Pesona Ibu Susu Baby Elnan

Pesona Ibu Susu Baby Elnan
Bab 43 - Laki-laki setia


__ADS_3

Naya terkejut saat Richard tiba-tiba memeluk tubuhnya yang duduk dengan posisi Richard masih rebahan.


"Kau kenapa terbangun?" tanya Naya sambil menyusui Elnan.


"Karena kau tak ada di sampingku makanya aku terbangun. Kenyamanan tidurku terganggu saat kau tak ada di sisiku," ujar Richard kemudian merubah posisinya menjadi duduk di belakang Naya kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Naya.


"Setelah Elnan menyusu, aku ingin menyusu juga," ucap Richard lalu menarik dada Naya agar terlepas dari mulut kecil Elnan.


Bayi kecil itu pun langsung menangis. Naya menatap geram ke samping.


"Kau ini! Jauh-jauh tanganmu dari tubuhku. Biarkan Elnan menyusu dengan tenang!" kesal Naya lalu menjauhkan tangan Richard dari buah dadanya. Ia langsung membiarkan Elnan menyusu kembali.


"Ish, kau ini galak sekali sih sayang. Aku kan juga ingin." Richard merajuk.


"Sana kembali ke kamarmu sebelum mama ataupun Ele datang kesini," perintah Naya.


"Tidak mau. Biarkan saja mereka tau. Lagian kita akan menikah sebentar lagi. Jadi, tidak apa-apa berduaan seperti ini. Oh, salah. Kita tidak berdua tapi bertiga."


Naya tak lagi menanggapi ucapan Richard. Percuma saja menurutnya. Richard pasti tidak akan mau menuruti perintahnya.


"Kau harum sekali sih! Aku suka wangi tubuhmu," puji Richard yang mencium aroma tubuh Naya.


"Harum? Aku bahkan belum mandi, Rich. Kau ini aneh," balas Naya.


"Tidak percaya? Kau benar-benar harum sayang." Richard mencium tengkuk leher Naya pelan supaya tidak meninggalkan bekas kemerahan disana.


"Ah ..." Naya mend*sah pelan karena ciuman itu. Ia juga jadi sensitif karena sedang menyusui Elnan.


"Ah, sayang. Milikku jadi on lagi karena mendengar d*sahanmu. Bisakah kita mengulangi yang semalam?" ucap Richard sambil mengigit telinga Naya.


Naya menggeleng. "Tidak Rich. Kita tidak boleh melakukan hal seperti semalam. Aku tidak mau."


"Kenapa?" tanya Richard menanyakan alasannya.


Naya hanya menggeleng lagi. Tidak mau memberikan jawaban pasti.


"Baiklah." Kali ini Richard menghargai keputusan Naya. Ia juga harus bisa mengontrol hasrat dalam dirinya agar tidak mudah tergoda oleh suara dan tubuh Naya.

__ADS_1


Selesai menyusui Elnan, Naya hendak pergi keluar dari kamarnya. Namun, hal itu tercegah karena Richard meraih tangannya hingga Naya terduduk di pangkuan Richard.


"Mau kemana? Ini masih pagi? Kita bisa tidur lagi."


"Aku ingin membantu bibi di dapur. Lepaskan aku Rich!" pinta Naya.


"Tidak! Cium aku dulu," pinta Richard sambil menunjuk bibirnya.


Mengingat kejadian semalam yang berakhir Naya di bawah kungkungan lelaki tersebut, Naya pun enggan melakukan permintaan Richard.


"Aku tidak mau." Naya menolak.


"Baiklah, cium pipi kalau begitu." Richard memberikan penawaran untuk Naya.


Naya pun akhirnya mengiyakan. Ia mendekatkan wajahnya ke pipi kanan Richard. Namun, sedetik saat bibir Naya akan menyentuk pipinya, Richard langsung memutarkan wajahnya, hingga bibirnya lah yang mendapatkan ciuman tersebut.


Naya terkejut saat bibirnya saling bertaut dengan bibir Richard. Ia hendak menghentikan ciuman tersebut, akan tetapi Richard langsung mengambil alih ciuman tersebut, meraih tengkuk Naya untuk memperdalam ciumannya.


Ciuman pun berlangsung hingga 5 menit. Naya kehabisan napasnya. Richard pun akhirnya mengakhiri ciuman tersebut dengan sebuah senyuman manis di bibirnya.


"Thank you bibir manisnya sayang," ucap Richard kemudian mengecup kembali bibir Naya. Hanya menyentuh tanpa l*matan.


"Papa kembali ke kamar ya sayang. Makasih karena semalam kau tidak menangis. Malah mamamu yang membuat papa harus bersolo karier," ucap Richard kemudian mencium pipi gembul bayi mungil itu.


Lelaki itu memilih untuk pindah ke kamarnya. Merebahkan tubuhnya di kasur besarnya. Ia menatap langit-langit kamarnya.


