Pesona Ibu Susu Baby Elnan

Pesona Ibu Susu Baby Elnan
Bab 87 - Penguntit


__ADS_3

Setelah siang harinya, Naya mengungkapkan rasa rindunya dengan malu-malu. Naya pun mengalihkan pembicaraan dengan meminta izin pada Richard untuk mengunjungi rumah ibunya. Naya rindu dengan ibunya dan juga ingin makan masakan ibunya. Richard pun mengizinkan dengan syarat Naya tidak boleh sendiri kesana. Alhasil, Naya mengajak Nani dan juga baby Elnan kesana. Mengapa bukan Ele? Karena Ele sedang ada mata kuliah. Jadi, ia tidak bisa menemani kakak sepupu iparnya itu.


Saat berada di rumah ibunya, Naya langsung memeluk sang ibu. Ibu Naya pun membalas pelukan anaknya sambil mengusap kepala Naya.


Setelah beberapa saat, pelukan itu pun terlepas.


"Sepertinya kau agak berisi sekarang, Nay. Apa sudah ada tanda-tanda?" tanya Ibu Naya yang memang belum tahu jika Naya tengah hamil.


"Iya ibu, aku sedang hamil sekarang. Ibu akan menjadi seorang nenek."


Mendengar jawaban sang anak, Ibu Naya terkejut dan bahagia. Ia langsung mengusap perut anaknya yang masih rata.


"Cucu nenek, kau jangan menyusahkan ibumu di dalam sana. Jadilah, anak yang nantinya menjadi kebanggaan untuk keluarga."


Naya terharu dengan harapan yang ibunya ucapkan.


"Ngomong-ngomong gejala apa saja yang sudah kau alami?" tanya ibu pada Naya. Naya menggeleng.


"Semua tanda-tanda kehamilan, Richard yang mengalaminya Bu. Di mulai dari muntah-muntah sampai mengidam," jawab Naya.


Sang ibu mengangguk-angguk. Memang ada yang seperti itu juga, si ibu yang hamil tapi suami yang merasakannya.


"Kau mau ibu masakan sesuatu? tanya sang ibu.


"Aku datang ke rumah salah satu alasannya adalah ingin makan masakan ibu," jawab Naya.


"Baiklah, tunggu sebentar." Naya pun mengangguk.


Sang ibu pun pergi ke dapur meninggalkan Naya, Nani dan Elnan di ruang tamu.


"Kau benar-benar sangat beruntung Nay. Punya suami kaya dan tampan. Ibu mertua yang baik. Dan satu lagi, ternyata kau punya seorang ibu yang begitu menyayangimu," puji Nani pada Naya.


Naya tersenyum membalas ungkapan pujian tersebut. Tidak ada yang salah dari perkataan tersebut. Hanya saja ada yang kurang. Suaminya bukan hanya kaya dan tampan, ia juga mesum dan posesif. Dua sifat itu perlu digarisbawahi.


****


Di kampus, Ele sedang sibuk mengerjakan tugasnya. Tiba-tiba ia mendapatkan banyak pesan dari kakak sepupunya.


^^^Sepupu Absurd^^^


^^^Ele!^^^


^^^Sehabis kau pulang kuliah, kau harus ke rumah mertuaku dulu.^^^


^^^Istriku sedang ada disana.^^^


^^^Kau harus jadi bodyguard nya selagi aku jauh darinya.^^^


^^^Tenang saja akan aku bayar kinerja mu.^^^

__ADS_1


^^^Mau mobil? Tas? Berlian? Semuanya akan aku kasih asal kau menjaga istriku agar tidak terluka sedikit pun.^^^


^^^Jika sampai dia terluka, habis sudah semua uang jajan mu dariku.^^^


^^^Aku juga akan meminta mama, mami dan papi untuk tidak memberikan sepeserpun uang padamu.^^^


^^^Paham, kan kau?^^^


^^^Kalau tidak paham, berarti kau bukan sepupuku.^^^


^^^Aku mau kerja lagi.^^^


^^^Bye!^^^


Ele hanya bisa melotot membaca pesan dari kakak sepupunya itu. Bukannya ia tidak bisa menjaga kakak sepupu iparnya. Hanya saja jika Naya terluka ketika dia tidak ada di samping kakak sepupu iparnya bagaimana? Apa hal tersebut akan menjadi salah Ele juga? Benar-benar ancaman yang tidak pernah Ele pikirkan.


"Suka-suka dia lah. Suami bucin dasar! Kenapa dia tidak menyewa seseorang saja sih untuk mengikuti kemana pun kakak ipar pergi ketika aku sedang kuliah!? Heran! Uang padahal sampai bejibun! Untuk menyewa bodyguard saja tidak bisa!"


Ele mencak-mencak kesal pada kakak sepupunya.


Akhirnya setelah beberapa jam, Ele pun selesai mengerjakan tugasnya dan langsung pergi ke rumah mertua kakak sepupunya.


