Pesona Ibu Susu Baby Elnan

Pesona Ibu Susu Baby Elnan
Bab 38 - Rencana Ele dan Mama


__ADS_3

Kedua pasangan muda itu memberikan reaksi berbeda. Richard dengan wajah senangnya, Naya dengan wajah terkejut dan sedihnya. Bukannya ia tak mau menikah, tapi ia tidak ingin menikah di usianya yang menurutnya masih cukup muda.


"Tiga hari lagi pun aku mau kalau menikah dengan Naya, Ma," ucap Richard.


"Awww ...." teriak Richard kesakitan.


Lagi-lagi sebuah pukulan melayang keras ke bahu Richard. Helen gemas dengan anaknya yang menggampangkan sebuah pernikahan. Ia pun melihat ke arah Naya.


"Nay, kau tidak sampai dijebol oleh Richard, kan?" Naya pun menggeleng.


"Sebenarnya tidak perlu sampai menikah Nyonya. Lagi pula saya masih perawan," tolak Naya.


"Tidak, kita memang harus menikah," kekeh Richard agar mamanya tidak menarik kembali ucapannya.


"Richard benar Naya, kau harus menikah dengannya. Seperti yang sudah aku bilang. Anak nakal ini harus bertanggungjawab meskipun dia tidak sampai menjebol milikmu. Apalagi mendengar d*sahan mu tadi, kurasa jika aku tidak menghentikannya dengan memanggil Richard, anak nakal ini akan benar-benar merenggut kesucian mu."


Mendengar ucapan Helen, Naya merasa malu dan tidak punya muka di hadapan Helen.


"Aku tidak menyalahkan mu atas kejadian ini, aku malah menyalahkan anakku sendiri yang selalu bermain wanita. Aku harap setelah nanti dia menikah denganmu, ia akan berhenti untuk jajan di luar sana. Aku juga senang karena ternyata wanita itu adalah dirimu. Dari awal aku sudah berharap kau menjadi menantuku. Namun, aku sadar kelakuan anakku yang tidak bermoral ini, mana mungkin kau mau dengannya. Ternyata, Tuhan malah mengabulkan keinginanku. Mulai saat ini, kau harus memanggilku Mama," ucap Helen mengungkapkan isi hatinya dan harapan di hati kecilnya.


"Dan untukmu, Icad. Kau harus berubah dan setia pada satu wanita. Kalau tidak siap-siap setiap hari kau akan dengar omelan mama! Jangan lupa besok kita ke rumah Naya untuk melamarnya. Biar mama yang menyiapkan semua hantaran yang akan kita bawa," lanjut Helen.


"Siap mamaku yang cantik. Makasih mama sudah mau melancarkan rencana ku tanpa aku minta."


Helen hanya menggeleng mendengarkan ucapan anaknya. Entah dosa apa yang ia lakukan di masa lalu hingga anaknya bisa bersifat seperti itu, padahal papanya memiliki sifat dingin dan sedikit arogan.


"Pokoknya hari ini mama akan menguasai Naya. Kau jangan harap bisa berduaan dengannya. Ayo Nay, kita ke dapur!" ajak Helen dengan menarik tangan Naya.


"Mama! Kenapa seenaknya begitu sih! Naya kan milikku! Kembalikan dia! Aku belum menyelesaikan kegiatanku dengannya!" teriak Richard saat Naya dan mamanya mulai menuruni tangga tanpa memperdulikan Richard yang berteriak.


"Berisik! Nanti Elnan terbangun!" teriak Ele yang muncul dari pintu kamar Elnan.


"Kau juga kenapa ikut-ikutan teriak Ele?" tanya Richard keheranan.


"Hehe, oh iya ya. Aku lupa kak." Ele terkekeh dengan ucapannya sendiri.

__ADS_1


"Dasar!" cibir Richard.


"Ada apa sih kak kenapa kakak sepertinya kesal sekali pada mama?" tanya Ele penasaran.


"Dia membawa Naya, mengganggu waktu berdua ku dengan Naya. Menyebalkan!" gerutu Richard.


"Hahaha... Sabar ya kak. Jangan bilang suara d*sahan yang aku dengar tadi adalah suara kak Naya yang dipaksa oleh kak Richard," ucap Ele menebak.


"Ralat, bukan dipaksa tapi keinginan berdua."


"Tidak mungkin. Aku tidak percaya dengan mulut buaya sepertimu, Kak." Richard mendengus sebal. Selain mamanya, satu orang lagi yang bisa membuatnya kesal adalah Ele.


