Pesona Ibu Susu Baby Elnan

Pesona Ibu Susu Baby Elnan
Bab 141 - Berkumpul Bersama


__ADS_3

Dua puluh menit kemudian, Naya terbangun. Badannya terasa sakit semuanya. Semakin hari Richard semakin ganas di atas ranjang, Naya harus lebih pintar lagi mengimbangi Richard.


Naya bangun dari posisinya dan melilitkan selimut ke tubuhnya untuk berjalan ke kamar mandi. Ia melepas selimut itu dan melihat tanda-tanda kemerahan yang diciptakan oleh Richard. Naya hanya menggelengkan kepalanya lalu ia berendam air hangat.


Selesai itu, ia keluar dari kamarnya, karena tidak melihat kedua anak kembarnya. Sudah pasti Richard membawa anaknya ke ruang keluarga, itu pikir Naya. Padahal yang sebenarnya terjadi, bukanlah seperti itu. Pasti Naya akan merasa malu pada mertuanya sendiri.


"Ma, maaf aku bangun kesiangan," ucap Naya.


"Tidak apa-apa. Sana gih makan dulu, pasti kau butuh asupan gizi setelah tenaga mu dikuras habis oleh harimau liar," ujar Mama Helen sambil memperhatikan leher Naya yang banyak tanda-tanda merahnya. Meski sudah ditutupi oleh Naya, mama Helen tahu.


Haduh! Sepertinya aku memang akan memiliki cucu banyak, jika Richard selalu mengecas juniornya terus menerus.


Naya pun pergi ke meja makan untuk mengisi perutnya. Setelah itu, Naya kembali ke ruang keluarga dan menghabiskan waktunya bersama ketiga anaknya dan mama mertuanya.


Waktu menunjukkan pukul 17.00, Naya menunggu kedatangan Richard di ruang tamu. Setelah mendengar suara mobil di luar, Naya pun segera ke depan dan menyambut suaminya. Si kecil Elnan pun ikut ke depan untuk menyambut sang papa.


"Senangnya, setiap aku pulang kerja disambut seperti ini. Rasanya lelah yang aku rasakan tadi, seketika menghilang setelah melihat senyum dan wajah kalian."


"Papa ayo main," ajak Elnan.


"Nanti ya sayang, papa harus membersihkan badan dulu. Setelah itu kita main sepuasnya."


"Oke."


Naya pun menggandeng Elnan untuk masuk ke dalam rumah dan meminta Nani untuk menjaga Elnan sementara dirinya membantu si suami untuk mandi.


Setibanya di kamar, Naya membantu Richard melepaskan jas dan kemeja Richard serta dasinya.


"Hidupku jadi berwarna semenjak adanya dirimu. Kita sudah bersama hampir 2 tahun lamanya. Namun, selama itu pula rasa cintaku tak pernah luntur sekali pun. Justru semakin bertambah setiap menitnya. Entah apa yang kau lakukan pada diriku."


"Itu artinya kau memang sudah bucin denganku," ucap Naya.

__ADS_1


Richard terkekeh dan menyetujui ucapan Naya.


"Sepertinya kau benar, aku memang sudah jadi budak cintamu dan terjebak pesona ibu susu dari anakku."


"Sudah jangan bicara lagi, lebih baik segera mandi dan kita berkumpul di bawah, anak-anak pasti merindukanmu sayang," ujar Naya.


"Kalau begitu, mau tidak mau mandikan aku saja sayang? Rasanya aku malas mandi, inginnya kau yang mandikan," pinta Richard dengan suara yang sedikit manja.


Bukannya persetujuan yang didapatkan, Richard justru malah mendapatkan sakit karena lengannya yang dicubit oleh Naya.


"Mandi sekarang, atau nanti malam tidur di luar!" ancam Naya.


Richard pun langsung berlari ke kamar mandi.


"Naya semakin hari semakin menakutkan. Apalagi ketika ia marah. Rasanya nyawaku seperti akan dicabutnya."


****


Malamnya, Richard dan Naya beserta anak-anaknya berkumpul di ruang keluarga. Ela dan Rendra kini sudah bisa berjalan dengan lancar membuat Naya menjadi senang. Lalu Elnan kecil, bicaranya juga sudah lumayan jelas meski terkadang masih ada kosa kata yang salah.


