
Seminggu telah berlalu, selama itu juga tak ada gangguan lagi dari Nicolas. Entah ia sudah menyerah atau sebenarnya ia sedang merencanakan sesuatu yang lebih besar lagi.
Tentunya hal tersebut masih dalam pengawasan Richard, ia sengaja mengirim beberapa mata-mata untuk mengikuti kemana pun Nicolas pergi. Yang ia dapatkan hanya Nicolas yang pergi ke kantornya, ke kantor polisi dan pulang apartemen.
"Tidak mungkin Nicolas tidak merencanakan sesuatu. Otaknya dia dengan sepupunya hampir sama. Aku tidak boleh lengah dalam menjaga Naya," tekad Richard.
Selain mengikuti Nicolas, Richard juga diam-diam membeli saham dari perusahaan Nicolas tanpa sepengetahuan Nicolas. Ia melakukan semua itu karena ingin ikut andil dalam setiap rapat pemilik saham.
Tak lama kemudian, Ethan masuk ke ruangan Richard tanpa permisi. Lelaki itu langsung masuk saja dan duduk di sofa seolah-olah dialah sang pemilik ruangan.
"Aih! Kau kira disini adalah ruangan mu apa!" kesal Richard pada Ethan.
"Jangan mudah tersulut emosi Rich! Nanti kau cepat tua! Sementara istrimu masih muda! Aku dengan senang hati akan menggantikan mu menjadi suami Naya."
Mata Richard langsung melebar ketika mendengar ucapan Ethan. Lelaki satu ini benar-benar membuat emosinya meledak.
"Sekali lagi kau mengatakan hal itu! Siap-siap rumahmu akan aku bom!" sembur Rich dengan kata ultimatumnya.
"Uuhhh, ngeri," ucap Ethan berpura-pura takut.
"Nanti malam pergi ke club yuk! Aku merindukan masa-masa ketika kita bertiga menghabiskan waktu di dunia itu," ajak Ethan.
"Aku tidak bisa. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak mengunjungi tempat tersebut lagi kecuali terdesak dan juga aku ingin menjaga perasaaan Naya," jawab Richard dengan jujurnya.
Selama ia dekat dan kini sudah menikah dengan Naya. Richard memang tak pernah lagi menginjakkan kakinya di dunia malam itu. Terkecuali jika ada pertemuan dengan para rekan bisnisnya yang memang di adakan di club. Tentunya Richard akan meminta izin terlebih dulu pada Naya. Di sisi Naya, ia tidak pernah melarang Richard untuk melakukan apapun. Asalkan Richard tetap ingat padanya. Semua keputusan itu Richard lah yang menginginkannya. Tentunya hal itu membuat Naya senang juga.
"Ah, iya. Aku lupa. Kau sudah tidak menjomblo lagi sekarang. Bagaimana jika kita mengadakan BBQ di rumahmu? Apakah boleh? Sudah lama kita tidak berkumpul," ucap Ethan memberikan ide yang lebih baik.
__ADS_1
"Em, kalau itu mungkin saja bisa. Nanti aku akan bicara pada Naya untuk mempersiapkan semuanya. Jadi kau tinggal datang dan membakarnya saja."
"Oke, sip. Kalau begitu aku pergi dulu. Silahkan lanjutkan pekerjaanmu. Aku akan mengunjungi Alex di kantornya. Bye!"
Ethan pun keluar dari ruangan kerja Richard. Sementara Richard ia langsung menelpon Naya dan menceritakan tentang acara BBQ yang akan diadakan di rumahnya malam nanti.
****
Di sebuah desa yang masih terjaga keasriannya, Denada duduk di gubuk yang ada di tengah-tengah hamparan sawah yang luas. Ia ditemani oleh Sari.
"Pilihan terbaik yang aku pilih adalah kembali ke kampung masa kecilku. Dimana disini aku benar-benar merasakan apa artinya damai dan kenyamanan," ucap Denada yang meluapkan kelegaannya.
"Apa sebelumnya kehidupan kakak tidak pernah damai?" tanya Sari yang penasaran.
