Pesona Ibu Susu Baby Elnan

Pesona Ibu Susu Baby Elnan
Bab 94 - Foto Kenangan


__ADS_3

Malam harinya, Alex, Ethan dan Leon datang ke rumah Richard. Sesuai perkataan Richard mereka tidak perlu bersusah payah membawa apapun. Hanya ikut membakar daging saja.


Di halaman rumah Richard, kini sudah disulap menjadi dapur outdoor. Segala peralatan dan bahan untuk membuat BBQ sudah ada disana.


Suasana malam menjadi begitu terasa kebersamaannya. Karena mereka saling bekerja sama untuk membuat makanan yang lezat.


Beberapa jam kemudian, semua daging sudah habis dibakar. Tinggal dihidangkan dan disantap saja. Ele membawa semua daging yang sudah dibakar ke gazebo yang ada di halaman rumah Richard.


Satu per satu dari para lelaki pun mengikuti Ele ke gazebo. Mereka duduk sambil lesehan. Hanya dalam puluhan menit saja, semua makanan sudah habis termakan. Yang tersisa adalah piring dan sambal saja.


Selagi malam belum terlalu larut, mereka menikmati kebersamaan itu dengan saling mengobrol.


"Leon, kau kan disini laki-laki termuda, menurutmu siapa di antara aku dan Alex yang akan sold out terlebih dahulu?" tanya Ethan.


"Saya tidak tahu Tuan. Masalah jodoh kan hanya Tuhan yang tahu. Kalau saya bisa menjawab pertanyaan Tuan. Sudah pasti saya juga akan tahu kapan saya memiliki kekasih dan menikah nantinya."


Mendengar jawaban dari mulut sekretarisnya membuat Richard tertawa. Benar-benar jawaban yang tidak bisa ditanggapi lagi. Skakmat untuk Ethan.


"Richard! Kau sepertinya salah memilih sekretaris. Ganti saja dia! Jawabannya membuat aku kesal. Padahal kan aku bertanya untuk tebak-tebakan saja. Kenapa dia menjawabnya serius sekali, huh! Kan jadi tidak asik!"


Kini suara tawa terdengar lagi dari mulut Alex. Memang di antara Alex, Richard dan Ethan, Ethan lah yang mudah tersulut emosinya.


"Pertahankan sikapmu, Leon! Aku mendukungmu!" dukung Alex. Leon mengangguk.


"Kenapa sih para lelaki disini suka sekali membicarakan tentang jomblo? Padahal aku saja yang jomblo biasa saja. Malah lebih enak, tidak ada yang mengaturku. Aku lebih bebas melakukan apa saja yang aku mau tanpa harus meminta izin," celetuk Ele.


"Jelas kau merasa biasa saja Ele. Umurmu masih muda. Masih banyak hal yang ingin kau capai dengan kemampuanmu. Berbeda dengan kedua lelaki di hadapanmu. Mereka berdua akan memasuki usia kepala tiga beberapa bulan lagi. Apalagi mereka sudah mapan dari segi materi. Tentu hal selanjutnya yang ingin diraih adalah mendapatkan pasangan. Burung mereka keburu karatan jika tidak memiliki pasangan," balas Richard


"Sialan kau Richard! Burungku tidak akan karatan meski usiaku akan bertambah. Justru dia akan semakin ganas seiring bertambahnya usia," sahut Ethan yang tidak terima.


"Cih! Mau seganas apapun dia kalau tidak punya pasangan untuk apa? Kau mau memperlihatkan keganasan itu pada siapa, kak?" tanya Ele meremehkan.


"Hih! Kalian berdua benar-benar menyebalkan!" kesal Ethan.


Sementara Naya, dia hanya tersenyum kecil melihat perdebatan di antara mereka. Berada di tengah-tengah sebuah persahabatan yang hangat seperti itu membuatnya bahagia. Karena ia tidak pernah memiliki sahabat yang benar-benar dekat dengannya.

__ADS_1


Malam pun terlewati dengan banyaknya canda tawa.


****


Di kantornya, tepatnya di ruangan pemotretan, Nicolas mencari keberadaan Denada. Ia bahkan lupa jika Denada sudah tak menjadi modelnya lagi setelah ia mengatakan tidak pernah mencintai wanita itu.


