
Hari semakin larut, keluarga Richard akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Tentunya Naya juga ikut bersama mereka karena Elnan biasanya akan terbangun jika tengah malam. Naya masuk ke mobil yang di dalamnya ada Ele dan Helen, sementara Richard ia harus berpindah ke mobil yang ada sahabat-sahabatnya. Walaupun dengan berat hati menerimanya.
Kedua mobil tersebut menelusuri jalanan kota yang sepi. Lampu jalanan yang tak terlalu terang pun menyempurnakan suasana sepinya. Untungnya, tak ada begal ataupun orang jahat yang menghadang mereka.
Tak lama kemudian, mereka pun sampai di kediaman Kavindra. Satu per satu dari mereka turun dari mobil. Alex dan Ethan terpaksa harus menginap karena disuruh oleh Helen. Mama Richard itu, tidak ingin keduanya mengalami hal buruk jika pulang begitu larut. Padahal, itu sudah biasa bagi mereka. Alex dan Ethan pun mengikuti saja kemauan Helen.
Semuanya masuk ke dalam rumah, masuk ke kamarnya masing-masing. Saat Naya akan masuk ke dalam kamar, Richard menarik tangan Naya.
"Mau langsung masuk saja seperti itu? Kau tidak ingin mengucapkan selamat malam padaku atau memberikan hadiah untukku?" tanya Richard yang sebenarnya masih ingin bersama Naya.
"Iya, aku cape Rich, sebaiknya kau juga masuk ke kamarmu dan istirahatlah," pinta Naya yang sudah beberapa kali menguap di depan Richard.
Naya memasuki kamarnya, dan hendak menutup pintu akan tetapi Richard terlebih dulu menahan pintu itu dan menarik Naya keluar lagi. Ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang Naya. Lelaki itu menatap Naya tanpa berkedip, membuat si wanita yang ditatapnya menjadi gugup.
"Haruskah aku memajukan hari pernikahan kita? Aku tidak sabar untuk menyentuhmu, sayang," ucap Richard sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Naya.
Naya sudah resah dan gelisah, laki-laki itu berhasil membuat debaran jantungnya tak bisa dikontrol.
"Rich, lepaskan aku. Aku ingin istirahat," lirih Naya.
"Aku akan melepaskan mu, asalkan kau memberikan aku ciuman selamat malam," pinta Richard dengan senyuman tipisnya.
Naya hanya bisa menghela napas pelan. Richard selalu saja tak ingin rugi dan menghilangkan kesempatan yang ada. Tanpa berbicara panjang, Naya langsung mencium bibir Richard. Ia berpikir setelah itu ia akan segera merebahkan dirinya di atas kasur yang empuk dan tertidur dengan pulasnya. Sayangnya, itu hanya ada di dalam pikiran Naya.
Kecupan itu berubah menjadi l*matan penuh n*fsu. Richard seperti kehilangan akal sehatnya. Ia menarik Naya masuk ke dalam kamar Elnan yang pintunya sudah terbuka lebar tanpa melepaskan bibirnya yang masih bertaut dengan bibir Naya.
Richard membawa Naya ke ranjang dan melepaskan tautan bibir mereka. Keduanya mengambil napas bersamaan lalu Richard memulai kembali tautan bibir itu setelah mendorong Naya pelan untuk berbaring di tempat tidurnya.
__ADS_1
Posisi Richard kini berada di atas tubuh Naya dengan kedua tangannya memegang tangan Naya. Kecupan itu kini beralih ke leher Naya membuat Naya mengeluarkan suara d*sahannya. Ia tak kuat menahan gelora yang dibuat oleh Richard. Tubuhnya seakan menerima semua perlakuan Richard.
Tangan Richard mulai beraksi dengan membuka pakaian yang Naya kenakan. Untungnya, Naya memakai pakaian yang berkancing sehingga mempermudah kegiatannya. Richard menatap dua dada kembar Naya yang hanya mengenakan bra, Kemudian melepas kaitan bra tersebut, hingga dada Naya terlihat polos tanpa sebuah kain yang menutupinya.
Richard membenamkan wajahnya di belahan dada Naya. Ia merasakan kenyamanan disana. Naya bisa merasakan hembusan napas Richard yang berada di dadanya. Rasanya begitu menggelitik. Tangan Richard mulai beraksi lagi dengan mer*mas buah dada Naya lembut membuat Naya melayang ke langit ke tujuh. Mulut Richard juga tak tinggal diam, ia mulai menyusu pada Naya, dan menggigit p*ting Naya hingga ia merasakan sedikit nyeri.
