
Di saat Ethan di sibukkan dengan pekerjaan Richard, Alex justru disibukkan dengan pengejaran cintanya. Ele, wanita itu sangat sulit untuk ditaklukan.
Seusai mengikuti mata kuliah, Ele pergi ke cafe terdekat untuk melakukan makan siangnya sendirian. Tak mau menghilangkan kesempatan itu, Alex pun berpura-pura tak sengaja bertemu Ele disana.
"Eh, Ele. Aku kira siapa. Kau sendirian?" tanya Alex basa-basi.
"Kan sudah terlihat dengan jelas kalau aku memang sendirian kak," jawab yang melihat ke arah lawan bicaranya kemudian fokus lagi pada ponselnya sambil menunggu makanan yang ia pesan datang.
Alex dengan tidak tahu malunya langsung duduk saja di hadapan Ele tanpa meminta izin pada wanita itu.
"Pelayan!" ucap Alex sambil mengangkat tangannya. Ele langsung mengernyitkan dahinya. Namun ia bersikap biasa-biasa saja malas untuk berdebat.
Alex pun memesan makanannya dan menunggu pesanan itu tiba.
"Harus banget duduk di hadapanku ya kak? Kan banyak kursi yang kosong?" tanya Ele tanpa melihat ke arah Alex.
"Ngapain cari kursi kosong yang lain, kursi di hadapanku saja masih kosong. Tidak masalah bukan kalau aku duduk disini. Lagian kau pun sendirian. Justru itu bagus, kau jadi ada temannya. Biar tidak dikira jomblo," ucap Alex asal.
Ele yang mendengar jawaban tersebut pun tak menanggapi dengan serius. Toh memang kenyataan kalau dirinya adalah seorang jomblo.
Merasa kehadirannya tidak diharapkan oleh Ele, karena Ele sedari tadi hanya fokus pada ponselnya, Alex pun mulai mencari-cari perhatian Ele. Dengan memutarkan sebuah lagu yang sesuai dengan isi hatinya sekaligus untuk menyindir Ele supaya peka pada perasaannya.
Kurasa 'ku sedang jatuh cinta
Karena rasanya ini berbeda
Oh, apakah ini memang cinta?
Selalu berbeda saat menatapnya (hu)
Mengapa aku begini?
Hilang berani dekat denganmu
Ingin 'ku memilikimu
Tapi aku tak tahu
__ADS_1
Bagaimana caranya?
Tolong katakan pada dirinya
Lagu ini kutuliskan untuknya
Namanya selalu kusebut dalam doa
Sampai aku mampu
Ucap maukah denganku
Ele langsung menatap ke arah Alex. Sementara Alex ia berusaha untuk tetap cool dan mengatakan bahwa, "Maaf, maaf lagunya tidak sengaja kepencet."
"Benarkah?" tanya Ele sambil terus memperhatikan Alex. Alex mengangguk.
"Aku tahu kak, kau itu suka padaku kan?" Ele mengatakan itu membuat Alex terdiam. Rupanya menghadapi wanita seperti Ele benar-benar sangat sulit. Ingin melakukan hal romantis pun susah. Apanya begini? Belum juga menyatakan cinta, sudah ketahuan duluan.
"Sejelas itu ya?" tanya Alex yang ingin terang-terangan saja.
"Sangat jelas. Seperti kucing yang sudah menargetkan mangsanya," jawab Ele.
"Santai karena aku sudah terbiasa. Kau menguntit ku kemana pun aku pergi. Kau kira aku tidak tahu kak? Aku tahu. Aku bahkan sampai kesal setiap harinya. Aku juga tahu, kau ada disini bukan karena kebetulan sekarang. Benar bukan?"
Jawaban Ele mampu membuat Alex terdiam. Rupanya semua usahanya sudah terbongkar. Tidak ada lagi cara yang terlintas di pikirannya untuk saat ini.
Obrolan mereka terhenti saat pelayan membawakan pesanan mereka. Setelah pelayan itu pergi, Alex melanjutkan lagi obrolan mereka.
"Dugaan mu memang benar," ucap Alex.
Ele manggut-manggut. Ia sudah kelaparan sekali dan sudah tidak sabar untuk menghabiskan makanan yang ia pesan. Ia makan dengan lahapnya, bahkan seolah-olah ia tak melihat Alex yang ada di hadapannya. Wanita satu ini, begitu bodo amat makan dengan porsi segunung. Alex menggeleng-gelengkan kepalanya. Memang hanya Ele yang berbeda di matanya. Wanita lain mah lewat, pesona Ele jadi yang paling utama.
