
Naya menghela napas untuk memulai pembicaraan yang pastinya akan membuat ibunya terkejut.
"Bu," ucap Naya sambil memegang kedua tangan ibunya.
"Nanti malam Tuan Richard dan keluarganya akan ke rumah. Mereka ..."
Ibu Naya langsung memotong ucapan Naya. "Kenapa tidak bilang dari tadi Nay? Di rumah tidak ada apa-apa. Ibu mau ke pasar dulu beli makanan untuk menjamu mereka nanti malam," cerca ibu yang langsung bangkit dari duduknya.
Naya meraih tangan ibunya, dan berkata, "Mereka kemari untuk melamar Naya, Bu."
"Hah?" Ibu Naya terkejut bukan main. Ia memandang anaknya mencari sebuah kebohongan disana. Namun, itu tidak terlihat. Bagaimana bisa anaknya yang orang biasa bisa disandingkan dengan majikannya?
"Na-nay ka-u ti-dak se-dang bercanda, kan?" tanya ibu Naya terbata-bata. Naya menggeleng pelan. Ia bisa melihat raut wajah terkejut dari ibunya. Namun, apa boleh buat, semuanya sudah direncanakan oleh mamanya Richard.
"Tapi, keluarga kita tidak sepadan dengan keluarga mereka, Nay. Ibu tidak mau nantinya kau disiksa atau dijadikan hanya sebagai seorang pembantu disana. Ibu tidak setuju! Walaupun ibu tau Richard itu anaknya sopan dan baik. Namun, kita tidak tahu bagaimana sikap keluarganya."
Ibu salah. Justru yang baik itu keluarganya. Dia mah sopan di depan ibu saja.
"Bu, keluarganya juga baik. Naya sudah mengenalnya. Mereka tidak seperti itu. Intinya nanti malam mereka akan datang ke rumah untuk melamar Naya. Naya memberitahukan ini agar ibu tidak terkejut ketika nanti malam mereka datang," jelas Naya.
Naya masih menunggu tanggapan ibunya lagi. Ibunya terdiam sesaat. Naya paham ibunya pasti memikirkan bagaimana dirinya ke depannya.
"Apa kau mencintainya?" tanya ibu buka suara.
Haruskah aku jawab? Aku sendiri belum yakin apakah aku benar-benar mencintainya? Ataukah hanya kagum akan sikapnya yang penyayang terhadap keluarganya? Tetapi jika aku menjawab tidak, pasti ibu tidak akan menerima lamaran tersebut. Lalu setelah itu, kemungkinan besar aku benar-benar harus berhenti menjadi ibu susu Elnan.
Akhirnya Naya menjawab pertanyaan ibunya dengan anggukan saja. Terdengar helaan napas dari ibunya.
"Jika kau memang mencintainya. Ibu tidak akan menjadi halangan jika dia akan melamar mu. Ibu hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu, Nay. Kau harus bisa lebih bahagia dari ibu."
"Ibu ..." Entah mengapa air mata merembes ke pipi Naya begitu saja. Ia menangis bukan karena ibunya merestui melainkan karena ia menutup fakta dengan kebohongan lainnya pada ibunya. Ia tidak siap untuk jujur pada ibunya mengenai pekerjaannya yang menjadi ibu susu bukan baby sitter juga alasan kenapa ia akan dilamar oleh Richard.
Ibu kembali duduk dan mengusap air mata Naya yang jatuh.
__ADS_1
"Sudah, sudah jangan menangis. Ibu sudah merestuinya kok."
"Ada satu hal lagi Bu," ucap Naya sambil menatap mata ibunya.
"Keluarganya menginginkan pernikahan dilaksanakan seminggu lagi," lirih Naya melanjutkan. Naya yakin ibunya akan semakin shock mendengarnya.
"Hah? Ba-bagaimana bisa? Nay sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa semuanya serba dadakan? Apa kau dipaksa oleh mereka? Apa kau sudah diapa-apakan oleh Richard? Tolong cerita pada ibu! Huhu ... huhu ..."
Ibu Naya terkejut sekaligus heran dan penuh tanya di kepalanya. Bagaimana mungkin pernikahan diadakan secepat itu? Mereka bahkan belum melamar Naya. Ia pun menangis karena khawatir hal buruk terjadi pada putri satu-satunya itu.
