
Kebersamaan Richard dan Naya tak luput dari penglihatan Helen. Ia menangis bahagia kala melihat anak laki-lakinya menemukan tambatan hatinya.
"Semoga rumah tangga kalian akan tetap harmonis dan bahagia. Doa mama selalu menyertai kalian berdua."
Karena tak ingin mengganggu kebersamaan Richard dan Naya, Helen pun tak jadi menghampiri keduanya. Ia berbalik arah ke ruang keluarga yang dimana ada Ele yang sedang bersantai sambil memainkan ponselnya.
"Dari mana ma?" tanya Ele.
"Taman, tapi ga jadi kesana," jawab Helen.
"Kenapa ma?" tanya Ele lagi.
"Kakakmu dan kakak ipar mu sedang berada disana. Mama tidak mau mengganggu waktu mereka. Biarkan mereka menikmati kebersamaan itu."
"Wah, jangan-jangan kak Richard bakalan jadi kang bucin lagi ini, hehe," ucap Ele sambil memikirkan ide cemerlang di otaknya.
"Jangan mikir yang aneh-aneh!" cegah Helen sebelum Ele melakukan sesuatu yang akan membuat Richard kesal.
"Hehe, tidak ma," balas Ele dengan cengiran khas nya.
Helen duduk di samping Ele, ia menyetel televisi untuk menonton sinetron kesukaannya.
***
Tiga hari pun berlalu, Richard akhirnya memutuskan untuk kembali bekerja dan menyudahi masa cutinya. Meskipun sebenarnya ia masih ingin menghabiskan waktu bersama istri tercintanya, akan tetapi perusahaannya juga membutuhkannya.
"Leon, siapkan berkas yang akan kita rapatkan bersama Rico," pinta Richard pada sekretarisnya.
"Baik bos."
Leon pun menyiapkan apa yang diperintahkan bosnya. Tak perlu menunggu dalam waktu yang lama, Leon sudah memasukkan berkas itu ke dalam map.
Richard dan Leon keluar dari ruangan Richard dan menaiki lift.
"Leon," panggil Richard saat mereka masih di dalam lift.
"Iya bos," jawab Leon.
__ADS_1
"Apa yang akan kau lakukan jika kau bertemu dengan orang yang sudah mencelakai mu?" tanya Richard.
"Em, kalau saya pribadi nih bos. Saya tentunya akan buat dia mendekam di penjara kalau sekiranya apa yang dia lakukan membahayakan nyawa saya. Saya akan buat dia menyesal telah berurusan dengan saya dan sudah mencelakai saya. Segala perbuatan itu harus ada konsekuensinya bos. Kalau tidak begitu, tidak akan ada efek jera bagi si pelaku," jawab Leon.
"Tapi bagaimana jika orang yang mencelakai mu bukanlah orang sembarangan? Dia juga memiliki kekuasaan yang hampir sama denganmu. Tentunya jika hanya memasukkannya ke penjara akan mudah baginya untuk keluar dari penjara tersebut melalui kekuasaannya." Richard membuka pembahasan lagi.
"Jalan satu-satunya adalah mematahkan kekuasaan yang dimilikinya bos. Buat dia bangkrut misalnya," jawab Leon lagi.
"Hm, baiklah. Terima kasih atas jawabanmu Leon."
"Sama-sama bos."
Leon menebak bahwa pertanyaan yang dilontarkan bosnya tersebut adalah masalah dari bosnya sendiri. Terkadang ia merasa beruntung sudah terpilih sebagai sekretaris bosnya karena ia merasa diperlakukan sebagai temannya ketika sedang berdua. Namun, ada kala dimana Richard menjadi sangat arogan jika apa yang sudah ia perintahkan hasilnya tak sesuai keinginannya. Leon akan menjadi sasaran kemarahan Richard.
Lift pun terbuka. Mereka sudah sampai di lantai bawah. Keduanya berjalan menuju parkiran. Leon duduk di kursi kemudi, dengan Richard yang duduk di sebelahnya. Mereka keluar dari perusahaan menuju ke kafe tempat pertemuan itu akan dilangsungkan.
Tak lama kemudian, keduanya sudah tiba di cafe. Rupanya Rico dan asistennya sudah berada disana. Mereka duduk di pojokan dengan jendela yang mengarah ke luar.
