Pesona Ibu Susu Baby Elnan

Pesona Ibu Susu Baby Elnan
Bab 131 - Berdamai


__ADS_3

Waktu terus berjalan, tak terasa usia Ansel sudah menginjak satu tahun. Di dalam setahun itu pula, Denada bahu membahu membangun usaha online shop nya tentunya dibantu oleh Ethan dan Sari. Tak hanya itu, rupanya Naya pun sudah mulai akrab dengan Denada. Bagi Naya masa lalu antara Richard dan Denada sama sekali tidak berhubungan dengannya. Lagipula, lebih baik berteman daripada saling bermusuhan.


Di toko kecil milik Denada, Naya berkunjung dengan membawa kedua anak kembarnya tentunya ia membawa Nani juga untuk bersamanya. Sementara Elnan, ia sedang jalan-jalan bersama mama Helen.


"Nay, terima kasih sudah mau berteman denganku. Padahal dulu aku jahat sekali pada Richard," ucap Denada.


"Yang lalu biarlah berlalu. Masa lalu itu ada untuk dijadikan pelajaran. Karena sekarang kita berada di masa kini, jadi fokus saja pada masa depan. Yang terpenting kau sudah meminta maaf dan berusaha untuk berubah," jawab Naya menanggapi.


"Richard beruntung memilikimu, Naya."


"Tidak, kami berdua sama-sama beruntung. Sudah jangan bahas itu lagi. Ini mana lagi yang harus di-packing?" tanya Naya.


"Yang dipojok kanan sama sebelahnya."


"Oke."


Keduanya fokus pada kegiatannya masing-masing. Mumpung bayi-bayi mereka sedang asik tidur, kedua mama muda ini dengan cekatan menyelesaikan pekerjaan mereka.


Mengenai keakraban Naya dan Denada, awalnya Richard sangat tidak suka, akan tetapi karena istrinya itu sangat senang bisa berteman dengan Denada, jadinya ia tak pernah melarang Naya lagi. Lagian dirinya sudah berdamai dengan masa lalu. Tak ada lagi yang perlu ia takutkan mengenai Denada.


Denada sendiri, ia merasa hidupnya lebih bahagia ketika ia berdamai dengan dirinya sendiri, masa lalunya dan juga luka di hatinya. Semuanya terasa ringan ketika ia menghilangkan semua luka itu dengan seiring berjalannya waktu.


Namun, ada beberapa orang yang belum berdamai dengan masa lalunya Rico dan Nicolas. Rico masih menyimpan dendam di hatinya pada Richard. Ia masih belum terima dengan kenyataan yang sudah terjadi. Sedangkan Nicolas, ia sudah menerima semua yang terjadi akan tetapi ia masih menyalahkan dirinya sendiri dan membenci dirinya yang dulu jahat. Ia masih berusaha berdamai dengan menjadi pribadi yang lebih baik.


Setelah dinyatakan bebas dua bulan yang lalu, Nicolas kembali membangun bisnisnya. Mengenai Denada yang ia cari keberadaannya diam-diam, sudah ia temukan. Hanya saja, ia belum mau muncul di hadapan Denada karena mengingat perkataannya yang dulu sangat kasar dan tidak mengakui anaknya. Ia ingin menyiapkan dirinya dulu untuk siap menerima respon apa yang akan Denada berikan nantinya.


Nicolas juga berhasil mencuri foto anaknya diam-diam. Ia memperhatikan wajah anaknya yang benar-benar mirip dengannya bak pinang dibelah dua.


"Kau memang anakku. Berapa bodohnya aku dulu berpikir bahwa kau bukan anakku. Dengan teganya aku tidak mengakui mu dan mencampakkan mamamu. Kini aku menyesali semuanya. Akankah kita bisa bersama?"


Nicolas bertanya-tanya sambil memandangi foto anaknya yang ada di ponselnya. Ia tersenyum akan tetapi meneteskan air matanya. Hatinya benar-benar terluka.


"Papa janji akan menjemputmu dan mama mu untuk pulang. Tunggu sebentar lagi, papa ingin jadi papa terbaik untukmu."


****

__ADS_1


Di perusahaan, Richard, Ethan dan Alex berkumpul di ruangan Richard. Mereka bertiga menikmati masa-masa bersama mereka tanpa hadirnya istri-istri mereka.


"Ternyata kehidupan rumah tangga itu sulit. Aku sering kewalahan menghadapi sikap Ele yang tiap harinya selalu meledak-ledak. Aku seperti sedang berjuang untuk meredamkan ledakan itu," curhat Alex.


"Aku juga, aku sering diomeli oleh Sari karena terus-terusan menaruh barang asal-asalan. Bahkan aku sering tidur di luar ketika Sari kesal padaku," curhat Ethan sambil menaruh salah satu tangannya di dagu.


Di antara pasangan mereka bertiga. Sepertinya Richard yang paling beruntung. Karena Naya orangnya tidak mudah marah seperti Ele, jika memberitahu Richard pun pasti dengan perkataan yang lembut tidak mengomel seperti Sari. Namun satu hal yang Richard permasalahkan. Dirinya merasa diabaikan. Terkadang Naya terlalu cuek pada Richard.


"Lebih baik begitu, daripada aku merasa diabaikan di rumah. Naya terlalu fokus pada anak-anak. Aku kan juga ingin disayang-sayang." Kini giliran Richard yang mengutarakan isi hatinya.


