Pesona Ibu Susu Baby Elnan

Pesona Ibu Susu Baby Elnan
Bab 114 - Cinta Satu-satunya


__ADS_3

Hari-hari setelah kelahiran baby twins, suasana rumah begitu ramai. Terkadang Naya sampai kewalahan sendiri karena harus menenangkan kedua anaknya yang menangis bersamaan. Sementara pak suami, dialah biang kerok dari suara tangisan anaknya itu. Setiap hari ada saja kelakuannya yang membuat salah satu anak mereka menangis.


"Rich, kau jangan buat Ela menangis terus! Lihat! Rendra ikutan menangis juga." tegur Naya.


"Aku tidak sengaja sayang. Lagian bayi menangis itu wajar," ucap Richard.


Naya menghela napas pelan. Bicara dengan Richard selalu saja menguras emosinya. Apalagi sekarang, tiap hari Richard selalu bertanya, "Apa aku sudah bisa menyentuhmu? Puasaku seharusnya sudah berakhir bukan?"


Telinga Naya sampai bosan mendengar pertanyaan itu.


Tiga puluh menit kemudian, Naya berhasil memenangkan kedua anaknya. Hingga keduanya tertidur lelap di box bayi mereka.


"Nah, anak kita kan sudah tidur, waktunya kau menidurkan aku sayang," ucap Richard dengan nada manjanya. Tangannya bergelayut di tangan Naya. Menginginkan sebuah sentuhan dan belaian dari sang istri.


"Rebahkan tubuhmu di ranjang. Ayo bersiap untuk tidur," ucap Naya.


Richard pun mengikuti perintah Naya. Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang, memiringkan tubuhnya menunggu sang istri untuk merebahkan tubuhnya di sampingnya.


Ketika Naya menaiki ranjang, dengan cepat Richard menarik tubuh istrinya itu dan mendekapnya erat. Pelukan itu terjadi sangat lama dan diakhiri dengan sebuah kecupan di kening Naya.


Richard menatap manik mata Naya begitu dalam.


"Hidupku sempurna karena kehadiranmu dan lahirnya kedua anak kita. Elnan menjadi perantara dan pelengkap di antara keluarga kecil kita. Tuhan begitu baik padaku, menghadirkan mu ke sisiku," ucap Richard dengan begitu tulus.


Jantung Naya berdebar-debar mendengar ucapan Richard tersebut. Laki-laki satu itu, kadang tidak bisa mengontrol kata-kata yang keluar dari mulutnya. Kata biasa namun terdengar manis bagi Naya.


Tangan Naya mulai menyentuh pipi Richard kemudian mengelusnya pelan.


"Mau mendengar sesuatu yang bisa membuat jantungmu berdetak lebih cepat?" tanya Naya menawarkan.


"Boleh," jawab Richard.


"Richard Kavindra seorang CEO tampan, berbakat dalam dunia bisnis. Anak dari majikan ku yang kini sudah menjadi suamiku. Taukah kau? Kalau aku dulu sangat tidak suka padamu?"

__ADS_1


Awalnya Richard merasa bangga dan senang karena dipuji oleh istrinya. Namun seketika ia kecewa karena kalimat pertanyaan Naya. Jadinya, ia enggan menjawabnya biarlah Naya meneruskan semua ucapannya.


"Aku sungguh-sungguh tidak suka padamu saat itu. Kau yang selalu berbuat semaunya sendiri. Memaksakan semua kehendak mu padaku. Menyentuhku tanpa izin dan juga kaulah yang telah mencuri semuanya. Semua ruang yang ada di hatiku hingga tak tersisa. Jadi, aku mohon padamu! Cukup cintai aku dan hanya aku. Aku tidak ingin cinta yang hanya satu-satunya untukmu ini, dibalas dengan cinta sesaat. Aku mengharapkan cinta satu-satunya juga dari dirimu."


Terharu dan bahagia. Itulah yang Richard rasakan. Mendapatkan ungkapan hati sang istri yang meminta Richard untuk hanya mencintai dirinya.


Jika hanya permintaan itu, Richard sangat sanggup untuk menepatinya. Karena Richard pun merasakan hal yang sama. Ia sudah tak bisa lagi berpaling dari pesona ibu susu dari anaknya sendiri yaitu Elnan. Ia benar-benar terjebak begitu dalam, sampai-sampai enggan untuk melepaskan dirinya. Biarlah ia menjadi budak cinta asalkan hidupnya bahagia.


