
Sesampainya di rumah, Richard dan Naya memasuki kamar mereka untuk membersihkan diri mereka sebelum bertemu dengan anak-anak. Tiba-tiba Richard menanyakan tentang bulan madu yang memang tak pernah mereka singgung sebelumnya.
"Sayang, apa kau tidak ingin bulan madu?" tanya Richard.
"Untuk apa? Lagipula kita sama-sama sibuk. Kau sibuk dengan pekerjaanmu dan aku sibuk dengan mengurus anak-anak sayang," jawab Naya.
Richard sedikit memonyongkan bibirnya mendengar jawaban Naya yang tidak sesuai dengan pikirannya.
"Tapi kan kita belum pernah liburan berdua sayang. Apa kau tidak ingin?" tanya Richard lagi.
"Kalau kau menginginkan liburan berdua saja tunggu anak-anak tumbuh besar. Kasian kalau mereka kita tinggal. Kasian juga sama mama yang harus kerepotan menjaga cucu-cucunya."
"Bagaimana kalau kita sewa baby sitter baru saja? Jadinya mama tidak kerepotan dan kita bisa liburan. Kau setuju?"
"Tidak, aku tidak percaya pada orang lain. Saat ini aku hanya percaya pada mama, ibu dan Kak Nani saja untuk menjaga anak-anak kita," jawab Naya.
Richard menghela napas kasar. Gagal sudah rencananya untuk pergi berdua dengan Naya. Padahal ia ingin sekali liburan ke luar negeri atau pun setidaknya keluar dari rumahnya meskipun hanya ke kota sebelah.
Keduanya kemudian membersihkan tubuh di kamar mandi yang sama. Jangan berpikir durasinya akan lebih cepat, tentu tidak. Richard selalu berhasil untuk membuat Naya kewalahan dengan tingkah lakunya. Akhirnya mereka berdua pun saling bercinta di dalam kamar mandi.
****
Kejadian serupa pun terjadi di kediaman Ele dan Alex. Keduanya tengah bersantai di ruang keluarga sambil menonton serial drama thriller kesukaan Ele. Alex iseng-iseng bertanya tentang bulan madu.
"Ele, kau tidak ingin bulan madu kah?"
Ele kemudian menengok dan menjawab, "Tidak."
Ia kemudian fokus kembali menonton. Alex meraih jemari tangan Ele dan memainkannya.
"Tapi aku ingin, bagaimana? Liburan semester mu kan dua bulan lagi, kita pergi ya?" pinta Alex lagi mengutarakan keinginannya.
Ele menoleh lagi dan menjawab, "Tidak bisa, aku berencana mengambil semester pendek di saat liburan nanti. Aku akan fokus untuk mengambil penelitian tentang tugas akhir kuliahku. Jika ingin bulan madu, setelah aku sidang saja kak," jawab Ele memberikan saran.
"Tapi itu terlalu lama," ujar Alex lagi.
"Kau ingin aku cepat lulus atau aku jadi mahasiswa abadi?" tanya Ele kemudian fokus menonton lagi.
"Ingin cepat lulus lah. Kalau kau jadi mahasiswa abadi, kapan kita punya anaknya? Aku juga tidak bisa terus menahan diriku. Sekarang saja aku ingin bercinta denganmu tahu."
Tanpa menoleh Ele mencubit menginjak kaki Alex yang berdekatan dengan kakinya.
"Aww, sakit sayang. Kau ini bar-bar sekali. Kekerasan di dalam rumah tangga itu tidak boleh tahu," ucap Alex mengingatkan.
"Tidak apa-apa, lagipula kau pun tidak akan berani melaporkanku. Lagian kau dari tadi mengganggu kesenanganku saja. Aku kan jadi tidak fokus menonton," kesal Ele.
__ADS_1
"Memang itu yang aku inginkan, hehe," jawab Alex dengan cengiran di akhir kalimatnya.
Tatapan tajam pun Alex terima dari Ele. Ia kemudian menciut dan menyandarkan kepalanya di bahu Ele.
"Badanmu kecil, tapi tenaga mu besar sekali. Aku sampe heran sendiri melihatmu jika berkelahi. Terlihat seperti bukan dirimu, tapi aku suka. Karena dengan begitu para laki-laki akan takut padamu," ucap Alex sambil terus memainkan jari-jari tangan Ele.
"Kau ini sebenarnya memujiku atau menghinaku sih kak?" tanya Ele.
"Memuji lah," jawab Alex.
"Oh."
Meskipun kesal hanya dijawab oh oleh Ele. Alex berusaha untuk tidak memperlihatkan kekesalannya. Ia menikmati waktu berduanya bersama Ele. Ele pun tidak keberatan diganggu dengan sentuhan oleh Alex, asalkan Alex tidak mengganggunya dengan mengajak bicara terus menerus yang akan membuatnya kehilangan fokusnya dalam menonton.
