
Waktu berlalu, usia kehamilan Denada sudah memasuki bulan kelahiran untuk anaknya. Denada begitu senang menyambut hal itu. Sari pun demikian, ia bahkan sudah menyiapkan berbagai macam pakaian dan mainan untuk keponakannya itu.
"Kak apa kau sudah menemukan nama yang bagus untuk anakmu?" tanya Sari pada Denada.
Denada menggeleng.
"Aku masih belum menemukan nama yang tepat. Apa kau ada saran?" tanya Denada pada Sari.
"Eum, aku juga tidak ada kak, hehe," jawab Sari dengan cengiran.
"Baiklah, akan aku cari-cari lagi nanti," ucap Denada.
Ketika mereka berdua asik mengobrol, tiba-tiba Denada merasakan sakit di perutnya.
"Aw..." Denada berteriak.
"Kak, kakak kenapa? Apa ini sudah waktunya melahirkan? Tapi kata dokter seharusnya seminggu lagi baru melahirkan," tanya Sari yang panik namun tetap mengingat perkataan dokter.
"Cepat bawa aku ke rumah sakit! Cari taksi ataupun apapun yang bisa membawaku dengan cepat. Aku benar-benar sudah tidak kuat!" teriak Denada yang sudah tidak tahan dengan sakit di perutnya.
Sari pun dengan segera meminta bantuan tetangga yang memiliki mobil untuk mengantar mereka. Beruntungnya, masih ada orang baik yang mau mengantar mereka tanpa mau dibayar.
Sesampainya di rumah sakit, Denada langsung dibawa ke ruang persalinan. Rupanya bayi yang ada di dalam kandungan Denada sudah tidak sabar untuk melihat dunia.
Ketika Denada di dalam ruangan berjuang mati-matian, Sari menunggu di luar ruangan dengan gelisah. Ia benar-benar khawatir akan kondisi keduanya.
"Ya Tuhan tolong selamatkan keduanya. Aku tahu masa lalu kak Denada sungguh tidak baik. Namun, ia sudah berubah dan sudah menuai karmanya. Biarkanlah mereka menjalani kehidupan selayaknya manusia tanpa harus ada hinaan dan tatapan tidak suka dari manusia yang lainnya."
Sari berdoa sungguh-sungguh sambil menyatukan kedua tangannya. Denada sungguh berjasa dalam hidupnya. Wanita itu memperlakukan dirinya layaknya sebuah keluarga. Sementara keluarganya sendiri memperlakukannya seperti orang lain.
Setelah menunggu lama, akhirnya terdengar suara tangisan bayi dari dalam ruang bersalin. Sari bernapas lega.
Di dalam ruang bersalin, Denada menangis karena perjuangannya kini terbalaskan. Rasa haru sekaligus bahagia, karena anaknya bisa melihat dunia.
Sebelum memperlihatkan anak Denada, dokter meminta suster untuk membersihkan bayi tersebut. Setelah bersih, suster memberikan bayi tersebut ke rengkuhan Denada.
__ADS_1
"Hai sayang, ini mama nak. Akhirnya mama bisa melihat wajah tampan mu yang sebelumnya hanya bisa mama lihat dari hasil USG," ucap Denada yang bahagia sambil mencium kening sang anak.
Tak lama kemudian Sari masuk dan membawa berbagai kebutuhan Denada dan sang bayi.
"Wah, tampannya keponakan ku," ucap Sari sambil mencolek pipi anak Denada.
"Siapa dulu ibunya!" jawab Denada dengan bangganya.
"Aku akan menamainya Ansel Scarlett. Ansel yang berasal dari bahasa Jerman yang artinya perlindungan dan Scarlett yang berasal dari nama belakangku. Bagaimana? Bagus tidak?" ujar Denada lagi.
Sari memberikan dua jempolnya mengatakan bahwa ia setuju.
"Aku berharap dengan nama tersebut Ansel bisa selalu menjadi pelindung bagi orang yang ada di sekitarnya dan bagi orang yang ia sayangi."
"Aku yakin harapan itu pasti akan terwujud," ucap Sari dengan penuh keyakinan.
****
Beberapa saat sebelum Denada melahirkan, Nicolas yang berada di sel pun merasakan perasaan gelisah dan was-was yang tidak bisa ia kendalikan. Seperti ada sebuah ikatan batin antara dirinya dan sang anak.
