Pesona Ibu Susu Baby Elnan

Pesona Ibu Susu Baby Elnan
Bab 119 - Menebus Kesalahan


__ADS_3

Setelah mendapatkan kabar dari Ethan kalau Alex sudah sadar, Richard segera menuju ke ruangan tempat Alex dirawat. Ia melihat Ethan duduk di luar seorang diri.


"Ethan, kenapa di luar? Katamu Alex sudar sadar," tanya Richard.


"Dia memang sudah sadar, aku mau masuk ke dalam tapi malas. Kepalaku jadi pusing mendengarkan adu mulut Alex dan Ele," jawab Ethan.


"Oh, pantas. Ayo masuk ke dalam saja!" ajak Richard pada Ethan.


Keduanya pun masuk ke ruang rawat Alex, dan benar saja Ele dan Alex masih saja berdebat karena sesuatu yang kecil.


"Hey kak! Kau itu bisa diam tidak sih? Kalau kau bergerak-gerak terus, bisa-bisa infusnya lepas!" marah Ele.


"Bisa tidak sih dilepas saja, aku tidak nyaman Ele!" sahut Alex.


"Tidak bisa!" sahut Ele lagi.


Kedua makhluk yang baru saja masuk itu menghela napas bersamaan.


Tiba-tiba pengantar sarapan pagi pun datang.


"Diletakan disitu saja pak," ucap Richard pada pengantar sarapan itu.


"Sudah, sudah jangan berisik! Lebih baik kau makan saja Lex, supaya kau bertenaga," saran Richard.


"Bagaimana aku mau makan? Lihat! Tangan kananku saja diikat begini?" gerutu Alex sambil melirik ke arah Ele. Ia mengatakan seperti itu juga untuk mengetes Ele, apakah gadis itu akan peka dan langsung akan menyuapi dirinya ataukah akan bodo amat.


"Kalau mau disuapi itu bilang aja, tidak usah pake kode-kode lirikan mata!"


"Mana siniin makanannya kak Richard!" pinta Ele pada Alex.


Yes! Berhasil!


Alex tersenyum senang, rupanya dibalik sikap garang dan galaknya Ele, gadis itu menyembunyikan sikap perhatiannya berbalut sifat galaknya.


"Aa," ucap Ele saat akan mengarahkan sendok ke mulut Alex.


Alex langsung menerima suapan itu dengan wajah yang sumringah. Meskipun makanannya tidak ada rasanya, melihat Ele saja sudah cukup baginya. Rasa makanan itu seolah mengikuti suasana hatinya.


"Tiap hari kau harus menyuapi aku ya, Ele. Tanganku belum bisa aku gunakan. Kata dokter masa pemulihannya bisa sampe 3 bulan."


"Kau kira aku ini suster mu apa kak?! Aku masih ada banyak kegiatan. Aku masih harus ke kampus, hari ini saja aku izin," jawab Ele.

__ADS_1


"Ya kalau kau sibuk sih, tidak apa-apa. Tapi setidaknya jika kau kesini, kau harus mengurusku. Katamu tadi kau merasa bersalah, jadi kau harus menebus kesalahanmu itu dengan merawat aku," ucap Alex dengan entengnya.


"Hii, baiklah, baiklah," jawab Ele pasrah.


"Lex, kalau kau sakit begini siapa yang mengurus perusahaan mu?" tanya Richard.


"Ethan kan ada. Iya kan?" ucap Alex sambil menatap penuh harap ke arah Ethan.


"Haish, kenapa sih kalian berdua selalu menumpahkan segala tanggung jawab kalian padaku? Tidak bisakah kalian mencari orang lain. Aku sudah sibuk dengan urusan perusahaan Richard, ditambah kau memintaku menggantikan mu, Lex. Belah saja belah tubuhku!" kesal Ethan karena dirinya selalu saja yang jadi tumbalnya.


"Tenang saja, nanti aku kasih gaji yang banyak. Kau mau minta apa pun akan aku kasih," ucap Alex mencoba merayu Ethan.


"Baiklah, awas kau jika janjimu tidak ditepati!" ucap Ethan dengan anda sedikit mengancam. Padahal sebenarnya tidak perlu digaji pun tidak apa, uang Ethan masih menumpuk bergunung-gunung.


"Ya sudah, karena disini ada Ele dan Richard, aku akan pergi ke kantor kalian berdua. Perusahaan kalian aku urus bergantian. Bye!"