****
Di rumah lain yaitu di rumah Denada untuk pertama kalinya Denada merasa kesepian lagi setelah menemukan sebuah kehangatan sebuah keluarga. Mau bagaimana lagi, kini Sari sudah memiliki keluarga kecilnya sendiri.
"Sayang, sekarang kita hanya berdua, mama mohon pengertiannya ya?" Denada berusaha untuk berinteraksi dengan Ansel. Bayi itu pun menjawab dengan suaranya yang tidak Denada mengerti akan tetapi ia yakin Ansel pasti tahu maksud perkataannya.
Denada membawa Ansel ke kamarnya, mereka tiduran di ranjang berdua. Tak lama kemudian Ansel tertidur, Denada pun menyelimuti tubuh mungil anaknya dengan selimut tebal agar bayinya tidak kedinginan.
Rambut Ansel diusap-usap oleh Denada. Ia terus memperhatikan wajah sang anak.
"Wajahmu mirip sekali dengan papamu. Tapi mama harap, kelakuanmu tidak sama dengan papa. Mulai saat ini kita berjuang bersama-sama mengahadapi dunia yang penuh sandiwara ini. Cuma kau penguat mama saat ini. Cepatlah besar, mama ingin melihatmu dewasa."
****
Beberapa hari setelahnya, para sahabat mengantarkan Ethan dan Sari ke bandara. Pasangan pengantin baru itu akan pergi berbulan madu ke Maldives.
"Pulang-pulang harus bawa kabar bahagia ya. Kalau bisa sekali masuk langsung jadi tiga," ledek Richard.
"Ya liat nanti saja," balas Ethan menanggapi ledekan Richard.
"Jangan lupa oleh-olehnya," ucap Alex.
"Siap, yang terpenting saat aku berikan nanti. Jangan lupa untuk membayarnya," ucap Ethan.
"His!" sahut Alex agak kesal, itu sama saja artinya bukan oleh-oleh tapi nitip.
Ele kemudian memberikan sebuah kotak berwarna biru ke Sari.
"Ini hadiah pernikahan dari kami semua. Tolong dibuka pas nanti sudah sampai disana," ucap Ele.
Ethan memperhatikan kotak yang diberikan Ele. Ukurannya tidak terlalu kecil dan besar, akan tetapi ia masih tidak percaya mereka memberikan satu kotak itu dari mereka berempat.
__ADS_1
Apakah mereka sudah tidak punya uang lagi? Pelit sekali!
Richard yang melihat Ethan yang sepertinya tidak senang mendapatkan hadiah pun memulai bicara lagi.
"Kau jangan berpikir kami mulai miskin. Itu hadiah terbaik dari kami yang nantinya kau akan berterimakasih. Lebih baik terima saja."
"Ya ya ya ya, terima kasih hadiahnya. Kalau begitu kami pergi dulu. Bye bye semuanya. Sampai bertemu satu bulan lagi."
Setelah melepas kepergian Sari dan Ethan untuk pergi berbulan madu, kedua pasangan itu sama-sama tertawa di dalam mobil.
"Aku pastikan si Ethan akan terbakar hasratnya saat melihat Sari memakai hadiah dari kita," ujar Alex.
"Haha, kau benar sekali. Aku saja dulu begitu saat mendapat hadiah itu dari Ele," ucap Richard.
"Sayang ..." ucap Naya agar Richard tidak melanjutkan lagi perbincangan mesumnya.
"Iya iya iya, aku kan hanya membayangkan saja bagaimana respon Ethan nantinya sayang. Apalagi jaring laba-laba nya ada beberapa pilihan warna. Pasti fantasinya kemana-mana."
Naya hanya menggelengkan kepalanya. Ia sudah tidak tahu lagi bagaimana mengentikan ucapan yang tidak bisa dikontrol itu.
Sementara Ele dan Alex, keduanya cekikikan mendengar Richard yang berbicara dan Naya yang pusing dengan kelakuan suaminya.
****
Jangan lupa mampir ke ceritaku yang lain.
Cinta Dalam Doa ( Tamat )
All I Want Is You ( On Going )
Bitter Sweet Marriage ( On Going)
****
Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.
Jangan pelit-pelit untuk memberikan like dan vote nya geng 🤠Supaya ceritaku popularitasnya semakin naik dan pembacanya semakin banyak. Kalau begitu kan aku jadi semangat nulis kelanjutan ceritanya.
Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.
Jangan lupa follow akun Ig ku ya
__ADS_1
@yoyotaa_