
Keesokan harinya, Ele sudah mulai beraksi menjadi bodyguard Naya. Ia selalu menjaga Naya dari Richard. Ele tak membiarkan satu meter pun Richard berdekatan dengan Naya. Hingga Richard selalu dibuat kesal oleh Ele.
"Ele! Pergilah keluar sana! Jalan-jalan ke mall atau main bersama teman-temanmu!" perintah Richard karena ia ingin berdekatan dengan Naya.
"Tidak mau, nanti kakak akan mendekati kak Naya. Aku tidak akan membiarkan hal itu. Aku udah janji sama mama," kekeh Ele yang masih setia duduk di tepi ranjang kamar Elnan.
"Ais, anak kecil ini sama sekali tidak bisa diajak kompromi," gumam Richard pelan.
Naya yang melihat tingkah laku kedua orang di depannya hanya menggeleng pelan. Tak disangka Richard pria mesum dan menyebalkan itu selalu membalas setiap ucapan Ele yang bisa dibilang tak ada tandingannya jika sudah berbicara.
"Tahan tahan ya kak, karena kemungkinan dalam waktu seminggu ini kakak tidak akan bisa menyentuh kak Naya. Apalagi setelah kak Naya menyusui Elnan sampai kenyang hari ini, ia akan pulang ke rumahnya. Jadi, tidak ada waktu untuk meladeni tingkah kakak yang kekanakan ini."
Richard mendengus kesal. Hadirnya Ele memang membawa keajaiban dan juga kesialan di hidup Richard. Sudah berhasil mendapatkan tapi sayang tak berhasil menyentuhnya.
"Awas saja kau Ele! Aku tidak akan memberikan uang jajan padamu!" ancam Richard.
"Tenang saja, kan masih ada mama di pihak ku," ucap Ele sambil menjulurkan lidahnya.
Saking kesalnya, Richard sampai keluar dari kamar Elnan. Ia berjalan menuruni tangga dan menelpon seseorang.
"Temui aku di Cafe Kave dalam beberapa menit. Pokoknya kalian harus sampai sebelum aku sampai disana!"
Setelah mengucapkan itu, Richard langsung menutup panggilan gabungan tersebut. Ia menarik sebuah jaket yang berada di dekat sofa ke belakang punggungnya, berjalan keluar rumah dan memasuki mobil yang sudah siap untuk dikendarainya. Kemudian Richard melesatkan mobilnya menjauh dari pekarangan rumahnya.
****
Sesampainya di cafe, Richard sudah melihat dua mobil milik sahabatnya terparkir di depan cafe tersebut. Ia pun mencari kedua sahabatnya itu. Ketika memasuki cafe, Richard mencari-cari tempat dimana kedua sahabatnya itu duduk. Matanya pun tertuju pada tempat duduk yang berada di dekat jendela.
"Tumben sekali menelpon dan meminta kita bertemu disini. Apa ada suatu hal yang ingin kau bicarakan, Rich?" tanya Alex yang tidak ingin bebasa-basi lagi.
"Iya, ini seperti bukan dirimu. Biasanya kau akan mengajak kami bertemu di club. Namun sekarang malah di cafe. Seperti bukan dirimu, Rich," ucap Ethan yang keheranan.
Tentu saja ia akan heran. Richard memang tipe yang jika akan mengatakan hal penting pada sahabatnya, ia akan meminta mereka menemani dan menemuinya di club milik Alex.
Richard menghela napas pelan. Ia mulai mengatur rasa bahagia yang membuncah dalam dirinya.
"Nanti malam kalian temani aku untuk melamar seorang gadis."
__ADS_1
Jeder!!!!!!
Terdengar bunyi geledek tepat di telinga keduanya. Mereka tak habis pikir dengan kalimat yang diucapkan Richard. Ada rasa tak percaya di dalamnya. Pasalnya, Richard akhir-akhir ini tidak dekat dengan wanita manapun, kecuali Naya yang belum menunjukkan tanda-tanda menyukai Richard sama sekali.
"Kau tidak sedang bercanda, kan?" tanya Alex dan Ethan bersamaan.
Richard menggeleng. Ia pun akhirnya menceritakan apa yang terjadi di antara dirinya dan Naya hingga mamanya memintanya dan Naya untuk menikah seminggu lagi.
Ethan dan Alex begitu tercengang mendengar hal tersebut. Baru saja ia mendengar bahwa Richard akan melamar anak gadis orang, mereka harus mendengar lagi bahwa pernikahan Richard akan berlangsung dalam jangka waktu satu minggu lagi.