Ethan benar-benar pergi dari rumah sakit. Tiba-tiba di tengah perjalanan, perutnya berbunyi. Rupanya cacing-cacing di perutnya sudah menabuh genderang perang. Alhasil Ethan berhenti di restoran terdekat untuk mengisi perutnya.


Ia sudah tidak peduli lagi dengan dirinya yang masuk restoran dalam keadaan belum mandi. Toh dilihat dari manapun wajahnya akan tetap rupawan. Orang tidak akan tahu jika ia belum mandi.


Setelah memesan makanan, Ethan menunggu sembari melihat-lihat desain interior dari restoran tersebut. Cukup sederhana namun tetap terlihat elegan. Mungkin suatu hari nanti, bisa jadi tempat yang wajib ia kunjungi jika rasa makanannya juga pas di lidahnya.


Tak lama kemudian, pesanan Ethan pun datang dibawakan oleh seorang gadis biasa namun terlihat sedikit menarik di penglihatan Ethan.


"Terima kasih," jawab Ethan.


"Keputusanku untuk berhenti disini rupanya membawaku pada keberuntungan. Pagi-pagi sekali aku sudah bisa melihat wanita cantik. Ini menambah nafsu makan ku."


Benar saja, Ethan makan dengan sangat lahap. Ia benar-benar menikmati makanan itu. Rasanya juga sangat pas di lidahnya. Rasa manis pedas dan asinnya benar-benar sesuai. Setelah selesai, Ethan memanggil pelayan itu kembali.


Sang pelayan pun memberitahu total makanan yang dipesan oleh Ethan.


"216.000 Tuan total semuanya."


"Sebentar," ucap Ethan saat mencari dompetnya.


Ethan membayar tunai makanannya. Ia juga tak lupa bersikap sedikit genit pada pelayan itu.


"Sisa kembaliannya untukmu saja, hitung-hitung tips karena makanan disini sangat enak. Boleh aku tahu namamu?"


"Terima kasih tuan. Nama saya Sari," jawab pelayan yang bernama Sari itu, kemudian kembali ke tempatnya lagi.

__ADS_1


Begitu juga Ethan, ia segera masuk ke dalam mobilnya, ia benar-benar sudah dikejar oleh waktu.


"Sari ya?" ucap Ethan mengingat nama pelayan cantik itu.


Ethan melajukan mobilnya keluar dari area restoran tersebut.


****


Di rumah, Denada sedang menjemur pakaian si kecil Ansel di halaman. Sementara sang bayi tengah tertidur dengan pulasnya.


Setelah menjemur pakaian, Denada meraih ponselnya dan duduk di kursi yang ada di depan rumahnya. Sudah berbulan-bulan Denada tidak pernah mencari tahu tentang kehidupan Nicolas. Bahkan ia sengaja menghapus kontak Nicolas. Namun, entah kenapa, kini ia penasaran. Hingga akhirnya Denada mengetik sesuatu di kolom pencarian peramban nya.


"Istri Nicolas sekarang."


Hanya saja tidak ada berita yang muncul disana. Hanya ada berita tentang Nicolas yang menculik istri dari Richard, mantan tunangannya dulu.


Denada terkejut melihat itu. Seketika ia teringat pada perkataan Nicolas bahwa laki-laki itu menyukai orang lain.


"Apakah wanita itu adalah Naya, istrinya Richard?" Denada bertanya-tanya.


"Kalau begitu, apa artinya sekarang dia ditahan?"


Ada rasa sedih di dalam hatinya. Walau bagaimana pun, di dalam hati kecil Denada, masih ada rasa sayang pada Nicolas. Melupakan itu tidak semudah yang ia bayangkan. Bahkan begitu banyak kenangan indah bersama dengan Nicolas, 2 tahun itu bukan waktu yang sebentar. Meskipun kini sudah hampir 10 bulan Denada hidup tanpa Nicolas.


"Mungkin saja, itu adalah karma yang kau dapatkan Nic. Semoga saja, kau bisa berubah."


****


Maaf ya dua hari kemarin aku libur. Abis namatin nonton Drakor, hehe.. Sambil cari wangsit, wkwkwk.


Jangan lupa baca karya terbaruku judulnya All I Want Is You dijamin seru.


****


Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.


Jangan pelit-pelit untuk memberikan like dan vote nya geng 🤭 Supaya ceritaku popularitasnya semakin naik dan pembacanya semakin banyak. Kalau begitu kan aku jadi semangat nulis kelanjutan ceritanya.


Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.


Jangan lupa follow aku Ig ku ya

__ADS_1


@yoyotaa_


__ADS_2