"Sudahlah, lebih baik kau diam anak kecil. Tolong bantu mama untuk mempersiapkan lamaran ku besok."


Setelah mengucapkan itu, Richard langsung kembali ke kamarnya. Ia meninggalkan Ele yang mematung karena terkejut.


"Hah? Lamaran? Dia mau melamar siapa? Buaya darat sepertinya memang ada yang mau? Jangan-jangan dia mau melamar kak Naya? OMG!"


***


Sementara di dapur, Naya mengajarkan Helen untuk membuat sup ayam seperti yang pernah Naya bawa ke rumah waktu itu. Ada sedikit rasa malu dan canggung di hati Naya.


"Tapi nyo ...." Belum juga Naya selesai mengucapkan kalimatnya, Helen langsung memotong ucapan tersebut.


"Mama, Naya. Panggil aku mama jangan nyonya lagi," pinta Helen.


"Baiklah ma."


"Bagus."


Mereka pun melanjutkan acara memasak dengan memotong-motong sayur dan bahan yang digunakan. Di sela-sela itu, Helen melirik ke arah Naya yang fokus akan kegiatannya.


Tidak sia-sia aku meninggalkan kalian berdua di rumah. Aku tidak tahu, rupanya kau semenarik itu di mata anakku, Naya. Mantannya saja, tidak pernah ia bawa ke kamarnya kecuali wanita itu sendiri yang masuk tanpa diminta. Aku yakin kau memang wanita yang tepat untuk anakku dan cucuku. Tuhan pasti sudah merencanakan semua pertemuan ini.


"Setelah besok kau susui Elnan, kau boleh pulang ke rumahmu. Katakan pada ibumu aku akan datang melamar mu untuk anakku."

__ADS_1


"Baik ma."


Di hati kecil Naya, ia tidak ingin menikah karena ketahuan akan berbuat mesum. Ia ingin menikah karena memang dia dan lelakinya yang mengutarakan langsung pada orang tua mereka, bukan yang sedikit paksaan seperti ini. Namun, apalah daya Naya, ia tidak berani untuk menolak Helen karena wanita tua tersebut selalu membantunya.


Naya juga memikirkan bagaimana respon ibunya ketika Richard datang ke rumahnya untuk melamarnya. Ada rasa takut dalam hatinya kala ibunya tau alasan apa yang mendasari acara lamaran dadakan itu. Ia pun menghela napas pelan.


"Jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja. Aku tidak akan menceritakan hal tadi pada ibumu," ucap Helen seolah mengerti apa yang dipikirkan Naya.


***


Malam harinya, Helen dan Ele sibuk mempersiapkan hantaran yang akan dibawa ke rumah Naya besok. Mereka berdua menyiapkan semuanya di ruang keluarga.


"Mama, kenapa lamarannya dadakan sih?" tanya Ele.


"Semua itu karena kakakmu yang tidak bisa menahan hasratnya. Mama tidak ingin Naya dijebol duluan oleh anak nakal itu. Daripada hal buruk terjadi lebih baik mama menikahkan mereka berdua. Meskipun mama sendiri tidak tahu pasti bagaimana perasaan Naya yang sebenarnya," jelas Helen pada Ele.


"Dasar laki-laki hidung belang! Jadi kapan pernikahannya akan dilangsungkan?"


"Seminggu setelah lamaran."


"Wow, apa itu tidak terlalu cepat ma?"


"Tidak. Semuanya akan mama urus dengan baik. Seminggu adalah waktu yang pas. Pokoknya selama kau disini. Tolong jangan biarkan kakakmu mendekati Naya walaupun hanya semeter," perintah Helen karena takut anaknya akan melakukan hal yang sama lagi. Karena ia tahu Naya bukanlah wanita yang seperti itu. Ia yakin Richard lah biang keroknya.


"Kalau tugas seperti itu mah, beres ma. Aku akan dengan senang hati melakukannya, hihi. Kapan lagi liat kak Richard kesal, wkwkwk," setuju Ele sambil tertawa membayangkan raut wajah Richard yang kesal karena tidak dibolehkan dekat dengan Naya.


"Hahaha, kau ini selalu saja senang jika berhubungan dengan kakakmu."


"Hehe," dibalas kekehan oleh Ele.


***


Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.


Jangan lupa berikan like dan vote nya teman-teman.

__ADS_1


Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.


Kalian bisa juga memberikan dukungan untuk yoyo dengan menonton iklan yang ada di kolom pemberian hadiah.


__ADS_2