
Alex tak menghiraukan kemarahan Richard, ia malah langsung duduk di sofa yang berada di ruang tamu rumah Richard sambil menunggu Naya dipanggil oleh salah satu pekerja di rumah Richard.
"Alex! Kenapa kau diam saja! Jawab pertanyaan ku tadi! Ada urusan apa kau mau bicara dengan istriku!" marah Richard lagi.
Alex berusaha untuk menahan kesabarannya. Ia masih tidak ingin bicara sebelum ada Naya di sisi mereka.
"Aish!" geram Richard pada Alex kemudian ikut duduk di sofa yang berhadapan dengan Alex.
Tak lama kemudian, Naya muncul dari belakang dengan memakai dress selutut. Richard langsung mendelik melihatnya. Ia langsung berdiri dan melepaskan jas nya untuk menutupi kaki jenjang Naya.
"Dasar suami posesif!" sindir Alex.
Richard hanya memberikan tatapan tajam pada Alex. Ia benar-benar harus menjaga permaisurinya dari laki-laki manapun termasuk sahabatnya sendiri. Ia pun menuntun Naya untuk duduk di sampingnya sambil terus menggenggam tangan Naya tanpa mau melepaskannya.
Naya merasa malu sendiri dengan kelakuan Richard. Ia tak habis pikir dengan Richard.
"Tidak usah malu Nay. Biarkan saja suami posesif mu melakukan apa yang dia mau. Tidak usah memperdulikan aku," ujar Alex yang bisa memahami isi hati Naya.
Kemudian Alex langsung saja padi intinya. Ia tidak ingin berlama-lama di hadapan orang yang sedang berbucin-bucin.
"Nay, apa kau tahu jika Richard suka mual-mual?" tanya Alex.
"Ya, aku tahu. Tapi Richard selalu berkata kalau dia hanya masuk angin dan tidak mau diperiksa oleh dokter. Jadi aku tidak terlalu memusingkannya. Aku hanya memberi obat yang ada di rumah saja," jawab Naya.
"Apa kau tahu juga jika hari ini suamimu sudah seperti mayat hidup? Bibirnya dan wajahnya begitu pucat. Bahkan tubuhnya juga lemas." Naya menggeleng.
"Dia tidak mengatakan apapun padaku hari ini," jawab jujur Naya.
"Tadi aku membawanya ke rumah sakit. Lalu kata dokter dia tidak menderita sakit apapun. Dia malah menyuruh untuk memeriksakan istrinya Richard ke dokter kandungan. Ada kemungkinan jika kau hamil. Itu yang ia duga."
Naya dan Richard, keduanya sama-sama terkejut mendengar penjelasan Alex.
Naya mencoba mengingat-ingat masa menstruasinya. Ternyata ia sudah telat seminggu dari tanggal biasanya.
__ADS_1
Benarkah aku hamil? Tapi kenapa aku tidak merasakan apapun? Aku bahkan tidak mengalami mual-mual di pagi hari seperti ibu hamil pada umumnya. Aku juga tidak mengalami yang namanya ngidam.
Sementara Richard, ia masih terdiam. Agak heran sebenarnya. Apa hubungannya istrinya hamil dengan dirinya yang mual? Richard masih belum bisa mempercayai itu.
Melihat reaksi keduanya yang terlihat masih belum mempercayainya. Alex memberikan saran untuk segera membawa Naya ke dokter kandungan.
"Untuk membenarkan dugaan dokter itu. Sebaiknya sekarang kita pergi ke dokter kandungan. Aku siap untuk mengantar kalian berdua," ucap Alex. Karena sungguh tidak mungkin jika Richard harus mengemudikan mobil. Ia masih terlihat sangat lemas meski suaranya menjadi lebih keras dan cerewet.
Richard dan Naya saling menoleh dan menatap seolah mereka berdua sedang bertelepati. Keduanya pun mengangguk.
Sebelum berangkat, Richard meminta Naya untuk memakai pakaian yang menutup tubuhnya. Kalau bisa memakai celana panjang dan baju panjang sekalian. Namun, Naya hanya memakai celana panjang dan kaos oversize. Richard pun tak memprotes lagi, selagi Naya tidak memakai pakaian seksi di depan orang lain.
