
Esok harinya, Naya masih tertidur di tempat tidurnya. Kegiatan semalam, membuat seluruh tubuhnya remuk.
Berbeda dengan Richard, lelaki tersebut sudah bersiap dengan kemejanya. Terpaksa ia harus memilih sendiri, karena Naya kelelahan oleh dirinya.
Richard mendekat ke arah ranjang dan mencium kening istrinya.
"Aku berangkat kerja dulu sayang. Maaf karena semalam aku terlalu ganas padamu."
Setelah itu, Richard langsung turun dari kamarnya menuju ke ruang makan. Bukan untuk sarapan akan tetapi untuk berpamitan pada mamanya.
"Ma, aku berangkat kerja ya," ucap Richard sambil mencium tangan mamanya.
"Kau tidak makan dulu?" tanya Mama Helen.
"Tidak," jawab Richard.
"Oh, iya. Naya masih kelelahan di kamar Ma. Nanti kalau dia belum bangun juga. Icad minta tolong antarkan sarapan untuknya," ujar Richard.
"Is, pasti tadi malam kau menyerangnya sampai dia kelelahan, kan? Icad! Dia itu istrimu! Bukan pemuas nafsumu! Jangan berlebihan ketika bermain! Sewajarnya saja!" marah Mama Helen.
"Iya, iya Ma. Salah sendiri kenapa dia selalu terlihat menggoda di mataku? Aku berangkat." Helen menggelengkan kepalanya.
Richard kemudian pergi meninggalkan kediaman rumahnya.
"Kenapa kak Richard tidak sarapan dulu ma?" tanya Ele yang baru saja datang ke meja makan.
"Sepertinya kakakmu ada kerjaan mendadak," jawab Mama Helen.
"Ayo, kita sarapan saja berdua!" ajak Mama Helen.
"Kak Naya?" tanya Ele.
"Dia kelelahan, sudah ayo kita sarapan saja. Nanti untuk Naya mama akan mengantarkan makanannya ke kamar." Ele mengangguk mengerti.
Mereka berdua pun menikmati sarapan hanya berdua.
Beberapa jam kemudian, Naya terbangun dari tidurnya. Ia melihat sekelilingnya, sudah tidak ada sang suami di sampingnya. Ia pun melihat jam di layar ponselnya.
__ADS_1
"Astaga! Aku kesiangan. Duh! Bagaimana ini? Aku tidak enak pada mama dan Ele," ucap Naya yang sedikit panik.
Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka, terlihat mama mertuanya datang sambil membawakan sebuah nampan yang di atasnya sudah disediakan sarapan untuknya.
"Jangan lupa dimakan bubur ayamnya," ucap Helen sambil menaruh makanan tersebut di atas meja.
"Iya, terima kasih ma," balas Naya.
"Maafkan anak mama ya, Nay. Pasti semalam dia bermain beberapa ronde denganmu. Hingga kau kelelahan seperti ini," seru Mama Helen.
"Tidak apa-apa ma. Yang terpenting dia tidak bermain dengan wanita di luar sana," jawab Naya.
"Itu benar, kau harus membuat Icad tergila-gila padamu supaya dia tidak bisa lagi melirik wanita lain. Ya sudah, cepat kau makan buburnya nanti keburu dingin."
Naya mengangguk. Helen keluar dari kamar anaknya.
Naya pun berpindah posisi dari yang tadinya terbaring menjadi duduk di tepian ranjang. Tentunya ia menutup tubuh polosnya dengan selimut yang ia gulung. Kemudian ia memakan bubur yang dibawakan oleh mama mertuanya.
***
Di tempat lain, yaitu di perusahaan Richard. Ia sedang berbicara serius dengan Alex.
Alex menanyakan dan mengingatkan Richard agar cepat membuat Rico mendekam di penjara.
"Tunggu, sebentar lagi. Dia akan kehilangan semuanya. Di saat itu, aku akan membuatnya mengerti, siapa aku sebenarnya. Diam bukan berarti tidak tahu tapi dalam diam aku justru menyelidiki semuanya," ucap Richard.
"Baiklah, terserah mu saja," balas Alex yang hanya mengikuti perintah dari Richard.
Sebenarnya Alex ingin menanyakan tentang Denada pada Richard. Karena seperti yang ia ketahui, beberapa hari yang lalu mereka bertemu di acara launching brand pakaian milik Richard. Sayangnya, ia tak ingin membuat Richard mengingat masa lalunya.
