
Warning! Bocil dilarang baca! Ini untuk kalangan usia 17+
****
"Kenapa terdiam? Kau tidak ingin mengenakan pakaian itu? Lalu kenapa membelinya sayang?" tanya Richard.
"Aku tidak membelinya. Sepertinya ini dari Ele. Lagipula pakaian apa itu seperti jaring laba-laba saja," ujar Naya.
Ele, aku harus memberimu uang jajan tambahan. Good job, untukmu kali ini. Sekarang yang harus aku lakukan hanyalah memaksa Naya untuk memakai pakaian itu.
"Kalau kau tidak memakainya, berarti kau tidak menghargai pemberian Ele, sayang. Kasian dia, pasti dia mengumpulkan uang jajannya untuk membeli lingerie itu untuk malam pertama kita," ucap Richard mencoba untuk mempengaruhi pikiran Naya.
Untungnya, Naya tidak tahu berapa jumlah uang bulanan Ele yang dikasih orang tuanya. Belum lagi uang dari mamanya Richard dan juga dirinya. Intinya hampir 3 digit dalam sebulan. Hanya membeli satu lingerie saja seperti membeli permen bagi Ele.
Naya tampak menimang-nimang ucapan Richard. Benar juga apa yang dikatakan Richard. Namun, ia tidak ingin mengenakan pakaian yang bahkan bisa dibilang seperti tidak memakai apapun. Karena seluruh tubuhnya kelihatan karena transparan.
"Kau tidak ingin mengecewakannya, kan sayang?" tanya Richard lagi.
Naya sungguh bingung. Ia bertengkar dengan pikirannya.
Sisi baiknya mengatakan, "Pakai saja Naya, anggap saja sebagai suatu kewajiban mu untuk sang suami. Lagian ini sudah waktunya kau memberikan hak untuk suamimu. Jika selalu menunda, maka kaulah yang berdosa."
Lalu sisi buruknya pun mempengaruhi Naya, "Jangan mau Naya, pasti ini semua akal-akalan suamimu supaya kau mengenakan baju haram itu. Setelah itu dia akan langsung menerkam mu dan akan membuatmu merintih kesakitan. Urusan hadiah itu, kau bisa mengatakan jujur pada Ele."
"Apa mau aku pakaikan?" ucap Richard menawarkan dirinya saat Naya masih terdiam.
Naya menggeleng.
"Kau harus memakainya sayang, malam ini saja. Supaya tak ada yang kecewa. Ele jika sudah kecewa, ia biasanya akan murung dan mogok makan. Kau tidak mau hal itu terjadi kan?" Richard masih terus membujuk rayu Naya untuk memakai lingerie merah muda itu.
Setelah dipikir-pikir, Naya akhirnya pasrah saja. Ia pun mengambil kotak itu dan berjalan ke kamar mandi.
"Apa bagusnya pakaian ini? Kenapa para laki-laki suka melihat wanita mengenakan ini?" tanya Naya sambil mengangkat lingerie itu dari kotak.
Sementara Richard, jantungnya sudah mulai terdengar genderang drum yang terus berbunyi tanpa hentinya. Ia sudah tidak sabar melihat Naya mengenakan baju haram itu.
"Tolong kondisikan jantungmu, Richard!" pinta Richard pada dirinya sendiri.
Richard mulai gelisah, karena sudah beberapa menit Naya berada di kamar mandi dan tak kunjung keluar juga.
__ADS_1
"Apa Naya tertidur di dalam sana?" tanyanya.
"Tidak! Tidak jangan berpikir yang aneh-aneh dulu. Aku harus sabar menunggunya mendekat padaku," ucap Richard lagi.
Bilangnya sih harus sabar akan tetapi Richard terus berjalan kesana dan kemari di depan ranjangnya. Harusnya ia duduk santai di ranjang menunggu istrinya datang mendekat padanya. Dasar! Mulut dan hati tidak bisa selaras.
"Ceklek," bunyi pintu kamar mandi yang terbuka. Richard dengan percaya dirinya langsung duduk di ranjang berpura-pura menunggu Naya dengan santai. Padahal di hatinya sangat gugup sekali.
Naya keluar dari kamar mandi mengenakan handuk kimono milik Richard untuk menutupi tubuhnya yang memakai lingerie. Ia merasa tidak nyaman memakai pakaian tipis dan transparan itu.
"Kenapa memakai handuk kimono?" tanya Richard yang sedikit kesal. Ia kira Naya akan benar-benar keluar dengan hanya memakai lingerie.
"Aku malu. Ini tidak bisa disebut pakaian. Tubuhku saja bisa kelihatan saat sudah memakainya," jawab Naya.
Richard terkekeh mendengar jawaban Naya. Memang itulah kegunaan lingerie.
