir dari cerita Pesona Ibu Susu Baby Elnan.


Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.


Jangan lupa follow akun Ig ku ya


@yoyotaa_

__ADS_1


__ADS_2