"Benar-benar tak bisa diduga. Kau akan mendahului kami, Rich. Aku kira aku akan menikah lebih dulu darimu," ucap Alex.
"Hahaha, aku juga tidak menyangka."
***
Sementara di kediaman Richard, Naya sedang asik bermain dengan Elnan. Bayi kecil itu begitu aktif meraih benda yang berada di depannya.
"Uh, sayang, cepat sekali pertumbuhan mu. Kakak akan selalu mendampingi tumbuh kembang mu."
Ele yang mendengar Naya yang masih menyebut dirinya 'kakak' pun turut mengeluarkan ucapannya.
"Iya Ele, akan aku coba," ucap Naya mengiyakan.
"Kak bagaimana rasanya berciuman?"
"Uhuk ... uhuk ...."
Tiba-tiba saja aku terbatuk mendengar pertanyaan ajaib dari mulut Ele.
Gadis kecil ini menanyakan karena memang ia sudah pernah melakukannya atau karena ia memang hanya penasaran saja? Kenapa keluarga Richard ajaib sekali sikapnya?
"Minum kak!" ucap Ele sambil menyodorkan satu gelas air putih pada Naya.
"Ayo dijawab kak!" rengek Ele yang begitu ingin tau.
"Aku tidak tahu," jawab Naya. Ia bingung bagaimana menjelaskan rasanya.
__ADS_1
"Yah..." terdengar suara kekecewaan dari gadis kecil itu. Aku menelisik raut di wajahnya. Bisa dipastikan bahwa gadis ini sama sekali belum pernah berciuman. Lalu kenapa dari bicaranya, seperti terlihat sangat berpengalaman? Itulah yang ada dipikiran Naya.
"Ele, aku mau pulang ke rumah dulu ya. Kau jaga Elnan baik-baik. Aku sudah menyediakan stok asi di kulkas jika ia haus nantinya."
"Baiklah, hati-hati di jalan ya Kak. Tunggu kami datang ke rumah untuk melamar mu. Minta saja pak Budi untuk mengantar kakak pulang." Naya pun mengangguk.
Sebelum pergi, Naya mencium kedua pipi, hidung, kening, dagu, dan tangan mungil Elnan. Ada rasa tidak tega dalam diri Naya ketika akan meninggalkan bayi mungil itu pergi.
"Jangan rewel ya sayang. Nurut sama mami mu," ucap Naya pada Elnan. Bayi kecil itu bersuara seolah mengerti apa yang diucapkan Naya.
Naya segera menyambar tas selempangnya dan berjalan keluar dari kamar Elnan. Niat awalnya ia ingin meminta pak Budi untuk mengantarkannya, sayangnya pak Budi rupanya tidak ada di tempat. Alhasil, Naya memesan ojek online agar aku cepat sampai di rumah.
***
Kini Naya sudah berada di depan rumahnya. Ia mengetuk pintu terlebih dulu. Pintu pun terbuka oleh ibu.
"Ya ampun, kirain ibu siapa nak. Rupanya kau. Ada apa datang ke rumah? Apa kau dibolehkan untuk datang kemari? Bagaimana jika bayinya tuan Richard rewel saat kau tinggal?" tanya ibu bertubi-tubi. Naya sampai bingung akan menjawab pertanyaan ibunya yang mana terlebih dahulu.
"Biarkan Naya masuk dulu Bu. Setelah itu Naya akan menjelaskan semuanya."
Ibu pun membawa Naya masuk ke rumah. Mereka berdua duduk di kursi yang ada di ruang tamu.
"Coba kau jelaskan Nay semua pertanyaan-pertanyaan ibu tadi," pinta ibunya Naya.
"Em, sebelumnya aku hanya ingin memberitahu ibu untuk menjaga kestabilan emosi ibu terlebih dulu. Aku tidak ingin ibu spot jantung ketika mendengarnya. Apa ibu bisa?" Naya meminta ibunya untuk mendengarkan penjelasannya dalam keadaan tanpa emosi.
"Baiklah, ibu bisa."
***
Maaf ya semuanya, aku update nya malam, hari ini aku keasikan baca novel sampai lupa update, hehe..
Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.
Jangan lupa berikan like dan vote nya teman-teman.
Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.
__ADS_1
Kalian bisa juga memberikan dukungan untuk yoyo dengan menonton iklan yang ada di kolom pemberian hadiah.