Pesona Ibu Susu Baby Elnan

Pesona Ibu Susu Baby Elnan
Bab 44 - Fitting Baju Pengantin


__ADS_3

"Kak Richard, Kak Naya kalian sudah siap-siap belum? Aku udah menunggu kalian di bawah dari tadi, huh!" Ele berteriak kesal karena Naya dan Richard tak kunjung turun dari kamarnya.


Ia menunggu di ruang tamu sambil menyandarkan tubuhnya ke sofa. Sesekali ia memainkan ponselnya dan melihat sosial media miliknya.


"Mereka yang mau nikah, kenapa jadi aku yang bersemangat?" Ele bermonolog pada dirinya sendiri karena terheran-heran.


Sementara yang ditunggu, Naya dan Richard sedang berada di satu ruangan. Naya yang baru selesai mandi lupa membawa handuknya. Posisinya Richard sudah masuk ke kamar Elnan. Naya tidak mungkin keluar dari kamar mandi bertelanjang karena itu bisa membuat g*irah Richard tak terkendali lagi. Akhirnya Naya memutuskan untuk meminta tolong pada Richard.


"Rich, bisa tolong ambilkan handuk yang menggantung di tembok dekat lemari," pinta Naya.


"Jangan bilang kau lupa membawa handuk sayang."


"Iya. Lagian kenapa kau masuk ke kamar tanpa mengetuk pintu dulu?" tanya Naya.


"Aku sudah mengetuknya sayang. Salah siapa mandi lupa mengunci pintu. Jadi jangan salahkan aku jika masuk ke kamar," ujar Richard yang tak mau disalahkan.


"Cepat ambilkan handuk, Rich! Kasihan Ele dia pasti kesal karena menunggu kita," ujar Naya.


"Baiklah," balas Richard kemudian mengambil handuk Naya.


Richard sudah berada di depan pintu kamar mandi. Ia berniat untuk masuk saat pintu kamar mandi itu terbuka.


"Buka pintunya, handuk mu ada di tanganku," ucap Richard.


"Letakan saja di gagang pintunya. Nanti akan aku ambil. Bisakah kau pergi dari depan kamar mandi?"


"Tentu," balas Richard.


Padahal kenyataannya, Richard tidak beranjak kemanapun. Ia masih berada di depan pintu, menunggu Naya keluar dan mengambil handuknya.


"Ceklek," suara pintu terbuka.


Terlihat sebuah tangan yang keluar di balik pintu yang mencari-cari sesuatu. Saat tangannya menyentuh handuk, Naya langsung menariknya. Betapa terkejutnya ia, saat pintu mulai terbuka lebar dan memperlihatkan Richard yang berdiri di depannya.


Kedua tangan Naya reflek menutup wajah Richard agar tidak bisa melihat tubuhnya yang telanjang. Sementara handuknya sudah jatuh ke lantai.


"Kau! Kenapa tidak menjauh dari pintu?" kesal Naya karena Richard tak mendengarkan permintaannya.


"Aku ingin melihatmu sayang," jawab Richard.


"Ais, kau itu kenapa mesum sekali jadi pria? Lalu bagaimana aku akan mengenakan baju hah! Jika kau masih berada disini?" Naya mengeluarkan kekesalannya pada Richard.


"Tinggal pakai baju di hadapanku. Apa susahnya?" jawab Richard singkat.


Ingin sekali rasanya Naya menendang kepala Richard supaya pikiran kotornya menghilang jauh ke lautan. Hanya saja itu tidak akan bisa terjadi. Dengan berat hati Naya berjalan keluar dari kamar mandi sambil menutup wajah Richard. Ia berjalan mendorong Richard untuk keluar dari kamar Elnan.

__ADS_1


Tidak mudah untuk mendorong Richard keluar, ia harus menerima r*masan di buah dadanya saat tangan Richard mulai mencari-cari pegangan.


"Tolong kondisikan tanganmu!" Naya marah pada Richard. Namun, ia tak bisa memukul atau membuat tangan itu terlepas dari buah dadanya karena itu akan lebih bahaya, takutnya tangannya terlepas dari wajah Richard.


"Kau tahu sayang, melakukan hal seperti ini di saat mata tertutup memberikan sensasi yang berbeda."


"Berhenti bicara!" marah Naya.


Akhirnya, setelah ia bersusah payah, Naya berhasil mengeluarkan Richard dari kamar. Ia langsung mengunci pintu kamar Elnan dan memakai pakaiannya.


Richard yang berada di luar kamar Elnan, mulai mengetuk-ngetuk pintu ingin masuk ke dalam lagi.


"Harusnya tadi aku berhasil menguasainya," gerutu Richard.


Tak lama kemudian, Naya membukakan pintu. Ia keluar dengan memakai dress berwarna biru yang panjangnya 10 cm di bawah lutut. Richard terpesona dibuatnya.


Kecantikan alami dari Naya selalu bisa membuatnya terpesona hingga tak mungkin bisa berpaling. Richard bahkan tak berkedip kala melihat penampilan Naya.


"Ayo berangkat!" ajak Naya.


"Hah? iya ayo," jawab Richard lalu meraih tangan Naya untuk ia gandeng. Mereka berdua pun turun dari kamar dan berjalan menuruni tangga.


"Nah, ini dia pasangan yang akan menikahnya. Lelah diriku menunggu hampir 30 menit," celetuk Ele sambil melihat ke arah pasangan tersebut. Melihat kedua tangan itu saling bertaut. Ele pun mendekat ke tengah-tengah Richard dan Ele meraih tangan keduanya.


