
"Aku becanda. Aku juga masih memiliki hati untuk tidak membuatmu lemas dan kesakitan sayang. Tapi bolehkan jika kau sudah merasa baikan, aku menginginkannya lagi?"
Richard memang sudah tidak ada tandingannya. Selalu saja memiliki banyak alasan dan cara licik di kepalanya untuk memperdaya Naya dengan tipu muslihat dari mulutnya.
Naya mengangguk saja, sekeras apapun nantinya Naya menolak. Richard akan selalu menang darinya.
Sinar mentari sudah masuk ke celah-celah kamar mereka. Naya pun bergegas untuk bangun dari ranjang. Sayangnya, ia merasa perih dan sakit di kewanitaannya.
Dengan sigap, Richard langsung menggendong Naya ala bridal style. Keduanya masih polos tanpa mengenakan apapun. Naya mencoba menutupi tubuhnya.
"Tidak perlu kau tutup sayang, aku sudah melihat semuanya," ucap Richard sambil mencium bibir Naya.
Richard membawa Naya ke dalam kamar mandi. Ia membiarkan Naya untuk membersihkan tubuhnya terlebih dulu. Ada sedikit gairah yang muncul karena ia menggendong istrinya kulit bertemu kulit. Hanya saja, Richard berusaha menahannya. Karena melihat Naya yang begitu kesakitan.
Hampir setengah jam Naya berada di dalam kamar mandi, Richard cemas jika Naya pingsan disana. Ia pun mengetuk pintu kamar mandi tersebut.
"Sayang, kau baik-baik saja di dalam?"
"Iya, aku baik-baik saja," jawab Naya.
"Kalau begitu jangan lama-lama mandinya, aku takut kau pingsan di dalam."
Rupanya di dalam kamar mandi, Naya sedang berendam air hangat sambil memainkan busa dari sabunnya.
Tak lama kemudian, pintu pun terbuka, Naya keluar dengan mengenakan handuk yang menutupi dada hingga pahanya. Richard bernapas lega. Ia pun masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
***
Mama dan Ele sudah menunggu di meja makan untuk sarapan. Namun pasangan pengantin baru itu, belum turun juga dari kamar.
"Ma, apa semalam kak Richard dan kak Naya berhasil melakukan malam pertama mereka? Aku penasaran sekali dengan ekspresi wajah mereka pagi ini!" ucap Ele sambil mengetuk jarinya pelan ke meja.
"Kita lihat saja nanti, kalau memang mereka melakukannya, pasti akan terlihat perbedaannya," jawab Mama Helen.
Ele yang masih polos itu, tidak mengerti ucapan mamanya. Ia hanya mengangguk saja. Sebenarnya selama ini, ia hanya berpura-pura bar-bar agar tidak dikira polos. Padahal yang sebenarnya, Ele tidak tahu menahu tentang pacaran, ciuman, bahkan bercinta pun ia tidak tahu bagaimana melakukannya.
Setelah menunggu lama, pangeran dan puteri pun turun dari tangga dengan saling bergandengan tangan. Ele memperhatikan cara jalan Naya yang sedikit berbeda.
"Kak Naya, kok jalannya ngangkang begitu?" tanya Ele dengan polosnya.
__ADS_1
Mama kemudian membisikkan sesuatu ke Ele.
"Ini yang tadi mama maksud, Ele. Perbedaan cara jalan Naya itu membuktikan keduanya sudah melakukan malam pertama."
"WHAT!" teriak Ele yang kaget mendengar ucapan mamanya.
Ele bergidik ngeri melihatnya. Ada rasa kasian dengan kakak sepupu iparnya.
Sebenarnya apa saja yang dilakukan Kak Richard saat malam pertama? Kenapa ia sampe membuat kak Naya berjalan seperti itu? Benar-benar beringas.
"Pagi-pagi jangan teriak! Berisik tau!" omel Richard yang kemudian duduk berdampingan dengan Naya.
Mereka berempat pun sarapan bersama. Selesai itu, Richard pamit untuk berangkat ke kantor.
"Apa kau tidak ingin memberikan semangat untukku?" tanya Richard saat ia akan berjalan ke mobilnya.
"Semangat!" ucap Naya menyemangati Richard.
Richard terkekeh dibuatnya. Ucapan selamat seperti itu untuk anak kecil bukan untuknya yang sudah dewasa.
