
Naya duduk berdiam diri di ruang keluarga. Richard berada di kantor, Ele berada di kampus, dan mama mertuanya masih berada di Paris. Seketika Naya merasa kesepian, padahal ada Nani dan Elnan menemaninya.
"Kenapa Nay? Wajahmu terlihat kacau sekali? Jangan kebanyakan pikiran nanti berakibat fatal pada kandungan mu," nasehat Nani.
"Aku merasa kesepian kak, biasanya rumah sangat ramai dengan tingkah mama, Ele dan Richard, akan tetapi mereka sibuk dengan dunia mereka. Dan aku tidak bisa melarang mereka. Kini aku terbiasa dengan suasana ramai, dan ketika sepi itu sangat-sangat menyedihkan," ucap jujur Naya.
"Nanti ketika anak-anakmu sudah lahir ke dunia, pasti kau juga akan disibukkan dengan mengurus mereka. Semua akan sibuk pada waktunya Nay. Jangan bersedih. Mungkin sebentar lagi juga Nona Ele dan Tuan Richard akan segera pulang ke rumah mengingat waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore," ucap Nani berusaha untuk membuat Naya tidak bersedih lagi.
"Ma..ma ma..u tu.." ucap Elnan sambil menunjuk mainan mobil-mobilan yang berada di lemari kaca.
"Yang mana sayang? Coba tunjuk lagi," ucap Naya meminta Elnan untuk mengulangi ucapannya.
"Tu .." ucap Elnan yang terus menunjuk mobil-mobilan itu.
Naya pun berdiri dari duduknya dan mengambil mobil-mobilan dan menaruhnya di dekat tangan Elnan.
Elnan langsung meraih mobil-mobilan itu dan memainkannya. Sebuah senyuman pun tercipta di bibir mungil bayi itu. Seolah mengobati rasa kesepian Naya.
Benar, masih ada Elnan di rumah. Seharusnya aku tidak merasakan kesepian.
Naya pun ikut tersenyum melihat keaktifan Elnan yang semakin hari kian meningkat. Sedikit demi sedikit sudah banyak kosa kata yang keluar dari mulut Elnan.
Tak lama kemudian, terdengar suara mobil yang masuk ke garasi. Jika bukan suaminya maka Ele lah yang pulang. Pintu pun terbuka memperlihatkan Richard dengan setelan jas dan tas kerja yang di jinjing di tangan kanannya.
Melihat Naya dan anaknya berada di ruang keluarga, Richard pun menghampiri mereka. Si kecil Elnan langsung berlari memeluk kaki sang papa dengan riangnya.
Richard berjongkok dan memeluk anaknya.
"Elnan kangen papa ya?" tanya Richard pada Elnan.
"iya, tang--en," ucap Elnan yang masih belum lancar.
Sementara Naya, matanya mulai mendelik karena Richard membiarkan Elnan memeluknya di saat Richard baru pulang kerja yang dimana pakaian yang dikenakan Richard sudah terkontaminasi dengan virus dan kuman-kuman di luaran sana.
"Rich, kan sudah aku bilang. Habis pulang kerja mandi dulu baru setelah itu menemui ku dan Elnan. Jika nanti Elnan terkena kuman atau virus yang kau bawa bagaimana? Dia masih kecil, daya tahan tubuhnya masih lemah," ucap Naya memarahi Richard namun dengan nada yang sedikit lembut.
__ADS_1
"Iya, iya, maaf. Hal ini tidak akan terulang kembali. Papa mandi dulu boy! Nanti kita main setelah papa mandi, oke?"
Elnan kecil membalas ucapan sang papa dengan acungan jempol.
Setelah itu, Richard menuju ke kamarnya untuk membersihkan tubuhnya.
***
Malam harinya di kediaman Kavindra, rumah menjadi ramai karena satu penghuninya sudah pulang dari Paris, yaitu mama Richard.
"Duh, mama rindu sekali dengan kalian semua, terutama kedua cucu mama yang masih di dalam kandungan. Mama tidak sabar untuk menggendong mereka," ucap mama Helen kemudian memeluk Naya dengan sayang.
"Ma, harusnya pulang dari Paris bawa oleh-oleh. Setidaknya tas, pakaian atau jam tangan gitu. Ini mah mama pulang malah bawanya baju kotor. Ada-ada saja," gerutu Richard.