Awalnya ia berencana untuk menjadikan Denada sebagai alat untuk merebut Naya dari sisi Richard dengan membuat Naya salah paham pada Denada. Sayangnya, Denada tidak pernah terlihat lagi di sekitar perusahaannya. Bahkan tak ada seorang pun yang tahu dimana keberadaan wanita itu.


"Ah, sial! Kemana wanita j*lang itu pergi!" kesal Nicolas.


"Bodoh sekali dirimu! Lebih memilih untuk mempertahankan janin itu dibandingkan dengan terus berada di kemewahan ini!"


Nicolas lagi-lagi menghina Denada.


Tak ada hal lain lagi yang Nicolas pikirkan selain rencana tersebut. Kini ia harus memikirkan rencana lain lagi. Tentunya sebuah rencana akan bisa dijalankan ketika Naya sedang berada di luar rumah.


"Aku harap kau benar-benar tidak menyesal memilih pergi dariku!"


Nicolas berjalan ke arah ruangannya. Ia duduk di kursi kebanggaannya. Di atas mejanya ada beberapa barang dan satu foto yang Denada letakan untuk mengisi meja kerja Nicolas yang kosong tanpa ada pajangan.


"Sayang, kenapa mejamu kosong sekali? Aku letakan beberapa barang dan foto kita berdua untuk membuat meja ini terlihat indah, boleh kan? Meski kau menjawab tidak pun, aku akan tetap meletakan barang apapun sesuai keinginanku."


Nicolas terpaku. Dia melihat foto dimana ia dan Denada berlibur bersama ke kota Paris. Di dalam foto tersebut keduanya tersenyum bahagia. Benar-benar terlihat bahagia. Seperti Nicolas benar-benar mencintai Denada.


Dengan gerakan cepat, Nicolas membanting pigura foto tersebut.


"Prang!"


Bunyi pecahan kaca dari pigura tersebut. Nicolas pun mengambil foto yang ada di dalamnya. Ia merobek foto tersebut menjadi potongan-potongan kecil lalu membuangnya ke dalam tong sampah.


Sesuatu yang sudah tidak terpakai, sudah sepantasnya dibuang dan tak perlu diingat kembali.


***


Tidak seperti biasanya, kini Naya begitu ingin mengunjungi kantor Richard. Bahkan ia tidak diminta oleh Richard melainkan kemauannya sendiri. Ia bermaksud untuk mengantarkan makan siang untuk suaminya.

__ADS_1


Sesampainya di kantor Richard, Naya tak lagi dipandang sebelah mata. Semua karyawan Richard sudah tahu jika Naya adalah nyonya mereka. Sehingga tak ada satu orang pun yang berani untuk melarang Naya.


Naya memasuki lift dan menekan nomor lantai dimana suaminya berada. Selama beberapa menit menunggu, akhirnya ia sampai di lantai yang ia tuju.


Leon yang melihat istri bosnya datang, langsung menyambut Naya dengan ramah.


"Silahkan masuk Nona. Bos sudah menunggu anda," ucap Leon.


"Baik, terima kasih Leon," ucap Naya. Leon mengangguk.


Dengan segera Leon membukakan pintu ruangan bosnya, agar sang istri dari bosnya tidak perlu repot-repot membuka pintu itu sendiri.


Dari dalam ruangan, Richard tersenyum bahagia saat melihat wanita yang datang ke kantornya. Benar-benar sebuah keajaiban baginya. Dimana Naya yang berinisiatif untung mengantarkan makan siang untuknya.


Naya berjalan semakin mendekat pada Richard. Hingga jarang 5 m pun, sudah hampir terkikis.


"Bagaimana perjalananmu sayang? Apakah ada sesuatu yang mengganggumu saat perjalanan?" tanya Richard basa-basi.


Naya menggeleng, seolah menjawab tidak ada hal buruk yang terjadi padanya. Bila hal itu terjadi, bisa dipastikan Naya tidak mungkin ada di hadapan Richard.


"Syukurlah." Richard bernapas lega.


"Kemarilah," ajak Richard pada Naya untuk duduk di pangkuannya.


****


Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.


Jangan pelit-pelit untuk memberikan like dan vote nya geng 🤭 Supaya ceritaku popularitasnya semakin naik dan pembacanya semakin banyak. Kalau begitu kan aku jadi semangat nulis kelanjutan ceritanya.


Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.


Jangan lupa follow aku Ig ku ya


@yoyotaa_

__ADS_1


__ADS_2