Pesona Ibu Susu Baby Elnan

Pesona Ibu Susu Baby Elnan
Bab 120 - Cukup awasi mereka dari jauh


__ADS_3

Dua hari kemudian, rumah sakit, 16.00


Kedua bayi kembar N sudah diperbolehkan untuk pulang, karena demam mereka sudah membaik.


"Apa sudah dibereskan semua sayang? Yakin tidak ada yang ketinggalan?" tanya Richard memastikan.


"Sudah sayang, tinggal kau bawa saja semuanya ke dalam mobil. Aku tunggu disini," jawab Naya.


"Baiklah, aku ke mobil dulu sayang." Naya mengangguk.


Melihat kedua anaknya sudah sembuh hati nanya merasa senang, sudah beberapa hari kemarin Naya dilanda cemas yang begitu dalam. Apalagi anaknya itu kalau satu sakit, satunya lagi akan ikut merasakan sakit. Jadilah keduanya sakit.


"Kalau sudah besar nanti, kalian harus saling menjaga ya sayang. Mama yakin batin kalian berdua saling terhubung karena kalian adalah kembar. Sebentar lagi papa kembali, kita akan segera pulang ke rumah. Kalian akan bertemu dengan oma dan nenek."


Tak lama kemudian, Richard sudah kembali ke ruangan tempat istri dan anak kembarnya berada. Naya menggendong Rendra dan Richard menggendong Ela. Keduanya berjalan menuju ke mobil.


****


Sesampainya di rumah, Naya, Richard dan si kembar N disambut oleh oma dan neneknya.


"Aduh, cucu oma yang cantik. Akhirnya pulang juga ke rumah. Rumah sepi sekali tidak ada tangis kencang mu," ucap mama Helen. Si kecil Ela pun seketika tersenyum, menyambut ucapan omanya.


"Nay, Rendra ini anaknya anteng banget ya. Beda sekali dengan Ela," ucap Ibu Rita.


"Iya Bu, dia akan berisik kalau Ela nya juga berisik. Aku titip mereka ya Ma, Bu. Badanku rasanya lengket semua. Aku mau mandi dulu," ucap Naya meminta mama mertuanya dan ibunya untuk menjaga si kembar N.


"Iya sana gih! Urusan si kembar biar kami saja yang urus. Wajahmu juga kelihatan lelah sekali Nay. Habis mandi langsung tidur juga tidak apa-apa. Kau juga nak Richard," perintah Ibu Rita.


"Kalau begitu aku dan Naya ke kamar dulu ya. Ayok sayang!" Naya mengangguk.


Mereka berdua berjalan menuju ke kamar. Badannya benar-benar sangat lengket. Naya hanya mandi di pagi harinya sementara sore harinya ia memang berniat untuk mandi di rumah saja.


"Mau mandi bareng sayang?" tawar Richard ketika keduanya sudah berada di kamar.


"Tidak, yang ada durasinya jadi sangat lama. Aku benar-benar lelah. Biarkan aku mandi sendiri saja sayang," tolak Naya.


Mendapat penolakan dari Naya, Richard merasa kecewa, namun apa mau dikata. Richard juga tau Naya kekurangan waktu tidurnya, bahkan bisa dikatakan Naya hanya tidur satu jam saja setiap harinya. Saking cemas terhadap si kembar. Beruntung Richard memiliki tenaga ekstra jadinya ia yang gantian menjaga ketika Naya benar-benar lelah.

__ADS_1


Selagi Naya mandi, Richard membuka ponselnya. Ia pun mendapatkan pesan dari Ele.


Ele


Kak Richard, tolong bilangin mama, malam ini aku tidak pulang. Aku akan menjaga Kak Alex di rumah sakit. Baterai ponselku lemah, ini mau aku isi dulu dayanya. Please, bilangin mama ya! Bye kakakku sayang.


Richard menggelengkan kepalanya. Ada-ada saja tingkah Ele. Padahal Ele tinggal mengirimkan pesan seperti itu pada mamanya. Kenapa malah dirinya yang disuruh? Memang gadis itu selalu saja ingin menyusahkan dirinya.


"Untung sayang. Kalau tidak mana mau aku turuti perintah mu, Ele."


****


Di kantor polisi.


Nicolas mendapatkan kunjungan dari asisten pribadinya. Mereka mengobrol tentang masalah perusahaan.


