Pesona Ibu Susu Baby Elnan

Pesona Ibu Susu Baby Elnan
Bab 105 - Hinaan tetangga


__ADS_3

Hari dimana Alex menggantikan Richard untuk pergi ke luar kota pun tiba. Di hari itu, Alex harus rela tidak bisa melihat wajah pujaan hati untuk beberapa hari ke depan.


"Huh! Tidak apa-apa Alex. Setidaknya setelah pulang dari luar kota, kau akan berkencan seharian dengan Ele," ujar Alex yang bermonolog.


Alex dengan cepat mendorong kopernya yang sudah ia siapkan semalam. Sementara di depan rumahnya, Leon sudah menunggu laki-laki itu untuk berangkat bersamanya.


Ketika Alex sudah berada di hadapan Leon, tepatnya di samping mobil.


"Sudah siap semuanya tuan?" tanya Leon pada Alex.


"Sudah. Semua berkas kan dibawa oleh mu. Jadi, aku tinggal membereskan pakaianku saja," jawab Alex.


"Baiklah, mari kita berangkat."


Keduanya pun memasuki mobil. Mobil tersebut adalah mobil milik Richard. Richard sengaja menyuruh Leon untuk membawa mobilnya, ia merasa bersalah jika Alex harus menghabiskan bensinnya sendiri untuk menggantikan dirinya.


Padahal Alex sendiri sudah kaya dan tidak akan keberatan jika pergi ke luar kota menggunakan mobilnya. Hanya saja daripada repot berdebat dengan Richard, Alex akhirnya memilih setuju dan mengikuti perintah Richard.


Lima jam perjalanan, waktu yang cukup melelahkan bagi Alex untuk hanya duduk, dan melihat pemandangan mobil di depan dan samping kanan kirinya. Waktu selama itu pun, ia masih belum sampai ke tempat tujuan. Untuk menghilangkan rasa lelahnya, ia menelpon mata-mata yang ia sewa untuk mengikuti Ele dan menanyakan wanita itu sedang melakukan apa.


"Cepat katakan padaku! Hari ini kegiatan Ele apa saja? Lalu sekarang dia sedang melakukan apa?" tanya Alex dengan nada yang sedikit memaksa.


"Nona Ele dari tadi berada di kampus, Tuan. Dia mengobrol dan mengerjakan tugasnya. Lalu pergi ke kantin dan makan bersama teman-temannya. Kalau sekarang, Nona sedang ada kelas," jawab sang mata-mata.


"Bagus, pantau terus! Kalau bisa foto setiap kegiatan Ele dan kirimkan padaku!" perintah Alex.


"Baik Tuan."


Alex pun mematikan panggilan teleponnya. Leon yang sedari tadi mendengarkan pun langsung bertanya pada Alex.


"Apa tuan menyukai Nona Ele?" tanya Leon tanpa menoleh sedikit pun karena ia masih fokus mengendarai mobil.


"Ya. Kenapa memangnya?"

__ADS_1


"Tidak. Saya hanya bertanya saja. Karena waktu itu, ketika saya pulang kerja, saya tidak sengaja melihat Nona Ele makan di restoran hanya berdua dengan seorang pria. Hanya saja wajah pria itu tidak terlihat karena posisi duduk yang memunggungi jendela. Saya hanya merasa heran saja, karena setahu saya, nona Ele jarang sekali terlihat berdua dengan seorang pria selain Tuan Richard."


Mendengar hal tersebut dari Leon, membuat Alex dilanda cemas dan penasaran. Siapa laki-laki yang bersama Ele ketika Leon melihat mereka? Akan tetapi ia tidak ingin berpikiran buruk. Ia memberikan jawaban lain, agar suasana hatinya tidak berubah menjadi buruk.


"Mungkin mereka sedang mengerjakan tugas sekalian makan bersama. Itu bisa saja terjadi. Kau jangan berpikiran kalau Ele sudah memiliki kekasih ya! Awas saja kalau kau berpikir seperti itu! Akan kubuat kau sengsara di luar kota bersamaku!"


"Glek!"


Leon menelan ludahnya sendiri. Rupanya ucapannya membuat dirinya berada di ujung jurang. Ternyata sahabat bosnya itu tidak ada bedanya dengan bosnya sendiri. Sama-sama suka mengancam orang dengan kata-kata yang menusuk hati.


Aku kira dengan pergi ke luar kota bersama tuan Alex akan membuatku seperti manusia pada umumnya. Ternyata dugaan ku salah. Aku tetap masuk ke dalam kandang yang sama.


