Pesona Ibu Susu Baby Elnan

Pesona Ibu Susu Baby Elnan
Bab 108 - Tentang Ele yang tidak tahu isi hatinya


__ADS_3

Seusai keluar dari rumah hantu, Alex, Ele, Richard dan Naya berjalan mencari tempat duduk untuk beristirahat.


"Apa kau tidak lelah sayang?" tanya Richard pada Naya karena tak ingin istrinya kelelahan dan berakibat fatal pada janin yang di kandungnya.


"Tidak, aku baik-baik saja. Tidak usah cemas begitu," ucap Naya agar Richard tak terlalu khawatir padanya.


"Semua ini gara-gara kau tahu Alex! Aku sedang senang-senangnya menonton pertunjukkan berdua dengan istriku! Kau malah pingsan dan mengganggu waktu kami berdua!" kesal Richard pada Alex.


Yang dimarahi tampak biasa saja tak merasa bersalah sedikit pun. Kini giliran Ele yang angkat bicara.


"Iya, kak Alex menyusahkan! Apaan coba! Masa masuk ke rumah hantu sampai pingsan dua kali! Laki-laki macam apa seperti itu! Kalau takut kenapa tidak menolak saja sedari awal!" ucap Ele sambil menggerutu.


Merasa harga dirinya direndahkan, Alex tidak terima dan membantah ucapan tersebut.


"Siapa bilang aku takut!? Aku hanya kaget tahu! Hantu itu tiba-tiba saja ada di depan mataku! Apalagi wajahnya sungguh sangat buruk!" ucap Alex berkilah.


"Halah, sudah mengaku saja. Jangan kebanyakan beralasan. Mau aku bongkar semua ketakutan mu di depan Ele?" ancam Richard yang mulai jengah dengan Alex yang sok-sokan berani.


"Is! Kau itu temanku bukan sih? Kenapa tak ada membelanya sama sekali!" cecar Alex.


Richard mengangkat bahunya seolah tak peduli dengan ucapan Alex. Ia malah fokus pada istrinya yang begitu menggemaskan ketika menggenggam tangannya.


Setelah berjalan beberapa menit, akhirnya mereka menemukan gazebo untuk duduk. Richard dan Alex pergi untuk mencari makan dan minum, sementara Ele dan Naya duduk di gazebo tersebut.


"Kak Naya benar-benar tidak lelah kan?" tanya Ele memastikan lagi keadaan kakak sepupu iparnya.


"Tidak, Ele," jawab Naya.


"Syukurlah, aku hanya khawatir saja. Soalnya perut kakak kan sudah membesar sekarang. Biasanya ibu hamil yang perutnya sudah membesar itu akan mudah lelah dan selalu ingin bersantai-santai di rumah."


"Ibu hamil juga butuh udara luar, bosan di rumah terus. Yang ada aku bisa stres nantinya," balas Naya menanggapi.

__ADS_1


"Begitu ya kak," ucap Ele yang masih belum mengerti.


"Ele, boleh aku bertanya padamu?" ucap Naya meminta izin pada Ele.


"Apa sih kak! Kalau ingin bertanya ya langsung saja. Kenapa harus meminta izin segala?" ujar Ele.


Setelah mendapatkan persetujuan dari Ele, Naya mulai menanyakan tentang perasaan Ele.


"Apa kau benar-benar tidak ada hati dengan Alex? Aku yakin, kau pasti sudah tahu jika Alex menyukaimu."


Ele tampak terdiam. Tentang hatinya, ia pun tidak tahu sama sekali. Apa ia menyukai Alex atau tidak pun, Ele benar-benar tidak tahu.


"Aku tidak tahu kak," jawab Ele yang membuat Naya bingung.


"Sebenarnya aku belum pernah jatuh cinta. Aku pun tidak tahu seperti apa rasanya jatuh cinta. Apa jatuh cinta itu selalu kesal ketika didekati? Apa jatuh cinta itu selalu rindu ketika jauh? Apa jatuh cinta itu selalu membuat kita menunggu kabar darinya sampai-sampai lupa sama diri sendiri? Apa jatuh cinta itu membuat kita bahagia ketika bersama? Apakah seperti itu?" tambah Ele yang bertanya-tanya.


