
Siang harinya, setelah hujan reda, Nicolas akhirnya pulang ke apartemennya. Ia menghela napas dulu sebelum memasukan sandi ke dalam pintu apartemennya.
Setelah berhasil membuka pintunya, ia berjalan seolah tak ada sesuatu yang terjadi padanya.
Denada yang melihat Nicolas sudah pulang, merasakan kebahagiaan dan rasa cemasnya seketika menghilang. Ia lalu berlari kecil ke arah Nicolas dan memeluk tubuh jangkung laki-laki itu.
"Kau tau, semalam aku begitu khawatir padamu. Aku sampai menelpon Rico untuk membantuku mencari mu," ucap Denada.
"Aku lupa menyalakan notifikasi di ponselku setelah pertemuan dengan klien selesai," jawab Nicolas beralibi.
"Baiklah, yang terpenting sekarang kau pulang dengan sehat dan dalam keadaan baik-baik saja. Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu," ucap Denada kemudian melepaskan pelukannya dan menarik tangan Nicolas untuk mengikutinya.
Denada membuka laci meja dan menunjukkan hasil USG janin yang ada di perutnya.
"Taraaaa! Ini foto anak kita yang ada di dalam kandunganku. Dia baru berusia 6 Minggu. Kata dokter karena usianya yang masih sangat muda, kita disarankan untuk jangan terlalu sering bercinta. Tapi, tenang saja, aku akan selalu bisa memuaskan mu," ucap Denada dengan diakhiri senyuman manis di bibirnya.
"Kapan kita akan menikah?" tanya Denada yang mulai serius dengan pembahasannya.
"Bisa tidak kau jangan bahas pernikahan!? Mendengar mu hamil saja sudah membuatku pusing!! Apalagi kau menginginkan adanya sebuah pernikahan! Pusing di kepalaku semakin menjadi-jadi dibuat olehmu, Denada!" bentak Nicolas yang tidak suka Denada menanyakan pernikahan padanya.
Awalnya Nicolas ingin bersikap seperti biasanya jika Denada tak mengungkit pernikahan. Namun, Denada sendiri yang memilihnya untuk membentak dirinya.
"Jleb!"
Jantung Denada seolah berhenti sejenak mendengar bentakan Nicolas. Ini pertama kalinya ia dibentak oleh Nicolas setelah mereka dua tahun bersama.
Memang apa salahnya jika ia menanyakan tentang pernikahan? Hubungannya dan Nicolas saja sudah terjalin dua tahun lamanya. Bahkan bisa dibilang, ia dan Nicolas sudah seperti sepasang suami istri. Makan bersama, tidur bersama, bahkan mereka melakukan hubungan suami istri tanpa adanya ikatan pernikahan. Lalu jika ia menginginkan pernikahan, itu seharunya jadi hal yang wajar, bukan?
"Berikan aku satu alasan yang pasti. Kenapa kau tidak ingin aku membahas tentang pernikahan?" tanya Denada yang mencoba mengerti suasana hati Nicolas yang tidak seperti biasanya.
"KARENA AKU TIDAK MENCINTAIMU! Apa jawaban itu sudah jelas!?" jawab Nicolas dengan nada tinggi.
__ADS_1
Jleb!
Bagaikan tersambar petir, Denada terduduk saking tak kuatnya menerima sebuah kenyataan pahit yang ia dengar dari mulut pria yang ia cintai. Jika Nicolas tidak mencintainya? Kenapa pria itu mengajaknya untuk tinggal bersamanya? Bahkan Nicolas selalu memintanya untuk bercinta. Apakah selama ini perhatian dan sikap lembutnya palsu? Apa selama ini juga Nicolas hanya memanfaatkan dirinya? Betapa malang nasibnya.
Setelah mengatakan itu, Nicolas pergi lagi dari apartemennya. Ia benar-benar sudah muak dengan sikap Denada.
Denada bangun dari duduk bersimpuhnya dan berlari kecil mengejar Nicolas, sayangnya ia justru malah tak sadarkan diri di depan apartemennya.
***
Satu Minggu telah berlalu, Nicolas sama sekali tak pernah lagi kembali ke apartemennya. Denada menjadi gelisah dan cemas setiap saat. Ia sudah mencoba menanyakan keberadaan Nicolas pada Rico, tetapi kali ini Rico tidak tahu dan tidak menemukan keberadaan Nicolas.
