
Ele dan Alex pun ditinggal pergi oleh Naya dan Richard. Ele masih belum menyadari bahwa tasnya telah dibawa oleh Naya. Ia hanya mengerucutkan bibirnya kesal pada sang kakak sepupu.
Alex yang melihat kekesalan Ele berusaha untuk mengajak ele menikmati wahana yang ada disana untuk menghilangkan kekesalannya.
"Sudah, tidak usah kesal lagi! Lebih baik kita naik wahana saja. Kau kesal pun tidak ada gunanya," ujar Alex.
"Diam kau kak! Kalau tahu akhirnya begini. Aku akan menolak saat diajak keluar oleh kak Richard. Argh! Benar-benar menyebalkan!" teriak Ele dengan sangat kencang.
Untuk menghentikan teriakan Ele, Alex membekap mulut Ele dan menyuruhnya untuk diam.
"Ele kau ini bisa diam tidak sih? Kalau kau sekali lagi berteriak seperti tadi! Jangan salahkan aku kalau mulutku sendiri yang akan membungkamnya!"
Ele akhirnya terdiam mendapatkan ancaman dari Alex.
"Good! Begini kan enak dilihatnya. Ayo kita naik wahana itu."
Alex menunjuk wahana cora-cora dan langsung menarik tangan Ele mengikutinya. Meski ini adalah sebuah paksaan, Ele tidak ingin melewatkan kesempatan untuk bermain juga walaupun harus bersama dengan Alex yang menyebalkan beberapa hari terakhir ini.
Keduanya sudah duduk di kursi no 2 dari belakang. Wahana pun sudah mulai bergerak. Awalnya keduanya merasa biasa saja, akan tetapi lama-kelamaan, adrenalin dari wahana tersebut mulai terasa. Ele berteriak kesenangan sementara Alex terus menunduk ketakutan sambil memejamkan matanya.
Bodoh sekali aku memilih wahana ini! Bisa turun harga diriku di hadapan Ele! Sial!
"WOO, AYO LEBIH TINGGI LAGI! INI BENAR-BENAR MENYENANGKAN!" teriak Ele yang benar-benar menikmati wahana tersebut.
Sesekali Ele melihat ke arah Alex yang duduk di sampingnya. Ele menepuk pundak pria itu dan mulai berbicara.
"Buka matamu kak! Jangan bilang kau ketakutan!" ujar Ele sedikit mengejek.
"Siapa bilang!" jawab Alex yang tidak mau harga dirinya terhina.
Alex membuka matanya dan berpura-pura berani. Sayangnya hal tersebut tak berlangsung lama. Setelah wahana sudah berhenti, dan mereka mulai berjalan mencari wahana lain. Alex merasakan mual di perutnya. Ia kemudian muntah di rerumputan.
"Makanya kalau tidak bisa naik itu! Jangan sok-sokan. Begini kan jadinya," ujar Ele yang berbicara sedikit lembut meskipun masih ada ketus-ketusnya. Ele membantu memijat tengkuk leher Alex agar Alex bisa mengeluarkan semua isi dalam perutnya.
Seketika senyum Alex terlihat meskipun sangat tipis. Ternyata memperlihatkan kelemahannya bukanlah sesuatu yang menurunkan harga dirinya akan tetapi memantik sebuah kepedulian dari Ele yang ia harapkan.
__ADS_1
Beberapa menit setelah Alex merasa lebih baik, Ele mengajak Alex untuk memasuki rumah hantu. Seketika Alex langsung panas dingin. Hal yang paling ia benci dan ia takutkan adalah hantu. Sayangnya, Ele tidak mengetahui itu. Ele terus memaksa Alex untuk ikut masuk bersamanya.
Alex diam mematung saat sudah berada di depan rumah hantu. Ele yang tampak antusias itu, dengan cepat langsung menarik tangan Alex mengikutinya.
Suara-suara menyeramkan dan mencekam terus terdengar. Penampakan demi penampakan hantu pun mulai bermunculan. Alex berjalan dengan perasaan was was dan takutnya. Ele masih belum menyadari itu karena ia begitu menikmati permainan ini. Bahkan bukan Ele yang ditakuti oleh para hantu, melainkan para hantu itu yang terkejut akan tingkah Ele.
"Hahaha, lihatlah hantu-hantu itu kak. Mereka kaget karena mendengar suara tawaku yang seperti kunti," ujar Ele yang senang.
Alex tak menanggapi Ele karena ia benar-benar dalam keadaan yang sudah hampir mau pingsan. Ketika ada hantu yang tiba-tiba mendekat dan mengangetkan Alex, seketika Alex langsung pingsan di tempat.
