
Sesampainya di rumah sakit, Ele berlari menuju ke ruangan tempat dimana Alex ditangani oleh dokter. Di sana, Richard duduk menunggu kedatangan Ele dan Ethan di depan ruangan.
"Akhirnya kalian datang juga," ujar Richard merasa lega.
"Bagaimana keadaan Kak Alex, Kak?" tanya Ele dengan cemasnya.
"Aku belum tahu, dokter yang menanganinya masih di dalam. Kita doakan saja semoga dia baik-baik saja," jawab Richard.
"Aku kembali ke ruang anak-anakku dulu. Naya pasti membutuhkan aku. Jika dokter keluar dan menceritakan kondisi Alex, jangan lupa kabari aku," ucap Richard sambil menepuk pundak Ethan.
Setelah hilangnya Richard dari penglihatan Ele dan Ethan, Ele duduk terdiam menanti keluarnya dokter dari ruangan. Sementara Ethan berdiri dengan gelisah nya.
Kak Alex aku harap kau baik-baik saja. Maafkan aku.
Ethan berpindah posisi menjadi duduk di samping Ele.
Tak lama kemudian, dokter pun keluar dari ruangan dan menjelaskan kondisi Alex pada Ele dan Ethan.
"Kondisi pasien saat ini mengalami patah tulang di tangan bagian kanannya dan juga luka cukup dalam di bagian kepala. Akan tetapi kalian tidak perlu cemas, luka di bagian kepalanya tidak akan sampai membuat dia amnesia. Untuk saat ini biarkan pasien istirahat."
Setelah mengatakan itu, dokter pun pergi. Ucapan dokter tadi menjelaskan bahwa tidak ada yang boleh masuk ke dalam ruangan Alex terlebih dulu. Setidaknya Ethan dan Ele merasa lega karena tidak ada luka serius yang dihadapi oleh Alex.
"Sudah aku bilang! Dia itu tidak selemah apa yang kau pikirkan Ele! Jadi, rileks lah. Kita tunggu sampai dokter mengijinkan kita untuk masuk ke dalam sana."
Ele pun membenarkan ucapan Ethan dan setia menunggu di depan ruangan.
Malam semakin larut, membuat Ele mengerjap-ngerjapkan matanya karena mengantuk. Ethan membiarkan Ele tidur di sandaran barunya.
****
Pagi pun tiba, Ele terbangun dari tidurnya dan langsung mengucek matanya.
"Lama sekali tidurmu Ele! Aku sampai pegal menopang kepalamu di pundak ku!"
"Ya maaf, salah sendiri kenapa tidak memindahkan aku berbaring saja di kursi panjang ini!" ucap Ele yang tidak mau disalahkan.
"His!"
Ethan memeriksa baju yang ia kenakan, rupanya ada sebuah peta buatan yang menempel disana.
__ADS_1
"Astaga Ele! Kau tega sekali padaku! Ini apa ini? Haish!" ujar Ethan sedikit berteriak sambil menunjuk-nunjuk bekas air liur Ele yang terdapat di bajunya.
"Hehe." Ele hanya memberikan cengiran polosnya merasa tak bersalah.
"Aih! Cantik-cantik tapi ileran!"
"Bodo amat!"
Ethan pun memilih pergi dari hadapan Ele dan menuju ke mobilnya bermaksud untuk mengganti bajunya. Untung saja, ia selalu membawa beberapa pakaian ganti di mobilnya untuk berjaga-jaga.
Sementara Ele, ia hanya pergi ke toilet untuk membersihkan wajahnya dari air liur yang mungkin saja sudah kering di dekat bibirnya.
"Untung saja, tidak ada orang ataupun pekerja rumah sakit yang lewat. Aku bisa malu setengah mati, kalau ketahuan ngiler."
Ele bernapas lega. Setelah wajahnya bersih, Ele kembali ke depan ruangan rawat Alex, rupanya dokter sedang memeriksa keadaan Alex. Ketika sang dokter keluar, Ele langsung bertanya, "Dok apakah pasien sudah bisa dijenguk?"
"Boleh, kondisi pasien sudah lebih baik. Asalkan tidak membuat kegaduhan saja. Karena kemungkinan kepala pasien masih terasa sakitnya."
"Baik dokter. Terima kasih."
