
Keesokan harinya, Richard diharuskan untuk bertemu dengan Rico untuk membahas kerjasama yang mereka lakukan. Sebenarnya Richard sudah tidak sabar ingin membongkar semua kebusukan Rico, hanya saja ia harus menahan dirinya hingga apa yang ia rencanakan terealisasi dengan sempurna.
Di ruang meeting perusahaan Richard, Rico beserta asistennya datang membawa beberapa laporan baru mengenai progres dari proyek yang mereka lakukan bersama. Richard tampak serius melihat isi dari laporan tersebut. Ia tidak ingin kecolongan lagi.
"Kenapa biaya produksinya jadi bertambah? Bukankah dari hasil perhitungan kemarin semuanya sudah pas dan tidak ada yang perlu ditambahkan lagi?" tanya Richard untuk mengetes Rico.
"Supplier yang biasanya tidak bisa kita harapkan lagi, Rich. Mereka membohongi kita. Jadi, aku mencari supplier lain sebagai alternatifnya," jawab Rico.
"Benarkah begitu? Kenapa kau tidak konfirmasi dulu denganku?" tanya Richard lagi.
"Aku lupa waktu itu. Lagipula semuanya sudah aku urus sebaik mungkin. Nominal segitu mah mudah bagimu, Rich," ucap Rico membuat alibi.
"Bukan masalah mudahnya uang segitu aku keluarkan. Tapi, sebagai seorang pebisnis aku akan mengeluarkan uang sesuai dengan apa yang dibutuhkan dan sesuai yang direncanakan. Jika tidak bisa, seharusnya carilah harga yang sama dan kualitas yang sama. Jika di setiap bisnis kita tidak bisa memaksimalkan modal yang ada, yang ada kita merugi dan bangkrut. Harusnya kau tau itu, Rico. Kau juga sudah berkecimpung lama di dunia bisnis. Kali ini aku sungguh kecewa denganmu."
Setelah mengatakan itu, Richard lalu keluar dari ruang meeting dan kembali ke ruangannya diikuti Leon di belakangnya.
"Sialan! Dia benar-benar ingin merendahkan ku!" kesal Rico sambil menggebrak meja.
"Tenang bos," ujar sang asisten mencoba menenangkan bosnya.
"Kau pikir aku bisa tenang, hah!? Dari dulu dia selalu seperti itu! Seolah-olah dia adalah orang yang paling bisa segalanya!"
Rico keluar dari ruangan meeting dengan emosi yang begitu menggebu-gebu. Ia benar-benar ingin melenyapkan nyawa Richard sekarang juga.
****
Setelah seminggu lebih menghilang dari penglihatan Denada, Nicolas akhirnya terlihat di ruangannya. Denada tampak mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka. Lelaki yang dicintainya itu tengah serius membaca berkas yang ada di atas mejanya.
"Akhirnya aku bisa melihatmu juga. Aku senang kau tampak sehat dan tidak terlihat stres seperti aku," lirih Denada.
"Aku harap kau akan pulang ke apartemen. Aku merindukanmu Nic. Bukan cuma aku, tapi calon bayi di kandunganku juga," lirihnya lagi.
Denada pun berjalan menjauh dari ruangan Nicolas. Ingin sekali rasanya ia masuk ke dalam dan memeluk Nicolas seperti biasanya. Namun, ia harus mengumpulkan tenaga dan menyiapkan batinnya jikalau Nicolas kembali mengucapkan jika ia tidak mencintainya dan tidak mengharapkannya kembali. Denada perlu waktu untuk menyiapkan semua itu.
__ADS_1
Karena sedikit melamun, Denada tak sengaja menabrak seseorang.
Dug!
"Ah, maaf, maaf, aku tidak sengaja," ucap Denada tanpa melihat wajah orang yang ia tabrak.
"Tidak masalah," jawab laki-laki itu.
Denada seperti mengenal suara itu, ia pun menatap orang yang ditabraknya. Benar saja, rupanya orang tersebut adalah Ethan, salah satu sahabat Richard.
"E-ethan," ucap Denada.
"Ya, ini aku. Lama tidak berjumpa," balas Ethan senatural mungkin. Padahal nyatanya, Ethan selalu tahu kabar terbaru tentang Denada dan sebenarnya ia membenci wanita yang ada di hadapannya.
"Kalau begitu, aku duluan. Aku ada urusan," ucap Ethan yang berjalan ke ruangan Nicolas.
"Ethan, tunggu!" Denada mengejar Ethan yang sudah agak jauh dari tempatnya berdiri.
