
Setelah seminggu berada di rumah sakit, akhirnya Naya pulang juga ke kediaman Kavindra.
Naya menggendong bayi laki-laki keluar dari mobil, Richard pun menggendong bayi perempuannya. Sementara ibu Naya, Mama Helen dan Ele, mereka berjalan di belakang pasangan suami istri tersebut.
Mereka semua duduk di sofa yang berada di rumah tamu. Elnan kecil pun berlari dari rumah keluarga menuju ke ruang tamu karena merindukan kedua orang tuanya.
"De..de," ucap Elnan.
"Iya sayang, ini dede. Adik-adiknya El. Mau pegang?" tanya Naya lembut.
Elnan kecil pun antusias mencolek pipi si kecil Narendra. Bayi itu tiba-tiba menguap dan membuat Elnan tertawa.
"Hihi.. hihi.. hi... dede.. ta..wa." Naya yang mengerti ucapan anak pertamanya itu pun langsung ikut tertawa.
Mama Helen tersenyum melihat interaksi antara ibu sambung dan anak sambung itu. Ia benar-benar tidak salah pilih, untuk menjadikan Naya menantunya.
"Sini sayang sama oma," ucap Mama Helen pada Elnan kecil. Elnan pun berpindah ke Mana Helen dan duduk di pangkuan wanita paruh baya tersebut.
Beda lagi dengan Richard, ia senang sekali menjahili bayi perempuannya dengan cubitan-cubitan di kedua pipi anaknya.
"Hihi, aku tidak menyangka ternyata maha karya yang aku buat akan semenggemaskan ini. Benar-benar duplikat darimu sayang," ucap Richard.
"Jangan terus-terusan dicubit! Nanti dia nangis lho! Kan kau tahu sendiri, mereka berdua itu kalau satunya nangis satunya juga ikutan nangis. Aku bisa kerepotan sayang," ucap Naya yang geram dengan tingkah Richard.
"Hehe, habis aku gemas sayang. Anak kita lucu sekali. Semuanya mungil," jawab Richard sambil terkekeh.
Tak lama kemudian, Alex dan Ethan datang ke rumah Richard saat tahu bahwa Naya dan kedua anak kembarnya telah pulang dari rumah sakit.
Tentunya mereka datang dengan membawa hadiah untuk kedua bayi kembar tersebut.
"Sore semuanya. Maaf kami berdua baru sempat menengok si kembar N," ucap Ethan.
"Tidak apa-apa. Lagian kan ini kalian sudah menengoknya," jawab Mama Helen.
"Gantian gendong sama mereka berdua Cad, Nay. Biar ketularan nikah terus punya anak deh," ucap Mama Helen.
Baik Ethan maupun Alex, keduanya hanya tersenyum tipis sambil memegang tengkuknya masing-masing.
"Mau coba gendong?" tawar Naya pada Alex. Alex mengangguk.
Naya menyuruh Alex untuk duduk di sampingnya dan menyerahkan Baby Narendra ke gendongan Alex. Setelah itu, Naya pergi ke toilet karena kebelet pipis.
Alex mencolek pipi Narendra gemas. Bayi mungil itu tampak nyaman berada di gendongan Alex.
__ADS_1
"Rich, anakmu aku bawa pulang ya? Aku gemas sekali padanya," ujar Alex.
"Enak saja! Sana buat sendiri! Aku saja berjuang tiap malam untuk mendapat dua bayi kembar ini! Kau seenaknya minta-minta. Memangnya anakku ini barang apa! Huh!" jawab Richard dengan emosi meledak.
"Dengar tuh! Papamu meledak-ledak, harusnya ketika sudah menjadi seorang papa bisa lebih menjaga emosinya. Kau jika besar nanti jangan seperti papamu ya? Dia itu merepotkan banyak orang!" ucap Alex menjelekkan Richard di depan anaknya sendiri.
"Ya! Alex! Kau jangan menjelek-jelekkan aku di depan anakku sendiri!" teriak Richard.
Mendengar suara yang agak begitu keras, bayi Naela tiba-tiba menangis. Tak lama kemudian, Narendra pun juga ikutan menangis.
Baik Alex maupun Richard, keduanya mulai panik. Apalagi tangisan keduanya begitu nyaring didengar di telinga.
