Pesona Ibu Susu Baby Elnan

Pesona Ibu Susu Baby Elnan
Bab 126 - Menentukan Tanggal


__ADS_3

Esok harinya, Richard dan Naya sudah sampai di rumah dengan keadaan segar bugar, bagaimana tidak? Setelah bercinta mereka benar-benar beristirahat lama sekali.


Mama Helen yang melihat anak dan menantunya pun langsung menyidang keduanya di ruang tamu. Kedua tangan mama Helen disilangkan di depan dada. Tatapan wajahnya seperti elang yang sedang memburu mangsanya.


"Apa kalian tahu? Kalau apa yang sudah kalian lakukan itu sangatlah egois? Kalian meninggalkan ketiga anak kalian bersama orang lain, bagaimana jika mereka menangis dan sakit secara tiba-tiba. Lalu siapa yang akan disalahkan? Apakah mama? Nani? Atau pekerja lainnya yang menjaga anak kalian?!" kesal mama Helen. Sebenarnya Mama Helen tidak melarang mereka berdua untuk menikmati waktu bersama. Hanya saja ingat waktu, anak mereka masih sangat kecil untuk ditinggal terlalu lama.


Ucapan mama Helen begitu menusuk hingga ke rongga Naya. Ia menunduk lalu meminta maaf pada sang mama mertua.


"Maafkan Naya ma."


Hanya itu yang bisa ia lakukan, mengatakan alasan pun sudah tak berguna lagi. Sementara Richard, laki-laki yang satu itu tetap saja terdiam. Ia masih merasa tidak salah. Karena sudah meninggalkan catatan sebelum pergi. Setidaknya mereka tidak pergi tanpa memberikan kabar.


"Icad?" panggil sang mama.


"Ya?" jawab Richard.


"Haish! Kau ini benar-benar ya! Kau tidak merasa bersalah sedikit pun?" Richard menggeleng.


"Oh Tuhan, kenapa aku bisa melahirkan anak seperti ini!?"


Mama Helen frustasi. Ia pun pergi meninggalkan keduanya. Ia benar-benar sudah kewalahan jika harus menghadapi sikap Richard yang seperti itu. Mau dinasehati bagaimana pun tidak akan mempan. Lebih baik ia pamit undur diri daripada sudah berbusa namun tak ada yang masuk ke telinga Richard.


"Aww ... " Richard merintih kesakitan saat pinggangnya dicubit oleh Naya.


"Minta maaf sama mama. Kita berdua memang sudah salah. Kasian mama, pasti dia kerepotan sekali kemarin."


"Iya, iya, iya, nanti aku minta maaf," jawab Richard pasrah.


****


Siang harinya, orang tua Ele sudah sampai di kediaman Kavindra. Keduanya langsung mencari anaknya.


"Sayang sini sebentar, mama mau bicara padamu," pinta Mami Merlin.


"Iya mami," jawab Ele.

__ADS_1


Ele, Mami Merlin, Papi Eric, dan Richard, kini mereka berkumpul di ruang keluarga untuk membicarakan mengenai masalah yang terjadi kemarin.


"Kau tahu sayang, apa yang kau lakukan kemarin itu salah. Mami tidak membenarkan perbuatan mu, tapi mami juga tidak bisa memarahi mu walaupun mami merasa kecewa. Daripada nantinya kau terjerumus lebih dalam lagi. Memang keputusan terbaiknya adalah menikahkan mu dengan Alex. Lagipula mami juga sudah mengenal baik seperti apa Alex."


"Maaf mami, Ele sudah buat mami kecewa," ucap Ele.


"Janji, tidak melakukan apapun lagi yang bisa membuat mami kecewa padamu?"


"Janji."


Setelah mendapatkan janji dari sang anak, Mami Merlin merasa lega. Sementara Papi Eric, ia membiarkan istrinya lah yang menasehati sang anak, karena memang istrinya yang lebih ditakuti oleh Ele karena dirinya selalu memanjakan anak perempuannya.


Tak lama kemudian, keluarga Alex datang ke kediaman Kavindra. Richard mempersilahkan mereka untuk masuk ke rumah keluarga.


"Baiklah, karena semua sudah berkumpul. Mati kita langsung atur saja tanggal baiknya," ucap Richard.


