Pesona Ibu Susu Baby Elnan

Pesona Ibu Susu Baby Elnan
Bab 128 - Will you marry me?


__ADS_3

Setelah melihat sahabatnya menikah, Ethan jadi bertambah semangat untuk mengejar cintanya juga. Ia sudah memantapkan hatinya untuk memilih Sari menjadi pendampingnya.


Empat bulan pun berlalu, selama itu juga Ethan terus memberikan perhatian pada Sari. Apalagi sari telah menjadi asisten pribadinya, yang selalu bersamanya. Yang mana segala urusan Ethan, Sari lah yang mengurusnya.


Selama itu juga, kedekatan mereka, membuat Sari sedikit berharap. Bagaimana tidak? Perhatian Ethan membuatnya seperti wanita istimewa. Namun, ia tidak mau salah sangka, jadi ia berusaha untuk bekerja profesional saja.


"Sar, nanti sebelum aku pergi meeting. Tolong siapkan kemejaku yang ada di ruangan khusus di ruangan kerjaku. Pilihlah warna yang cocok untuk acara semi formal," pinta Ethan.


"Baik, siap pak," jawab Sari.


"Lalu, sekarang kau ikut denganku. Ada sesuatu yang akan aku tunjukkan." Sari mengangguk. Ia pun berjalan di belakang Ethan.


Ethan menghela napas pelan. Sebenarnya ia ingin Sari berjalan di sampingnya bukan di belakangnya.


Tak lama kemudian mereka sampai di sebuah ruangan kosong yang tidak terlihat cahaya di dalamnya. Benar-benar sangat gelap.


"Bapak cari apa di tempat gelap seperti ini?" tanya Sari.


"Panggil saja aku seperti biasa, jangan panggil bapak," pinta Ethan.


"Tapi ini masih di kantor pak, masih jam kerja juga," ucap Sari menolak.


"Tidak apa-apa. Lagian kita cuma berdua," jawab Ethan saat mulai masuk ke dalam ruangan itu.


"Baiklah."


Namun suara Ethan kini tak terdengar lagi. Sari panik, ia takut terjadi sesuatu pada Ethan. Apalagi kondisinya mereka berada di dalam ruangan gelap, dan Sari juga tidak tahu dimana saklar untuk menyalakan lampunya.


"Kak, kak, kak Ethan dimana?" panggil Sari sambil terus berjalan dalam kegelapan dan mer*ba-r*ba sesuatu yang ada di dekatnya. Namun, ternyata tak ada apapun yang bisa ia raba.


"Kak Ethan!" teriak Sari.


Masih belum ada sahutan dari Ethan. Ia malah mendengar suara benda jatuh dan hal tersebut membuat Sari sedikit ketakutan. Mau kembali ke pintu tadi, tapi bagaimana dengan Ethan?


Sari terus berjalan, hingga ia bisa merasakan ada benda di hadapannya. Benda tersebut bisa ditekan. Lalu sari menekannya, dan ...


Seketika ruangan menjadi terang karena lampu-lampu hias mulai menyala. Namun tetap saja Sari tidak melihat Ethan di hadapannya. Ia pun berbalik dan melihat Ethan membawa sebuah buket bunga mawar untuk Sari. Setelah bunga tersebut diterima oleh Sari. Ethan langsung menyalakan lampu lagi yang bertuliskan 'Will you marry me?'


Sari terkejut, saking terkejutnya ia sampai merasa kalau ini hanyalah halusinasinya saja.


"Kok diam? Tidak mau jawab?" tanya Ethan.


"Hah?" Sari ternganga.

__ADS_1


"Jadi ini nyata? Bukan halusinasi?" tanya Sari. Ethan terkekeh pelan.


"Jadi bagaimana jawabanmu? Apa perlu aku sendiri yang mengatakan kalimat itu padamu secara langsung?"


Ethan berjalan 2 langkah ke depan. Lalu meraih satu tangan Sari.


"Sar, will you marry me?"


"Hah?" lagi-lagi Sari ternganga.


Ethan kemudian mengeluarkan benda terakhirnya yaitu sebuah cincin.


"Aku tidak pandai berkata-kata. Makanya aku hanya menyiapkan kejutan ini untukmu. Tapi tanggapan mu hanya diam dan tidak menjawab. Apa mungkin yang aku lakukan membuatmu merasa tidak nyaman? Atau kau tidak suka?" tanya Ethan.


