
"Dah, jangan lama-lama di Paris nya kak. Salam rindu dariku untuk papi dan mami," ucap Ele pada Richard saat akan melakukan check in.
"Iya, jaga istriku baik-baik. Jika tidak siap-siap kalian berdua aku cincang!" ancam Richard.
"Siap laksanakan!" jawab Ele dengan sikap hormat.
Setelah Richard tak lagi terlihat di hadapan Ele dan Alex, kedua orang tersebut berjalan menuju ke parkiran. Keduanya membuka mobil bersamaan.
"Jalan kak," pinta Ele pada Alex.
"Hii.. bocah kerjaannya menyuruh yang tua saja! Sabar dulu, aku belum pakai sabuk pengaman ku," ucap Alex sambil mengenakan sabuk pengamannya.
Mobil pun berjalan, kedua orang tersebut tampak terdiam. Ele memandangi suasana luar dari kaca mobil. Alex hanya memandangi kelakuan Ele yang duduk di sebelahnya.
"Ele," panggil Alex karena suasana begitu sunyi.
"Hmm." Ele membalas dengan berdehem.
"Kau ternyata masih bar-bar seperti dulu. Aku kira waktu 5 tahun akan mengubah mu menjadi wanita yang anggun," ujar Alex.
"His! Penampilanku sudah anggun begini masih dibilang bar-bar. Kau tidak buta kan, kak?" tanya Ele yang kesal karena dibilang bar-bar. Padahal penampilannya begitu sangat feminim. Bahkan jika dibandingkan dengan istri kakak sepupunya, Ele lebih terlihat seperti wanita anggun yang selalu memakai dress.
"Penampilan boleh saja anggun, tapi sikap dan sifat mu tidak," sahut Alex yang membantah bahwa dirinya tidak salah melihat.
"Ya sudah sih, ngapain kakak repot-repot mengomentari diriku. Lebih baik fokus saja menyetir nanti kalau kecelakaan kan gawat!" cecar Ele yang malas berdebat dengan Alex.
Setelah mendapatkan omelan dari Ele, Alex fokus menyetir dan sesekali melihat ke arah Ele. Wanita di sebelahnya ini, bertransformasi dari gadis kecil yang selalu menjadi penguntit Richard menjadi wanita cantik dengan sikap yang jarang sekali seorang wanita miliki. Ada rasa kagum Alex pada Ele.
***
Setelah menempuh sekitar 16 jam perjalanan menuju ke Paris. Akhirnya Richard bisa beristirahat dengan tenang di sebuah hotel mewah yang ada disana. Sebelum beristirahat, ia memberikan pesan terlebih dahulu pada Naya bahwa ia sudah sampai dengan selamat sampai tujuan. Barulah setelah itu, ia benar-benar beristirahat.
__ADS_1
Ketika bangun di malam harinya, Richard mengajak Leon untuk pergi ke rumah mami dan papi nya untuk makan malam.
Sebagai penjelasan, mami dan papi ini adalah orang tua dari Ele. Sedari kecil baik Ele maupun Richard sudah dibiasakan untuk memanggil seperti itu.
Richard dan Leon sudah menginjakkan kaki mereka di sebuah mansion besar milik mami dan papi Ele. Keduanya disambut dengan sangat baik di mansion tersebut. Mereka dijamu dengan masakan ala Prancis. Selesai makan, papi Ele yang bernama Dominik mengajak Richard dan Leon untuk berbincang di ruang keluarga.
"Papi bersyukur kau bisa datang secepat ini. Perusahaan benar-benar membutuhkanmu. Semua pendapatan menurun drastis, sementara dana yang kita keluarkan semakin besar. Para investor pun satu persatu mencabut investasinya. Untuk alasannya papi tidak tahu kenapa," jelas papi Dominik.
"Begitu ya Pi. Baiklah, besok aku akan langsung mengecek langsung ke perusahaan. Aku harap semua ini terjadi bukan karena orang dalam. Karena jika begitu, aku akan benar-benar sangat kecewa," ujar Richard.
"Kau benar. Orang yang kita percaya lalu berkhianat akan sangat menyakitkan untuk kita ketahui kebenarannya daripada orang yang memang sedari awal adalah musuh," ujar Papi Dominik menanggapi.