Namun, perasaan was-was itu seketika menghilang ketika Denada sudah berhasil melahirkan sang bayi.
Tak kunjung ada jawaban akan pertanyaannya, ia kemudian mengganggap hal tersebut angin lalu. Nicolas melakukan aktivitasnya di dalam penjara.
***
Di sisi Naya, wanita hamil itu tengah berjalan-jalan pelan di taman rumah. Ia melakukan hal tersebut supaya bisa melahirkan secara normal. Ia masih ingat betul ucapan sang dokter ketika ia melakukan pemeriksaan.
"Saat jalan kaki, seluruh otot panggul dan rahim akan menjadi lebih rileks. Kondisi ini akan sangat membantu membuka jalan lahir, sehingga memungkinkan ibu hamil melahirkan secara normal dan pemulihan pasca-persalinan juga menjadi lebih cepat. Itu salah satu cara dari sekian banyaknya cara yang bisa anda lakukan Nona."
"Sebentar lagi kita akan bertemu. Kalian baik-baik ya di dalam. Sampai tiba waktunya kalian terlahir ke dunia."
Richard melihat Naya dari pintu, ada tatapan sedih yang terpancar dari mata Richard. Sebenarnya Richard tidak ingin Naya melahirkan anak mereka secara normal. Ia takut akan resiko yang akan terjadi nantinya. Meskipun menurut sang dokter aman, akan tetapi Richard masih takut jika itu malah membahayakan istri dan kedua anaknya.
Kaki Richard berjalan menuju ke taman, dimana Naya berada. Ia duduk di kursi sambil melihat istrinya yang begitu ceria dengan senyuman yang terus terpancar dari bibirnya.
__ADS_1
"Kau sudah lama duduk disitu?" tanya Naya yang baru menyadari keberadaan Richard.
"Tidak, baru saja. Duduklah, kau pasti sudah kelelahan," saran Richard pada Naya.
Naya pun mematuhi ucapan Richard. Ia duduk di samping suaminya dan menyandarkan kepalanya di pundak pria tersebut.
"Tidak bisakah kau mengganti keputusanmu dengan melahirkan secara caesar saja?" tanya Richard berusaha untuk mengubah keinginan Naya.
"Tidak mau," jawab Naya tegas.
Hal tersebut membuat Richard selalu menghela napasnya, sudah berulangkali Richard memaksa, jawaban Naya tetap sama.
"Tapi kau harus berjanji padaku, jika terjadi kondisi yang tidak memungkinkan kau untuk melahirkan secara normal. Kau harus rela melahirkan secara caesar. Jangan memaksakan diri, oke sayang?" pinta Richard.
"Ya, baiklah," jawab Naya pasrah.
Richard mengecup kening sang istri. Menikmati masa-masa berdua bersama istrinya sebelum waktu kelahiran anak-anaknya tiba. Ketika keduanya lahir, kemungkinan fokus dan perhatian Naya akan terbagi. Sebelum Naya hamil saja, perhatian Naya selalu tertuju pada Elnan, apalagi jika ditambah dengan dua bayi. Besar kemungkinan Richard akan menjadi suami yang terabaikan.
Di tengah keromantisan pasangan tersebut, ada satu orang selalu menjadi pembuat onar nya.
"Bagus ya, ditungguin buat bantuin aku ngerjain tugas. Malah asik bermesraan disini. Kak Richard udah janji lho!"
Siapa lagi jika bukan Ele orangnya. Wanita itu selalu saja datang di waktu yang tidak tepat. Ingin sekali Richard mengirim Ele ke dunia tersembunyi seperti di film-film fantasi yang ia tonton. Supaya tidak ada orang yang bisa menemukan wanita tersebut.
"Sana gih! Janji itu harus ditepati. Bantu Ele, jadikan dia seorang CEO yang hebat sepertimu juga."
Akhirnya, dengan berat hati, Richard menuruti ucapan istrinya. Namun, Richard juga meminta agar Naya kembali ke dalam rumah. Alhasil, keduanya masuk ke dalam rumah bersamaan.
****
Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.
Jangan pelit-pelit untuk memberikan like dan vote nya geng 🤠Supaya ceritaku popularitasnya semakin naik dan pembacanya semakin banyak. Kalau begitu kan aku jadi semangat nulis kelanjutan ceritanya.
Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.
__ADS_1
Jangan lupa follow aku Ig ku ya
@yoyotaa_