"Iya, om setuju. Anak om yang satu ini memang harus diberikan pelajaran sesekali. Bisanya main wanita terus. Dengan dia mempunyai istri, dia pasti akan berhenti main wanita di luaran sana."


Mendengar ucapan dari Daddy Carlos, membuat Alex menciut. Bagaimana tidak? Ia mendapatkan tatapan tajam dari Ele. Benar-benar tatapan yang menakutkan. Untuk berkutik pun sepertinya ia tidak akan mampu.


"Kalau sampai itu terjadi, dengan senang hati aku akan menghukumnya om, kalau perlu, aku potong saja torpedonya," ucap Ele dengan senyuman seringai di bibirnya.


"Bagus calon menantu. Daddy setuju. Biar saja dia kena karmanya," sahut Daddy Carlos menyetujui ucapan calon menantunya.


Setelah berbincang-bincang dengan serius, mereka akhirnya menemukan tanggal yang tepat. Dua Minggu lagi mereka akan melakukan pernikahan. Alex yang mendengar itu tampak bahagia sekali. Tak lama lagi dirinya akan menikah dengan pujaan hatinya.


Ketika perbincangan selesai, para anak muda pindah ke taman untuk mengobrol. Sementara para orang tua masih tetap di ruang keluarga.


"Lex, jaga Ele baik-baik. Dia adikku yang paling aku sayang. Sekali kau membuatnya terluka dan menangis, habis kau!"


"Tenang saja, aku sangat mencintainya, aku tidak akan membuat dia menangis," ucap Alex sambil melihat ke Ele yang sedang ikut mengasuh si kembar bersama Naya.


"Bagus, aku pegang kata-katamu!" Alex mengangguk.


****

__ADS_1


Ethan selalu memaksa Sari untuk pulang bersamanya. Dan inilah akhirnya, mereka mengobrol bertiga di depan rumah Denada.


"Apa kau akan selamanya di rumah terus?" tanya Ethan.


"Tidak, aku akan mencari pekerjaan juga. Aku tidak mungkin bergantung pada sisa tabunganku dan terus merepotkan Sari."


"Kakak, tidak apa-apa. Kakak juga sudah terlalu baik padaku."


"Tidak Sari. Walaupun begitu, aku memang harus mencari uang untuk masa depan anakku."


"Bagaimana jika kau bekerja di rumah jadi admin untuk perusahaan belanja online ku? Apa kau mau? Dengan begitu kau tidak perlu khawatir tentang anakmu karena kau selalu bersamanya. Bagaimana?"


Denada tampak berpikir. Tawaran Ethan begitu menggiurkan, ia bisa bekerja sambil menjaga anaknya.


"Baiklah, aku mau," jawab Denada.


"Baguslah," ujar Ethan.


"Kau juga, apa kau mau bekerja di perusahaan ku? Daripada kau terus menjadi pelayan di restoran itu, gaji mu bahkan tidak sesuai dengan kerja kerasmu. Bagaimana Sari?"


"Memangnya kalau bekerja di perusahaan Kak Ethan aku bekerja sebagai apa? Aku hanya lulusan SMA," jawab Sari.


"Masalah bekerja sebagai apa, itu urusanku. Kau tinggal jawab saja, mau atau tidak? Kalau mau besok kau harus mengundurkan diri dari restoran itu."


"Boleh aku pikir-pikir dulu?" tanya Sari. Ethan mengangguk.


Setelah saling mengobrol, mereka pun menikmati hidangan yang disajikan oleh Sari. Yang awalnya ada rasa kebencian terhadap Denada, kini rasa benci itu berubah menjadi iba dan empati. Mau bagaimana pun juga, rasa cinta memang tidak bisa dipaksakan. Denada sudah benar memilih memutuskan Richard dan mengejar cintanya. Namun, pasti akan ada konsekuensi dari apa yang sudah ia pilih. Meskipun konsekuensi itu ia dapatkan lebih sakit dari perasaan Richard dulu.


****


Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.


Jangan pelit-pelit untuk memberikan like dan vote nya geng 🤭 Supaya ceritaku popularitasnya semakin naik dan pembacanya semakin banyak. Kalau begitu kan aku jadi semangat nulis kelanjutan ceritanya.


Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.

__ADS_1


Jangan lupa follow aku Ig ku ya


@yoyotaa_


__ADS_2