Pesona Ibu Susu Baby Elnan

Pesona Ibu Susu Baby Elnan
Bab 74 - Dasar suami takut istri!


__ADS_3

Semenjak Naya dan Richard menikah, Naya sama sekali belum pernah diajak ke makam orang tua Elnan. Di hari ini, Richard akan membawa Naya ke makam kakak dan kakak iparnya. Tentunya si kecil Elnan dialih tugaskan ke sepupunya.


Mobil Richard sudah sampai di tempat pemakaman umum. Sebelum mereka sampai disana, Richard berhenti di toko bunga untuk membeli bunga kesukaan kakaknya, yaitu bunga Lily.


Richard menggandeng tangan Naya untuk berjalan mengikutinya. Ketika sampai di depan nisan 'Rihana Kavindra' dan 'Rey Anggara' ia berjongkok untuk menaruh bunga Lily.


"Hai kak, aku datang. Kali ini aku datang tidak sendiri. Ada seseorang yang menemaniku. Dia adalah istriku. Namanya Naya. Kini ia akan jadi mama untuk Elnan," ucap Richard sambil memegang nisan kakak perempuannya.


"Aku berjanji dengan segenap jiwa dan ragaku akan menjaga dan menyayangi Elnan seperti anak kandungku sendiri. Aku juga ingin memberitahukan kabar bahagiaku. Aku akan menjadi seorang ayah. Ternyata rasanya benar-benar bahagia, bahkan lebih bahagia daripada memenangkan tender," lanjut Richard lagi.


"Semoga kakak dan kakak ipar tenang di alam sana." Richard kemudian berdiri dari posisi jongkoknya.


"Hai kak, seperti yang Richard bilang, aku Naya, istrinya. Kalian tidak perlu khawatir, aku juga berjanji akan menjaga dan menyayangi Elnan seperti anakku sendiri," ucap Naya sambil berjongkok menaruh bunga satunya di makam kakak iparnya.


Setelah mengunjungi makam, keduanya pun pergi dari sana. Di perjalanan, Richard melihat jajanan yang di jual di pinggir jalan, entah mengapa ia ingin sekali berhenti dan makan jajanan itu.


Richard pun memberhentikan mobilnya di pinggir jalan. Tak lupa, ia pun mengajak istrinya keluar dari mobil.


"Mang, siomay komplit satu bungkus pedes pake banget," ujar Richard pada si tukang siomay.


Naya terheran-heran pada Richard. Setahu Naya, Richard tidak terlalu menyukai makanan pedas. Apa Richard sedang mengidam?


"Jangan terlalu pedas Mang, yang sedang aja sambalnya," pinta Naya yang tidak ingin Richard sakit perut nantinya.


"Super pedas Mang," pinta Richard lagi agar si tukang siomay mengikuti perintahnya.


"Yang sedang saja Mang," bantah Naya lagi.


Keduanya terus beradu mulut hingga sang penjual bingung.


"Jadi, siomaynya pedas atau biasa aja?" tanya si tukang siomay.


"Pedas!" jawab Richard dengan lantangnya.


Naya hanya bisa menghela napas pelan. Percuma saja melarang Richard, lelaki itu memang sangat susah untuk dikasih tahu.

__ADS_1


Setelah membeli siomay, mereka pun memasuki mobil. Richard langsung menjalankan mobilnya kembali. Belum juga lima belas menit mobil berjalan, Richard melihat orang yang berjualan bakso dan mie ayam. Lagi-lagi Richard memberhentikan mobilnya. Ia turun lagi dan membeli tiga bungkus bakso dan tiga bungkus mie ayam dengan level yang super pedas.


Pesanan pun sudah selesai disiapkan, Richard kembali memasuki mobilnya. Naya lagi-lagi dibuat heran oleh Richard. Semua makanan yang dibeli Richard pedasnya tidak masuk akal di kepala Naya. Entah bagaimana sifat anaknya nanti. Semoga saja ia tidak memiliki ucapan pedas seperti makanan yang dibeli Richard.


"Tin ... tin ... tin ..."


Bunyi klakson mobil Richard. Pintu gerbang pun dibuka oleh si satpam rumahnya. Kemudian Richard melakukan lagi mobilnya hingga ke halaman rumahnya. Ketika Richard turun dari mobilnya, wajahnya tampak berseri-seri sambil menenteng tiga macam makanan di tangannya.


