
Tahun demi tahun pun berlalu. Kini Elnan sudah berusia 6 tahun, sementara Ela dan Rendra sudah berusia 4 tahun. Mereka bertiga selalu berbuat ulah di rumah.
Ela yang cerewet, Elnan yang selalu mendukung Ela ketika membuat kegaduhan dan Rendra yang sedikit bicara, namun sekalinya berucap, ucapannya itu nyesek sampai nusuk ke hati.
Ketiga anak-anak itu kini sedang bermain di taman. Elnan dan Rendra yang bermain sepak bola, Ela yang menjadi supporter untuk kedua kakaknya.
"Ayo, Kak Elnan, kalahkan ikan Lendra itu!" teriak Ela yang mendukung sang kakak.
Ikan Lendra adalah julukan yang diberikan Ela untuk Rendra. Keduanya memang kembar, tapi mereka sama sekali tidak pernah akur. Aura permusuhan selalu keluar dari keduanya. Namun, anehnya, ketika salah satu sakit, salah satunya lagi bisa merasakan sakit itu. Sikap saling bermusuhan itu adalah cara mereka untuk saling menyayangi.
"Anak-anak! Mainnya sudah dulu ya, ayo makan siang!" teriak Naya pada anak-anaknya.
"Siap mama! Ela akan jadi yang terdepan untuk menghabiskan makan siang!" Gadis kecil ini berlari ke dalam rumah meninggalkan kedua kakaknya yang masih bermain.
"Tidak bisa, aku harus mengejar Ela. Kalau tidak, makanan kesukaanku akan dihabiskan olehnya," gerutu Elnan yang ikut berlari ke dalam rumah.
Sementara Rendra, ia berjalan dengan santai sambil membawa bolanya masuk ke dalam rumah.
Di meja makan, anak-anaknya sudah berkumpul dan duduk di tempat duduknya masing-masing.
"Mama, Ela ingin itu, minta tolong ambilkan ya," pinta Ela dengan sopan.
Naya pun mengambilkan chicken katsu kesukaan Ela. Setelah habis, Ela mengambil chicken katsu lagi. Tak lama kemudian, Elnan pun mengambil chicken katsu juga. Elnan bahkan mengambil 2 porsi membuat Ela geram sendiri. Kakaknya itu selalu saja berebut apapun yang ia sukai khususnya soal makanan. Karena keduanya memiliki selera yang sama.
"Kakak, ambil satu saja. Satunya untuk aku! Jangan serakah jadi orang!" kesal Ela.
"Yang serakah itu kau, Ela. Aku cuma ambil dua, sementara kau sudah menghabiskan dua dan malah meminta satu lagi. Kecil-kecil tapi makan mu banyak!"
"Mama! Kak El itu menyebalkan!" adu Ela pada mamanya.
Naya yang melihat kelakuan anaknya, malah mencoba menasehati gadis kecilnya itu.
"Apa yang dibilang kakak El benar sayang. Mama kan sudah membuat makanan untuk kalian dengan porsi yang sama. Satu orang, dua chicken katsu. Kalau Ela mengabiskan tiga chicken katsu, itu artinya Ela mengambil hak Kak Rendra. Jadi, Ela harus memintanya pada Kak Rendra," ucap sang mama.
"Kak Rendra yang baik hati dan tampan, chicken katsu nya untuk aku ya, tidak apa-apa kan? Kau pasti tidak mau memakannya juga kan?" ucap Ela yang sengaja memuji Rendra.
Rendra tak memberi tanggapan apapun, ia hanya menatap Ela saja.
__ADS_1
"Terima kasih Kak Rendra, kau memang terbaik," ucap Ela yang langsung memakan chicken katsu lagi.
Naya hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah gadis kecilnya itu. Padahal sang kakak belum mengiyakan tapi gadis kecilnya sudah mengklaim chicken katsu tersebut.
Acara makan pun selesai, mereka kembali bermain. Namun, kini beralih di ruang keluarga. Mereka bermain perang-perangan dengan Ela yang menjadi seorang putri dan kedua kakaknya menjadi prajurit untuk menjaga Ela. Sayangnya, Rendra menolak untuk menjadi prajurit dan ingin menjadi raja. Alhasil, pernah pun terjadi di antara Rendra dan Elnan yang saling berperang dengan pedang.
"Hiah!!!"
