
"Rich, entah kenapa aku bisa melihat kesedihan yang dialami wanita tadi. Dia seperti akan pergi jauh dari kota ini," ujar Naya sambil menatap Richard.
"Tidak perlu dipikirkan sayang. Lagian itu bukan masalah kita. Untuk apa repot-repot memikirkannya," ucap Richard menanggapi.
"Kau ini tidak punya rasa empati, ya?" ujar Naya sambil menatap tajam Richard.
"Jika aku tidak punya empati. Aku tidak akan mudah memaafkannya sayang. Pasti aku sudah balas dendam padanya dan membuat hidupnya hancur berkeping-keping. Bahkan untuk menunjukkan wajahnya di hadapanku saja ia sudah tidak memiliki muka lagi," jawab Richard sambil mengelus rambut kepala Naya.
"Bicara soal tadi, kenapa kau dengan mudahnya mengizinkan mantanku untuk bertemu denganku? Dimana-mana seorang istri tidak akan mengizinkan suaminya bertemu dengan sang mantan. Apa kau tidak merasa cemburu?" tanya Richard yang benar-benar penasaran isi hati Naya.
"Mantan itu adalah masa lalu. Dan masa lalu itu tidak mungkin akan terulang kembali. Jika kau terus terpaku pada masa lalu. Itu artinya kau bodoh, dengan mudahnya masuk ke dalam lubang yang sama. Aku mengizinkan kau bertemu dengannya, karena aku ingin tahu bagaimana rupa dan sikapnya, dan juga aku penasaran kenapa ia malam-malam ingin bertemu denganmu. Lagipula aku tidak membiarkanmu bertemu berdua saja dengannya, aku ada bersamamu. Jadi untuk apa cemburu? Cemburu itu hanya untuk orang yang tidak percaya pada pasangannya. Dan aku percaya padamu."
Jawaban Naya membuat Richard terharu. Setidaknya meskipun belum terucap kata cinta dari mulut Naya. Richard bahagia karena Naya percaya padanya.
"Sayang apa kau tahu? Aku sangat sangat sangat sangat mencintaimu," ucap Richard kemudian mencuri ciuman di bibir Naya.
Richard benar-benar mencintai Naya. Bahkan jika ditanya seberapa besar rasa cintanya, mungkin luasnya samudera pun tak bisa menggambarkannya. Tidak ada hal di dunia yang bisa disamakan dengan besarnya cinta yang ia miliki.
Ciuman pun terlepas, Richard meraih dagu Naya. Naya tampak tersipu malu dengan rona merah di wajahnya. Wanita yang satu ini, masih saja malu padahal Richard sudah sangat sering menciumnya.
"Kau ini! Kenapa mencium ku di sembarang tempat sih?" kesal Naya sambil memalingkan wajahnya.
Richard terkekeh melihat tingkah istrinya. Benar-benar menggemaskan. Ingin sekali rasanya ia menerkam istrinya saat ini juga. Namun, ia masih harus menahan diri sampai kandungan Naya kuat, baru ia akan memuaskan juniornya yang selalu menegang ketika bersama Naya.
"Jadi, kau ingin kita berciuman di kamar sayang?" ucap Richard menggoda Naya.
"Atau kau menginginkan sesuatu yang lebih dari sekedar ciuman? Seperti bercinta mungkin?" goda Richard lagi.
Blush!
Wajah Naya semakin bersemu merah. Biasanya jika ia digoda Richard, ia akan merespon dengan biasa saja. Tetapi kenapa kali ini ia merasa malu?
"Hahaha... apa kau benar-benar menginginkannya sayang? Kau sudah tidak sabar ingin bercinta denganku?" goda Richard lagi.
__ADS_1
"Maaf, walau sebenarnya aku juga ingin, akan tetapi makhluk kecil yang ada di dalam perutmu kini lebih penting. Jadi, kita harus menunda olahraga panas sampai dia kuat dan ketika itu aku akan bisa menengoknya."
Ketika pasangan ini tengah asiknya mengobrol, munculah seorang pengganggu.
"Udah kali mesra-mesraannya. Mentang-mentang udah halal, seenaknya saja berciuman di ruang tamu. Tidak lihat apa ada manusia polos disini! Kini aku sudah tidak polos lagi. Penglihatan ku dan pikiranku sudah tercemar dengan kelakuan kalian berdua!" kesal Ele karena melihat siaran langsung ciuman Naya dan Richard.
