
Beberapa menit sebelumnya, Helen mencari Naya untuk mengajarkannya membuat sup ayam. Namun, saat ia berada di kamar Elnan, bukan Naya yang ia temukan justru keponakannya.
"Ele, kau tahu Naya berada dimana?"
"Tidak tahu, tadi sih kak Richard bilangnya ada sesuatu hal penting yang mau dia bilang ke kak Naya, tapi dia tidak bilang mau kemananya," jawab Ele jujur.
"Aih, kemana sih anak itu membawa Naya? Mama kan mau minta diajarin masak sama Naya. Mumpung udah pulang dari Paris."
"Wah, kak Naya pintar masak rupanya?" tanya Ele antusias. Sebab Ele sangat senang jika diajak memasak, meskipun ia tidak terlalu pintar memasak. Ia hanya pintar memporak-porandakan dapurnya saja.
"Iya, rasa masakannya juga sangat enak. Mama sampai ketagihan dengan masakannya."
"Wahh, bisa-bisa aku nambah berat badan kalau tinggal sama mama disini," celetuk Ele.
"Tidaklah Ele, Naya kan tidak ditugaskan untuk memasak. Ia masak cuma sesekali aja jika dia mau. Tugas utamanya kan menyusui Elnan dan menjaga cucu mama."
"Yah, berarti aku harus memohon dulu kalau mau dimasakin sama kak Naya?"
"Ya begitulah. Sudah ya, mama mau cari Naya dulu." Ele mengangguk.
Helen pun keluar dari kamar Elnan, dan berjalan ingin menuruni tangga. Namun, langkahnya terhenti saat ia mendengar suara d*sahan dari kamar Richard.
"Astaga! Apa yang anak itu lakukan? Wanita mana yang dia bawa sampai ke rumah! Awas saja kau Richard! Mama akan menunggu di depan pintu dan langsung menginterogasi mu," ujarnya pelan agar tidak terdengar oleh orang lain.
***
Sementara di dalam kamar, Richard mendekatkan wajahnya ke samping telinga kanan Naya. Ia membisikan sesuatu di telinga Naya.
"Aku menginginkanmu saat ini, Naya."
Tubuh Naya menegang ketika mendengar bisikan dan hembusan napas Richard yang terasa di telinganya. Bisikan itu bagaikan hipnotis yang menyuruhnya untuk patuh.
Tangan Richard yang awalnya mencengkram tangan Naya, kini sudah berpindah ke pinggul Naya. Matanya terus menatap bola mata Naya yang indah. Ia pun merebahkan tubuh Naya pelan ke ranjang besar nya.
Sampai saat ini, Naya masih belum menolak, karena ia juga seperti terhipnotis oleh tatapan Richard yang begitu mendamba. Richard pun kini sudah berada di atas tubuh Naya. Ia mulai mencium satu persatu bagian tubuh yang ada di wajah Naya.
Ketika ia akan mencium bibir Naya, Richard ingin Naya sadar dari apa yang dia lamun kan sampai tak menolaknya sama sekali.
"Naya," ucap Richard sambil mengelus pipi Naya.
"Bolehkah aku melakukannya?" tanya Richard. Naya menggeleng. Ia mulai sadar dari alam bawah sadarnya.
"Benarkah tidak boleh?" ucap Richard yang kini mengelus leher Naya. Naya tetap menggeleng.
"Jika aku tetap melakukannya?" tanya Richard lalu tangannya mulai masuk ke dalam kaos yang dikenakan Naya mencari dua benda kenyal yang selalu menggodanya.
__ADS_1
"Bagaimana?" ucap Richard sambil mer*mas buah dada Naya.
"Ah ..." Naya mend*sah ketika dadanya diremas dengan kuat oleh Richard. R*masan itu semakin kencang dan menuntut.
"Tuh kan, kau juga mau melakukannya. Kau menikmatinya, kan?" tanya Richard dengan senyum menyeringai di bibirnya yang senang melihat Naya mend*sah karenanya.
"Ka-u, kau suka sekali menyudutkan orang lain! Jauhkan tanganmu dari tubuhku, Richard. Bagaimana jika ada orang di luar yang mendengarnya? Mereka akan berpikir kita berbuat yang tidak-tidak di kamarmu?" ucap Naya yang khawatir.
"Memangnya kenapa? Itu memang rencana ku," jawab Richard dengan entengnya.
"Kau jangan asal bicara Richard. Aku tidak mau disangka wanita yang tidak baik oleh keluargamu!"
