
Esok harinya, Nicolas pulang dari rumah Denada ke apartemennya. Ia merenungi semua kesalahan yang pernah ia lakukan. Merasa kesalahannya terlalu banyak, Nicolas jadi pesimis sendiri untuk bertemu dengan Richard dan Naya.
Namun, ia teringat kembali pada ucapan Denada, ucapan Denada itu membangkitkan rasa pesimisnya jadi optimis.
"Tak peduli bagaimana tanggapan Richard dan Naya nantinya. Yang terpenting aku harus meminta maaf pada mereka berdua."
Tekad Nicolas semakin kuat. Ia pun membersihkan tubuhnya lalu setelah itu pergi mengunjungi kediaman Richard. Setelah sampai di sekitar kediaman Richard, ia mengamati keadaan sekitar. Saat melihat mobil Richard ada di rumah, Nicolas pun memaksa untuk masuk ke rumah Richard walaupun si satpam melarangnya.
"Pak tolong bukakan gerbangnya! Ada hal penting yang ingin saya bicarakan dengan si pemilik rumah," pinta Nicolas sedikit memelas.
"Tidak boleh, tuan Richard sudah memerintahkan saya untuk tidak mengizinkan orang lain dibiarkan masuk kecuali orang-orang yang ada di dalam sana."
Pak satpam pun menunjuk foto-foto yang terpajang di pos. Ada Ele, Alex, Ethan, Sari dan Denada.
"Ya sudah kalau begitu, coba kau telpon majikan mu. Bilang ada yang ingin bicara. Tidak masuk ke dalam pun tidak apa-apa," usul Nicolas.
Sang satpam pun akhirnya menuruti perintah Nicolas.
Setelah menghubungi Richard, si satpam akhirnya membiarkan Nicolas masuk karena Richard memperbolehkannya. Namun perbincangan dilakukan tidak di dalam rumah Richard melainkan di pekarangan rumah.
Rupanya Richard sudah menunggu disana. Nicolas pun keluar dari mobilnya dan menghampiri Richard.
"Katakan apa yang ingin kau ucapkan. Aku tidak punya banyak waktu untuk bicara omong kosong!" ucap Richard dengan dinginnya. Padahal di dalam hatinya, ia sedang berusaha menahan gejolak dalam dirinya yang ingin menghajar wajah laki-laki di hadapannya ini.
Tiba-tiba Nicolas bersimpuh di hadapan Richard. Membuat Richard sedikit terkejut akan tetapi ia bersikap seolah itu adalah hal biasa. Richard masih memperlihatkan wajah dinginnya.
"Rich, aku minta maaf atas segala kesalahan yang telah aku lakukan padamu. Baik itu tentang Denada ataupun Naya. Semua aku lakukan dengan sadar, tapi aku sendiri tidak sadar jika Rico ternyata hanya mempermainkan aku saja dan menjadikan aku pion catur yang akan ia gunakan untuk melakukan aksinya," jelas Nicolas.
Richard masih bersikap dingin, ia tidak ingin mudah goyah karena Nicolas yang bersimpuh di hadapannya. Setelah mendengar penjelasan Nicolas itu, Richard justru pergi masuk ke dalam rumahnya meninggalkan Nicolas yang masih bersimpuh.
Nicolas menyadari Richard yang pergi menjauh, ia pun merasa kecewa pada dirinya sendiri. Ia sadar betul, bahwa memaafkan orang yang telah memberikan luka tidaklah mudah. Nicolas pun mulai bangun dari posisinya. Ia berjalan pelan kemudian menengok ke belakang lagi berharap Richard akan keluar kembali. Sayangnya, itu tidak terjadi. Nicolas pun pulang tanpa mendapatkan maaf dari Richard.
****
Rupanya sedari tadi Naya memperhatikan apa yang terjadi di halaman rumah. Sayangnya, ia tidak bisa mendengar apa yang Richard dan Nicolas katakan.
"Sayang, apa yang terjadi di depan tadi? Kenapa Nico sampai bersimpuh di hadapanmu?" tanya Naya yang penasaran.
"Di mengakui semua dosa-dosanya," ucap Richard.
"Lalu?" tanya Naya lagi.
__ADS_1
"Aku tinggalkan begitu saja," jawab Richard lagi.
Tiba-tiba sebuah cubitan melayang di pinggang Richard.
"Sakit sayang!" rintih Richard.
"Kau ingin hidup damai tidak?" tanya Naya dengan tatapan tajam. Richard pun mengangguk.
"Berdamai dengan masa lalu. Maafkan orang yang telah menyakitimu. Setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua," ucap Naya.
Richard malah memberikan respon mengangkat alisnya sebelah seolah tidak setuju dengan ucapan Naya.