Richard pun meraih pipi Naya dan langsung mencium bibir Naya. Tak hanya mencium ia juga memberikan sedikit l*matan. Rasanya Richard sudah tidak sabar untuk mencetak gol lagi dan menghasilkan poin baru. Sayangnya, ketika ciuman terlepas, Naya mengingatkan kalau mereka belum bisa melakukan apa yang Richard mau.


"Tahan dirimu dan bersabarlah. Hari ini cukup bibir dulu. Jika kau menyentuh yang lain, kau sudah tidak bisa mengontrol hasrat dalam dirimu. Tunggu sebentar lagi," ucap Naya mengingatkan.


"Haah ... " Richard mend*sah kecewa.


"Sebagai gantinya, setelah pendarahan mu selesai. Kau harus memuaskan aku tiga kali lipat!" Pinta Richard yang tidak mau rugi.


"His! Pikiranmu ini isinya mesum terus!" gerutu Naya.


"Tidak apa. Asalkan mesum pada istri sendiri. Itu kan hal yang wajib dan malah diharuskan. Kita kan harus melestarikan spesies kita agar tidak punah dan tidak menjadi manusia langka," ucap Richard.


Ketika keduanya asik berpelukan sambil berbincang. Tiba-tiba pintu kamar mereka diketuk.


"Icad, Naya, kalian sudah tidur?" ucap sang mama dari luar pintu kamar.


"Belum ma," jawab Naya kemudian bangun dari posisi sebelumnya. Naya berjalan ke arah pintu dan membukanya.


"Ada apa ma?" tanya Naya.


"Ini, Elnan sepertinya ingin tidur bersama papa dan mamanya. Dari tadi ia terus merengek dan memanggilmu dan Richard," ucap sang mama mertua.


Naya menatap ke arah anak pertamanya yang digandeng oleh mama mertuanya.


"Ya sudah, aku akan membawa Elnan untuk tidur bersama aku dan Richard. Mama lanjut saja tidur."

__ADS_1


"Baiklah, jika nanti kau kerepotan menjaga semua anak-anakmu. Langsung teriak saja atau telepon mama. Mama tahu pasti anak mama itu bisanya membuat kehebohan dan tidak bisa menenangkannya," pinta sang mama mertua.


"Iya ma. Pasti Naya akan menelpon mama."


"Kalau begitu mama akan kembali ke kamar." Naya mengangguk kemudian menutup pintunya saat sang mama mertua sudah menjauh dari kamarnya.


Naya masuk ke dalam kamarnya dengan menggandeng sang anak yang begitu senang berada di dekat mamanya. Naya langsung mengangkat Elnan ke atas ranjang dan memposisikan Elnan di antara dirinya dan Richard.


Elnan kecil tersenyum bahagia. Ia bahkan berguling-guling ke arah Naya dan lalu berganti ke arah Richard. Elnan begitu senang untuk menarik perhatian keduanya.


Maafkan mama sayang, semenjak kehadiran adik-adikmu. Sepertinya kau merasa tidak diperhatikan. Mama janji, ke depannya nanti, mama tidak akan membeda-bedakan kalian dan akan membagi kasih sayang yang sama.


"Mama cu..cu," ucap Elnan tiba-tiba.


Richard yang mendengar itu langsung mendelik dan berusaha untuk menahan dirinya agar tidak tergoda dengan Naya yang sudah membuka bra nya dan langsung menyusui Elnan.


Astaga anak ini datang-datang langsung membuat hasrat ku naik! Padahal aku sudah bersusah payah menahannya!


Sementara Naya, ia tersenyum miring dan tertawa di dalam hatinya. Ia sangat menyukai ekspresi wajah Richard yang kesal dan berusaha untuk menahan hasratnya untuk tidak menerkamnya. Seperti ada kesenangan tersendiri yang didapatkannya.


"Kau jangan tergoda sayang. Dua buah ini bukan hanya milikmu tapi milik ketiga anakmu. Jadi kau harus berbagi."


"Haish!" Richard frustasi. Ia kemudian berbalik dan memunggungi Naya yang sedang menyusui Elnan. Ia berkomat-kamit sambil berusaha untuk menurunkan juniornya yang sudah menegang.


****


Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.


Jangan pelit-pelit untuk memberikan like dan vote nya geng 🤭 Supaya ceritaku popularitasnya semakin naik dan pembacanya semakin banyak. Kalau begitu kan aku jadi semangat nulis kelanjutan ceritanya.


Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.


Jangan lupa follow aku Ig ku ya

__ADS_1


@yoyotaa_


__ADS_2