Pesona Ibu Susu Baby Elnan

Pesona Ibu Susu Baby Elnan
Bab 132 - Pikirkan dulu baik-baik


__ADS_3

Di ruang keluarga, Denada membiarkan Ansel merangkak mengambil mainannya. Si kecil Ansel juga sudah pandai merambat atau berjalan dengan bergeser sambil memegang meja. Membuat Denada senang karena anaknya begitu aktif dalam bergerak.


Nicolas yang melihat itu tampak bahagia, meski tanpa kehadirannya, rupanya Denada bisa tersenyum secerah itu. Apakah jika ia mengutarakan keinginannya Denada akan ceria seperti itu juga? Entah kenapa seketika Nicolas ragu. Sudah dimaafkan pun sudah sangat bersyukur.


"Dena apa dia anakku?" tanya Nicolas.


"Tak perlu aku menjawab pun kau pasti sudah bisa mengetahuinya. Lihat saja wajahnya begitu mirip denganmu. Jika aku menyangkal pun pasti kau tak akan percaya," jawab Denada.


"Boleh aku ikut bermain bersamanya?" tanya Nicolas meminta persetujuan. Denada mengangguk.


Ansel yang awalnya bermain dengan mainannya, kini terduduk dan menatap laki-laki yang mendekat ke arahnya.


"Ini papa, maaf papa baru bertemu denganmu sekarang," ucap Nicolas pada Ansel kecil.


"Papa?" ucap Ansel kemudian tertawa. Tangannya terulur mengajak Nicolas untuk bermain bersamanya. Dan mereka bertiga pun bermain bersama seperti keluarga kecil yang bahagia.


Kebersamaan itu membuat hati Nicolas menghangat. Rupanya kehadiran Ansel tidak seburuk apa yang ia kira dahulu. Dulu ia berpikir bahwa memiliki anak itu merepotkan, karena sering menangis dan ingin ini dan itu. Namun, semuanya terasa berbeda sekarang. Pemikirannya yang dulu seakan terbantahkan. Merepotkan itu memang akan tetapi ada senangnya juga. Nicolas pun meraih tangan Denada.


"Terima kasih, kau tidak melakukan apa yang aku perintahkan dulu. Mungkin jika kau benar-benar menggugurkan janin yang ada di dalam kandungan mu dulu, penyesalanku akan berkepanjangan. Sekali lagi terima kasih," ucap Nicolas yang berderai air mata. Sosoknya yang tak pernah menangis di hadapan Denada, membuat Denada tanpa sadar memeluk Nicolas untuk meredakan tangisan itu.


Di dalam posisi saling berpelukan, keduanya membayangkan kesalahan dan penyesalannya masing-masing. Betapa dulu mereka adalah orang yang tidak baik, dan sekarang akan berusaha berubah menjadi lebih baik untuk diri mereka sendiri dan Ansel.


Pelukan pun terlepas. "Maaf aku terbawa emosi hingga tanpa sadar menangis di hadapanmu."


"Tidak apa, itu malah bagus, karena kau terlihat seperti manusia normal yang bisa memperlihatkan kesedihan. Tidak seperti dulu, kau hanya memperlihatkan sifat pura-pura baik dan bahagia mu di depanku."


Nicolas tidak merasa tersindir dengan ucapan Denada walaupun itu benar. Ia menanggapinya dengan sebuah pertanyaan.


"Kalau bagus, berarti jika aku menginginkan kita kembali bersama, apa bisa?"


Denada terdiam.


Melihat Denada yang sepertinya tidak menginginkan kembali bersamanya, Nicolas pun bersuara lagi.


"Jangan terlalu dipikirkan. Aku tidak memintamu untuk menjawabnya sekarang. Aku pun sadar akan kesalahanku. Jadi, lebih baik kau pikirkan dulu baik-baik. Aku tidak memaksamu."


"Baiklah."

__ADS_1


Mereka berdua pun kembali bermain bersama Ansel dan melupakan kecanggungan yang terjadi karena pertanyaan Nicolas. Setelah puas bermain bersama anaknya, Nicolas pun pulang ke apartemennya.


****


Di kediaman Kavindra, Elnan sedang bermain bersama papanya di ruang keluarga. Elnan kecil menaiki punggung Richard seperti menaiki kuda. Ia tertawa renyah karena saking asiknya.


Berbeda dengan Richard yang kewalahan menghadapi Elnan yang terus-menerus ingin dirinya menjadi kuda. Lututnya serasa mati rasa.


"Papa agi."


"Sudah ya sayang besok lagi. Papa cape, lutut papa juga pegal."