"Jika aku memaafkan setiap orang yang menyakitiku. Apa aku harus mengeluarkan Rico dari penjara?" tanya Richard mencoba mengikuti arus yang diciptakan oleh Naya.
"Tidak, Rico itu pengecualian. Karena aku yakin, dia pasti tidak akan mudah menyesali perbuatannya. Cukup maafkan orang-orang yang meminta maaf dengan tulus padamu. Aku ingin kehidupan anak kita nanti aman, nyaman dan damai," ucap Naya.
"Em begitu," ucap Richard. Naya mengangguk.
"Baiklah, jika dia datang lagi, aku akan memaafkannya. Tapi aku tetap tidak ingin melihatnya lagi di hadapanku. Rasanya api di dalam tubuhnya seperti terbakar dan ingin menyambarnya saat itu juga."
"Tidak apa-apa. Hanya butuh waktu."
Perbincangan keduanya tentang Nicolas pun selesai.
****
"Kalau begitu, apa Naya ada di rumah? Aku ingin bertemu dengannya?" tanya Nicolas.
"Maaf sekali. Meski Nona Naya ada di rumah, anda tidak akan bisa masuk. Lebih baik lusa anda datang lagi. Karena tuan Richard akan pulang lusa."
Lagi-lagi Nicolas pulang tanpa mendapatkan maaf. Ia merasa lelah sendiri. Rupanya meminta maaf juga butuh perjuangan apalagi memaafkan? Seketika Nicolas jadi bimbang. Disela kebimbangannya itu, Nicolas menelpon Denada.
"Kau sedang apa?" tanya Nicolas.
"Aku sedang menonton televisi bersama Ansel," jawab Denada.
"Boleh aku ganti jadi panggilan video?" tanya Nicolas takut Denada menolak permintaannya.
"Boleh," jawab Denada menyetujui permintaan Nicolas.
"Sebenarnya hari ini aku ingin sekali kesana. Tapi, rasanya mood ku sedang tidak baik. Jadi, lebih baik aku di rumah saja," ucap Nicolas. Denada pun bertanya.
__ADS_1
"Memangnya kau sedang ada masalah?"
"Tidak sih, hanya saja aku merasa tidak pantas untuk dimaafkan atas segala kesalahanku yang dulu," ujar Nicolas.
"Mengenai hal itu bukan kau yang bisa memutuskan layak atau tidaknya kau dimaafkan. Tapi kesungguhan dan ketulusan di dalam hatimu. Kita memang pernah berbuat kesalahan, akan tetapi kita juga berhak mendapatkan kesempatan kedua. Jadi, jangan pernah menyerah untuk mendapatkan maaf dari Richard dan Naya."
"Eh ..." Nicolas merasa terkejut, padahal dia tidak bercerita tentang dirinya yang meminta maaf ke Richard dan Naya pada Denada.
"Semangat!" ucap Denada lagi memberi semangat pada Nicolas.
Setelah itu, panggilan video pun sengaja ditutup oleh Denada. Menimbulkan pertanyaan pada diri Nicolas, akan tetapi ucapan semangat yang diberikan Denada lebih mempengaruhi pikirannya. Membuatnya bangkit kembali untuk berjuang agar mendapatkan maaf dari pasangan suami istri itu.
****
Hari terus berganti, Nicolas juga sudah berkali-kali datang ke rumah Richard, ke kantor Richard bahkan terkadang ke rumah Alex untuk menanyakan keberadaan Richard. Namun, tak kunjung bisa bertemu dengan Richard, selalu saja ada kendalanya.
Kini sudah tepat kelima belas kalinya Nicolas datang, si satpam juga sudah sampai bosan melihat wajah Nicolas.
"Kau beruntung, hari ini Tuan Richard sedang berada di rumah. Ia juga berpesan jika kau datang lagi. Kau disuruh masuk ke dalam rumah," ucap si satpam. Nicolas merasa lega. Akhirnya setelah kesekian kalinya ia bisa bertemu dengan Richard juga.
Nicolas pun berjalan dengan pelan menuju pintu masuk dan mengetuk pintu tersebut. Nicolas dipersilahkan masuk oleh pelayan di rumah Richard. Ia disuruh untuk menunggu sebentar. Nicolas benar-benar tidak sabar, tentang tanggapan Richard lagi setelah di hari itu, Richard pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun padanya.
****
Jangan lupa mampir ke ceritaku yang lain.
1. Cinta Dalam Doa (tamat)
2. Bitter Sweet Marriage (on Going)
3. All I Want Is You (On Going)
****
Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.
Jangan pelit-pelit untuk memberikan like dan vote nya geng 🤠Supaya ceritaku popularitasnya semakin naik dan pembacanya semakin banyak. Kalau begitu kan aku jadi semangat nulis kelanjutan ceritanya.
Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.
Jangan lupa follow akun Ig ku ya
__ADS_1
@yoyotaa_