"Adiknya jangan diganggu terus sayang, nanti kalau dia nangis. Adik Rendra juga akan nangis," ucap Naya sambil mengusap rambut Elnan yang masih terus menjahili adiknya dengan bedak.


"Ade ga nangis mama."


"Iya sekarang memang tidak nangis, tapi kalo terus-terusan begitu, dia akan nangis sayang," ujar Naya.


"Oke deh," jawab Elnan.


Naya mengusap rambut Elnan pelan. Lalu memangku Elnan duduk di pahanya. Melihat hal tersebut, Richard semakin tergila-gila oleh cintanya pada Naya. Wanita biasa yang mampu menggoyahkan seluruh hati dan fisiknya.


"Cepat tumbuh besar ya kalian, mama dan papa ingin sekali jalan-jalan bersama," ucap Richard.

__ADS_1


Mama Helen pun ikut nimbrung, "Ya, sekali-kali ajak mereka jalan-jalan. Mama kasihan lihat Naya. Dia itu kurang piknik karena mengurus anak-anak terus di rumah. Seorang ibu juga butuh hiburan dan refreshing supaya suasana hatinya bagus. Karena jika suasana hati ibunya buruk, itu juga akan berpengaruh pada si anak," ucap mama Helen.


"Iya, mungkin saat Ela dan Rendra sudah berumur sekitar 4 atau 5 tahunan lah," balas Richard.


"Ya, semoga saja itu bukan hanya sekedar wacana saja. Tapi bisa jadi realita. Nyatanya kau selalu sibuk tiap harinya. Macam tidak punya istri dan anak di rumah. Harusnya kurang-kurangi kerjaan. Biarkan urusan yang tidak terlalu penting kau limpahkan saja pada Leon."


"Iya, iya ma. Aku janji tidak begitu lagi."


Richard mengiyakan ucapan mamanya. Ya walaupun tidak tahu bagaimana ke depannya nanti. Bisa saja Richard melakukannya atau bahkan melanggar.


Dan ucapan itu terbukti, setelah dua minggu berlalu. Richard pergi ke luar kota selama tiga hari untuk menyelesaikan proyeknya. Padahal mengirim Leon saja sudah cukup, akan tetapi Richard ingin mengetahui langsung proyek yang sedang berjalan itu.


Memang susah, menyuruh orang yang gila kerja untuk diam sebentar di rumah. Itu tidak akan bisa, kecuali untuk urusan ranjang. Richard tak pernah menolaknya.


"Leon, sana cari pasangan! Aku kasihan sekali melihatmu yang jomblo sendirian," ucap Richard.


"Belum ada yang cocok. Lagian saya juga masih belum siap memiliki pasangan. Masih mau menikmati masa-masa sendiri, Bos," jawab Leon.


"Em begitu, ya sudah kalau itu memang keputusanmu. Yang penting jangan menangis, jika suatu saat nanti kau akan jadi obat nyamuk di saat kita mengadakan pertemuan dan kau hanya seorang diri sementara yang lainnya membawa pasangan."


Leon pun mengangguk. Setelah itu mereka berdua melanjutkan pekerjaan lagi. Sayang sekali, padahal Richard juga ingin Leon merasakan kebahagiaan dengan memiliki keluarga kecil seperti dirinya dan kedua sahabatnya. Hanya saja, jika itu adalah keputusan Leon, ya mau bagaimana lagi.


"Semoga kau segera dipertemukan dengan jodohmu Leon. Walaupun tidak dalam waktu dekat, setidaknya aku tidak merasa tidak enak padamu. Ya, walaupun kadang aku lupa diri juga dan malah memperlihatkan kemesraan ku dengan Naya di hadapanmu."


****


Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.


Jangan pelit-pelit untuk memberikan like dan vote nya geng 🤭 Supaya ceritaku popularitasnya semakin naik dan pembacanya semakin banyak. Kalau begitu kan aku jadi semangat nulis kelanjutan ceritanya.


Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.

__ADS_1


Jangan lupa follow akun Ig ku ya


@yoyotaa_


__ADS_2