
Tak ada lagi yang bisa ia pertahankan saat ini selain bayi yang dikandungnya. Laki-laki yang ia cintai, tidak bisa ia genggam lagi. Yang tersisa hanyalah rasa penyesalan, sakit hati dan cinta yang begitu mendalam pada laki-laki itu.
"Sekarang kita hanya berdua, nak. Mama janji akan membuat hidupmu bahagia tidak seperti mama yang hidup dengan penyesalan," ujar Denada sambil memegang perutnya yang masih datar.
"Sebelum kita memulai hidup yang baru di tempat yang baru. Mama ingin mengakhiri segala penyesalan ini pada seseorang yang dulu pernah mama sakiti," ujar Denada yang mengajak ngobrol janin yang ada di perutnya.
Denada pun melajukan mobilnya ke kediaman Kavindra. Ia sudah bertekad untuk meminta maaf pada Richard. Ia ingin memulai kehidupan barunya dengan suasana hati yang tenang dan tidak memikirkan masa lalunya.
Sesampainya di depan kediaman Richard, ia begitu gugup karena sudah lama sekali ia tidak menginjakkan kaki di rumah laki-laki yang telah ia sakiti.
"Apa kehadiranku akan diterima olehnya?" Denada bertanya sambil menatap rumah itu di balik gerbang yang masih tertutup.
Keluarlah sang satpam rumah Richard, ketika melihat mobil yang terus berada di depan rumah Richard. Si pengemudi tak turun sama sekali, menimbulkan kecurigaan darinya.
"Tok ... tok ... tok ... "
Si satpam mengetuk kaca mobil Denada. Denada pun menurunkan kaca mobilnya.
"Nona Denada?" ucap si satpam yang begitu terkejut.
"Ya, ini aku pak. Apa aku boleh masuk?" tanya Denada dengan penuh harap.
"Sebentar, saya telepon tuan dulu," jawab si satpam kemudian kembali ke pos nya dan langsung menelpon Richard menggunakan telepon.
Tak lama kemudian, si satpam kembali dengan membukakan pintu gerbang untuk Denada.
Denada menghela napas lega. Setidaknya Richard masih bisa ia ajak berbicara, terbukti jika Richard mengizinkannya untuk memasuki kediamannya.
Setelah sampai di halaman, Denada keluar dari mobilnya dengan was-was. Ia berjalan hingga menuju pintu utama. Baru saja akan mengetuk pintu tersebut, Richard sudah membukanya lebih dulu. Rupanya ia tidak sendiri, ada seorang wanita di sampingnya.
Denada bertanya-tanya mengenai wanita yang ada di samping Richard.
Bukankah dia wanita yang ada di restoran waktu itu? Sebenarnya apa hubungan di antara mereka berdua?
"Silahkan masuk," sambut Naya dengan ramahnya.
__ADS_1
Benar-benar membuatnya penasaran. Namun, Denada tak ingin mencampuri hubungan Richard, ia datang untuk meminta maaf bukan untuk mencari tahu tentang Richard.
"Mau minum apa?" tanya Naya menawarkan.
"Tidak perlu, aku hanya datang sebentar," jawab Denada.
"Baiklah."
Sedari tadi Richard tak membuka suaranya. Kemudian satu cubitan melayang di pinggang Richard dari Naya.
"Aww, sakit sayang," ucap Richard yang merasa kesakitan.
Sayang?
"Ada tamu, kenapa kau diam saja? Bukankah tadi katamu dia adalah mantan tunangan mu? Pasti ada sesuatu yang mau dia katakan hingga malam-malam begini dia kesini," ucap Naya hingga membuat Denada terkejut.
"Iya, iya," balas Richard sambil memegang bekas cubitan Naya.
Sepertinya wanita itu adalah wanita spesial di hati Richard. Richard bahkan tidak marah ketika ditegur seperti itu.
Richard benar-benar tidak ingin lagi mengingat masa lalu kelam itu. Sudah cukup semuanya. Ia hanya ingin menata masa depan bersama wanita yang ada di sampingnya.