Setelah mengeluarkan isi hati mereka masing-masing. Mereka pun sama-sama tertawa. Aneh rasanya. Dulu ketika mereka sama-sama masih menjomblo, mereka curhat ingin segera mendapatkan pasangan. Kini setelah mendapatkan pasangan, mereka merasa terjebak dalam sebuah hubungan yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.


****


Hari terus berganti, Nicolas akhirnya memberanikan dirinya untuk mengunjungi rumah Denada. Bermodalkan mental baja dan permintaan maafnya.


"Tok ... tok ... tok ..."


Suara ketukan pintu yang diketuk oh Nicolas. Tak lama kemudian Denada membukakan pintu tersebut dan terkejut melihat siapa yang datang ke rumahnya. Ia kemudian langsung ingin menutup pintu rumah kembali. Sayangnya, Nicolas berhasil menghalau pintu tersebut.


"Tidak, aku tidak mau bicara denganmu. Silahkan kau pergi dari rumah ku!" teriak Denada.


"Jangan teriak-teriak nanti orang berpikir aku melakukan sesuatu yang buruk padamu!"


"Biarkan saja, biar kau sekalian masuk penjara lagi," sahut Denada lagi.


Nicolas pun melepaskan pegangan tangannya dari pintu. Bukannya pergi ia malah duduk di kursi yang ada di teras rumah Denada.


"Jika kau tidak ingin aku masuk ke dalam, setidaknya kita bisa bicara disini. Ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan. Tolong, hanya meminta waktumu tidak lama. Aku ingin berdamai dengan semuanya."


Denada akhirnya melunak ketika mendengar ucapan Nicolas yang ingin berdamai. Ia juga sudah lelah terus-terusan mengingat lukanya yang diberikan oleh Nicolas, setidaknya dengan bicara dengan Nicolas, luka tersebut akan memudar dan akhirnya lenyap.


Kini keduanya sudah duduk berhadapan. Nicolas menghela napas terlebih dahulu sebelum memulai ucapannya.


"Aku datang kesini untuk meminta maaf padamu atas apa yang sudah terjadi di masa lalu. Semua kejahatan ku, kebr*ngsekan aku, segala hal buruk dariku yang menorehkan luka yang cukup mendalam padamu. Aku sadar, aku tidaklah pantas menerima maafmu. Tapi asal kau tahu, aku selalu dihantui banyak penyesalan selama aku mendekam di penjara. Suara tangis bayi yang terus terdengar ketika aku tidur. Mimpi buruk yang terus terjadi dan berakhir pada aku yang menyesali semuanya. Yang terpenting aku sudah mengatakannya, bagaimana tanggapan mu aku pasrah," jelas Nicolas.

__ADS_1


Saat Nicolas berbicara, Denada terus memperhatikan mata Nicolas, karena kata orang jika ingin mengetahui seseorang berkata bohong atau tidaknya, lihatlah dari sorot matanya dan kini yang terlihat oleh Denada adalah sebuah kejujuran dan penyesalan.


"Aku memaafkanmu," jawab Denada.


"Akan tetapi tidak mudah untuk melupakan dan mengikhlaskan apa yang sudah terjadi," tambah Denada.


Mendengar ucapan penerimaan maaf dari Denada membuat hati Nicolas senang. Sebuah senyum tipis pun terbentuk di bibirnya.


"Terima kasih. Aku benar-benar senang kau sudah memaafkanku. Rasanya lega sekali."


Tiba-tiba suara tangis bayi terdengar. Denada meninggalkan Nicolas di depan sendirian. Ia masuk ke kamarnya dan mencoba menenangkan sang anak yang terbangun dari tidurnya. Biasanya ia akan berhenti menangis ketika diberikan ASI.


Delapan menit pun berlalu, Denada tak kunjung kembali ke depan. Akhirnya Nicolas masuk ke dalam rumah Denada tanpa persetujuan sang pemiliknya. Ia mencari keberadaan wanita itu. Salah satu pintu kamar terbuka, Nicolas langsung masuk tanpa permisi terlebih dulu.


Denada menjadi kaget dan langsung berbalik. Posisinya saat itu Denada masih menyusui Ansel dan Nicolas melihat itu.


Sama halnya dengan Nicolas ia juga langsung berbalik dan mengucapkan kata maaf lagi.


"Maaf aku tidak tahu kau sedang menyusui. Soalnya kau lama sekali tidak keluar-keluar, jadinya aku masuk ke dalam rumahmu dan ketika melihat pintu kamar terbuka, aku langsung saja masuk tanpa mengucapkan permisi. Sekali lagi maaf."


Bayi Ansel sudah kenyang menyusunya. Denada pun berniat untuk membawa Ansel ke ruang keluarga agar Ansel bisa bermain di tempat yang sedikit luas.


"Sudahlah lupakan. Kau tidak ingin keluar dari kamarku? Aku ingin keluar dan bermain bersama anakku," ucap Denada.


Mendengar Denada hanya mengucapkan Ansel adalah anaknya saja, hati Nicolas merasa teriris. Memang pada kenyataannya ia tidak pernah mengambil perannya sebagai seorang papa selama ini.


****


Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.


Jangan pelit-pelit untuk memberikan like dan vote nya geng 🤭 Supaya ceritaku popularitasnya semakin naik dan pembacanya semakin banyak. Kalau begitu kan aku jadi semangat nulis kelanjutan ceritanya.


Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.


Jangan lupa follow akun Ig ku ya

__ADS_1


@yoyotaa_


__ADS_2