"Meskipun kau mengatakan kalau kau tidak mencintaiku. Aku akan tetap mencintaimu. Aku akan membuatmu tergila-gila padaku. Apalagi setelah adanya buah cinta kita. Aku benar-benar tidak bisa jika harus mengalah pada kenyataan pahit ini. Biar saja aku jatuhkan harga diriku di depanmu. Toh, harga diri itu sudah hilang ketika kau pertama kali merenggut kesucianku," ucap Denada dengan sedikit mengurai air mata.
Denada mencoba kuat dengan cobaan yang dihadapinya. Ia harus bisa mengontrol emosinya agar janin yang ada di dalam perutnya tidak terganggu. Ia juga tidak boleh stres. Itulah saran dari dokter padanya ketika ia tiba-tiba pingsan setelah mendengar kenyataan pahit itu. Untung saja ada orang baik yang menolongnya, dan membawanya ke rumah sakit.
Untuk menghilangkan rasa jenuhnya, Denada pergi jalan-jalan keluar dari apartemen Nicolas. Ia pergi ke taman yang tak jauh dari apartemen karena katanya suasana pagi hari sangat bagus untuk ibu yang sedang hamil.
Terlihat banyak anak kecil yang bermain disana. Ada yang berlarian, ada yang bermain lompat tali, ada juga yang bermain ayun-ayunan. Rasanya hati Denada begitu damai melihat semua aktivitas anak-anak di taman.
"Apakah aku bisa seperti itu? Memiliki keluarga kecil yang bahagia? Miris sekali hidupku!"
Tiba-tiba saja ia teringat pada perbuatannya di masa lalu yang meninggalkan Richard karena mimpinya sendiri. Padahal mimpinya kini pun bisa dibilang belum sepenuhnya tercapai.
"Apa seperti ini rasanya ditinggalkan saat kita sedang sayang-sayangnya? Ternyata sakit sekali rasanya. Mungkin ini yang kau rasakan dulu Rich. Kini aku juga merasakannya. Apa ini hukum karma untukku? Karena aku menyia-nyiakan mu dulu?"
****
Sementara di kediaman Kavindra, pagi hari sudah diributkan oleh kedatangan seseorang yang memang selalu menyukai keributan.
"HELLO EVERYBODY! I AM COMING BACK!!!" teriak Ele dengan kencangnya. Membuat para penghuni kamar yang ada keluar dengan api yang menyala-nyala.
__ADS_1
Orang yang pertama kali keluar kamar adalah Richard. Ia menggerutu kesal setelah melihat siapa yang telah membuat keributan di rumahnya.
Astaga! Kenapa dia cepat sekali kembalinya? Padahal seminggu ini aku sudah merasakan ketenangan.
"Akhirnya ada yang bangun juga untuk menyambut kedatanganku," ucap Ele dengan senyum cerianya.
Lalu orang kedua yang keluar adalah Naya. respon berbeda ditunjukkan oleh Naya. Ia malah berlari kecil menuruni tangga dan menyambut kedatangan Ele, orang yang sudah ia anggap adiknya sendiri.
Mata Richard melebar saat melihat Naya berlari kecil ke arah Ele. Apa kalian tahu apa yang ada dipikiran Richard?
"Sayang, kau jangan berlari seperti itu! Bagaimana jika anak kita keluar dari perutmu ketika kau berlari!?" teriak Richard yang kemudian mengikuti Naya dari belakang.
Gubrak!
Ele menepuk jidatnya sendiri. Ia tidak habis pikir dengan kakak sepupunya itu. Bagaimana bisa ia berpikir demikian?
Dasar suami posesif!
Sementara Naya ia hanya meringis mendengar ucapan Richard. Tidak bisakah suaminya bersikap wajar-wajar saja? Sungguh jika sekarang Naya sedang berada di keramaian, ia pasti akan merasakan malu yang teramat sangat.
Sejenak ia melupakan ucapan Richard dan langsung memeluk Ele.
"Akhirnya kau balik lagi Ele. Rumah rasanya sepi kalau tidak ada dirimu," ungkap Naya.
"Akhirnya ada yang merindukanku juga ketika aku datang kembali. Tidak seperti suami kakak yang selalu bermuka masam saat melihatku," ucap Ele sambil melihat tatapan tajam dari Richard. Ele pun membalas dengan juluran lidahnya. Ia bertekad dalam hatinya jika hari ini kakak sepupu iparnya akan ia kuasai.
****
Gimana? Suka dengan crazy up nya?🤠Mau tambah lagi atau jangan? wkwkwk.
Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.
__ADS_1
Jangan pelit-pelit untuk memberikan like dan vote nya geng 🤠Supaya ceritaku popularitasnya semakin naik dan pembacanya semakin banyak. Kalau begitu kan aku jadi semangat nulis kelanjutan ceritanya.
Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.