"Apa kau yakin?" tanya Denada.
"Ya, biarkan saja aku hanya tahu kau meninggalkanku demi kariermu," jawab Richard.
Hal itu membuat Denada menegang. Dari cara bicara Richard saja, Denada sudah yakin, sebenarnya Richard sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik itu semua.
"Baiklah, jika kau tidak mau mendengar penjelasan ku. Aku datang untuk meminta maaf padamu. Sepertinya aku mendapatkan balasan yang setimpal akan perbuatan ku dulu," ucap Denada dengan sungguh-sungguh.
"Jadi, kau meminta maaf karena sudah mendapatkan balasan dari Tuhan? Bukan karena kau merasa bersalah padaku?"
"Aww, sakit sayang. Kenapa aku dicubit lagi sih?!"
"Kau jangan seperti itu, dia bersungguh-sungguh meminta maaf padamu. Aku bisa melihatnya dari sorotan matanya. Ia tampak menyesal dan sedang bersedih hati," bisik Naya pada Richard.
__ADS_1
"Mungkin apa yang kau katakan ada benarnya. Tapi aku bersungguh-sungguh meminta maaf padamu. Semua kesalahanku di masa lalu benar-benar membuatmu terluka," ucap Denada lagi sambil meremas jemari tangannya.
"Tidak usah kau lanjutkan lagi. Aku sudah memaafkan mu. Seharusnya aku berterimakasih padamu. Karena jika kau tidak meninggalkanku, aku tidak mungkin akan bertemu dengan wanita yang ada di sebelahku," ujar Richard yang berterima kasih sambil mengecup tangan Naya.
Bukan Richard namanya jika tidak bisa membuat orang iri akan kebucinannya.
Bahkan kau kini benar-benar telah bahagia. Lalu dimanakah kebahagiaanku?
"Terima kasih, aku merasa lega sekarang. Dengan begitu aku akan meninggalkan kota ini dengan tenang. Jika aku boleh bertanya, siapa wanita yang duduk di sebelah mu?"
Richard tampak mengernyitkan alisnya. Terdapat kalimat ambigu dalam ucapan Denada. Namun, ia tak menghiraukannya. Toh, tidak ada hubungannya dengan dirinya.
"Dia adalah Naya, istriku," jawab Richard sambil menatap Naya begitu dalam.
Hanya dengan sebuah tatapan saja, Denada sudah tahu jika wanita yang ada di samping Richard adalah wanita yang begitu Richard cintai. Hanya saja Denada tidak tahu hubungan sebenarnya di antara keduanya. Kini akhirnya ia tahu. Rupanya wanita itu adalah pemilik singgasana hati Richard.
"Kau beruntung Nay. Aku harap kau tidak menyia-nyiakan laki-laki seperti Richard sepertiku," ucap Denada pada Naya.
"Kau salah jika berkata seperti itu. Disini akulah yang beruntung memilikinya," ucap Richard meralat ucapan Denada.
Denada merasa iri dengan kebahagiaan Richard dan Naya yang terlihat oleh matanya. Keduanya begitu serasi, meskipun ia bisa melihat jika yang dominan mencintai adalah Richard. Namun, itu lebih baik daripada dirinya yang mencintai akan tetapi dicampakkan.
"Kalau begitu aku pamit. Semoga kalian selalu berbahagia."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Denada benar-benar pergi dari rumah Richard. Ia menyelusuri jalanan yang sepi. Kemudian ia pun memberhentikan mobilnya di sebuah bukit.
"Selamat tinggal cinta. Aku menguburnya disini bersama luka yang aku dapatkan. Semoga kau bisa berbahagia Nic. Aku akan menjaga anak kita dengan baik. Karena hanya ini yang tersisa dari dirimu. Biarkan aku mencintainya seperti aku mencintaimu. "
***
Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.
Jangan pelit-pelit untuk memberikan like dan vote nya geng 🤠Supaya ceritaku popularitasnya semakin naik dan pembacanya semakin banyak. Kalau begitu kan aku jadi semangat nulis kelanjutan ceritanya.
Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.
__ADS_1