"Penglihatan mu dan pikiranmu kan memang sudah tercemar dari dulu. Kenapa jadi menyalahkan aku? Kau saja yang terlalu baper melihatnya," ucap Richard menanggapi.
Bibir Ele sudah maju ke depan dua senti. Memang benar ia sering melihat orang berciuman, namun ia hanya menonton di video yang tidak sengaja muncul beranda aplikasinya. Untuk melihatnya langsung, ini adalah kali pertamanya.
"Ish! Bikin kesal saja!"gerutu Ele kemudian duduk di sebelah Naya.
"Kak, tolong bilangin sama suami kakak yang menyebalkan itu, jangan membuatku kesal," ucap Ele sambil menyandarkan kepalanya di bahu Naya.
Richard tidak terima. Naya adalah miliknya, ia tidak rela jika ada orang yang menyentuh miliknya meskipun itu sepupunya sendiri.
"Iya nanti kakak bilangin," ucap Naya.
"Sayang ... " rengek Richard.
"Is! Kau kan milikku, kenapa kau membiarkan orang lain bersandar padamu?! Harusnya hanya aku." rengek Richard lagi.
"Rich! Masa sama sepupu sendiri kau begitu? Dia perempuan lho bukan laki-laki!" jawab Naya menanggapi.
"Iya, dasar pelit. Aku kan cuma mau bermanja-manja sama kak Naya. Sebelum dia masuk ke kamar dan kakak akan menguasainya lagi."
Richard mendengus sebal, Ele selalu saja bisa membuatnya kesal. Ele selalu bisa menguasai Naya yang seharusnya hanya dirinya yang berhak menguasai istrinya.
Awas saja kau Ele! Aku tidak akan membiarkanmu selalu mengganggu waktu berdua ku dengan istriku dan menguasai istriku!
"Kak, coba lihat! Kepala kak Icad sepertinya sudah mengeluarkan tanduknya. Ia pasti akan memarahiku setelah ini," ucap Ele lirih mengadu pada kakak sepupu iparnya.
Ele melihat raut wajah Richard yang menahan kesal dan menatap tajam padanya.
__ADS_1
"Tidak apa, nanti kakak akan menegurnya."
Mampus! Sukurin! Makanya jangan suka buat orang kesal!
***
Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, bahkan hari pun sudah berlalu. Richard, Naya dan Ele pergi ke swalayan untuk berbelanja bulanan. Awalnya Richard hanya ingin pergi berdua dengan Naya, akan tetapi namanya pengganggu pasti akan selalu mengganggu, setan kecil itu merengek ingin ikut dan pura-pura bersedih sampai akhirnya Naya membiarkan setan kecil itu ikut.
Kini mereka sedang berada di gondola dimana terdapat beberapa merek susu untuk ibu hamil. Richard dengan entengnya memilih dan memasukkan semua merk susu untuk ibu hamil ke dalam troli.
Naya menggelengkan kepalanya. Ia pun menaruh kembali beberapa merk susu yang tak pernah ia minum selama hamil.
"Kenapa menaruhnya kembali sayang? Aku kan sudah susah payah mengambilnya untukmu?" ucap Richard keheranan.
"Susu yang kau ambilkan terlalu banyak. Aku tidak mungkin meminum semuanya. Kecuali jika kau mau membantuku meminumnya, kau boleh menaruh kembali ke dalam troli," jawab Naya.
Jleb!
Tidak mungkin kan aku harus meminumnya? Ya sudah, daripada aku disuruh meminumnya, lebih baik aku turuti saja.
Mereka pun berpindah ke rak makanan ringan. Tentu saja ini permintaan Ele, ia ingin ikut karena tidak ingin melewatkan gratisan dari kakak sepupunya. Tentu saja gratis, selagi ada kakak ipar sepupunya, Ele akan mudah meminta tanpa harus memohon pada kakak sepupunya.
Tanpa mereka ketahui, rupanya ada seseorang yang sedari tadi memperhatikan mereka dari kejauhan. Ia tidak mendengar percakapan mereka, akan tetapi ia bisa melihat dari mimik wajah dan gestur dari mereka.
"Kenapa dia begitu dekat dengan Richard? Lalu siapa yang hamil?"
***
Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.
Jangan pelit-pelit untuk memberikan like dan vote nya geng 🤠Supaya ceritaku popularitasnya semakin naik dan pembacanya semakin banyak. Kalau begitu kan aku jadi semangat nulis kelanjutan ceritanya.
Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.
__ADS_1
Jangan lupa follow aku Ig ku ya
@yoyotaa_