Naya mendengarkan semua ucapan Ele yang masih sangat awam tentang cinta sama sepertinya. Bedanya Naya mengetahui perasannya, akan tetapi ia takut dikecewakan dan takut karena perbedaan status sosial. Sementara Ele, wanita ini mudah sekali menebak perasaan orang lain, hanya saja ia tidak bisa menebak atau mengetahui perasaannya sendiri.


"Baiklah, akan aku pikirkan nanti," jawab Ele.


Tak lama kemudian, Alex dan Richard datang membawa berbagai jenis makanan dan minuman. Mereka menyantap semua itu dengan lahap. Setelahnya, mereka memutuskan untuk pulang.


Kencan yang diharapkan Alex akan semakin mendekatkannya dengan Ele berakhir gagal karena kelemahannya sendiri. Alex pun bertekad akan mencari ide lain untuk bisa menghabiskan waktu berdua dengan Ele.


***


Di setiap harinya, para tetangga selalu silih berganti datang dan menghina Denada di rumahnya. Hingga sang ketua RT pun mendatangi rumah Denada.


"Begini, bapak tahu kalau rumah ini adalah peninggalan orang tuamu dan memang sah milikmu, akan tetapi karena berita kehamilan mu membuat kegaduhan dan terus mengganggu ketenangan warga disini. Dengan berat hati, bapak memintamu untuk mengasingkan diri dulu ke tempat lain. Kau bisa kembali kesini ketika sudah bersuami ataupun para warga sudah tidak mengungkit lagi berita kehamilan mu yang di luar nikah. Bapak mohon maaf sekali nak," ucap pak ketua RT.


Denada tahu, tidak mudah bagi warga menerima dirinya dan anaknya. Apalagi ini di desa yang kebanyakan orang beranggapan buruk tentang hamil di luar nikah. Ya walaupun memang kenyataannya buruk.

__ADS_1


"Baiklah pak, saya akan pergi dari desa ini. Saya memohon maaf sudah menimbulkan kericuhan disini," ucap Denada.


Sari yang melihat Denada diusir dari rumahnya sendiri, mulai berkaca-kaca. Rasanya ia ingin sekali membungkam mulut-mulut lemes para tetangga yang selalu menghina dan mencemooh Denada dengan seenak jidatnya. Namun, apalah daya dirinya yang hanya orang asing di desa tersebut.


Pak ketua RT pun pergi. Denada segera meraih kopernya dan memasukan pakaian-pakaian yang dibutuhkan.


Tak ingin melihat Denada kelelahan, Sari mengambil alih tugas Denada.


"Biar aku saja kak, kakak duduk saja disitu. Sebut saja apa yang akan kakak bawa," pinta Sari.


"Apa tidak merepotkan mu?" tanya Denada hati-hati.


"Tidak," jawab Sari.


"Kakak akan pindah kemana? Apa kakak masih memiliki uang? Aku takut jika aku terus bersama kakak, itu akan merepotkan kakak. Apalagi biaya persalinan nanti pasti akan sangat mahal. Apa lebih baik aku kembali saja pada orang tuaku?"


Sari benar-benar merasa tidak enak jika ikut pergi bersama Denada. Jika di tempat sekarang, Denada tidak perlu repot-repot membayar uang sewa rumah karena itu memang rumah miliknya, akan tetapi jika mereka pindah ke tempat lain. Itu pasti akan memakan biaya yang banyak. Sewa rumah, makan, biaya persalinan dan biaya-biaya yang lainnya.


"Mungkin aku akan kembali ke perkotaan. Karena disana, orang-orang tidak terlalu peduli dengan orang sekitar. Tenang saja, aku masih memiliki banyak tabungan. Kau jangan kembali pada orang tuamu. Aku tidak ingin kau menyesal nantinya. Orang tuamu bukanlah orang yang baik. Dia tega sekali menjadikan anaknya sebagai penebus hutang. Kau temani aku, aku tidak ingin sendirian."


Karena aku sebenarnya masih belum siap untuk kembali ke kota lagi. Akan tetapi, disana lah tempat yang paling tepat dimana aku dan anakku tidak akan dihina dan dicemooh lagi.


****


Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.


Jangan pelit-pelit untuk memberikan like dan vote nya geng 🤭 Supaya ceritaku popularitasnya semakin naik dan pembacanya semakin banyak. Kalau begitu kan aku jadi semangat nulis kelanjutan ceritanya.


Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.


Jangan lupa follow aku Ig ku ya

__ADS_1


@yoyotaa_


__ADS_2