Wajah Elnan seketika berubah menjadi cemberut.


"Iya iya iya, ayok naik lagi, kita keliling ruangan ini," ucap Richard.


Wajah Elnan pun langsung bersorak kegirangan.


Rupanya Naya memperhatikan itu, ia cekikikan karena melihat Richard yang tertindas oleh Elnan kecil. Bagaimana jika kedua anak kembar mereka juga nantinya tumbuh dan menjadi kelemahan Richard, sepertinya Naya akan menjadi penguasa di keluarga kecilnya karena Richard yang akan selalu menjadi yang tertindas.


"Sayang, lihat itu papa kalian sedang menjadi kudanya kakak El. Padahal di kantor dialah bosnya dan sangat digemari oleh karyawannya. Apalah jadinya jika mereka tahu kalau di rumah yang jadi bos adalah kalian bertiga, pasti mereka tidak menyangka, hihi."


Setelah selesai bermain bersama Elnan, Richard beralih ke samping Naya membiarkan Elnan untuk dimandikan oleh Nani.


"Bagaimana rasanya? Apa cape?" tanya Naya.


"Cape sekali. Sepertinya punggungku akan encok jika Elnan setiap hari memintaku menjadi kuda. Lutut ku juga ngilu sekali."


"Ya begitulah jadi orang tua. Meskipun cape, kita harus menikmatinya. Tapi Elnan terlihat senang sekali naik ke atas punggungmu."


"Itu pasti sayang. Ya walaupun cape, setidaknya semuanya terbayarkan dengan kecupan ini."


Cup.


Richard mengecup bibir Naya di hadapan kedua bayi kembar mereka.


Naya melotot tajam. Richard selalu tidak tahu tempat jika ingin berbuat sesukanya.

__ADS_1


"Ah, enaknya. Terbayarkan sekali apalagi jika kita bisa berduaan saja di kamar."


"Astaga! Kau ini! Jangan melakukan hal yang tidak sepantasnya dilihat oleh anak kita yang masih bayi. Mata mereka jadi ternodai karena ulah mu!" kesal Naya ke Richard.


"Jangan diingat ya sayang. Maafkan mama dan papa yang memperlihatkan hal buruk pada kalian. Jangan ditiru ya."


"Mereka itu belum mengerti dengan apa yang kita lakukan sayang. Jangan terlalu berlebihan," ujar Richard.


Naya melayangkan tatapan tajamnya lagi pada Richard membuat Richard langsung terdiam dan tidak berkata-kata lagi.


Sial! Kenapa semakin hari dia terlihat begitu menakutkan? Aku jadi tidak bisa berkelit di hadapannya.


Suasana kembali normal ketika Ela mulai tertawa melihat kelakuan kedua orangtuanya yang menurutnya sangatlah lucu.


Naya dan Richard pun saling berpandangan dan kemudian tertawa bersama.


Hari pun mulai malam, anak-anak sudah tidur dan tinggal Richard dan Naya saja yang masih terjaga.


Naya berjalan ke arah balkon kamar kemudian menatap ke langit yang bertabur bintang. Lalu Richard datang dengan memeluk Naya dari belakang.


"Apa yang kau pikirkan sayang?" tanya Richard.


"Aku memikirkan Elnan, bagaimana jika nantinya dia tahu kalau kita bukanlah orang tua kandungnya dan dia tahu kalau orangtuanya sudah meninggal. Aku tidak sanggup untuk melihatnya bersedih. Aku juga tidak ingin menutupi semua kebenaran ini. Aku ingin dia mendengar semuanya dari mulutku atau kalau tidak ya darimu. Jadi kita bisa dengan mudah memberikan pengertian padanya," jawab Naya.


"Jangan dipikirkan, biarkan semuanya berjalan dengan semestinya. Suatu saat Elnan pasti akan tahu mengenai dirinya. Bagaimana tanggapan dia nanti, kita ikuti maunya dia. Tapi feeling-ku mengatakan Elnan tidak akan bersedih lama-lama. Walau bagaimana pun, aku dan kau adalah keluarganya, mama dan papanya, meski kita hanya orang tua asuhnya."


Mendengar ucapan Richard, Naya menjadi lega. Mereka berdua pun menikmati udara malam yang dingin dengan saling berpelukan.


****


Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.


Jangan pelit-pelit untuk memberikan like dan vote nya geng 🤭 Supaya ceritaku popularitasnya semakin naik dan pembacanya semakin banyak. Kalau begitu kan aku jadi semangat nulis kelanjutan ceritanya.


Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.


Jangan lupa follow akun Ig ku ya

__ADS_1


@yoyotaa_


__ADS_2