
"Kalau kau terus bicara, kapan aku menjawab pertanyaan mu itu?"
"Oh, iya maaf. Pasti si Nicolas kan?" tanya Ethan lagi.
"Ya kau benar," jawab Denada membenarkan.
"Apa dia tahu kau hamil anaknya?" tanya Ethan.
"Ya, dia tahu dan dia tidak ingin mengakuinya. Jadi, aku putuskan untuk menghilang dari hidupnya," jawab Denada.
Ethan merasa iba pada Denada. Meskipun dulu wanita itu telah membuat sahabatnya terluka. Akan tetapi karena luka itu juga kini sahabatnya menemukan orang yang tepat.
"Aku kasihan melihat dirimu dan anakmu Dena. Kalau kau perlu bantuan, kau bisa menghubungiku," ujar Ethan.
"Terima kasih. Tapi maaf, aku tidak mau menerima bantuan apapun dari orang lain. Aku masih bisa membuat anakku bahagia dengan caraku sendiri."
Seketika ucapan Denada membuat Ethan kagum. Rupanya wanita yang telah disakiti jika ia ikhlas menerima akan menjadi pribadi yang luar biasa.
"Ngomong-ngomong dari mana kalian berdua saling kenal?" tanya Denada pada Ethan dan Sari.
"Oh, ini, aku mengenalnya karena sering makan di tempat Sari bekerja," jawab Ethan.
"Begitu ya?"
Denada terus memperhatikan gelagat Ethan yang sepertinya memiliki niat terselubung. Ia pun meminta Sari untuk membuatkan minuman untuk Ethan.
Kini tinggallah Ethan, Denada dan bayinya.
"Aku bisa melihat gelagat mu. Dari pancaran matamu. Kau menyukai Sari, bukan?"
"Sejelas itu ya?" tanya Ethan.
"Sangat jelas. Jika kau menyukai Sari, aku mohon jangan buat dia bersedih. Dulu aku bertemu dengannya saat Sari dipaksa menikah dengan renternir yang meminjamkan uang pada orang tua Sari. Aku membantunya untuk kabur saat itu, dan sampai sekarang Sari bersamaku. Aku sudah menganggapnya adikku sendiri. Jika kau hanya menyukainya sesaat. Lebih baik jangan memberikannya harapan. Dia sudah terluka sekali, jangan buat dia terluka lagi."
Ucapan Denada benar-benar membuat Ethan terdiam. Ya awalnya memang Ethan menyukai Sari karena dia terlihat lembut dan juga cantik, kepribadiannya yang selalu ramah, membaurnya jatuh hati. Namun, ia belum berpikir untuk mengajak Sari ke hubungan yang lebih serius.
"Aku tidak berniat untuk memberikan dia harapan. Dia saja masih tidak peka atas perhatianku. Tapi aku ingin mengenalnya lebih dalam. Siapa tahu, dengan begitu, rasa sukaku berubah menjadi rasa cinta dan rasa ingin memiliki."
"Aku tidak melarang mu, tapi ingat! Jangan buat dia bersedih!" Ethan mengangguk.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong siapa nama anakmu?"
"Ansel Scarlett," jawab Denada. Ethan pun mengangguk lagi.
Tak lama kemudian, Sari datang dengan membawakan dua gelas es jeruk. Ethan langsung meminum es jeruk itu hingga habis. Sekitar 30 menitan Ethan berada disana. Hingga akhirnya ia berpamitan untuk pulang.
****
Di dalam kamar, Ele begitu gelisah, ia bingung dengan perasaannya sendiri. Apalagi mengingat kemarin Alex terlihat marah padanya. Sampai-sampai ia bahkan belum menerima pesan apapun dari Alex. Pagi tadi saja yang datang ke rumah Richard untuk mengambil mobil Alex adalah sopir laki-laki itu.
"Apa kak Alex benar-benar marah padaku?"
Dengan keberanian, Ele memberikan pesan pada Alex.
^^^Ele^^^
^^^Kak Alex apa kau marah padaku? Bagaimana tanganmu? Apa benar-benar sudah sembuh? Tidak ada yang terasa sakit lagi? ^^^
Ele terus menunggu balasan dari Alex. Namun, tak kunjung ada pesan balasan juga. Sampai akhirnya Ele tertidur di kamarnya dan bangun di tengah malam.
"Hoam, jam berapa ini?" Ele melihat jam di layar ponselnya.
"Sudah pukul segini, tapi Kak Alex belum membalas pesanku juga. Apa hari ini dia sibuk sekali?"
"Haish! Kau sih Ele! Gara-gara kau yang tidak tahu isi hatimu, jadinya begini kan? Ada laki-laki yang mencintaimu namun kau abaikan! Di saat kau diabaikan kau uring-uringan tidak jelas! Dasar kau ini maunya apa Ele!"