Kini posisinya tangan kanan Richard di genggam oleh tangan kiri Ele, dan tangan kiri Naya pun di genggam oleh tangan kanan Ele. Richard menatap tajam sepupunya yang berulah. Keduanya ditarik Ele memasuki mobil Richard. Ia menyuruh Richard untuk mengendarai mobil di depan. Sementara Ele dan Naya akan duduk di belakang.


"Cepat jalankan mobilnya pak supir!"


Ele tak memperdulikan ucapan Richard, ia malah asik mengobrol dengan Ele. Richard pun dongkol dan hanya bisa mengikuti permintaan sepupu laknatnya itu. Dengan berat hati ia mengendarai mobil sambil mulut yang terus komat-kamit mengeluarkan kekesalannya.


Sesampainya di butik, Naya dan Richard bergantian untuk fitting baju. Richard lah yang pertama mencobanya. Sekali coba Richard langsung menyukainya jadinya ia tidak perlu repot memilih baju pengantin yang lainnya.


Kini giliran Naya yang mencoba gaun pengantin. Ele lah yang memilih gaun untuk dikenakan Naya. Naya keluar dari ruang ganti dan memperlihatkan gaun yang di cobanya.


"Jangan yang ini, punggungnya terlalu terbuka aku tidak suka," protes Richard.


Ele pun memilihkan gaun lain untuk Naya. Naya kembali ke rumah ganti dan mencobanya. Lalu ia keluar dari ruang ganti dengan senyum manisnya berharap Richard menyukai gaun yang dicobanya. Sejujurnya, Naya tidak suka memakai gaun yang desainnya ribet dan susah untuk dipakai. Untung saja, pegawai butik itu membantunya mengenakan gaun tersebut.


"Ganti! Yang ini belahan dadanya terlalu terbuka. Aku tidak ingin mainan ku dilihat orang lain!" tolak Richard untuk gaun yang kedua.


Ele mulai jengah dengan sepupunya itu. Ia pun memilihkan gaun lain yang sekiranya tidak terlalu terbuka.


"Ganti! Yang ini juga belahannya masih terlihat."


"Is, kak jangan banyak protes kenapa sih? Lagian yang ini gaunnya cantik dan elegan. Keliatan sedikit mah tidak apa-apa. Kasian Kak Naya yang bolak-balik ganti gaun," protes Ele yang sudah dongkol karena kakak sepupunya.

__ADS_1


"Hei, kau bocah! Walaupun kelihatan sedikit, aku tidak akan rela. Naya hanya milikku jadi aku yang boleh melihatnya. Cepat cari gaun yang lain!"


Naya menghela napas pasrah. Sementara Ele mencari gaun sambil menahan kekesalannya.


"Kak Naya, semoga gaun ini yang terakhir. Aku tahu Kak Naya pasti cape harus ganti-ganti gaun terus. Jika nanti Kak Richard masih menolak. Aku akan kekeh tetap memilih gaun yang ini. Laki-laki itu memang perlu digetok kepalanya sesekali."


Naya hanya mengangguk. Ia hanya ingin menjadi penengah di antara dua bom yang siap meledak di sekelilingnya.


Tak lama kemudian, Naya memperlihatkan lagi gaun yang ia kenakan. Ele speechless dengan apa yang dilihatnya. Naya begitu anggun dengan gaun yang dikenakannya itu. Sayangnya, Richard masih tidak menyukainya.


"Ganti! Tulang selangkanya kelihatan," protes Richard lagi.


"Kak Richard pilih gaun yang ini atau aku pilihkan gaun yang kedua kalau terus protes dan tidak suka dengan gaunnya!" kesal Ele.


Mendengar ucapan Ele yang akan memilih gaun kedua. Pikiran Richard langsung mengingat gaun yang memperlihatkan belahan dada Naya.


Tidak, tidak, tidak. Jangan sampai Naya mengenakan gaun itu! Aku akan mencongkel semua mata pria bajingan yang berani melihat belahan dada Naya.


Akhirnya, Richard memilih gaun yang terakhir Naya kenakan. Ele dan Naya bernapas lega.


Selesai fitting baju, mereka pergi ke toko perhiasan untuk membeli cincin pernikahan. Naya tidak mau berdebat, jadi ia serahkan pilihan cincin itu pada Richard. Setelah mendapatkan cincin yang sesuai keinginan Richard, mereka bertiga mampir ke restoran untuk makan siang terlebih dulu lalu setelahnya akan langsung pulang ke rumah.


Sesampainya di rumah, Ele menarik tangan Naya untuk memasuki rumah bersamanya, meninggalkan Richard yang masih melepaskan sabuk pengaman di mobilnya.


"Sekali setan ya tetap setan. Tidak bisa berubah jadi malaikat!"


****


Bonus baju pengantin.


Gaun pengantin yang akan dikenakan Naya.



Kemeja yang dikenakan Richard.



***


Terima kasih sudah membaca ceritaku sampai di bab ini. Semoga kalian menyukainya.


Jangan lupa berikan like dan vote nya teman-teman.


Ramaikan juga cerita ini dengan komentar-komentar kalian.

__ADS_1


Kalian bisa juga memberikan dukungan untuk yoyo dengan menonton iklan yang ada di kolom pemberian hadiah.


__ADS_2