Maaf ibu, aku tidak bisa menceritakan hal yang sebenarnya. Aku takut ibu akan kecewa dan bersedih karena ku.
"Tidak ada yang perlu Naya ceritakan lagi, Bu. Satu-satunya jawaban yang pasti adalah karena Naya mencintainya. Naya ingin hidup dengannya."
Aku harap ibu percaya.
"Nay, ceritakan, Nak. Ibu mau dengar semuanya," pinta ibu Naya lagi.
Ibu Naya pun mengerti. Ia tak mau terlalu ikut campur dengan keputusan anaknya.
"Janji satu hal sama ibu, Nay. Kau harus bahagia! Jika kau tidak bahagia. Kembalilah pada ibu. Ibu akan dengan senang hati menerimamu kembali datang ke rumah."
Naya langsung memeluk ibunya, menumpahkan segala tangisnya dan menganggukkan kepalanya seolah menjawab bahwa dia akan bahagia dengan pilihannya. Ia tidak ingin ibunya terlalu memikirkan dirinya dan berakibat fatal pada kesehatan ibunya.
***
Sore harinya, di kediaman Richard, sudah ada banyak hantaran yang terpajang di meja ruang keluarga. Helen begitu antusias menyiapkannya dibantu oleh Ele.
"Akhirnya, semuanya sudah siap. Tinggal berdandan dan kita berangkat menuju tujuan. Telepon kakakmu suruh segera pulang Ele. Mama tidak mau terkesan buruk di depan keluarga Naya. Mama ingin datang tepat waktu."
"Siap laksanakan!"
Ele pun mencari nomor kontak Richard dan langsung menelponnya.
__ADS_1
"Kak Richard pulang sekarang! Kalau tidak lamarannya batal!"
"Enak saja. Kalau batal berarti itu ulah mu, Ele! Aku akan mengirim mu ke Afrika jika sampai itu terjadi."
Aih, niat mau membuat kak Richard kesal, kenapa jadi aku yang kesal?
"Pokoknya cepat pulang! Jangan lupa belikan aku ice cream rasa stroberi Ditunggu di rumah. Kalau tidak membelikan ice cream untukku semua hantarannya akan aku buang! Bye kakakku yang ganteng."
Ele langsung mematikan sambungan telpon tersebut. Mama Richard hanya geleng-geleng melihat kelakuan ponakannya yang luar biasa ajaib untuk selalu mengganggu Richard.
"Ele ... Ele ... kau memang tidak ada habisnya untuk membuat kakakmu kesal dan menuruti semua keinginanmu," ucap Helen.
"Hehe, iya dong ma. Habisnya suka aja liat kak Richard kesal seperti ada kesenangan sendiri untukku."
"Andai saja kakakmu yang perempuan masih ada, pasti dia akan satu komplotan denganmu," ucap Helen sambil membayangkan anak perempuannya masih berada di sisinya.
"Kak Rihana pasti sudah tenang disana, Ma. Jangan terlalu sering menangis karenanya. Nanti kakak disana juga akan bersedih," ucap Ele menangkan Helen sambil mengusap lembut tangan Helen.
"Kau benar Ele. Mama hanya terbawa suasana saga. Rasanya masih begitu aneh tanpa kehadirannya." Ele mengangguk seolah merasakan hal yang sama meskipun ia sudah lama tidak berjumpa dengan kakak sepupunya itu.
"Baiklah, daripada mama bersedih, lebih baik mama dandanin aku dan mencari pakaian yang akan aku pakai nantinya. Aku tidak mau kelihatan jelek di depan orang tuanya kak Naya," ucap Ele lalu menarik tangan Helen menuju ke kamarnya.
Kedua wanita tersebut sibuk mencari pakaian yang bagus dan terkesan sederhana. Mereka tidak ingin ibunya Naya tersinggung dengan pakaian yang mereka kenakan. Di lihat dari cara berpakaian Naya sudah terlihat jika ibunya Naya juga adalah orang yang sederhana juga lembut hatinya.
****
Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.
Jangan lupa berikan like dan vote nya teman-teman.
Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.
Kalian bisa juga memberikan dukungan untuk yoyo dengan menonton iklan yang ada di kolom pemberian hadiah.
__ADS_1