
Perut Naya sudah semakin besar, tingkat posesif Richard pun semakin menjadi-jadi. Seperti kejadian pagi tadi ketika Naya hendak menuruni tangga.
Awalnya Naya akan turun sendiri ke bawah, akan tetapi Richard langsung mencegahnya dan menuntun istrinya.
"Aku masih bisa sendiri, Rich," tolak Naya.
"Tidak, kau harus dijaga 24 jam. Kita tidak akan tahu sesuatu yang buruk itu kapan terjadi. Untuk mengantisipasi semua itu, kau tidak boleh menuruni tangga sendirian. Mulai besok aku akan menyiapkan kamar di bawah untuk kita berdua. Kehamilan mu semakin besar, aku tidak ingin kau kecapean dengan harus menaiki tangga setiap ke kamar," ucap Richard yang tidak ingin dibantah.
Naya pun hanya pasrah dan mengikuti perintah Richard.
Kejadian lainnya ketika sore hari Naya sedang menyiram bunga yang ada di taman. Richard melihat Naya yang memegang pinggang nya seperti orang kelelahan.
Richard langsung mengambil alih kegiatan Naya dan mematikan air dari kerannya.
"Mulai besok jangan menyiram tanaman lagi, biar tukang kebun saja yang melakukannya."
Naya pun tidak setiap hari menyiram bunga di taman, hanya sesekali ketika ia sedang ingin saja. Hanya saja, kali ini terlihat oleh Richard, dan langsung dilarang.
Tak hanya itu, ketika pagi hari Naya ingin menyiapkan kemeja untuk Richard pun, Richard melarangnya. Karena ia takut Naya akan berjinjit ketika mengambil kemejanya.
Sampai-sampai Naya pun bingung kegiatan apa yang boleh ia lakukan.
"Jika apapun yang aku lakukan selalu kau larang. Lalu hal apa yang boleh aku lakukan?" tanya Naya.
"Cukup diam, duduk dan menikmati semua yang disiapkan. Bersantai-santai saja," jawab Richard.
Naya mendengus kesal. Ia sudah terbiasa untuk melakukan sesuatu. Tangannya tidak bisa diam. Lalu dengan santainya Richard menyuruhnya untuk diam? Hal yang sangat sulit untuk Naya lakukan. Naya tahu, jika Richard mengkhawatirkannya, akan tetapi tidak perlu sampai seposesif ini bisa kan?
***
Keesokan harinya Naya izin pada suaminya untuk mengunjungi ibunya. Lagi-lagi Richard melarang, kecuali jika bersamanya.
"Apa aku benar-benar tidak boleh mengunjungi ibu? tanya Naya yang benar-benar merindukan ibunya.
"Tidak," jawab Richard.
Wajah Naya menjadi sedih, dan cemberut karena tidak diizinkan oleh Richard. Melihat raut wajah Naya yang sedih, membuat Richard tidak tega.
"Baiklah, daripada aku mengizinkanmu untuk ke rumah ibu tanpa ditemani olehku. Aku akan menjemput ibu dan membawanya ke rumah," ujar Richard.
__ADS_1
"Benarkah?" senyum Naya seketika langsung mengembang.
Richard pun ikut tersenyum melihatnya. Ia kemudian berpamitan pada istri dan anaknya. Sebelum berangkat ke kantor, Richard ke rumah ibu mertuanya dulu lalu mengantarnya ke rumahnya. Barulah setelah itu ia akan langsung menuju ke kantornya.
Setelah Richard pergi ke kantor, Naya membawa ibunya ke taman. Ia menyandarkan kepalanya ke bahu sang ibu.
"Kau sudah mau memiliki anak. Kenapa malah jadi manja begini, Nak?" tanya sang ibu.
"Entahlah Bu. Rasanya aku ingin dimanja oleh ibu. Ingin merasakan kembali masa-masa ketika ibu selalu berada di sisiku," jawab Naya.
"Begitu, kah?" tanya sang ibu sambil mengusap kepala Naya dengan sayang.
Naya mengangguk.
"Apa keberadaan Richard masih kurang hingga harus ada ibu di sisimu?" tanya sang ibu lagi.
"Sekarang Richard jadi menyebalkan dan posesif Bu. Aku tidak suka. Sekarang apapun yang aku lakukan selalu dilarang olehnya. Sampai-sampai aku bingung mau melakukan apa di rumah. Menjaga Elnan pun kini aku tidak boleh terlalu sering. Apakah hal seperti itu wajar?" tanya Naya yang penasaran.