"Ayo Kak El, tusuk ikan Lendra. Kalahkan dia. Tumbangkan dia!" teriak Ela yang suka sekali kegaduhan.
"Diam kau Ela!" teriak Rendra pada Ela.
"Kau yang diam! Fokus saja supaya kau tidak kalah!"
Akhirnya peperangan itu dimenangkan oleh Elnan membuat Ela bersorak riang.
"Sukurin kalah!" Ela mengejek Rendra yang membuat Rendra ingin mencubit adiknya itu. Ela pun berlari menjauh agar tidak jadi sasaran kembarannya.
Mereka saling kejar-kejaran di ruang keluarga membuat omanya stress melihat tingkah cucunya itu. Apalagi mereka kejar-kejaran sambil melempar barang-barang yang ada disana.
"Ayo kejar aku! Wle!" Ela memeletkan lidahnya pada kembarannya.
"Biarkan saja Oma, lumayan tontonan gratis, hehe."
Mama Helen menggelengkan kepalanya. Rasanya satu pun dari cucunya tidak ada yang mewarisi sikap menantunya yang penyayang itu. Semuanya suka sekali keributan dan berbuat rusuh, Rendra yang terlihat diam pun, mudah sekali kesal jika Ela yang mengganggunya.
Namun, Mama Helen tetap bersyukur, walaupun suka berbuat rusuh, rumah malah jadi ramai dan tidak pernah sepi karena tingkah cucunya itu.
Setelah bersusah payah, akhirnya Ela tertangkap oleh Rendra dan Rendra pun mengatakan jika Ela harus menurut padanya mulai dari sekarang. Ela pun menurut. Padahal kenyataannya, ia hanya akan menurut untuk hari ini saja, dan besoknya akan kembali berbuat ulah. Karena jika tanpa kerusuhan rasanya semuanya hampa bagi Ela.
****
Malam harinya, ketika Richard pulang ke rumah, ketiga anaknya menyambut Richard dengan senyuman yang terlihat dari masing-masing anaknya. Gadis kecilnya itu malah berlari sambil memberikan pelukan pada sang papa.
"Selamat pulang papa, terima kasih kerja kerasnya. Setelah ini, papa belikan aku mainan ya," ucap gadis kecilnya itu. Membuat Richard gemas sendiri.
Anak gadisnya memang pintar sekali berbuat manis dan selalu memanfaatkan hal itu untuk mendapatkan apa yang ia mau. Richard pun tak bisa menolak dan akan memberikan apapun yang diinginkan anak gadisnya.
__ADS_1
"Siap tuan puteri. Tapi Ela harus janji, jangan jadi anak nakal ya!"
"Siap laksanakan paduka raja!" ucap Ela sambil memberikan hormat pada sang papa.
Sementara kedua jagoan Richard malah saling berbisik dan mengatakan jika Ela adalah ratunya bermuka dua.
"Dasar penjilat!" umpat Rendra saat melihat Ela yang digendong oleh sang papa.
Ela hanya menjulurkan lidahnya pada sang kakak. Ia bahkan tidak memperdulikan ucapan kakaknya itu.
****
Malam harinya ketika mereka sedang makan malam, Richard memberitahukan pada anak-anak dan istrinya bahwa mereka akan berlibur ke luar negeri.
"Kita liburan ke tempat bersalju ya pa? Aku ingin main salju!" pinta Ela.
"Iya, kita akan jalan-jalan kemana pun yang kalian inginkan," ucap Richard.
"Hore!" Ela berteriak kegirangan.
"Kau mau jalan-jalan ke negara mana El?" tanya Richard pada Elnan.
"Aku mau naik balon udara Pa," jawab Elnan.
"Lalu kau, Rendra?"
"Aku akan ikut kemana pun saja. Yang terpenting kita bersama-sama."
Richard tersenyum senang mendengarnya. Memang Rendra lah yang tidak banyak minta di antara ketiga anaknya. Richard pun akan mengajukan cuti dua Minggu ke depan untuk menghabiskan waktu bersama anak-anaknya. Karena kebahagiannya saat ini adalah bisa melihat anak-anak dan istrinya bahagia.
****
Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.
Jangan pelit-pelit untuk memberikan like dan vote nya geng 🤠Supaya ceritaku popularitasnya semakin naik dan pembacanya semakin banyak. Kalau begitu kan aku jadi semangat nulis kelanjutan ceritanya.
Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.
__ADS_1
Jangan lupa follow akun Ig ku ya
@yoyotaa_