Sayangnya, semua itu tidak berjalan mulus, mobil yang Ele kemudikan mogok di tengah jalan, posisinya ia sedang berada di daerah yang jauh dari pemukiman warga.


"Sial! Kenapa harus mogok segala sih!? Mana jauh dari rumah warga. Aku harus minta tolong pada siapa? Aku sama sekali tidak tahu apa yang salah dari mobilnya!"


30 menit kemudian, orang yang ditelpon Ele sampai dengan membawa orang yang ahli dalam bidang tersebut.


"Haah, syukurlah kau datang kak." Ele bernapas lega.


"Kalau kau tidak datang, bisa-bisa aku diteror oleh kak Richard karena tidak langsung ke rumah mertuanya," ujar Ele cerita pada Alex.


"Pasti dia akan mengerti jika kau cerita alasannya," balas Alex.


"Ya kuharap begitu." Ele mengucapkan itu sambil mengambil botol minum yang ada di tas nya. Ia pun meminum dengan beberapa tegukan.


***


Sementara di sisi Naya. Ia sudah kenyang memakan masakan ibunya. Begitu juga dengan Nani.


"Masakan ibu memang tidak ada duanya. Aku selalu tidak bisa untuk tidak tergoda dengan sajian yang ibu siapkan," ucap Naya pada ibunya.


"Ibu senang jika memang seperti itu. Sepertinya Elnan lelah, baringkan saja dia di kamar, Nay!" pinta sang ibu ketika melihat cucunya sudah mengantuk.


"Lain kali saja ibu, aku sudah harus pulang. Aku hanya izin pergi sebentar pada suamiku. Nanti juga di dalam mobil pasti Elnan akan nyenyak tidurnya," jawab Naya.


"Baiklah, kau hati-hati di jalan. Bilang pada supir mu untuk pelan mengendarai mobilnya," saran sang ibu. Naya mengangguk. Ia pun berpamitan pada ibunya, Nani juga begitu.


Setelah duduk di mobil, Naya melambaikan tangannya pada sang ibu. Lalu kaca mobil itu pun tertutup.

__ADS_1


Di perjalanan, bayi kecil itu benar-benar tertidur dengan pulasnya di pangkuan Nani. Saat Naya terfokus pada anak sambungnya, tiba-tiba sang sopir memberhentikan mobil secara mendadak.


Naya kaget dong.


"Ada apa pak?" tanya Naya yang penasaran.


"Itu di depan ada mobil yang tiba-tiba berhenti Nona. Jadi saya refleks menginjak rem mendadak. Sekali lagi saya minta maaf Nona," ucap sang sopir.


"Baiklah, tidak apa-apa. Aku akan keluar dan menanyakan pada si pengemudi di depan." Naya berinisiatif untuk keluar.


"Jangan Nona! Biar saya saja!" larang sang sopir.


"Tidak, biar aku saja. Kau tunggulah di dalam," pinta Naya.


Alhasil, sang sopir pun mengikuti perintah majikannya. Naya keluar dari mobil dan berjalan menuju ke sebuah mobil yang berhenti di depan mobilnya.


Naya mengetuk pelan kaca mobil tersebut. Orang yang ada di dalam mobil langsung menurunkan kaca mobilnya dan Naya bisa melihat siapa yang ada di dalam mobil tersebut.


"Kau? Kau yang kemarin di toko bunga kan?" tanya Naya. Lelaki itu pun mengangguk dan langsung membuka pintu mobilnya. Ia keluar dari mobil dan berdiri di depan Naya.


"Mobilmu kenapa? Apakah mogok? Sehingga kau tiba-tiba saja berhenti di depan mobilku?" tanya Naya lagi.


"Tidak, aku hanya ingin melihatmu!" jawab si lelaki.


"Hah?" Naya tidak percaya dengan ucapan lelaki yang ada di depannya.


"Jangan berbicara asal!" ujar Naya.


"Aku tidak berbicara asal. Memang aku berhenti di depan mobilmu karena ingin melihatmu. Aku sedari tadi mengikuti kemana pun kau pergi."


Lagi-lagi jawaban laki-laki yang ada di depannya membuat Naya terperangah tak percaya. Untuk apa ia mengikutinya?


"Jadi, kau menguntit ku?" tanya Naya lagi.


"Ya," jawab laki-laki itu singkat.


"Kau gila!" umpat Naya di hadapan laki-laki itu, kemudian hendak berbalik menuju ke mobilnya. Namun, tangannya tiba-tiba dicekal oleh lelaki itu.


***


Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.


Jangan pelit-pelit untuk memberikan like dan vote nya geng 🤭 Supaya ceritaku popularitasnya semakin naik dan pembacanya semakin banyak. Kalau begitu kan aku jadi semangat nulis kelanjutan ceritanya.


Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.


Jangan lupa follow aku Ig ku ya


@yoyotaa_

__ADS_1


__ADS_2