"Perusahaan saat ini sudah mulai stabil bos. Para model dan artis kita pun sudah mulai mendapatkan job nya lagi yang kemarin sempat di cancel karena kasus yang bos alami. Intinya kita tidak jadi bangkrut bos."


"Syukurlah, aku kira, aku akan menjadi gembel setelah nanti keluar dari penjara," balas Nicolas.


"Bagus, tapi untuk rencana ke depannya. Saham itu tidak akan aku berikan kepada Rico seperti perjanjian kita di awal dengan Rico, tetapi akan menjadi milikku. Biarkan Rico sengsara, dia harus menerima karmanya juga," pinta Nicolas.


"Dan satu lagi, tolong kau cari keberadaan Denada. Kemungkinan besar kini anakku sudah lahir ke dunia. Aku ingin setelah aku keluar dari sini, aku bisa langsung menemuinya dan meminta maaf padanya. Jadi untuk sekarang, aku hanya ingin kau cari tahu keberadaannya dan bagaimana kondisinya. Cukup awasi mereka dari jauh. Jangan biarkan Denada menderita lagi," ucap Nicolas menambahkan pesan terakhirnya sebelum sang asisten pergi.


"Baik bos akan saya laksanakan."


"Bagus, kau boleh pergi."


Selesai berbincang dengan asisten pribadinya, Nicolas memasuki sel dengan perasaan sedikit senang, setidaknya masih ada harta yang ia punya untuk sang anak nantinya.


"Dena, aku harap kita bisa kembali seperti dulu. Maafkan aku yang telat menyadari perasaanku. Aku terlalu kalut dan dikuasai oleh obsesi ku dulu."


****


Rumah Denada 21.00


"Kak Dena, apa Ansel sudah tidur?" tanya Sari sambil memakan apel merah.

__ADS_1


"Sudah, dari 30 menit yang lalu malahan," jawab Denada.


"Ya, padahal aku ingin sekali bermain dengan bayi ganteng itu," ujar Sari sedikit kecewa.


"Besok lagi aja, lebih baik kau juga tidur Sar."


"Sebentar lagi kak."


"Baiklah. Ngomong-ngomong ada hal yang ingin aku ceritakan padamu."


"Apa itu kak?"


"Beberapa hari yang lalu, aku memberanikan diriku untuk mencari tahu tentang dia, rupanya kini dia sedang ditahan di kantor polisi karena kasus penculikan istri mantan tunangan ku dulu," jelas Denada.


"Lalu?" tanya Sari.


"Aku ingin melihatnya, menurutmu bagaimana?" Denada menanyakan pendapat dari Sari.


"Menurutku jangan kak. Laki-laki itu dengan teganya mengusir dan tidak mengakui anak yang dikandung oleh kakak. Jadi, lebih baik kakak tidak usah memperdulikan dia lagi apalagi berniat mengunjunginya di kantor polisi. Beda halnya kalau ada kata maaf dari mulut laki-laki itu dengan tulus pada kakak. Takutnya ketika kakak datang kesana, bukannya disambut dengan baik, malah akan diusir. Untuk mengantisipasi semua itu, lebih baik sekarang hidup masing-masing saja. Jika suatu saat nanti kakak kebetulan bertemu dengannya tanpa disengaja. Mungkin saja Tuhan memiliki rencana lain untuk kakak. Tapi untuk saat ini, lebih baik jangan," jelas Sari mengutarakan pendapatnya.


"Kau benar, terima kasih sudah memberikan saran yang bagus untukku." Sari mengangguk.


"Untuk sekarang, lebih baik kakak fokus merawat dan mendidik Ansel saja. Supaya dia tidak memiliki sifat seperti papanya. Biar aku yang fokus mencari uang."


Denada seketika tersenyum, ia benar-benar bersyukur dan tidak salah menolong Sari waktu itu. Rupanya kini ialah yang lebih banyak ditolong oleh Sari.


****


Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.


Jangan pelit-pelit untuk memberikan like dan vote nya geng 🤭 Supaya ceritaku popularitasnya semakin naik dan pembacanya semakin banyak. Kalau begitu kan aku jadi semangat nulis kelanjutan ceritanya.


Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.


Jangan lupa follow aku Ig ku ya


@yoyotaa_

__ADS_1


__ADS_2