"Aku tidak peduli." Richard langsung membungkam bibir Naya dengan bibirnya. Tak hanya mencium, Richard juga mel*mat bibir Naya dengan rakusnya.
Ia sendiri tidak tahu, mengapa dengan Naya ia selalu berg*irah dan tergoda. Bahkan hampir saja kebablasan. Entah bagaimana dengan hari ini.
Tangan Richard pun tak tinggal diam, ia menarik kaos yang Naya kenakan ke atas dan melihat buah dada Naya yang terbungkus bra kemudian mencari pengait bra tersebut dan melepaskannya.
Kini dada Naya sudah polos tanpa sehelai benang pun. Tangan Richard langsung mer*mas dada itu seperti mainan, membuat Naya tak kuasa menahan hasratnya. Ciuman pun terlepas karena Richard mulai mencium tengkuk leher Naya hingga ke dada Naya meninggalkan bekas kemerahan disana.
Naya terbakar hasrat yang menggebu-gebu. Di hati kecilnya ia tidak ingin hal yang dulu terjadi di danau terulang kembali. Namun, tubuhnya justru menerima perlakuan Richard bahkan menginginkan lebih.
Ciuman itu terus berpindah ke perut Naya, memberikan sensasi aneh pada tubuh Naya. Ketika Richard ingin menyentuk milik Naya, terdengar suara mamanya dari balik pintu.
Sial! Kenapa mama ada di luar sih? Mengganggu saja! Huh!
Alhasil, Richard menghentikan kegiatannya dengan diakhir ciuman pada bibir Naya. Ia pun beralih dari atas tubuh Naya dan duduk di ranjang.
"Naya cepat bangun! Mamaku ada di depan kamar."
"Deg!" Jantung Naya berdebar-debar. Apa yang ia takutkan akhirnya akan menjadi kenyataan. Entah apa yang akan dilakukan oleh mamanya Richard, jika mengetahui bahwa anaknya sedang berdua dengannya yang hanyalah orang biasa.
Naya bangkit dari posisinya dan memasang
pengait bra lalu menurunkan kaosnya.
Richard berjalan ke arah pintu diikuti Naya di belakang badan Richard.
"Ceklek." Pintu terbuka. Mamanya sudah berada di posisi siap untuk meluncurkan meriam pada Richard.
"Richard wanita mana yang kau bawa ke rumah? Hah?" tanya mamanya emosi.
"Mama jangan terlalu ikut campur urusan anak muda," jawab Richard dengan mudahnya.
"Huh! Kau tahu mama sudah menunggu lama di depan pintu, tapi aku tidak keluar-keluar dari kamarmu. Mama takut kau akan menjebol anak orang sebelum adanya ikatan pernikahan! Jika kau memang serius dengannya, kenalkan pada mama! Mama akan melihat dan menyeleksinya apakah dia cocok atau tidak denganmu! Mama sudah cape mendengar omongan orang yang bicara kau suka gonta-ganti pasangan, Icad. Tolonglah, berhenti bermain wanita!"
__ADS_1
"Padahal aku hampir saja menjebol anak orang, tapi mama malah mengganggunya. Menyebalkan!" kesal Richard.
Helen langsung memukul bahu anaknya dengan keras.
"Awwww, sakit mama."
"Makanya jadi laki-laki itu yang gentle, jangan suka icip-icip tapi tidak dihalalkan. Cepat kasih tau mama siapa yang ada di kamarmu!"
Richard pun menoleh ke Naya, memerintahkan wanita itu untuk menunjukkan wajahnya di depan mamanya. Namun Naya terus menggeleng. Richard pun dengan paksa, menyeret Naya untuk ke dekat pintu.
Betapa terkejutnya Helen saat tahu wanita yang ada di kamar Richard adalah Naya. Ya meskipun Helen tahu bahwa sepertinya da hubungan di antara Richard dan Naya. Namun, ia tidak sampai berpikir keduanya akan berbuat hal yang tidak sepantasnya di akar Richard.
"Seminggu lagi kalian harus menikah! Tidak ada penolakan!" perintah Helen.
***
BONUS VISUAL nya terpaksa aku hapus, karena katanya wajahnya kurang sesuai dengan imajinasi pembaca. Jadi, kalian bisa berimajinasi sendiri ya.
Richard Kavindra
Anaya Devaloka
Ethan Nugraha
Alex William
Rico Jekano
Helen Kavindra
Eleanor Kavindra
***
Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.
Jangan lupa berikan like dan vote nya teman-teman.
Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.
Kalian bisa juga memberikan dukungan untuk yoyo dengan menonton iklan yang ada di kolom pemberian hadiah.
__ADS_1