Jika kalian bertanya kenapa nama Ele tidak memiliki kepanjangan dengan nama ayahnya. Jawabannya adalah karena memang papanya Ele tidak berasal dari orang kaya, ia hanya dari kalangan orang biasa yang awalnya hanya sebagai sekretaris ayah Richard. Nama belakang Ele pun disematkan nama 'Kavindra' langsung oleh ayahnya Richard, karena ia memang menganggap keponakannya itu sebagai putri bungsunya.
"Malam ini kau mau menginap disini atau akan kembali ke hotel?" tanya papi Dominik.
"Kembali ke hotel sepertinya. Lain kali saja aku menginap di rumah papinya," jawab Richard.
"Seharusnya tanpa perlu aku menjawab pun, papi sudah tahu jawabannya. Tiada hari tanpa dia tidak menyusahkan ku. Selalu ada saja kelakuannya yang membuatku naik darah. Tapi aku tetap menyayanginya," jawab Richard dengan jujur.
"Terima kasih, jika kau bisa memakluminya. Dia memang sedari dulu ingin sekali memiliki seorang kakak. Sayangnya ia adalah anak pertama, makanya ketika ia mengenalmu dulu adalah sepupunya, ia selalu ingin dekat denganmu dan mengklaim bahwa kau adalah kakak kandungnya," jelas papi Dominik. Richard sebenarnya sudah mengetahui hal itu dari mamanya. Makanya ia selalu membiarkan saja Ele mengikutinya kemanapun ia pergi.
"Sama-sama Pi. Lagian aku juga sudah menganggap Ele sebagai adik kandungku sendiri. Kalau begitu aku pamit pulang ya Pi. Besok kita bertemu lagi di perusahaan," ujar Richard.
Richard dan Leon pun bergantian mencium tangan papi Dominik. Keduanya pun meninggalkan mansion tersebut dan menuju ke hotel.
****
Beberapa hari setelah ditinggal Richard ke Paris, Naya merasakan perbedaan yang begitu besar. Ia tidak lagi bisa mendengar gombalan Richard, kemesuman Richard yang tiada bandingannya. Sifat manja Richard yang tingkat dewa, semuanya menghilang secara langsung hanya bisa ia terima lewat online.
Naya merasakan rindu yang teramat sangat padahal baru ditinggal belum sampai seminggu. Terkadang ia yang bisanya mengabaikan ponselnya dan meninggalkan ponsel tersebut di kamar, kini ia selalu membawa ponsel tersebut kemanapun dan menunggu kabar dari Richard. Bahkan ia selalu mengecek ponsel tersebut tiap beberapa menit sekali.
__ADS_1
Apakah efek dari berjauhan dengan Richard menjadikan Naya bisa lebih jujur tentang apa yang dirasakan oleh hatinya sendiri? Jawabannya hanya Naya yang tahu.
Drt ... drt ... drt ...
Sebuah panggilan video masuk ke ponsel Naya. Naya pun langsung mengangkatnya.
"Selamat siang sayang," sapa Richard pada Naya yang baru saja bangun dari tidurnya.
"Selamat pagi juga," sapa Naya balik. Karena memang perbedaan waktunya adalah 5 jam.
"Sayang, asal kau tahu, baru beberapa hari kau jauh dariku, rasanya aku sudah merindukanmu. Ingin sekali aku cepat-cepat pulang dan mencium mu," ucap Richard sambil bersedih hatinya.
"Apa kau merasakannya juga?" tanya Richard.
Richard benar-benar penasaran jawaban apa yang akan diucapkan oleh istrinya itu.
"Iya," jawab Naya dengan suara lirih.
"Sayang, aku tidak mendengarnya jika suaramu begitu lirih," protes Richard yang sebenarnya sudah tau apa yang diucapkan oleh Naya. Hanya saja ia ingin mendengar jawaban tersebut dengan suara yang lantang dan tidak lirih.
Sebuah pengakuan dari Naya menjadi sangat berarti untuknya. Pasalnya, istrinya itu tidak mudah untuk mengutarakan isi hatinya. Sekalinya berkata begitu, ia benar-benar menantikannya.
***
Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.
Jangan pelit-pelit untuk memberikan like dan vote nya geng 🤠Supaya ceritaku popularitasnya semakin naik dan pembacanya semakin banyak. Kalau begitu kan aku jadi semangat nulis kelanjutan ceritanya.
Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.
Jangan lupa follow aku Ig ku ya
__ADS_1
@yoyotaa_