"Kak, sebentar lagi aku akan menikah dengan ibu susu anakmu. Aku janji akan terus menyayanginya seperti anakku sendiri sesuai permintaan terakhirmu. Dia wanita yang baik juga penyayang. Anakmu akan tumbuh besar dengan didikannya. Doakan semoga pilihanku tidak salah."


Setelah mengatakan hal itu, mata Richard terpejam kembali.


***


Pagi hari pukul 8 pagi, semua anggota keluarga Richard sudah berkumpul di meja makan termasuk Alex, Ethan dan Naya. Menu makanan pagi ini, Naya lah yang memasaknya sebagai tanda penyambutan kepulangan Helen dan datangnya Ele yang tertunda karena adanya insiden itu. Semuanya makan dengan lahap, bahkan Richard sampai nambah dua kali.


Di akhir sarapan, Helen membuka suaranya.


"Semua keperluan pernikahan seperti undangan, souvenir, dekorasi, baju pernikahan dan make up beserta gedungnya sudah mama urus. Besok kalian tinggal fitting baju saja. Alamatnya akan mama kirimkan via pesan. Satu hal yang belum mama urus yaitu cincin pernikahan. Kalian saja berdua yang pilih."

__ADS_1


Mendengar ucapan mamanya tersebut, Richard bahagia. Mamanya memang paling bisa diandalkan. Richard juga percaya akan pilihan mamanya, semuanya pasti akan bagus dan mewah.


"Terima kasih Mama. Emang mamaku yang paling the best pokoknya. Kalau urusan cincin, besok setelah fitting baju aku dan Naya bisa mencarinya. Jadi, mama tenang saja," balas Richard.


"Aku boleh ikut kan, Ma?" tanya Ele.


"Boleh," jawab Helen.


"Tidak," jawab Richard.


Helen dan Richard bersamaan menjawab dengan jawaban berbeda. Tentunya Ele akan menuruti jawaban Helen.


"Karena mama mengizinkan, jadi besok aku ikut. Aku akan menemani kak Naya, hehe," ucap Ele dengan senangnya.


Sementara Richard mendengus kesal. Kenapa selalu saja ada pengganggu di antara dirinya dan Naya yang ingin menghabiskan waktu berdua? Padahal Richard baru saja menyusun rencana untuk bisa berduaan di luar dengan Naya.


Alex dan Ethan cekikikan karena mereka tahu Ele pasti akan menjadi pengacau di saat Richard mulai bertingkah merayu Naya. Mereka pun ingin sekali melihat pertunjukan yang menarik esok, hanya saja itu tidak mungkin karena mereka harus mengurus bisnisnya masing-masing.


Beda halnya dengan Naya, mau ditemani Ele atau tidak, tak akan menjadi masalah baginya.


Sarapan pagi pun selesai. Alex dan Ethan berpamitan untuk pulang ke rumah mereka masing-masing. Richard memilih untuk mengerjakan pekerjaannya di rumah. Sementara Ele dan Naya, mereka berdua pergi ke taman yang berada di rumah Richard sambil menjemur Elnan.


"Kak Naya, aku cuma mau mengatakan satu hal. Meskipun kak Richard kelihatan pintar merayu dan agak terlihat playboy, sebenarnya dia adalah tipe laki-laki yang setia pada satu wanita. Semuanya terjadi karena masa lalu kak Richard yang ditinggalkan oleh mantan tunangannya," jelas Ele.


Alis Naya terangkat saat mendengar ucapan Ele. Naya penasaran sebanyak apa jumlah mantan Richard. Hingga bisa dikira playboy. Ya, jika dilihat dari wajahnya, wajar saja banyak wanita yang tergila-gila padanya. Wajah Richard begitu tampan dan berkharisma. Wanita manapun pasti akan langsung menerimanya jika Richard menembaknya.


"Aku berharap semoga kak Naya bisa membuat Kak Richard bahagia. Karena aku yakin, meski kini dari luar terlihat bahagia sebenarnya kak Richard memendam kesedihannya dan tak bisa mengutarakan isi hatinya. Aku hanya ingin kak Naya bisa menjadi sandaran dan tempat ia berkeluh kesah," lanjut Ele.


Naya memperhatikan setiap kata dan ucapan yang Ele keluarkan dari mulut kecilnya. Terkadang ia terlihat berbicara asal bahkan mungkin bisa menyakiti hati orang tanpa ia duga. Namun, terkadang ucapannya juga memiliki makna yang berarti, seperti sebuah kekhawatiran yang mendalam.


****


Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.


Jangan lupa berikan like dan vote nya teman-teman.


Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.

__ADS_1


Kalian bisa juga memberikan dukungan untuk yoyo dengan menonton iklan yang ada di kolom pemberian hadiah.


__ADS_2