"Terserah mama lah. Mama bawa oleh-oleh sih, tapi mama cuma belikan untuk para cucu mama. Untukmu, kau kan bisa beli sendiri. Lagian punya uang banyak kalau tidak terpakai kan sayang."
Mendengar ucapan mamanya, wajah Richard langsung mengkerut. Beginilah nasibnya yang terkalahkan oleh anaknya sendiri.
"Kasian deh kak Richard! Tidak dapat oleh-oleh. Kalau buat aku ada kan ma?" Kini giliran Ele yang berbicara.
"Oh iya, kata mami mu, kau harus pulang ke Paris saat liburan semester nanti. Mereka sudah merindukanmu," ucap mama Helen.
"Iya ma, nanti Ele bakalan pulang kok. Lagian semester ini juga akan berakhir sebentar lagi," ujar Ele menanggapi.
"Bagaimana dengan cucu-cucu mama yang ada di perut?" tanya mama Helen.
"Mereka sehat-sehat ma. Sebuah organ tubuhnya normal dan mereka berkembang sangat cepat. Lalu sekarang mereka sudah bisa diajak untuk mengobrol karena sudah mulai bisa merespon ucapan ku maupun ucapan Richard."
"Syukurlah kalau begitu. Mama sudah khawatir saja. Kalau Richard akan bertingkah konyol seperti saat dulu mengetahui kehamilan mu. Benar-benar suami yang bodoh!"
"Mama ini kenapa suka sekali menistakan aku? Aku anak mama lho! Masa anak sendiri disebut bodoh! Aku begitu karena tidak tahu. Orang tidak tahu dengan bodoh itu dia hal yang berbeda," bantah Richard yang tidak mau disebut bodoh oleh sang mama.
"Ah, sama saja. Kau tidak usah protes," tolak sang mama akan bantahan dari Richard.
"Is! Menyebalkan sekali!"
__ADS_1
"Hahah.. sukurin! Kak Richard memang bodoh ma! Kayanya dulu pas pembagian otak dia tidak kebagian."
Ele tertawa setelah ikut menistakan kakak sepupunya. Sudah bukan hal aneh lagi jika Ele seperti itu. Keduanya memang seperti anjing dan kucing yang tidak mau akur. Ya, walaupun ada kalanya keduanya akan bersatu.
Malam pun terlewati dengan suasana kehangatan yang tercipta di keluarga tersebut. Bercerita, canda tawa dan saling mengejek satu sama lainnya.
****
Sementara di dalam sel, Nicolas setiap harinya selalu berada di dalam penyesalan. Ia ingin segera bebas dan menjalani kehidupan barunya dengan tidak berbuat jahat.
"Dena, aku benar-benar menyesal sudah mencampakkan mu. Aku menyesal tidak mengakui anakku yang ada di dalam kandungan mu. Apakah nantinya Tuhan akan mempertemukan kita kembali? Jika iya, maka aku akan menebus semua dosaku dan akan membahagiakanmu," ucap Nicolas lirih.
"Cih! Percuma saja kau menyesal! Denada tidak akan mungkin memaafkan mu!" ucap Rico yang jengah dengan ucapan penyesalan Nicolas yang selalu ia dengar terus-menerus.
"Semua ini karena mu! Gara-gara kau aku jadi seperti ini!" ucap Nicolas sambil menarik kerah baju yang dikenakan Rico.
"Apa kau bilang? Karena ku? Kau saja yang bodoh! Terlalu gampang untuk aku perbudak!"
Nicolas yang tidak tahan dengan mulut kasar Rico pun, melayangkan satu pukulan ke wajar Rico. Darah segar pun mengalir di ujur bibir Rico. Rico menyeka dara tersebut kemudian membalas pukulan Nicolas.
Pertengkaran itu terus berlanjut, sampai akhirnya polisi penjaga memisahkan keduanya dan memindahkan salah satunya ke sel yang berbeda.
****
Jangan lupa mampir ke ceritaku yang satunya.
Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.
Jangan pelit-pelit untuk memberikan like dan vote nya geng 🤠Supaya ceritaku popularitasnya semakin naik dan pembacanya semakin banyak. Kalau begitu kan aku jadi semangat nulis kelanjutan ceritanya.
Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.
Jangan lupa follow aku Ig ku ya
__ADS_1
@yoyotaa_