"Itu merupakan hal yang wajar nak. Dia pasti sangat cemas dan khawatir padamu. Seharusnya kau menurutinya saja daripada mengadu pada ibu seperti ini. Setidaknya itu hal terbaik yang ia perintahkan untukmu. Apalagi kau mengandung dua janin sekaligus," sahut sang ibu menanggapi.
"Sangat jarang sekali ditemukan laki-laki seperti Richard di zaman saat ini. Sikap posesif itu menunjukkan adanya perhatian dan kasih sayang meskipun terkesan berlebihan," tambah sang ibu lagi.
"Menurut ibu apa aku bisa menjadi ibu yang baik untuk anak-anakku?" tanya Naya.
"Tentu bisa. Kau adalah anak ibu yang penuh kasih sayang," jawab sang ibu.
"Meskipun begitu, awalnya aku sangat sulit untuk menunjukan kasih sayangku pada Richard," lirih Naya.
"Benarkah?" tanya sang ibu yang tidak percaya.
Lagi-lagi Naya mengangguk.
"Menurut ibu, mungkin saja saat itu kau belum percaya sepenuhnya pada Richard. Jadi kau tidak bisa leluasa untuk mengungkapkan kasih sayangmu pada Richard. Tapi sepertinya kini semuanya sudah berjalan sebagaimana mestinya? Benar kan?"
"Mungkin ibu benar. Iya sekarang aku merasa seperti memiliki kebahagiaan yang begitu berlipat-lipat. Rasa cintaku pada Richard seperti setiap harinya kian bertambah."
Ibu Naya tersenyum bahagia mendengar ucapan Naya.
Keduanya pun menikmati suasana taman bunga dengan melihat berbagai macam kupu-kupu dan kumbang yang berterbangan disana.
__ADS_1
***
Sore harinya, ketika Richard sudah pulang dari kantor. Ibu Naya berniat untuk pulang juga ke rumahnya.
"Nak Richard, sepertinya ibu juga harus pulang," ucap Ibu Naya.
"Menginap saja Bu. Pasti Naya akan senang. Lagian mama ku juga sedang tidak ada di rumah, ia sedang mengecek bisnisnya yang di Paris. Kasian Naya tidak ada temannya ketika Ele sedang berada di kampus. Lagipula, ibu juga di rumah sendirian. Tidak bisakah ibu tinggal bersama kami juga disini?"
Richard meminta ibu mertuanya untuk tinggal bersama dengan keluarganya.
"Baiklah ibu akan menginap. Tapi untuk tinggal bersama kalian, ibu tidak bisa. Ibu ingin tinggal di rumah ibu saja meskipun sederhana, akan tetapi banyak sekali kenangan disana," tolak sang ibu mertua.
"Baiklah, tapi jika Naya melahirkan nanti, ibu harus tinggal lama disini," pinta Richard.
"Baiklah. Jika itu mau mu," jawab sang ibu mertua mengiyakan.
"Terima kasih Bu," ujar Richard.
Perbincangan di antara keduanya pun selesai. Richard berjalan menuju dapur untuk mengambil jus yang ada di dalam kulkas. Tak lama kemudian, Ele pun menuju ke dapur mengambil minuman bersoda.
Richard terus memperhatikan raut wajah adik sepupunya itu. Sepertinya da yang tidak beres dengan wanita yang ada di hadapannya. Raut wajah kesal dan penuh amarah.
"Kau ada masalah apa? Pulang-pulang dari kampus bukannya mandi malah ke dapur!" tegur Richard.
"Is! Jangan banyak tanya deh kak! Aku lagi kesal tahu!" Ele menolak untuk ditanyai karena suasana hatinya memang sedang buruk.
Mendapatkan penolakan dari Ele, membuat Richard akhirnya berhenti bertanya dan mengabaikan saja raut wajah yang ditekuk dan kesal itu. Daripada ia akan jadi sasaran kekesalan adik sepupunya.
****
Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.
Jangan pelit-pelit untuk memberikan like dan vote nya geng 🤠Supaya ceritaku popularitasnya semakin naik dan pembacanya semakin banyak. Kalau begitu kan aku jadi semangat nulis kelanjutan ceritanya.
Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.
Jangan lupa follow aku Ig ku ya
@yoyotaa_
__ADS_1