Mereka bertiga memasuki mobil Alex. Naya duduk di deretan kursi di belakang kemudi. Richard yang tak ingin jauh dari Naya pun duduk di samping istrinya. Ia meletakan kepalanya di bahu Naya. Saat ini Richard sedang dalam mode manja, ingin diperhatikan oleh istrinya. Membuat Alex mengelus dadanya.
Nasib jomblo memang. Harusnya aku tadi tidak menawarkan diriku untuk mengantarkan mereka. Richard kan memiliki supir. Dasar bodoh!
Alex mengemudikan mobilnya keluar dari kediaman Richard. Di perjalanan, ia merasa seperti manusia yang tidak dianggap keberadaannya oleh sepasang manusia yang sedang bucin-bucinnya.
"Sayang, kepalaku pusing," ucap Richard dengan manjanya pada Naya.
"Sini," ujar Richard sambil meletakan tangan Naya di atas dahinya. Oh, salah bukan dahi tapi rambutnya.
"Elus-elus," pinta Richard. Naya pun mengelus kepala Richard dengan lembut.
"Kau pakai parfum apa sayang? Kok wanginya enak sekali?" tanya Richard lagi ketika mencium wangi parfum dari tubuh Naya.
Naya mengernyit bingung. Jelas-jelas ia dan Richard menyukai jenis parfum yang sama. Oleh karena itu, mereka berbagi parfum. Bisa-bisanya Richard bertanya seperti itu.
"Aku pakai parfum yang sama denganmu," jawab Naya.
"Kok beda baunya?" tanya Richard merasa heran juga.
"Entah," balas Naya lagi.
__ADS_1
***
Setelah beberapa menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Mereka langsung menuju ke ruang dokter kandungan. Untung saja, giliran mereka datang tidak ada antrian pasien. Jadi mereka bisa langsung masuk ke ruangan tersebut.
Sang dokter kaget, ketika melihat dua laki-laki dan perempuan masuk ke dalam ruangannya. Karena biasanya hanya satu laki-laki dan satu perempuan. Yang otomatis mereka adalah pasangan suami istri. Lalu ini? Manakah yang suaminya?
"Mari silahkan duduk," sapa dokter dengan ramah untuk menghilangkan keterkejutannya.
"Bisa diceritakan keluhan apa yang terjadi pada anda, Nona?" tanya dokter pada Naya.
"Eum, sebenarnya saya baik-baik saja dokter. Tidak ada keluhan apapun. Tapi suami saya mengalami mual setiap pagi dan katanya pas tadi di kantor ia sempat lemas hingga wajahnya pucat. Setelah diperiksa ke dokter umum, katanya ada kemungkinan bahwa saya hamil. Saya hanya ingin memastikannya," jelas Naya.
Dokter pun mengangguk mengerti. Ia kemudian menyuruh Naya untuk berbaring di ranjang. Saat sang dokter akan mengangkat ujung baju Naya ke atas. Tiba-tiba ...
"Dokter apa yang akan anda lakukan!?" teriak Richard.
Alex langsung kaget mendengar teriakan Richard. Jangan sampai kejadian pada dokter sebelumnya terjadi lagi. Ia benar-benar ingin sekali memusnahkan manusia jenis Richard ini.
Sang dokter pun menjawab, "Saya hanya ingin mengoleskan gel USG pada perut istri anda, Tuan. Untuk memperjelas suara objek yang diperiksa dan kemudian ditangkap oleh alat USG nantinya. Cara ini untuk memastikan apakah benar istri anda hamil atau tidak. Mohon untuk tidak berteriak seperti tadi lagi."
Richard pun akhirnya terdiam. Ia khawatir dokter tersebut akan melakukan hal aneh pada istrinya. Meskipun dia dokter perempuan tetap saja Richard tidak rela jika tubuh istrinya dilihat orang lain.
Dokter pun melakukan tugasnya. Richard langsung melihat ke arah lain yaitu Alex. Ia langsung menutup kedua mata Alex dengan tangannya. Ia tidak ingin Alex melihat perut rata milik istrinya.
"Aih, kenapa ditutup sih, Rich! Aku kan ingin melihat juga," ucap Alex.
"Aku kirim kau ke neraka kalau berani membuka tanganku!" ancam Richard.
***
Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.
Jangan lupa berikan like dan vote nya teman-teman.
__ADS_1
Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.
Kalian bisa juga memberikan dukungan untuk yoyo dengan menonton iklan yang ada di kolom pemberian hadiah.