"Sebelumnya hidupku damai-damai saja sampai sebelum aku menceritakan tentang kehamilanku pada lelaki itu," jawab Denada.
"Apa itu artinya janin yang ada di kandungan kakak salah satu penyebab semua yang terjadi?" tanya Sari lagi.
Ia mengingat dimana Nicolas mengatakan bahwa ia tak pernah sekalipun mencintai dirinya. Rasanya benar-benar sakit tak berdarah. Namun, semua itu sudah berlalu. Denada sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk memulai hidup baru dan meraih kebahagiaannya sendiri meski dan tanpa lelaki itu.
"Apa kakak masih mencintai lelaki itu?"
"Harus aku akui kalau aku memang masih mencintainya. Tidak mudah untuk melupakan seseorang yang namanya sudah lama terukir di hati. Namun, aku juga tidak bodoh dengan terus mengharapkannya terus berada di sisiku. Intinya aku hanya mencoba menikmati hidup ini dengan sisa rasa yang aku miliki. Biarkan semuanya mengalir seperti air. Aku tidak ingin memaksa untuk melupakannya."
Jawaban Denada membuat Sari terkagum-kagum pada wanita itu. Hingga tanpa sadar ia pun tersenyum dan merasa bersyukur sudah dipertemukan dengan wanita kuat seperti Denada.
"Tenang saja kak. Aku akan membantu kakak dan menemani sampai kakak bisa mengikhlaskan semuanya. Hidup itu bukan tentang masa lalu melainkan masa depan. Jadi, biarkan yang lalu dan kejar yang ada di depan. Aku yakin suatu saat nanti kakak akan mendapatkan laki-laki yang baik."
__ADS_1
Mendengar ucapan Sari, Denada tersenyum sangat tipis. Benarkah akan ada seorang laki-laki yang bisa menerimanya? Menerima dirinya yang nantinya adalah seorang single mom? Memiliki anak di luar ikatan pernikahan? Benarkah ada? Jika ada, Denada benar-benar menantikan waktu itu tiba.
***
Di apartemen, Nicolas membanting semua barang-barang yang terbuat dari kaca hingga berserakan kemana-mana di lantai kamarnya.
"Richard sialan! Seharusnya kau tidak pulang secepat ini! Bahkan aku belum mengeluarkan semua rencana ku! Sial! Benar-benar sial! Bahkan gerak-gerik ku terus diamati oleh orang-orang suruhan Richard!"
Nicolas bukanlah orang bodoh, sampai ia tidak tahu bahwa ada orang yang mengikutinya kemana pun ia pergi. Ia menyadari hal itu, makanya ia sengaja hanya pergi ke tempat-tempat yang tak membuat Richard curiga.
"Aku harus memutar otakku lagi dan memikirkan cara lain untuk mengelabui mata-mata yang dikirimkan oleh Richard untuk mengikuti ku. Tapi apa?"
Nicolas tampak berpikir sambil berjalan mondar-mandir di kamarnya. Ia bahkan tidak memperdulikan telapak kakinya yang berdarah karena menginjak pecahan kaca yang ia lempar tadi.
"Aha." Tiba-tiba satu ide terlintas di pikirannya. Nicolas menyeringai. Ia benar-benar menantikan rencananya yang bisa dipastikan akan berhasil.
"Tunggu aku datang menjemputmu! Kau pasti akan senang dengan kejutan yang aku berikan."
Lagi lagi sebuah senyum terlihat di bibir Nicolas. Senyum yang mengerikan. Entah apa yang dipikirkan Nicolas, bisa jadi itu akan membahayakan Naya ataupun Richard atau bahkan keduanya. Hanyalah Nicolas lah yang tau.
****
Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.
Jangan pelit-pelit untuk memberikan like dan vote nya geng 🤠Supaya ceritaku popularitasnya semakin naik dan pembacanya semakin banyak. Kalau begitu kan aku jadi semangat nulis kelanjutan ceritanya.
Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.
__ADS_1
Jangan lupa follow aku Ig ku ya
@yoyotaa_