
Hari-hari berikutnya pun tetap sama. Richard selalu mual tiap paginya. Terkadang Richard melimpahkan semua tugasnya pada Leon. Benar-benar biji kacang itu belum juga lahir sudah pintar untuk menyiksa dirinya. Apa kabar nanti jika ia sudah lahir?
"Sayang, kapan dia akan lahir?" tanya Richard pada Naya.
"Masih 8 bulanan lagi," jawab Naya.
"Ternyata masih lama juga," lirih Richard.
"Hari ini aku tidak mau pergi ke kantor ya, sayang. Badanku lemas semua," izin Richard pada Naya.
"Kalau kau tidak ke kantor, lalu nanti biaya untuk lahiran anak kita bagaimana?" tanya Naya dengan polosnya.
Jangankan biaya lahiran, Nay. Biaya sampai anak kita mengambil S2 pun masih tumpah-tumpah uangnya. Apa iya? Kau belum sadar juga siapa aku?
"Itu sudah jadi tanggung jawabku, kau tidak perlu memikirkannya. Cukup pikirkan anak kita dan penuhi kebutuhan gizi dan nutrisinya," ujar Richard pada Naya.
"Baiklah, aku akan mengingat perkataan mu."
***
Di sisi lain,
Nicolas sibuk mengurus perusahannya. Ia mengecek laporan yang masuk dan menandatangani berkas-berkas penting.
"Tok ... tok ... tok ...," suara ketukan pintu yang diketuk oleh seseorang.
"Masuk." Nicolas mempersilahkan orang tersebut untuk masuk.
Rupanya orang tersebut adalah orang yang sudah lama tak pernah ia jumpai.
"What's up bro?"
"Hei, kemana saja kau selama ini?" Bukannya membalas sapaan orang tersebut, Nicolas malah bertanya balik.
"Aku hanya menghilang dari kota ini dan mencari suasana baru," jawab orang tersebut lalu berjalan ke sofa yang ada di ruangan tersebut.
__ADS_1
"Bagaimana perkembangan hubunganmu dengan Denada?" tanya orang tersebut yang kini duduk di sofa.
"Sejauh ini baik-baik saja. Entah ke depannya. Jika dia tahu aku tidak benar-benar mencintainya," jawab Nicolas jujur pada orang tersebut.
"Setidaknya kau berhasil membuatnya berpaling dari Richard," ucapnya sambil tersenyum licik.
Sebenarnya Nicolas benar-benar tidak tahu, alasan yang mendasari sepupunya itu membenci Richard sampai segitunya. Karena dulu, ia tidak sempat menanyakan alasannya.
"Aku benar-benar penasaran. Kenapa kau begitu menginginkan Richard hancur, Ric?"
Orang yang datang ke kantor Nicolas adalah Rico, sepupunya. Ia adalah anak dari kakak ibunya.
"Karena dia selalu merebut apa yang aku inginkan sejak masa kuliah. Aku begitu iri padanya. Pacar cantik dia punya. Mamanya juga baik, kakaknya apalagi sangat perhatian padanya. Lalu setelah lulus, bisnis keluarganya menjadi berkembang pesat karena di pimpin olehnya. Aku selalu kalah jika bersaing dengannya. Aku ingin jadi nomor satu. Pebisnis muda yang handal dan terkenal di seluruh negeri bahkan kalau bisa sampai mendunia. Maka dari itu, satu persatu apa yang ia punya aku hilangkan. Dimulai dari Denada, lalu kedua kakak iparnya."
Nicolas terperangah mendengar jawaban jujur dari Rico. Ia tak menyangka ternyata kecelakaan yang menimpa kakaknya Richard adalah ulah sepupunya sendiri. Sebrengsek-brengseknya Nicolas, ia tak pernah mau main-main dengan nyawa seseorang. Cukup bermain dengan para wanita saja sebagai pemuas nafsunya di ranjang.
"Bahkan sampai saat ini si bodoh itu masih mencari-cari bukti tentang kecelakaan yang sudah berbulan-bulan berlalu. Sampai ia mati pun, ia tidak akan pernah bisa menemukan buktinya. Karena aku sudah melenyapkan semuanya. Richard sungguh bodoh setelah kehilangan Denada dan aku begitu senang karena itu," ucap Rico dengan lugasnya.
Andaikan saja Rico tahu bahwa Richard sudah mengetahui jika Rico lah pelaku dari kecelakaan yang menimpa Richard dan kakak-kakaknya. Mungkin saja saat ini ia akan ketar-ketir mencari pengacara atau pun membantah semua bukti yang akan Richard perlihatkan. Sayang sekali, waktu kehancuran Rico belum saatnya.