Ele yang berada di ruang tamu terheran-heran melihat kakak sepupunya menenteng tiga kresek di tangannya. Ia pun langsung bertanya pada kakak sepupunya itu.


"Kak apa yang kau bawa?" tanya Ele yang penasaran.


"Makanan, kau mau?" jawab Richard kemudian menawarkan makanan yang ia bawa pada sepupunya itu.


"Makanan apa?" tanya Ele lagi.


"Siomay, bakso, mie ayam," jawab Richard sambil berjalan menuju ke dapur.


"Mau," jawab Ele dengan antusiasnya.


Mendengar Richard mengucapkan makanan yang sudah lama tak pernah ia santap, membuatnya tergugah untuk membantu kakak sepupunya menghabiskan makanan tersebut. Ele pun langsung bangkit dari duduknya dan mengikut Richard ke dapur.


Glek!


Apa kak Richard tidak salah memesan? Aku saja yang melihatnya sudah bergidik ngeri. Itu bakso apa kubangan sambal? Heran!


"Ayo sini, katanya tadi kau mau," ujar Richard sambil memasukkan baso ke dalam mulutnya.


"Ti-tidak kak terima kasih. Aku masih sayang dengan perutku," jawab Ele.


"Ini enak lho. Aku kira makanan pinggir jalan rasanya biasa saja. Rupanya ini sungguh luar biasa. Sepertinya besok aku akan membeli lagi," ucap Richard.


Sesuap demi sesuap baso terus masuk ke dalam mulut Richard. Hingga dua mangkuk baso pun habis, berganti dengan mie ayam, menu selanjutnya yang akan ia santap.


Ele terus memperhatikan kakak sepupunya. Ia benar-benar tidak menyangka, kakak sepupunya akan benar-benar memakan makanan pedas di hadapannya. Padahal dulu ketika mereka kecil, satu cabe pun Richard tidak bisa memakannya. Ia akan pergi ke kamar mandi setelah itu. Namun, kini Richard tampak biasa saja, tak ada keluhan apapun di perutnya.

__ADS_1


Apa orang mengidam akan memakan makanan yang tak pernah ia suka sebelumnya? Padahal aku ingin sekali ponakan ku mengerjai kak Richard, tapi aku tidak pernah memikirkan hal ini sama sekali. Ini sih jatuhnya bukan mengerjai lagi, tapi seperti menyiksa secara perlahan. Kasihan sekali kau kak.


"Rich, sudah jangan dihabiskan, nanti perutmu akan sakit," pinta Naya yang tiba-tiba ada di belakang Richard.


"Tanggung sayang, tinggal siomay nya saja yang belum aku makan," jawab Richard.


"Berhenti makan, atau kau tidur di luar!?" ancam Naya.


Richard langsung berhenti makan saat itu juga. Ia benar-benar tidak bisa jauh-jauh dari Naya. Rasanya ia akan selalu mual dan tidak akan tidur nyenyak jika tidak seranjang dengan istrinya.


Tiba-tiba terdengar suara tawa seseorang.


"Hahaha, dasar suami takut istri!"


Mata Richard langsung mendelik ke arah Ele.


"Kaburrrrrrr!!!!! Ada singa ngamuk!" Ele langsung kabur ditatap seperti itu.


"Sayang," manja Richard yang meraih tubuh istrinya mendekat padanya.


"Masa aku dikatain singa," adu Richard pada Naya.


"Aku tidak terima, setan kecil itu mengatai ku!" kesal Richard.


"Sudah terima saja. Ini diminum dulu," ucap Naya memberikan segelas air putih untuk Richard.


Richard pun meminum segelas air putih tersebut kemudian memeluk Naya lagi. Ia masih kesal dengan Ele yang seenaknya mengatainya singa. Sungguh ingin sekali rasanya ia menggeprek sepupunya itu.


Sementara Ele yang kini sudah berada di dalam kamarnya, ia merasa bahagia sekali sudah membaut kakak sepupunya kesal.


"Hahaha, aman, aman, untung saja ada kak Naya disana. Aku bisa terbebas dari hukuman."


***


Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.

__ADS_1


Jangan pelit-pelit untuk memberikan like dan vote nya geng 🤭 Supaya ceritaku popularitasnya semakin naik dan pembacanya semakin banyak. Kalau begitu kan aku jadi semangat nulis kelanjutan ceritanya.


Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.


__ADS_2