Selesai makan siang, Ele pun membayar makanannya. Padahal, Alex sudah mau membayar, akan tetapi Ele menolaknya dan berucap, "Aku bukan wanita yang suka dibayarin makan atau dibelanjakan sesuatu oleh orang lain, selagi masih punya uang. Pantang hukumnya, kecuali keluargaku sendiri. Aku dengan senang hati menghabiskan uang mereka. Terutama uangnya Kak Richard yang berlimpah-limpah ruah itu."
Setelah mengatakan itu, Ele kembali ke kampusnya meninggalkan Alex yang masih duduk di kursinya.
"Aku akan jadi laki-laki terbodoh jika melewatkan wanita ajaib seperti Ele. Oke, full kan energi dulu. Aku akan memperjuangkan cinta ini untuknya, meskipun harus bertahun-tahun lamanya. Tunggu saja Ele. Kau pasti akan membalas cintaku. Mungkin tidak sekarang, tapi suatu saat nanti.
__ADS_1
****
Setelah melahirkan, Denada masih fokus di rumah untuk menjaga bayinya. Untungnya, uang tabungannya masih cukup untuk beberapa bulan ke depan. Namun, Sari bersikeras untuk membantu keuangan Denada. Ia menjadi pelayan kafe dan bekerja di shif pagi setiap harinya.
Bayi tampan, Ansel kecil menggeliat saat Denada menyentuh pipi mulusnya. Denada terus memperhatikan anaknya. Sampai tak sadar, ia mengingat kembali kenangannya bersama Nicolas.
"Wajahmu mirip sekali dengan papamu sayang. Apa suatu saat nanti kau akan menanyakan keberadaan papamu? Atau kau ingin tahu siapa papamu itu? Mama saja kini tak tahu dimana keberadaannya. Bagaimana kabarnya? Dan seperti apa dia sekarang. Mungkin saja dia sudah menikah dengan wanita yang dicintainya dan melupakan kita. Jadi, mama harap ketika kau dewasa nanti. Jangan tanyakan hal itu pada mama. Mama akan sedih kalau kau bertanya seperti itu."
Denada semenjak tinggal di desa kelahirannya. Ia sangat jarang membuka internet atau ponselnya jika bukanlah hal penting. Ia benar-benar menghilang dan berusaha untuk tidak mengingat-ingat lagi masa lalunya. Ia bahkan tidak tahu kalau Nicolas kini mendekam di penjara.
Tak lama kemudian, Sari pulang kerja dan membawakan makanan untuk Denada. Ia juga membelikan popok bayi untuk Ansel.
"Padahal kau tidak usah repot-repot membelikan kebutuhan Ansel. Harusnya uangnya kau tabung saja," ucap Denada.
"Tidak apa-apa kak. Lagian cuma popok bayi. Harganya pun tidak mahal. Kecuali jika aku membelikan Ansel mainan mobil-mobilan yang bisa ia naiki itu baru mahal. Dan aku pun belum sanggup untuk membelinya," ucap Sari memberikan sebuah perbandingan agar Denada tidak perlu sungkan padanya.
"Terima kasih ya Sar."
"Sama-sama kak. Mari makan."
Mereka berdua pun makan bersama dengan suasana bahagia meskipun menu makannya begitu sederhana. Hanya nasi dengan sayur dan lauk-pauk dilengkapi dengan sambal. Namun, kebahagian bukan diukur dari seberapa mahalnya makanan dan seberapa megahnya sebuah rumah, akan tetapi diukur dari dengan siapa kita bersama.
****
Terima kasih yang sudah memberikan sarannya padaku. Love you untuk kalian semua 😍😍
****
Jangan lupa baca cerita baruku yang berjudul Cinta Dalam Doa. Jumlah bab nya tidak banyak. Awal November pun sudah akan tamat. Dan di akhir episodenya ada giveaway yang aku berikan. Jadi, yuk meluncur kesana 🏃🏃🏃🏃 Ramaikan dengan komentar-komentar kalian.
Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.
Jangan pelit-pelit untuk memberikan like dan vote nya geng 🤭 Supaya ceritaku popularitasnya semakin naik dan pembacanya semakin banyak. Kalau begitu kan aku jadi semangat nulis kelanjutan ceritanya.
Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.
__ADS_1
Jangan lupa follow aku Ig ku ya
@yoyotaa_