Dokter pun pergi dari hadapan Ele. Ele dengan perasaan senang dan sedihnya membuka pintu ruangan rawat Alex.
"Kak Alex," panggil Ele.
"Maafkan aku, gara-gara aku minta kakak untuk menjemput ku, Kak Alex harus mengalami ini," lanjut Ele dengan lirihnya.
Tak terasa, air mata Ele tumpah begitu saja di hadapan Alex. Rasa bersalahnya begitu dalam dan juga ia tidak senang melihat kondisi Alex yang biasanya ceriwis menjadi tak berdaya seperti itu.
Tangan Alex mulai menunjukkan pergerakan, perlahan-lahan ia membuka kedua matanya. Ia melihat pemandangan pertama yang dilihatnya. Rupanya wanita pujaan hatinya lah yang terlihat di saat ia pertama kali membuka mata. Betapa senang hatinya.
"E--le," panggil Alex agak sedikit terbata-bata.
"Ma-af aku tidak menjemputmu semalam," ucap Alex sambil menatap wajah Ele yang terlihat sedikit sembab di area matanya.
Bukannya menjawab, Ele malah menangis dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Hei, kenapa kau menangis?" tanya Alex pelan sambil berusaha meraih wajah Ele dengan tangan kirinya.
"Seharusnya aku yang minta maaf kak," jawab Ele sambil terisak.
__ADS_1
"Karena aku kakak mengalami kecelakaan dan tangan kakak patah. Aku sungguh-sungguh minta maaf kak," ucap Ele menambahkan kalimatnya.
"Tidak, ini salahku yang kurang berhati-hati saat berkendara. Lagian aku masih hidup kok," jawab Alex dengan lugasnya.
Ele kembali terisak saat mendengar ucapan Alex. Bagaimana mungkin orang yang awalnya berada di ambang kematian mengatakan hal tersebut seolah itu adalah hal biasa saja?
"Lah, kenapa suara tangis mu semakin kencang? Aku masih hidup lho! Yang ingin aku lihat itu senyuman mu bukan tangisan seperti ini," ucap Alex.
"Bisa diam dulu tidak? Kau itu sedang sakit tidak usah banyak bicara!"
Ele lama-lama kesal juga dengan Alex yang terus-menerus menjawab ucapannya. Ia ingin Alex melakukan istirahat total dengan minim bicara.
"Aku kira dengan aku sakit kau akan perhatian padaku, haih!" kesal Alex lalu memalingkan wajahnya dari Ele pelan. Kepalanya masih nyut-nyutan nyerinya.
"Kau itu jangan banyak bicara dan gerak dulu kak! Kondisimu baru saja membaik. Jika kau banyak gerak dan bicara, bisa saja kondisimu akan memburuk lagi! Sudah lebih baik kau diam!"
Ethan yang berniat masuk ke dalam ruangan rawat Alex pun menggelengkan kepalanya dan tidak jadi masuk ke dalam karena melihat perdebatan kedua orang tersebut.
Bisa-bisanya mereka berdua berdebat di saat kondisi seperti ini. Tidak bisakah Ele memberikan perhatian, dan Alex tidak usah banyak tanya? Pusing sekali diriku menghadapi kalian berdua
Ethan benar-benar pusing dengan Tom and Jerry tersebut.
"Habis nangis langsung marah-marah, yang benar saja! Aku tak tahu lagi caranya menghadapi wanita sepertimu Ele! Kau sabar-sabar lah Alex. Wanita incaran mu memang ajaib," gumam Ethan.
Ethan menutup pintu itu dan duduk di depan menunggu Ele bosan berada di dalam ruangan.
****
Terima kasih untuk pembaca setiaku. Terima kasih juga atas support dan saran dari kalian semua.
Berdasarkan keluhan ku di episode sebelumnya tentang karyaku yang dibuat konten oleh seseorang. Sekarang konten tersebut sudah di take down dan aku bersyukur atas hal itu.
Semoga saja kejadian seperti ini tidak terjadi lagi padaku ataupun pada penulis lainnya. Aamiin
****
Jangan pelit-pelit untuk memberikan like dan vote nya geng 🤠Supaya ceritaku popularitasnya semakin naik dan pembacanya semakin banyak. Kalau begitu kan aku jadi semangat nulis kelanjutan ceritanya.
Jangan lupa follow aku Ig ku ya
__ADS_1
@yoyotaa_