Denada meraih pundak Ethan, membuat lelaki itu menengok dan bertanya, "Ada apa?"
Ethan mengernyitkan alisnya. Ia tampak mengamati raut wajah Denada. Ia harus memastikan dan menebak apa yang akan dilakukan Denada jika ia bertemu Richard. Jika itu akan membuat Richard kesal atau mengingat masa lalunya lagi, Ethan tidak akan melakukan hal itu.
Melihat, keraguan di wajah Ethan, Denada sadar, jika ia sudah sangat membuat Richard beserta sahabatnya berpikiran buruk tentangnya dan membenci dirinya. Denada pun mengakui, jika apa yang ia lakukan dulu benar-benar sangat buruk dan begitu menyakitkan.
"Aku bukan ingin kembali padanya. Aku hanya ingin bicara dan menjelaskan semuanya. Aku merasa bersalah dan ingin meminta maaf padanya," ucap Denada dengan sejujur-jujurnya.
"Baguslah, jika kau sudah menyadarinya dan tidak ingin kembali padanya. Tapi maaf, aku tidak bisa mempertemukan mu dengan Richard. Jika kau bersungguh-sungguh merasa bersalah dan ingin meminta maaf. Temui dia langsung atau datang ke kantornya. Tentu kau tidak lupa dimana kantornya, bukan?"
"Ya, aku tahu," lirih Denada. Ethan pun berjalan lagi menuju ruangan Nicolas, meninggalkan Denada yang masih berdiam di posisinya.
"Apakah aku harus kesana? Bagaimana jika dia tidak mau bertemu denganku? Terakhir kali aku bertemu dengannya pun, ia tampak ketus dan dingin padaku. Aku benar-benar seperti angin lalu baginya. Jika begitu, masih adakah kata maaf untukku?"
****
__ADS_1
"Hoek ... hoek ... hoek ..." Richard memuntahkan isi perutnya ke wastafel. Ia benar-benar lemas karena terkena sindrom couvade ini.
Leon berlari masuk ke dalam ruangan bosnya dan membawakan minyak kayu putih untuk Richard.
Ketika Leon akan mendekat padanya, Richard langsung memarahi Leon dan menyuruhnya menjauh.
"Leon! Kau jangan dekat-dekat denganku! Aku tidak suka dengan benda yang kau pegang itu! Membuatku semakin mual saja! " marah Richard kemudian memuntahkan lagi isi perutnya.
"Duh! Bagaimana ini? Kalau dibiarkan terus, bisa-bisa bos kalap lagi seperti dulu. Apa aku telpon Nona Naya saja? Atau Tuan Alex?"
Leon pun akhirnya memilih untuk menelpon Naya. Ia menceritakan bosnya yang muntah-muntah dan tidak ingin didekati olehnya karena bau kayu putih.
Sekitar dua puluh lima menit, Naya pun sampai di perusahaan Richard. Ia langsung pergi ke ruangan Richard.
Sampai sekarang para pegawai perusahaan Richard belum ada yang tahu jika Naya adalah istri bos mereka. Yang mereka tahu, Naya adalah wanita yang kini dekat dengan bos mereka dan wanita yang diperbolehkan masuk kapan pun ke ruangan Richard tanpa perlu izin dari bos mereka.
"Akhirnya nona datang juga," ucap Leon dengan leganya saat melihat istri bosnya sudah tiba.
"Bos Richard ada di kamar mandi Nona. Sedari tadi dia tidak berhenti mual dan memuntahkan isi perutnya," jelas Leon.
Naya menghampiri Richard. Richard yang melihat istrinya datang ke kantornya langsung memeluk wanita itu.
"Hhh, nyamannya. Rasanya hanya dengan memelukmu, semua mual ku hilang," ucap Richard dengan suara lemas.
"Mau pulang?" tanya Naya. Richard menggeleng.
"Pekerjaanku masih banyak. Tapi mual ini tiba-tiba saja datang. Kau temani aku saja disini," pinta Richard sambil menyembunyikan kepalanya di bahu istrinya.
Naya menghela napas pasrah. Ia tidak tega jika harus meninggalkan Richard dengan keadaan lemas dan tak berdaya. Lagipula di rumah masih ada mama mertuanya dan Ele yang bisa menjaga Elnan. Kini dirinya harus mengurus dan menjaga bayi besarnya.
***
Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.
__ADS_1
Jangan pelit-pelit untuk memberikan like dan vote nya geng 🤠Supaya ceritaku popularitasnya semakin naik dan pembacanya semakin banyak. Kalau begitu kan aku jadi semangat nulis kelanjutan ceritanya.
Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.