
Di waktu yang sama di kediaman Kavindra, Naya sedang menidurkan Elnan. Ia menimang-nimang bayi kecil itu. Setelah sudah benar-benar terlelap, ia menaruh di box bayi Elnan. Ia pun meninggalkan bayi itu dan pindah ke kamarnya.
Rupanya Richard sudah menunggu kehadirannya dengan duduk di ranjang sambil menyilangkan kedua tangannya.
"Lama sekali, aku menunggumu sampai karatan tau!" kesal Richard. Naya menggelengkan kepalanya.
"Sama anak sendiri tidak usah cemburu. Dia lebih membutuhkan aku daripada dirimu," jawab Naya.
"Sayang, kenapa bicaramu pedas sekali? Aku juga membutuhkan dirimu tau. Aku butuh kehangatan mu dan butuh belaian mu. Kan kau sendiri yang bilang kalau aku adalah bayi besar mu," ucap Richard yang tidak mau diduakan dengan Elnan. Memang ada-ada saja laki satu ini.
"Kemari sayang, aku akan mendisiplinkan mulut mungil mu itu!" perintah Richard.
Naya pun mengikuti perintah Richard, ia berjalan mendekat ke ranjang. Ketika akan duduk di samping Richard, Richard malah menarik dirinya duduk di pangkuan Richard.
Naya pun melingkarkan kedua tangannya di leher Richard agar dirinya tidak jatuh.
Wajah mereka sangat dekat. Tatapan mata Richard begitu intens menatap setiap bagian yang ada di wajah Naya. Sebuah kecupan pun mendarat di bibir Naya.
"Kau akan mendapatkan hukuman ini dariku jika kau tidak menuruti keinginanku."
"Kau bilang ini hukuman? Helo? Ini bukan hukuman. Tapi kesenanganmu."
Rich terkekeh mendengar balasan kalimat dari Naya. Ia pun kemudian menceritakan apa yang ia sudah tanyakan pada dokter tadi pagi.
"Tadi aku sudah menanyakannya pada dokter. Katanya di usia kehamilan trimester pertama sebaiknya kegiatan suami istri dihindari apalagi mengeluarkannya di dalam. Jadi, aku berpikiran untuk mengeluarkannya di luar. Apa kau mau melakukannya sayang?"
"Aku sudah lelah. Bisakah kau membiarkan aku tidur saja malam ini?" tanya Naya yang benar-benar lelah.
"Bisa. Tentu saja bisa. Tetapi aku menginginkan sesuatu yang tak pernah kau ucapkan padaku," ucap Richard.
"Apa?" tanya Naya.
"Kau tahu Nay, selama aku menggoda mu dan menyatakan keinginan untuk menjadikanmu sebagai wanitaku, lalu kita berpacaran dan akhirnya menikah, kau tidak pernah mengucapkan bahwa kau mencintaiku. Aku ingin sekali mendengar ungkapan cinta dari mulutmu," pinta Richard.
__ADS_1
Naya menghela napasnya. Apa yang diucapkan Richard memang benar adanya. Dirinya pun mengakuinya. Entah kenapa kata itu sangat sulit terucap di mulutnya. Apakah ia sudah mencintai Richard yang kini sudah menjadi suaminya? Yang kini akan menjadi ayah dari anak yang dikandungnya?
Naya bertanya-tanya hal itu pada hatinya. Ia hanya merasa nyaman di dekat Richard meskipun tingkat kemesumannya itu berada di level paling atas. Ia merasa terlindungi karena Richard selalu berusaha menjaga dirinya ketika Richard berada jauh darinya.
Apa mengucapkan kata cinta itu penting? Bukankah dari tindakan saja sudah bisa mengetahui semuanya?
"Tidak semua cinta harus diutarakan lewat lisan. Ada kalanya cinta diberikan lewat tindakan," ucap Naya menanggapi permintaan Richard.
"Aku tahu akan hal itu sayang. Tapi tidak semua orang bisa paham dengan tindakan yang diberikan pasangannya. Aku bukanlah orang suka main tebak-tebakan. Isi kepala orang kan berbeda-beda. Bisa saja tindakan yang kau maksud dengan sebuah perhatian dan ungkapan cinta yang kau berikan padaku, justru aku menganggapnya hanya perhatian kecil biasa. Aku sudah capek dengan segala kerumitan di kantor, yang dimana aku harus menguras energi dan pikiranku untuk selalu fokus. Aku hanya ingin sedikit saja ungkapan cinta untukku. Apa tidak bisa?"
Naya mencerna semua ucapan Richard dengan baik. Namun, ia masih belum bisa mengucapkan kata cinta itu. Seolah-olah mulutnya masih terkunci.
