
"Kalau aku bayi besar mu, berarti aku boleh menyusu padamu?" ucap Richard sambil menatap dua gunung kembar yang ada di depan wajahnya.
Naya langsung menatap tajam ke arah Richard dan berkata, "Tolong kondisikan ucapan dan tatapan matamu, Rich!"
"Selagi bersama istri kenapa harus dikondisikan?" tanya Richard lalu meraih pinggang Naya mendekat padanya. Hampir saja bekal yang Naya pegang akan terjatuh. Untung saja, Naya berhasil menyeimbangkan dirinya dan meletakan kembali bekal tersebut.
"Kau ini kenapa selalu seenaknya sendiri sih! Heran aku!" kesal Naya karena tiba-tiba ditarik oleh Richard.
"Aku sudah lapar sayang," manja Richard pada Naya.
"Iya sabar, aku baru saja membuka bekalnya," jawab Naya.
"Bukan lapar yang itu sayang," ujar Richard menginginkan sesuatu yang lain.
Naya mengernyit bingung. Ia sama sekali tidak paham arah pembicaraan Richard. Richard pun gemas dengan istrinya yang tampak bingung. Kemudian mer*mas dada Naya, memberikan kode pada Naya bahwa ia menginginkan Naya menjadi makan siangnya.
"Ih, kau jangan sentuh-sentuh aku di kantormu! Nanti kau dikira bos mesum!" kesal Naya.
"Aku tidak peduli dengan ucapan orang-orang. Yang aku pedulikan hanyalah dirimu Naya," ujar Richard lagi lalu mendorong Naya pelan ke sofa di ruangan kerjanya.
"Ka-kau mau apa?" jawab Naya gugup karena ia sudah berada di dalam kungkungan Richard.
"Mencoba gaya baru sayang. Kita kan belum pernah mencoba bercinta di atas sofa. Aku ingin tahu bagaimana rasanya," jawab Richard dengan senyuman seringai di bibirnya.
"A-apa!" Naya terkejut mendengar ucapan Richard. Bagaimana bisa Richard selalu berbuat seenaknya dimana pun dan kapan pun padanya.
Tanpa menunggu persetujuan dari Naya, Richard langsung menempelkan bibirnya di bibir Naya. Tak hanya itu, ia pun mengunci kedua lengan Naya supaya tidak bisa menolaknya.
Naya membalas ciuman itu dan terbawa suasana oleh ciuman Richard yang semakin menuntut. Sampai tak Naya sadari, tiga kancing baju teratasnya sudah Richard buka. Ciuman itu turun ke leher hingga meninggalkan bekas merah disana juga membuat Naya mengeluarkan d*sahannya. Saat akan melakukan yang lebih dari itu, tiba-tiba pintu ruangan Richard terbuka.
"Ups! Maaf bos saya tidak tahu jika anda sedang itu-anu ..."Ucapan Leon terbata-bata karena tak sengaja melihat bosnya sedang berada di tubuh Naya.
Naya pun segera mendorong tubuh Richard dari atas tubuhnya. Ia merasa malu sekali karena ketahuan berbuat mesum di ruangan Richard oleh sekretaris Richard. Ia pun segera memasangkan kancing bajunya.
__ADS_1
"Aww!" suara Richard yang kesakitan saat b*kongnya mendarat sempurna di lantai. Ia langsung menatap tajam ke arah Leon.
Leon yang melihat tatapan mata itu menjadi panik sendiri dan menelan salivanya bulat-bulat.
Malangnya kau Leon. Selamat datang bencana.
Lalu Leon pamit undur diri tanpa mengatakan apapun lagi pada bosnya. Di depan ruangan Richard, Leon menyesali perbuatannya yang langsung masuk ke dalam ruangan Richard. Karena memang biasanya ia seperti itu.
Richard selalu mengucapkan, "Tidak perlu permisi atau mengetuk pintu ruangan ku saat pintunya tidak terkunci. Kau bisa langsung masuk dan bertemu denganku."
"Siap-siap terkena omelan bos Richard. Panjangkan umurku Tuhan. Semoga aku bisa melewati bencana satu ini," ucap Leon dengan pasrahnya.