"Itu tidak mungkin. Aku sudah benar-benar menghilangkan semua buktinya. Kalaupun dia tahu aku pelakunya. Bukti yang akan dia berikan tidaklah kuat untuk menjeratku ke dalam hukum."
"Baiklah, baiklah. Itu semua menjadi urusanmu. Aku sudah tak ingin lagi membantumu seperti dulu. Denada benar-benar wanita yang merepotkan. Aku kewalahan menghadapinya yang harus diberikan kabar setiap jamnya. Memangnya aku ini pengangguran apa!?" Nicolas mulai mengeluarkan unek-uneknya saat bersama Denada.
"Meskipun begitu, kau mendapatkan keperawanannya, kan? Jarang sekali di zaman sekarang wanita yang bisa menjaga kesuciannya, Nic. Harusnya kau bersyukur atas hal itu," ucap Rico.
"Cih, kau bicara bersyukur denganku. Kau sendiri bagaimana? Kau pun tidak tahu apa itu artinya bersyukur!" sindir Nicolas.
Rico yang disindir tampak tidak peduli.
Tiba-tiba pintu ruangan Nicolas terbuka. Terlihatlah wajah cerah Denada di ambang pintu tersebut. Untung saja, pembicaraan dua laki-laki tersebut sudah selesai. Jika belum, bisa bahaya.
"Hai Denada, kau terlihat semakin mempesona saja," puji Rico saat melihat Denada yang mengenakan pakaian seksi.
Denada hanya merespon dengan senyuman sambil mengucapkan terima kasih. Kemudian ia berjalan menuju ke tempat dimana Nicolas duduk. Ia langsung duduk di pangkuan laki-laki tersebut.
__ADS_1
"Kenapa pesanku tidak dibalas?" tanya Denada dengan manjanya.
"Kau lihat sendiri kan kalau di ruangan ku ada tamu. Mana sempat aku memegang handphone ku," jawab Nicolas memberikan alibi. Padahal yang sebenarnya terjadi, Nicolas malas membalas pesan dari Denada.
"Baiklah, kali ini aku tidak akan memperpanjang masalah. Jangan lupa nanti kita makan malam di tempat biasa. Aku hanya ingin mengingatkan itu. Soalnya kau sering lupa dan membiarkan aku makan sendirian," ucap Denada mengingatkan Nicolas.
"Iya, aku pasti akan mengingatnya," balas Nicolas.
"Kalau begitu aku akan kembali ke ruangan ku," pamit Denada kemudian mengecup bibir Nicolas sekilas. Ia tak memperdulikan jika ada Rico di antara mereka.
"Silakan kalian lanjutkan pembicaraannya."
Setelah mengatakan itu, Denada benar-benar menghilang dari ruangan Nicolas.
"Bagaimana rasanya diberi kecupan oleh pacarmu?" ledek Rico pada Nicolas.
"Diam kau!" marah Nicolas.
"Hahaha, jika kau sudah tak menginginkan Denada lagi. Kau bisa memberikannya padaku. Setidaknya aku bisa mencicipinya dulu sebelum kau buang ke jalanan," ucap Rico.
"Tidak semudah itu, aku masih membutuhkannya. Karena di antara wanita yang aku miliki, hanya dia yang benar-benar bisa mengimbangi permainanku. Dia yang awalnya tidak tahu apa-apa kini menjadi liar di ranjang. Aku menyukai itu darinya," jawab jujur Nicolas.
"Jika kau benar-benar bosan. Katakan padaku. Aku dengan senang hati memungutnya."
Nicolas mengangguk tanda mengiyakan. Sejujurnya Rico tidak benar-benar menginginkan Denada. Ia hanya ingin merasakan bagaimana mantan tunangan Richard itu merintih di bawah kungkungannya.
Sampai saat ini, baik Rico maupun Nicolas, keduanya tak ada yang tahu jika Richard telah memiliki seorang istri. Mungkin jika Rico mengetahuinya, bisa saja ia akan melakukan hal yang sama pada istri Richard seperti yang ia lakukan dulu pada Denada. Ia akan menggunakan sepupunya yang pecinta wanita untuk bertindak.
***
Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.
Jangan lupa berikan like dan vote nya teman-teman.
Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.
__ADS_1
Kalian bisa juga memberikan dukungan untuk yoyo dengan menonton iklan yang ada di kolom pemberian hadiah.