"Ma, gimana ini? Naya belum balik lagi kesini. Bagaimana cara menghentikan tangisan keduanya?" tanya Richard pada sang mama.
"Haah ..." Mama Helen menghela napas sejenak.
"Sini biar mama yang menenangkan Naela," ucap sang mama. Kemudian memindahkan Elnan ke pangkuan Ibu Naya.
"Terus ini Narendra gimana tante?" tanya Alex yang kebingungan.
"Ele," panggil sang mama kemudian memberikan isyarat untuk mengambil Narendra dari gendongan Alex.
"Makanya jangan ribut di dekat bayi! Mereka itu masih sensitif sekali," ucap Ele yang kemudian memindahkan Narendra ke gendongannya.
Ele yang merasa diikuti pun langsung melihat ke belakang.
"Kenapa mengikuti ku?" tanya Ele dengan ketusnya.
"Siapa tahu kau perlu bantuan," jawab Alex asal.
"Tidak salah tuh!" jawab Ele dengan nada meremehkan.
Alex tak mau lagi menanggapi ucapan Ele. Ia hanya mengamati dan terus memperhatikan bagaimana cara Ele menenangkan Narendra yang menangis.
Cocok sekali jadi istriku!
****
Beberapa menit kemudian, Naya sudah kembali dari toilet, ia sedikit heran ketika Narendra tidak ada di ruang tamu.
"Rendra kemana ma?" tanya Naya.
"Sama Ele dan Alex," jawab sang mama mertua. Naya pun mengangguk.
__ADS_1
"Pasti mereka habis menangis ya? Tadi aku mendengar suara tangisan mereka. Ini pasti ulah mu kan, Rich!" ucap Naya sambil menatap tajam ke arah suaminya.
"Hehe," dibalas cengiran oleh Richard.
"Karena kedua anak kita sudah ada yang menjaga. Bagaimana kalau kita bermesraan saja di kamar?" tawar Richard dengan mengedipkan sebelah matanya.
Naya melengos, tak mau menerima kedipan mata buaya itu.
Ethan mulai nimbrung di perbincangan Naya dan Richard.
"Kau harus puasa dulu Rich. Wanita setelah melahirkan itu akan mengeluarkan darah yang sangat banyak selama 40 hari. Jadi tahan-tahanlah dulu junior mu," ucap Ethan memberitahu.
"WHAT!" teriak Richard yang tidak percaya.
Mama Helen langsung mencubit pinggang anaknya yang berteriak tidak tahu aturan. Padahal Naela sudah tenang dan kini kembali menangis lagi.
"Aw! Sakit mama!" teriak kesakitan Richard.
"Shut! Kau jangan berisik!" larang mama Helen.
Seketika Richard langsung terdiam. Karena tidak ingin mendapatkan cubitan untuk kedua kalinya. Ia mempertanyakan lagi tentang apa yang diucapkan Ethan. Bisa saja sahabatnya itu salah informasi.
"Apa yang dikatakan Ethan tidak benar kan, sayang?" tanya Richard dengan tampang memelas.
"Apa yang diucapkan Ethan itu benar. Wanita setelah melahirkan memang akan mengeluarkan darah yang banyak selama 40 hari," jawab Naya membenarkan ucapan Ethan.
Richard menghela napas sedih. Padahal di pikirannya, ia akan menghabiskan malam indah bersama istrinya ketika kedua bayinya sudah lahir. Apalah daya, rupanya hal itu tak akan terjadi dalam waktu dekat. Ia harus menunggu sampai 40 hari untuk bisa bercinta dengan istrinya.
Tampang Richard begitu menyedihkan sekali. Hingga membuat Ethan tertawa.
"Hahaha, sabar-sabar saja menunggu. Kau kan bisa bermain solo dulu," ucap Ethan menyarankan.
"His! Masa udah punya istri masih main solo! Kan tidak enak. Enaknya tuh saling memadu kasih, bersentuhan dan saut-sautan mend*sah," ucap Richard yang memang tidak bisa mengontrol ucapannya.
****
Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.
Jangan pelit-pelit untuk memberikan like dan vote nya geng 🤠Supaya ceritaku popularitasnya semakin naik dan pembacanya semakin banyak. Kalau begitu kan aku jadi semangat nulis kelanjutan ceritanya.
Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.
Jangan lupa follow aku Ig ku ya
__ADS_1
@yoyotaa_