"Kenapa harus malu? Aku bahkan sudah melihat setengah dari tubuhmu," jawab Richard.
"Mendekatlah!" pinta Richard.
Naya pun mendekat ke Richard dengan masih mengenakan handuk kimono. Saat Naya mendekat ke ranjang, Richard langsung menarik Naya hingga membuat Naya duduk di pangkuan Richard. Naya terkejut dibuatnya.
Richard terkekeh melihat kelakuan istrinya itu. Naya terlihat menggemaskan di matanya. Tanpa peduli dengan respon Naya, Richard langsung menyambar bibir Naya dengan bibirnya. Ia juga menekan tengkuk leher Naya untuk memperdalam ciuman tersebut. Ciuman yang awalnya sangat lembut berubah menjadi ciuman penuh gairah. Bahkan Richard mel*mat bibir atas dan bawah Naya bergantian.
Awalnya Naya hanya terdiam menikmati sentuhan bibir Richard di bibirnya. Namun, lama kelamaan ia pun membalas ciuman tersebut dan membuka mulutnya. Keduanya saling mengabsen isi mulut masing-masing.
Naya mulai kehabisan napasnya, Richard pun menghentikan ciumannya. Ia menggendong Naya dan merebahkan Naya di ranjang besar milik keduanya. Kemudian Richard melepaskan kaos yang dikenakannya. Sehingga terlihat jelas kotak-kotak yang ada di perutnya. Naya menelan ludahnya. Ini adalah pertama kalinya Naya melihat roti sobek milik suaminya.
Richard mulai merangkak ke atas tubuh Naya, ia mengungkung Naya dengan kedua tangannya. Satu per satu bagian wajah Naya Richard kecup. Hingga kecupan tersebut kini berada di ceruk leher Naya. Richard meninggalkan tanda kemerahan di leher Naya hingga membuat Naya mend*sah karenanya.
Gairah Richard sudah tak tertolong lagi, ia pun merobek lingerie tipis itu, hingga memperlihatkan seluruh tubuh polos Naya.
"Kau, kau kenapa merobeknya? Nanti Ele akan kecewa!" tanya Naya sambil menutupi kedua dada dan kewanitaannya.
"Jangan ditutup sayang, biarkan aku melihat keindahan tubuhmu," ucap Richard lalu mencium leher Naya lagi.
"Ah ..." d*sahan Naya keluar lagi dari mulutnya. Hingga membuat Richard dengan mudah mengalihkan kedua tangan Naya di bagian yang menjadi candu baginya.
Kedua buah dada itu Richard r*mas dan hisap bergantian hingga Naya meracau nikmat.
__ADS_1
"Aku selalu terpesona ketika melihat dada mu, sayang. Kedua begitu menggemaskan," ucap Richard kemudian menggigit salah satunya.
Naya merintih kesakitan dibuatnya.
Tangan Richard mulai beralih ke perut Naya, membelai lembut perut rata tersebut, kemudian menciumnya.
"Setelah ini, perutmu yang rata akan aku buat membesar," ujar Richard.
Sentuhan tangan terus beralih ke paha Naya, dan berakhir di kewanitaan milik Naya. Richard memainkan kewanitaan Naya dengan satu jarinya untuk memancing reaksi dari Naya.
"Ah, ah," suara d*sahan yang keluar dari mulut Naya.
"Keluarkan yang keras sayang. Aku ingin mendengarnya."
Kini satu jari itu bertambah menjadi dua. Richard memainkannya jarinya dengan cepat. Hingga membuat Naya tak kuat menahan gairah yang mengalir ke seluruh tubuhnya.
"Lebih cepat Rich, aa-ku ...." Ucapan Naya terpotong karena Richard mempercepat gerakan jarinya.
"Aaku-- ingin -- ah, ah ..." Tubuh Naya bergetar ketika akan keluar cairan dari kewanitaannya.
"Ahh..." Naya terus mend*sah merasakan kenikmatan itu.
"Panggil namaku sayang."
"Ra-sanya se-perti ada yang ingin keluar dari dalam sana ... ah, Rich.." Tubuh Naya semakin bergetar. Cairan pertama Naya pun akhirnya keluar. Naya merasakan lemas di area tubuh bawahnya.
"Ini baru permulaan sayang. Setelah ini kita akan melakukan intinya."
"APA!" teriak Naya tidak percaya. Hanya seperti ini saja sudah membuat Naya lemas dan mend*sah kenikmatan. Lalu bagaimana step selanjutnya?
***
Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.
Jangan lupa berikan like dan vote nya teman-teman.
Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.
Kalian bisa juga memberikan dukungan untuk yoyo dengan menonton iklan yang ada di kolom pemberian hadiah.
__ADS_1