Apa yang membuatku tidak bisa mengucapkannya?
Melihat Naya yang terdiam begitu lama. Richard akhirnya mengalah. Ia menurunkan Naya dari pangkuannya kemudian merebahkan dirinya di atas ranjang. Ia menepuk ranjang sebelahnya, meminta Naya untuk merebahkan tubuhnya juga di sampingnya.
"Jika kau tidak bisa mengucapkannya sekarang. Tak apa. Aku akan terus memintamu setiap malam untuk mengucapkan kata cinta itu untukku sampai kata cinta itu keluar dari mulutmu sendiri tanpa harus aku minta," ucap Richard sambil memeluk tubuh Naya yang sudah ada di sebelahnya. Ia juga memberikan kecupan-kecupan di kening dan kedua mata Naya.
"Maaf." Hanya kata ini yang Naya ucapkan.
Richard melihat ekspresi kekagetan di wajah Naya.
"Seharusnya kau tidak perlu kaget lagi sayang. Aku memang suka menyerang mu secara dadakan. Ada kesenangan sendiri ketika aku melakukannya," ujar Richard kemudian mencium bibir Naya. Kali ini bukan hanya menempel, namun Richard memberikan l*matan di dalamnya. Naya menerimanya dan membalas l*matan itu.
Lihat sayang, tubuhmu selalu saja bereaksi lebih cepat dari pada hatimu. Bagaimana aku tidak menyukaimu? Kau itu sudah sangat sempurna bagiku. Meskipun nantinya aku harus menunggu seribu tahun lamanya untuk mendengar ucapan cinta darimu, tak mengapa. Aku bisa sabar menantinya. Asal itu adalah dirimu. I love you my wife.
***
Rico membawa Nicolas ke rumahnya untuk beristirahat. Tidak mungkin ia membawa Nicolas ke apartemennya, bisa-bisa Denada justru akan melayangkan banyak pertanyaan padanya.
"Kau sungguh menyusahkan Nic! Aku tak habis pikir padamu, hanya mendengar wanita mu hamil saja kau sampai sebegininya, huh!" Rico menggerutu melihat Nicolas yang tertidur dengan tenang ketika Rico memapahnya masuk ke dalam kamar.
Rico menutup pintunya meninggalkan Nicolas sendirian di kamar. Ia melepaskan jaket yang melekat pada tubuhnya lalu duduk di sofa yang ada di ruang tamu.
__ADS_1
"Lagipula jika Denada hamil, itu justru berita yang sangat bagus. Richard pasti akan semakin sakit hati saat tahu wanita yang masih dicintainya tengah hamil dengan laki-laki lain. Apalagi jika Nico sampai melangsungkan pernikahan mereka. Richard pasti akan semakin terpuruk dan semua bisnis yang dikelolanya akan terbengkalai. Di saat itu, aku akan mencoba menolongnya dan mengambil alih semua kekuasaannya."
Benar-benar pemikiran yang cemerlang. Sebisa mungkin ia harus membujuk Nicolas untuk tidak menggugurkan janin yang ada di perut Denada. Ia tidak ingin melewatkan jackpot sebagus ini untuk meruntuhkan kekuasaan Richard.
"Lebih baik, aku mengirimkan pesan saja pada Denada. Daripada dia terus cemas dan nantinya kandungannya akan terganggu."
Rico menuliskan pesan dan langsung mengirimkannya pada Denada.
^^^Rico^^^
^^^Dena, Nicolas ada bersamaku. Dia baik-baik saja. Tadi dia ada pertemuan di club dengan klien nya sampai ia kehilangan kesadarannya. Jadi, lebih baik Nicolas bermalam di rumahku. Kau bisa istirahat dengan tenang.^^^
Denada
Baik, terima kasih Rico. Kau sudah mengabari aku tentang keadaan Nico. Tolong kau jaga dia sampai dia terbangun. Bilang juga padanya aku menunggunya di rumah.
^^^Rico^^^
^^^Oke, akan aku sampaikan jika ia sudah terbangun.^^^
Denada
Sekali lagi terima kasih Ric.
^^^Rico^^^
^^^Oke.^^^
Akhirnya pesan pun berakhir. Rico meletakkan ponselnya di meja. Ia menyandarkan kepalanya ke sofa. Lama kelamaan ia tertidur disana.
****
Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.
__ADS_1
Jangan pelit-pelit untuk memberikan like dan vote nya geng. Supaya ceritaku popularitasnya semakin naik dan aku jadi semangat nulis kelanjutan ceritanya.
Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.