Beda halnya dengan Richard yang ada di dalam ruangan. Ia sungguh kesal karena kesenangannya terganggu. Sudah pasti dan jelas sekali Naya tidak akan mau lagi jika ia kembali mesum pada Naya.
Richard pun bangun dari posisi ya yang terduduk di lantai.
"Sudah aku bilang, jangan sentuh aku di kantormu! Kan kejadian juga, ketahuan oleh sekretaris mu. Aku malu, Rich," ucap Naya sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Setelah berpelukan, Naya menyuruh Richard untuk makan sendiri. Ia tidak mau menyuapi Richard. Richard pasrah saja, daripada Naya tidak mau lagi ke kantornya.
Selesai makan, Richard mengantar Naya keluar dari ruangannya. Di depan ruangan Richard, Leon sedang duduk dan mengerjakan pekerjaannya. Ia pun langsung berdiri, ketika melihat Richard dan istrinya keluar dari ruangan tersebut.
Richard menatap tajam Leon lagi dan berkata tanpa bersuara, "Awas kau Leon!" Kalimat itulah yang bisa Leon mengerti.
Tak lama kemudian, Richard sudah berada di hadapan Leon, setelah mengantar Naya ke parkiran.
Leon begitu panik dengan nasibnya setelah ini. Ia pun mengikuti Richard dari belakang dan memasuki ruangan kerja Richard.
"Leon, mulai sekarang saat kau masuk ke dalam ruangan ku, kau harus mengetuknya terlebih dahulu, paham!?" pinta Richard.
"Gara-gara kau aku tidak jadi menerima jatah dari istriku, huh!" sahut Richard lagi.
Leon menjawab dengan anggukkan.
__ADS_1
Salah bos sendiri, dulu yang memerintahkan ku untuk langsung masuk saja. Kenapa sekarang jadi menyalahkan aku sih!? Ingin heran, tapi apalah dayaku yang hanya seorang bawahan. Malangnya kau Leon.
"Sekali lagi kau tidak mengetuk pintu seperti tadi, gaji mu akan aku potong 50 persen."
What! Bisa-bisa gaji ku habis dipangkas olehnya. Yang sabar dan tabah Leon.
Richard pun menyuruh Leon keluar dari ruangannya dan melanjutkan pekerjaannya.
***
Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba acara launching dari brand pakaian merk perusahaan Richard akan segera di mulai. Di awali dengan sambutan dari orang-orang yang terlibat di dalamnya. Lalu peragaan busana dengan berjalan di catwalk oleh beberapa model ternama dengan model utamanya adalah Denada.
Denada berjalan dengan anggunnya di catwalk. Tak lupa ia juga memberikan senyuman termanisnya. Suara riuh dari para tamu dan pengunjung menambahkan kesan ramai dan mewah di acara tersebut.
Setelah itu, dibuka diskon besar-besaran untuk yang berbelanja di atas 50 juta dengan diskon 45 persen. Banyak sekali yang tertarik dengan diskon itu. Dalam waktu sejam hampir setengah produk terjual habis.
Di sela-sela itu, Richard, Ethan dan Nicolas mengobrol bersama di sudut ruangan.
"Terima kasih atas kerja kerasmu dan karyawan mu sehingga acara ini bisa berlangsung dengan sukses."
"Semua itu juga tak lepas dari arahan mu, Rich. Aku tidak bisa melakukan semua itu tanpamu juga. Intinya semua ini berhasil karena kerja keras kita semua. Bersulang."
Mereka pun saling bersulang dan menikmati acara tersebut. Semuanya tampak biasa saja. Tak ada rasa kebencian ataupun dendam di dalamnya. Jika saja Richard tau, sesuatu yang tersembunyi di dalamnya. Mungkin saja ia tidak akan bisa berbicara ataupun bersenda gurau dengan Nicolas.
***
Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.
Jangan lupa berikan like dan vote nya teman-teman.
Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.
Kalian bisa juga memberikan dukungan untuk yoyo dengan menonton iklan yang ada di kolom pemberian hadiah.
__ADS_1