Ele memarahi dirinya sendiri atas kelakuannya. Kemudian ia terdiam sejenak, mengingat perlakukan manis dari Alex untuknya. Bahkan Alex sampai rela menerjang hujan demi menjemputnya hingga mengalami kecelakaan. Semua itu sudah membuktikan jika Alex benar-benar mencintainya. Hanya saja Ele yang bodoh tidak bisa melihat perjuangan itu.
Setelah merenungi semuanya, Ele bangun dari posisinya dan mengambil jaket yang tergantung di lemari. Ia dengan segera keluar dari kamarnya dan pergi menuju ke garasi.
Ele nekat keluar rumah di waktu-waktu orang sedang terlelap dalam mimpi indahnya. Bahkan si satpam rumah pun keheranan saat Ele memintanya untuk membuka gerbang rumah.
"Nona mau kemana? Ini sudah tengah malam. Nanti jika Tuan Richard tahu, saya harus bilang apa?"
"Bilang saja saya mau ke rumah Kak Alex, dia pasti tidak akan memarahi bapak kalau bapak membuka pintu gerbangnya malam-malam," jawab Ele.
"Tapi ...." Ele memotong ucapan si bapak satpam.
"Sudah buka saja pak, nanti saya sendiri yang akan tanggung jawab jika Kak Richard memarahi bapak."
__ADS_1
Akhirnya dengan berat hati, si satpam membuka gerbang dan membiarkan Ele mengendarai mobilnya di malam-malam buta.
Suasana jalanan begitu sepi, bahkan bisa dihitung dengan jari berapa kendaraan yang berlalu-lalang disana. Walaupun sepi, itu tidak akan membaut tekad Ele menjadi kendor. Ia sudah memantapkan hatinya untuk memberikan jawaban untuk Alex meskipun harus tengah malam begini.
Di jalan yang minim penerangan, Ele tiba-tiba dikepung oleh dua orang pengendara motor yang menghalangi jalannya.
"Sial! Aku lupa! Harusnya jangan melewati jalan ini!"
Karena di jalan yang Ele lewati saat ini, masih rawan begal. Bahkan si pelaku begal dengan sadisnya membunuh korbannya.
"Aku harus gimana ini? Meskipun aku jago beladiri, tetap saja aku akan kalah jika mereka membawa sengaja tajam."
Ele terus berpikir, tapi sayang kedua pelaku begal itu sudah berhasil membuat dirinya mengerem mendadak.
Pintu mobil Ele digedor-gedor. Ele sedikit panik karena melihat pisau yang dipegang oleh salah satu dari mereka. Mau melajukan mobilnya pun tidak bisa. Alhasil Ele pasrah saja keluar dari mobilnya.
Namun, jangan salah, Ele keluar dari mobilnya bukan pasrah karena menyerah tapi karena ia pasrah jika dirinya harus mengeluarkan jurus tendangan mautnya pada area sensitif begal itu. Dan benar saja, salah satu begal tersungkur di aspal sambil merintih kesakitan, karena tanpa persiapan menerima serangan dari Ele.
Lalu si pelaku begal satunya tidak tinggal diam ketika teman sekomplotnya diserang. Ia langsung menodongkan pisau ke arah perut Ele. Untungnya, Ele berhasil menangkis serangan itu menggunakan tangannya dan hasilnya tangannya lah yang terkena sayatan pisau itu.
Darah terus mengalir dari tangan Ele. Ia menahan rasa sakitnya, dan mulai membabi buta. Lagi-lagi Ele menendang area vital si begal satunya hingga dua-duanya tersungkur di aspal.
"Mampus kau!" umpat Ele.
Ketika merasa kedua begal itu mulai lengah, Ele langsung masuk ke dalam mobilnya lagi. Dia memundurkan mobilnya dan melesat dengan kecepatan di atas normal sembari menahan sakit di tangan kanannya yang tersayat pisau. Tak lama kemudian, akhirnya ia sampai di depan rumah Alex.
Pintu gerbang rumah Alex pun langsung terbuka saat mengetahui yang datang adalah orang yang tuannya kenal.
Ele keluar dengan sisa tenaga yang ada. Darahnya masih terus mengalir. Ia menggedor-gedor pintu rumah Alex dengan keras berharap si pemilik rumah akan cepat keluar. Dan benar saja, tak lama setelah itu, Alex keluar dengan memakai piyama tidurnya.
****
Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.
Jangan pelit-pelit untuk memberikan like dan vote nya geng 🤠Supaya ceritaku popularitasnya semakin naik dan pembacanya semakin banyak. Kalau begitu kan aku jadi semangat nulis kelanjutan ceritanya.
Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.
Jangan lupa follow aku Ig ku ya
__ADS_1
@yoyotaa_