Tangan yang satunya bergerak menuju bagian bawah Naya. Mengusapnya pelan dari kain yang menutupinya. Melihat respon Naya yang menggeliat keenakan, Richard mulai memainkan milik Naya dengan jarinya yang masuk ke dalam cd Naya. Ia melepas tautan bibir mereka, ingin mendengarkan suara yang keluar dari mulut Naya.
"Ah, ah." Naya mend*sah merasakan sesuatu yang sudah pernah ia rasakan sebelumnya di rumah pohon yang berada di danau. Namun, saat itu Naya sedang dalam kondisi tak berdaya jadi ia tak bisa merasakannya dengan pasti.
"Suaramu membuatku tak ingin berhenti, sayang," ucap Richard.
"Ah, Rich-- to-long hen-tikan ta-nganmu!" pinta Naya terbata-bata sambil menahan rasa yang diciptakan oleh Richard.
"Tidak semudah itu sayang. Aku ingin memakan mu malam ini," ucap Richard dengan tatapan yang berbeda. Naya belum pernah melihat tatapan mata Richard yang seperti itu. Sepertinya Richard memang sudah tak bisa menunda gairahnya yang sudah menaik sejak pertama kali Naya menciumnya.
"Aahhhh ..."
Akhirnya cairan pertama Naya keluar membuat Richard tersenyum senang. Saat ia ingin melanjutkan aksinya. Ia tak mendengar lagi suara d*sahan Naya. Rupanya gadis itu tertidur.
Richard mengumpat karenanya.
"Sial! Kau selalu saja membuatku kesakitan Naya! Kau memang gadis yang luar biasa."
Richard menutupi tubuh atas Naya yang terbuka dengan selimut. Ia kemudian pergi ke kamar mandi untuk menuntaskan hasratnya yang tertunda karena Naya tertidur sebelum mereka melakukan penyatuan.
Guyuran air terus jatuh ke tubuh Richard sambil memainkan miliknya.
__ADS_1
"Naya! Awas saja kau kalau kita sudah menikah. Aku tidak akan membiarkanmu tidur seharian! Aku akan membuat tubuhmu remuk olehku. Tak apa hari ini gagal. Aku tidak akan gagal lagi untuk ke depannya."
Setelah selesai menuntaskan hasratnya. Richard keluar dari kamar mandi dan merebahkan tubuhnya di samping Naya. Ia membuka selimut yang menutupi tubuh atas Naya. Tangannya ia taruh di atas dada Naya dan meremas dada itu. Tangan satunya ia gunakan untuk memeluk tubuh Naya. Tak lama kemudian Richard pun terlelap dengan tangan yang masih berada di atas dada Naya.
***
Sekitar pukul 4 dini hari Naya terbangun karena mendengar suara tangisan Elnan. Ia merasakan sesuatu yang berat di atas tubuhnya. Ketika membuka mata, Naya terkejut saat tubuh atasnya tidak diselimuti oleh sehelai kain pun. Ia kemudian menjauhkan tangan Richard dari atas dadanya. Kemudian duduk dan memasangkan bra nya kembali.
"Aku tidak tahu, kenapa kau sangat ingin menikmati tubuhku. Apa kau pernah melakukan hal ini juga pada pacarmu yang terdahulu?" tanya Naya pada Richard yang masih tidur dengan pulasnya.
Ia kemudian bangkit dari duduknya dan mengambil Elnan dari box bayinya lalu menyusui Elnan sambil duduk di ranjang. Bayi kecil itu menyusu dengan aktifnya hingga membuat Naya meringis karena p*tingnya di gigit oleh Elnan.
"Kalian berdua mirip sekali. Sama-sama suka menggigit," ucap Naya.
Tiba-tiba kedua tangan melingkar di perut Naya.
"Aku kira kau keluar dari kamar, karena ku tak lagi bisa menyentuh dada mu. Rupanya kau berbagi dengan si kecil itu. Aku cemburu!" gerutu Richard yang membenamkan wajahnya di punggung Naya.
***
Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.
Jangan lupa berikan like dan vote nya teman-teman.
Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.
Kalian bisa juga memberikan dukungan untuk yoyo dengan menonton iklan yang ada di kolom pemberian hadiah.
__ADS_1