Ele masih terus berbicara sendiri tanpa tahu bahwa Alex sudah tak mengikutinya dari belakang.
"Kak, kenapa kau diam saja?" tanya Ele yang kemudian menoleh ke belakang.
Kosong. Tak ada Alex di belakangnya.
"Aih! Kemana kak Alex? Jangan bilang dia tertinggal di belakang! Menyusahkan!" kesal Ele.
Alhasil Ele kembali berjalan ke jalan yang ia lewati sebelumnya. Ia terkejut, ketika melihat Alex yang terbaring tak sadarkan diri.
"Kak Alex! Bangun!" teriak Ele sambil menepuk pipi Alex kanan dan kiri.
Ketika mencoba meraih tangan Alex, Ele merasakan tangan Alex basah dan dingin yang artinya ini bukan pingsan bohongan. Ele pun mulai mencari bantuan dengan berniat untuk menelpon kakak sepupunya. Dan ketika itu, Ele baru menyadari jika tasnya sudah tak lagi ada bersamanya.
"Is! Sial banget hari ini!" kesal Ele.
Tangan Ele mulai mencari-cari ponsel yang ada di kantung celana milik Alex. Ele membuka ponsel tersebut dengan menggunakan sidik jari Alex. Dengan cepat Ele langsung mencari nomor kontak kakak iparnya.
"Halo kak Icad. Cepat kemari! Kak Alex pingsan! Aku tidak kuat mengangkat tubuhnya. Tubuhku sangat mungil! Kalau aku mengangkatnya sendirian yang ada aku akan semakin mungil! Aku dan kak Alex berada di dalam rumah hantu. Aku tunggu dalam waktu 5 menit!"
Setelah menyelesaikan ucapannya, Ele langsung mematikan sambungan telepon tersebut. Ia menunggu Richard datang dan membantunya.
****
Richard yang sedang menikmati waktu berdua bersama istrinya untuk menonton pertunjukan teater pun merasa terganggu dengan bunyi telepon yang masuk ke ponselnya. Saat tahu Alex yang menelpon ia pun langsung menjawab panggilan tersebut. Richard tidak menyangka bahwa Alex akan nekat memasuki rumah hantu. Padahal sedari kecil Richard sangat tahu kalau Alex sangat takut dengan yang namanya hantu.
__ADS_1
"Sayang, ayo kita ke rumah hantu. Sepertinya terjadi hal buruk pada Alex," ujar Richard.
"Ayo," ucap Naya.
Untungnya jarak tempat pertunjukan teater tidak terlalu jauh dengan rumah hantu. Jadi pasangan tersebut tidak harus berjalan jauh. Keduanya memasuki rumah hantu dan mencari-cari keberadaan Alex dan Ele.
Ketika sudah menemukan keduanya, Richard langsung menghela napas. Sesuai dugaannya. Alex pasti ketakutan, dan berakhir dengan pingsan.
Naya mengeluarkan minyak angin. Dengan cepat Richard langsung menyambar minyak angin itu dan mengoleskannya di bawah hidung Alex dengan harapan sahabatnya akan segera bangun dari pingsannya.
Tak lama kemudian, Alex benar-benar terbangun akan tetapi ia langsung pingsan lagi karena melihat ada hantu di belakang Ele.
"Hadeh! Kenapa pingsan lagi coba!?"
Mengetahui penyebab Alex kembali pingsan karena melihat hantu, Richard langsung menyuruh Ele untuk mengusir hantu itu.
"Usir hantu yang ada di belakang mu itu! Dia pingsan karena melihat itu," ujar Richard.
Ele pun langsung mengeluarkan talentanya yang tertawa seperti kunti, menyaingi hantu berambut panjang itu.
Alex langsung terbangun lagi saat mendengar suara tertawa yang keras itu. Richard pun akhirnya lega dan membantu Alex untuk bangun dari posisinya.
Saat Alex sudah berdiri dengan sempurna, Richard memberikan satu tepukan keras di bahu Alex.
"Kalau takut jangan memaksa! Kau tidak malu apa, jadi tontonan banyak orang yang ada disini."
Benar saja, kini Alex sudah menjadi pusat perhatian para pengunjung. Dengan gaya cool, Alex mengambil kaca mata hitam yang ada di saku bajunya dan memakai benda tersebut. Richard sampai menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sahabatnya yang di luar nalar itu.
****
Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.
Jangan pelit-pelit untuk memberikan like dan vote nya geng 🤠Supaya ceritaku popularitasnya semakin naik dan pembacanya semakin banyak. Kalau begitu kan aku jadi semangat nulis kelanjutan ceritanya.
Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.
__ADS_1
Jangan lupa follow aku Ig ku ya
@yoyotaa_