"Pemberian semangat untuk suami yang akan berangkat kerja itu seperti ini sayang," ucap Richard mendekatkan wajahnya ke wajah Naya. Ia langsung menyerang bibir Naya tanpa aba-aba terlebih dahulu.
Setelah merasa puas, Richard melepaskan tautan bibirnya.
Naya hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Ingin heran tapi itu Richard. Ia memang selalu seenaknya. Intinya Naya harus mempersiapkan diri saat Richard sudah tak terkendali lagi mode mesum dan bucinnya.
***
Richard memasuki kantornya, setelah memarkirkan mobilnya di halaman. Ia penasaran dengan apa yang akan dikatakan Ethan padanya.
Rupanya Ethan sudah menunggunya di lobi. Richard tak perlu susah payah menaiki lift untuk menuju ke ruangannya.
"Ada apa?" tanya Richard lalu duduk di hadapan Ethan.
"Aku hanya ingin memberitahukan sesuatu padamu. Kita akan mengadakan pertemuan di kantornya Nicolas ..."
Belum juga selesai bicara, Richard sudah memotongnya.
"Aku tahu itu, kau sudah mengingatkannya pagi tadi."
__ADS_1
"Dengar dulu, jangan memotong ucapan ku, Rich."
"Baiklah."
"Di kantor Nicolas ada Denada. Rupanya Denada yang menjadi model untuk brand pakaian kita yang akan launching minggu depan. Aku kaget saat mendengarnya. Pasalnya, tak ada pemberitahuan apapun dari pihak Nicolas sebelumnya tentang siapa yang akan menjadi modelnya," ucap Ethan yang sedikit panik. Ia melihat raut wajah Richard tampak biasa saja.
"Terus, masalahnya dimana?" tanya Richard heran kenapa Ethan sebegitu paniknya.
"Kau tidak protes kalau modelnya adalah mantan tunangan mu? Bisa saja, nantinya akan banyak gosip dan rumor buruk tentangmu," balas Ethan.
Sebenarnya yang Ethan takutkan bukanlah itu. Ia hanya menggunakan alasan itu sebagai alibinya saja.
"Aku tidak peduli, yang terpenting acara launching brand kita lancar dan sesuai rencana. Sudah, itulah yang aku pikirkan. Mau siapapun modelnya asalkan ia bisa bekerja dengan baik, aku tidak masalah."
Amazing. Itulah ungkapan bangga dan salut Ethan pada Richard. Pria itu benar-benar tak tergoyahkan hati dan perasaannya saat ia membahas tentang Denada. Padahal dulu, sebelum mengenal Naya. Richard selalu menanggapi dengan sedikit kesal dan amarah akan tetapi sekarang ia menanggapinya dengan biasa seolah tidak ada yang pernah terjadi di masa lalu.
"Ayo berangkat, keburu telat!" ajak Richard pada Ethan.
Keduanya pun meninggalkan kantor Richard menuju ke kantor Nicolas dengan Ethan yang mengemudikan mobil Richard.
Sesampainya disana, Nicolas menyambut Richard dan Ethan dengan ramah. Inilah yang ia tunggu-tunggu. Nicolas menginginkan Richard bertemu dengan Denada di kantor miliknya.
"Mari, aku ajak kalian berkeliling, semua persiapannya sudah mencapai 96 persen. Hanya tinggal menunggu beberapa perlengkapan yang akan dijadikan hiasan saja," ucap Nicolas.
Nicolas membawa Ethan dan Richard ke ruang pemotretan. Disana ada Denada yang sedang dirapihkan rambutnya ketika akan melakukan pemotretan. Ethan sudah agak panas dingin melihatnya. Ia melirik ke arah Richard. Laki-laki tersebut masih tampak biasa.
Aku penasaran dengan reaksi mu, Rich. Apa kau akan menyapanya, atau memohon untuk kembali padanya? Atau bahkan kau akan berpura-pura tak peduli?
Denada melihat ke sekelilingnya, saat rambutnya telah selesai dirapihkan. Ia begitu kaget saat melihat ada Richard di dalam satu ruangan yang sama dengannya.
"Ri-ricard ..." lirih Denada.
"Ba-bagaimana bisa? Padahal aku sudah bersusah payah untuk tak pernah lagi muncul di hadapannya," lirih Denada lagi.
***
Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.
Jangan lupa berikan like dan vote nya teman-teman.
__ADS_1
Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.
Kalian bisa juga memberikan dukungan untuk yoyo dengan menonton iklan yang ada di kolom pemberian hadiah.