Richard dan Leon berjalan ke arah mereka. Ada rasa marah yang timbul di hati Richard kala melihat wajah Rico yang berseri tampak seperti tak ada penyesalan dalam dirinya. Ingin sekali Richard membeberkan segala kelakuan buruk Rico saat ini juga. Namun, itu tidak mungkin. Ia belum menyusun rencana jika Rico mengelak bukti-bukti yang ia tunjukkan tentang kecelakaan yang menimpanya, kakak dan kakak iparnya.
"Ayo, ayo silahkan duduk." Rico mempersilahkan Leon dan Richard untuk duduk.
Richard dan Leon pun duduk berhadapan dengan Rico dan asistennya. Mereka membicarakan tentang kelanjutan kerja sama mereka.
Satu jam pun telah berlalu, pembahasan selesai. Mereka pun menikmati hidangan yang sudah dipesankan oleh Rico. Di sela-sela makan, Richard dengan isengnya bertanya pada Rico.
"Rico, bolehkan aku berbicara santai denganmu seperti dulu?" tanya Richard pada Rico.
"Tentu saja kawan. Aku malah senang jika kita bisa berbicara santai. Rasanya seperti kembali ke masa-masa saat kita kuliah dulu," jawab Rico.
"Kau kemana saja menghilang selama setahun ini? Kau sudah tahu kan kalau kakak dan kakak iparku telah tiada?" tanya Richard mencoba memancing Rico.
"Aku pergi ke luar kota dan menetap disana. Aku mengurusi semua bisnis orangtuaku yang berada disana. Aku turut berduka cita atas kepergian kakak dan kakak iparmu. Aku mohon maaf jika pada saat itu tidak bisa hadir saat pemakaman mereka juga saat dibukanya kantor cabang milikmu disana," jawab Rico dengan santainya.
Pintar juga dia menjawabnya. Aku bahkan tidak menemukan celah akan kegelisahan di dalam dirinya.
"Iya tidak apa-apa. Aku memakluminya. Ngomong-ngomong kau sekarang tinggal dimana?" tanya Richard lagi.
__ADS_1
"Aku tinggal di apartemen yang tak jauh dari kantormu. Kalau kau mau bertamu, datanglah ke apartemenku. 302 itulah nomor kamarnya."
"Baiklah, ketika senggang aku akan mampir kesana. Kalau begitu aku dan Leon pamit lebih dulu. Terima kasih untuk makanan enak ini," ucap Richard yang langsung berdiri.
"Ya, hati-hati di jalan."
Richard dan Leon pun keluar dari restoran tersebut. Mereka masuk ke dalam mobil. Richard duduk di samping kemudi. Ia menarik dasi dan melonggarkannya. Rasanya amarah yang sudah ia tahan saat bertemu dengan Rico sudah tak bisa lagi ia bendung.
"Sial! Aku ingin sekali mengajar wajahnya!" kesal Richard.
Leon yang melihat bosnya yang emosi mulai was-was. Kemungkinan ia akan menjadi sasaran empuk untuk dijadikan pelampiasan kekesalan Richard.
Jangan sampai aku kena imbasnya juga. Tuhan, tolonglah diriku. Aku masih ingin hidup. Aku belum menikah, bahkan aku masih menjomblo. Biarkan aku yang jomblo ini menikmati indahnya dunia. Angkatlah kekesalan bos ku ini sampai kami tiba di kantor agar aku aman dan tenang menjalani hari ini.
Kekesalan Richard bisa saja meradang dan merambat ke pekerjaan Leon jika Leon tidak langsung mengemudikan mobil bosnya tersebut. Ia memilih jalan aman dibandingkan jalan yang akan menyusahkan dirinya.
Di perjalanan, Richard masih kesal dengan menjadikan Leon sebagai pelampiasan.
"Leon! Kau ini bisa bawa mobil tidak sih? Kenapa lambat sekali!?" marah Richard.
Kan baru saja kubilang. Begini amat jadi bawahan.
"Baik, akan saya naikan kecepatannya bos," jawab Leon lalu menaikan kecepatan mobil yang dikendarainya.
"Leon! Kau ingin aku mati, hah! Aku belum malam pertama dengan istriku. Turunkan kecepatan mobilnya!" marah Richard lagi.
Gimana sih bos ini? Dia yang minta kenapa dia yang menyalahkan ku? Serba salah sekali jadi aku. Tuhan kumohon aku ingin menghilang saja dari hadapannya sekarang juga.
****
Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.
Jangan lupa berikan like dan vote nya teman-teman.
Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.
Kalian bisa juga memberikan dukungan untuk yoyo dengan menonton iklan yang ada di kolom pemberian hadiah.
__ADS_1