Richard terus memperhatikan gerak-gerik Alex. Alex tampak ingin menanyakan sesuatu tetapi ia tahan.
"Kalau ingin bertanya, tanya saja. Jangan sungkan, Lex. Mau itu kau bertanya tentang masa lalu atau masa depanku," ucap Richard.
Mendengar ucapan Richard, Alex langsung saja menanyakan sesuatu yang membuatnya penasaran. Sebelum Richard enggan menjawabnya.
"Bagaimana perasaanmu ketika bertemu Denada di acara waktu lalu?" tanya Alex.
__ADS_1
"Oh, kau penasaran mengenai itu, Lex. Setelah aku bertemu dengannya, yang tersisa hanyalah rasa benci dan tidak ada sedikit pun rasa cinta padanya. Semuanya telah hilang berkat Naya. Bahkan aku hanya menganggapnya seperti rumput liar yang tak perlu aku lirik lagi."
Alex merasa lega mendengar jawaban Richard. Ia sungguh sangat berterimakasih pada Naya karena sudah membuat manusia yang sedang patah hati waktu itu dan sulit jatuh cinta menjadi manusia yang bisa melihat keadaan sekitar, dan sadar bahwa masih banyak wanita lain yang baik hatinya dan lebih dari Denada.
Mungkin sudah saatnya Alex mengatakan yang sejujurnya pada Richard. Tentang semua yang pernah terjadi di masa lalunya. Tentang kehancuran hatinya dahulu. Bukan bermaksud untuk membuka luka lama, hanya saja Alex sudah tak ingin lagi ada rahasia di antara ia dan Richard.
"Rich, ada sebuah fakta yang sebenarnya aku sembunyikan darimu. Aku harap kau tidak membenciku saat kau mendengar semuanya," ucap Alex memantapkan hatinya untuk jujur.
"Bicaralah, aku ingin mendengarkan semuanya. Setelah itu, aku baru bisa mencerna semuanya, dan menentukan apakah aku harus membencimu atau tidak."
Alex menarik napasnya dalam-dalam lalu mulai bercerita.
"Sebenarnya aku yang menyuruh Denada untuk menjauhi mu setelah Denada memutuskan hubungan pertunangan kalian waktu itu. Padahal, di saat itu, kau terus berusaha membujuknya untuk kembali padamu dan memintaku untuk membantumu," jujur Alex.
"Lalu?" tanya Richard meminta Alex untuk terus melanjutkan ceritanya.
"Alasan aku melakukan itu karena aku tidak ingin kau merasakan hal yang lebih sakit, setelah mengetahui fakta yang sebenarnya."
Alex merasa panik sendiri saat akan menceritakan semuanya. Tubuhnya serasa panas dingin. Apalagi Richard terus menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Mungkin itu tatapan amarah karena sudah dibohongi oleh sahabat yang begitu ia percayai.
"Lanjutkan," pinta Richard.
"Denada dan Nicolas, mereka bercinta di hotel milikku, sehari setelah Denada memutuskan pertunangan kalian. Aku mengetahuinya setelah sebulan mencari tahu alasan kenapa ia memutuskan mu. Karena pada saat itu, aku tidak mungkin bisa bertanya padamu mengenai alasannya. Kondisi kesehatanmu saat itu sangatlah buruk. Aku tidak ingin semakin membuatmu kalut dan bersedih hati dengan menceritakannya padaku."
Alex menghela napas sebentar untuk melanjutkan ceritanya lagi.
"Lalu setelah aku mengetahuinya, aku tanpa sengaja bertemu dengannya di bar milikku. Ia dan Nicolas sedang berciuman disana. Pada saat itu, tanpa adanya Nicolas di sampingnya, aku meminta Denada untuk menjauhi mu dengan ancaman bahwa kau akan menghancurkan perusahaan Nicolas jika kau mengetahuinya."
"Aku melakukan semua itu supaya kau bisa menjalani hidup barumu tanpa wanita seperti dia. Wanita yang kau cintai dan kau anggap mencintaimu itu, dia tidaklah pantas untuk bersanding denganmu. Hanya karena mimpi sejak kecilnya. Ia rela memberikan kehormatan dirinya sebagai wanita pada lelaki yang tidak bisa menghargai wanita."
"Apa sudah selesai? Atau masih ada lagi yang kau sembunyikan dariku?" tanya Richard.
****
Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.
Jangan lupa berikan like dan vote nya teman-teman.
__ADS_1
Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.
Kalian bisa juga memberikan dukungan untuk yoyo dengan menonton iklan yang ada di kolom pemberian hadiah.