Karena takut salah bicara lagi, Leon pun akhirnya membungkam mulutnya. Ia akan berbicara seirit mungkin, akan tetapi Alex selalu mengajaknya berbicara.


"Leon, sebenarnya kapan kita sampai? Aku ingin segera beristirahat."


"Sekitar 30 menit lagi kita akan sampai di hotel tuan," jawab Leon.


"Kalau alasan itu, saya tidak tahu Tuan Alex. Anda bisa tanyakan sendiri pada Tuan Richard," jawab Leon.


"Haish, menyebalkan sekali!" umpat Alex.


***


Di sisi lain, yaitu di tempat dimana Denada berada. Ia mendapatkan perlakuan buruk dari para tetangga yang tiba-tiba saja datang ke rumahnya dan langsung melemparkan telur busuk, buah-buahan busuk pada wajahnya. Tak hanya itu, ia juga mendapatkan cemoohan karena ketahuan hamil di luar nikah.


"Dasar wanita murahan! Tidak tahu diri! Seenaknya saja kau kembali ke kampung untuk menyembunyikan kehamilan anak haram mu itu!"


"Pergi kau dari sini! Kau hanya akan membuat kampung kami menjadi kotor!"


Tak henti-hentinya para tetangga itu menghina Denada. Denada yang mendapatkan perlakuan buruk tersebut pun diam tak melawan, selagi para tetangga itu tidak membuat dirinya celaka.


Bau amis dari telur yang menempel di rambutnya mulai tercium oleh hidung Denada, ia meneteskan air matanya di depan para tetangga tersebut.

__ADS_1


"Cih! Pura-pura menangis! Memangnya kau masih punya hati? Bukannya ketika kau membuat anak haram itu kau berteriak keenakan! Awas saja kau, kalau sampai kau berani menggoda suamiku!"


Setelah puas menghina Denada, para tetangga itu pergi dari rumah Denada dengan senyum mengembang di wajah mereka masing-masing.


Denada duduk bersimpuh di atas tanah. Ujian yang sebenarnya baru akan dimulai. Para warga sudah tahu kalau dirinya hamil di luar nikah. Ia masih bisa menerima semua hinaan itu, akan tetapi yang membuatnya sedih dan menangis adalah, apakah anaknya akan kuat menjalani kehidupannya ketika sudah terlahir ke dunia nantinya? Memikirkan hal itu membuat Denada menyesal karena dengan mudahnya memberikan kehormatannya pada laki-laki yang dicintainya tanpa memikirkan resiko yang akan ia terima di kemudian hari.


"Nak, mama harap kau bisa menjalani hidupmu dengan baik nantinya. Kau harus jadi anak laki-laki yang kuat. Yang bisa melindungi mama," ucap Denada yang menangis sambil mengusap perutnya yang sudah membesar.


Tak lama kemudian, Sari datang dengan membawa keranjang belanjaan. Ia langsung menjatuhkan keranjang itu sembarang, lalu membantu Denada untuk berdiri.


"Kak sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Sari yang memang tidak tahu apa-apa.


"Kini para warga sudah tahu tentang kehamilanku. Aku tidak tahu harus berbuat apa sekarang? Aku takut, aku takut mereka akan mengusirku dari sini!" ucap Denada dengan lirih sambil menahan isak tangisnya.


Sari pun sama takutnya dengan Denada. Namun, ia tidak ingin ketakutannya terlihat di depan Denada. Sebisa mungkin ia harus menjadi kekuatan Denada untuk bangkit dan berdiri kokoh meskipun banyak hinaan dari lingkungannya.


"Tenang saja kak, masih ada aku. Kita lewati ini semua bersama," ujar Sari.


Kini Denada sudah berdiri, Sari membantu Denada membersihkan buah-buahan busuk yang menempel di pakaian Denada tanpa merasa jijik. Ia juga membantu Denada untuk menghilangkan bau amis di rambut Denada.


"Semua kesedihan ini akan berlalu, kakak hanya harus sabar dan ikhlas menerimanya. Mungkin ujian ini datang untuk menebus dosa yang telah kakak lakukan. Kakak hanya harus berbuat baik dan berbuat baik supaya semuanya menjadi indah pada waktunya."


****


Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.


Jangan pelit-pelit untuk memberikan like dan vote nya geng 🤭 Supaya ceritaku popularitasnya semakin naik dan pembacanya semakin banyak. Kalau begitu kan aku jadi semangat nulis kelanjutan ceritanya.


Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.


Jangan lupa follow aku Ig ku ya


@yoyotaa_

__ADS_1


__ADS_2