Sari menggeleng. Bukan tidak suka atau tidak nyaman, tapi lebih ke tidak percaya. Ini pertama kalinya ia diperlakukan seromantis ini oleh seorang pria.


"Kak apa kau benar-benar serius mengatakan itu?" tanya Sari.


"Ya," jawab Ethan.


"Apa kau tidak salah pilih wanita? Kenapa harus aku?" tanya Sari lagi.


"Karena kau yang bisa membuat aku terus ingin berada di dekatmu," jawab Ethan.


"Aku ... aku ... " Sari terbata-bata. Kemudian ia mengingat lagi hal-hal yang pernah Ethan lakukan padanya. Semuanya adalah perilaku yang istimewa bagi Sari. Akhirnya Sari pun dengan yakin menjawab.


"Aku mau."


"Really?" Sari mengangguk.


Ethan tersenyum senang lalu memasangkan cincin itu di jari manis Sari. Setelah itu, adegan ciuman pun terjadi.


****


Kediaman Kavindra


Naya menyuapi kedua anak kembarnya makan makanan yang sudah dihaluskan. Keduanya makan dengan lahap. Hingga membuat Naya tersenyum.


Meskipun lelah, Naya merasa semuanya terbayarkan ketika melihat kedua bayi kembarnya makan dengan lahap dan juga terus mengoceh. Rasanya hidupnya sudah sempurna sekali.


Tak lama kemudian, mama Helen datang dengan membawa Elnan ke ruang keluarga. Elnan kecil langsung berjalan menghampiri Naya dan minta untuk dipeluk.


"Kakak senang main sama oma?" tanya Naya. Elnan kecil pun mengangguk. Ia kemudian melihat kedua adiknya.

__ADS_1


Tangannya terulur untuk memegang pipi chubby Ela kemudian tertawa.


"Nay, sini biar mama yang gantikan menyuapi si kembar. Daripada si kembar nanti nangis diganggu Elnan terus. Nanti kau akan kerepotan," ucap Mama Helen.


"Baik ma. Minta tolong ya ma."


Ketika mama Helen menyuapi si kembar, Elnan justru bermain dengan mobil-mobilan miliknya. Tak lama kemudian, Ele menelpon dengan panggilan video.


"Halo Kak Naya," sapa Ele.


"Halo juga Ele, bagaimana kabarmu? Kenapa kau jarang sekali main kemari?" tanya Naya.


"Aku baik-baik saja kak, Kak Alex selalu memanjakan ku, hehe. Maaf ya kak, akhir-akhir ini aku sibuk sekali. Jadi belum bisa kesana."


"Wah, sayang sekali padahal aku rindu kita menghabiskan waktu bersama dan bergosip berdua. Tapi, ya sudahlah, semoga kuliahmu lancar ya. Semoga cepat lulus dan bisa cepat punya anak."


Disini Naya posisinya sudah diberitahu oleh Ele tentang permintaan papinya Ele untuk tidak memiliki anak dulu sebelum Ele lulus.


"Terima kasih doanya kak. Mana si kembar kak? Aku rindu ingin melihat mereka berdua."


Naya pun memindahkan kamera depan ke kamera belakang dan mengarahkannya ke si kembar.


"Mereka sedang makan disuapi mama," ucap Naya.


"Halo, anak-anak mami. Kalian rindu mami tidak?" tanya Ele pada si kembar. Seperti mengerti ucapan Ele, si kembar pun menyahuti Ele membuat Ele tertawa.


"Lihatlah kak, si kembar ternyata juga rindu padaku. Aku jadi tidak sabar menantikan keduanya tumbuh besar."


"Haha, ia sepertinya begitu. Aku juga sama menantikan mereka tumbuh besar dan salin menyayangi satu sama lain."


Video call pun akhirnya selesai karena Ele harus ke kampus secara mendadak karena dihubungi oleh dosen pembimbingnya.


Naya merasa kesepian saat Ele sudah tak berada di rumah Richard, biasanya ia selalu menghabiskan waktu berdua dengan Ele, jika Ele tidak ada kelas. Panggilan video tadi seolah mengobati kerinduannya pada Ele.


****


Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.


Jangan pelit-pelit untuk memberikan like dan vote nya geng 🤭 Supaya ceritaku popularitasnya semakin naik dan pembacanya semakin banyak. Kalau begitu kan aku jadi semangat nulis kelanjutan ceritanya.


Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.


Jangan lupa follow akun Ig ku ya

__ADS_1


@yoyotaa_


__ADS_2