
Di sebuah ruangan mewah yang terletak di lantai dua puluh tampak seorang gadis tengah sibuk dengan beberapa dokumen di depannya.
Ruangan yang begitu luas yang terletak di lantai paling atas gedung itu dengan dekorasi yang cukup elegan, tampak aquarium besar berada di bagian belakang gadis itu duduk menambah kesan indah di ruangan tersebut
tok tok tok
Suara pintu diketuk seketika membuyarkan keheningan di ruangan itu.
"masuk" suara dari gadis itu
"maaf nona saya datang ke sini untuk memberitahu nona bahwa sekarang sudah jam 5 sore dan jam pulang sudah terlewatkan 1 jam yang lalu nona" ucap Irfan sekertaris pribadi gadis itu
"baik kita pulang sekarang" jawab gadis itu datar
Delmira Hanziena Hanson nama gadis itu sekaligus CEO dari Aldar Corporation. Ziena masuk dalam jajaran CEO termuda, dia sudah menjabat menjadi CEO kurang lebih selama tiga tahun dan selama itu Aldar Corporation menjadi perusahaan maju dan tak tertandingi bahkan namanya masuk dalam daftar sepuluh orang terkaya di dunia.
Jika bukan karena takdir Ziena tak mungkin menjabat menjadi CEO diusianya yang sangat muda bahkan Ziena dituntut menjadi dewasa di usianya.
Saat tahun pertama Ziena menjabat menjadi CEO Irfan membimbing Ziena dan mengajarkan beberapa hal tentang berbisnis. Ziena dapat dengan mudah dan cepat menangkap hal yang diajarkan Irfan kepadanya, ya karena ia memiliki IQ di atas rata-rata.
Ziena memang anak yang cerdas beberapa masalah di perusahaan mampu Ziena atasi tak hanya di perusahaan di sekolah pun Ziena terkenal cerdas.
Dulu sebelum Ziena menjabat sebagai CEO ia sering mengikuti berbagai lomba di sekolah tetapi setelah dirinya menjabat menjadi CEO ia sudah tak mengikuti kegiatan-kegiatan maupun lomba-lomba di sekolahnya.
"nona kita sudah sampai di mansion" ucap Irfan
"iya om" jawab Ziena datar sambil berlalu meninggalkan Irfan
Usia Irfan sembilan tahun lebih tua di atas Ziena, Irfan sudah mengabdi di keluarga ini sejak masih muda. Dia dulu bertemu dengan papa Ziena saat masih kuliah dan karena kebaikan papa Ziena lah Irfan bisa melanjutkan kuliahnya yang sempat mengalami kendala dalam masalah biaya kuliah.
Untuk membalas Budinya Irfan bekerja di perusahaan papa Ziena sebagai sekretaris sekaligus kaki tangannya papa Ziena.
Melihat tuan rumahnya pulang, beberapa pelayan yang bekerja segera menyambut kedatangan Ziena termasuk bi Ani selaku kepala pelayan di mansion ini. "selamat sore nona" sapa beberapa pelayan dengan senyum cerah di bibir mereka
Ziena hanya melewati begitu saja tanpa ada keinginan untuk membalas sapaan mereka dan masih dengan wajah datarnya. Semua hanya bisa menghela nafas berat sambil menatap punggung nonanya yang menjauh.
Bukan kecewa mereka lebih merasa ke arah sedih bercampur rindu. Sudah biasa bagi mereka dengan sifat acuhnya Ziena, bahkan sudah menjadi makanan mereka selama tiga tahun ini. Mereka hanya rindu dengan sifat ceria dari nona mereka. Itu yang terlihat jelas di mata mereka.
__ADS_1
Dulu Ziena adalah anak perempuan yang ceria pada umumnya. Dia suka menjahili pelayan yang sedang bekerja, dia juga sangat manja kepada para pelayan dan sangat peduli terhadap orang-orang disekitarnya. Tapi semua itu berubah sejak tiga tahun yang lalu, sejak sesuatu kenyataan pahit harus menimpa dirinya.
Dia berjalan masuk ke dalam kamarnya, kamar dengan nuansa warna kuning khas anak gadis yang periang. Di sudut kamar tampak lemari kaca dengan berbagai macam boneka di dalamnya di samping lemari kaca terdapat rak buku yang ia isi dengan beberapa piala yang ia dapat saat memenangkan beberapa lomba di sekolah dan beberapa koleksi buku bacaan favoritnya.
Ziena menjatuhkan tubuhnya dengan kasar di atas sofa di dalam kamarnya. "pa ma, Nana rindu" **batin Ziena sambil memejamkan mata**nya
FLASHBACK ON
3 tahun yang lalu
Di sebuah ruangan IGD tengah terbaring sepasang suami istri yang baru saja mengalami kecelakaan. Mereka adalah Dedricko Hanson dan Alida Intan Hanson pengusaha kaya pemilik Aldar Corporation.
Seorang gadis sedang berlari di lorong rumah sakit dengan menggunakan dress pestanya sambil melihat ke sana ke mari mencari ruangan yang dicarinya.
"bagaimana keadaan papa mamaku om?" tanya Ziena panik, yang baru sampai di depan ruangan tersebut
"nona dokter sedang menangani papa dan mama nona" jawab Irfan
"bagaimana ini bisa terjaㅡ" ucap Ziena terpotong
Pintu IGD terbuka dokter yang menangani keluar dengan raut wajah yang mengatakan seolah sudah tak bisa apa-apa lagi.
"maaf nona saya sudah melakukan seㅡ" jawab dokter terpotong
Seolah tahu apa yang akan dokter itu katakan. "APA MAKSUDMU DOK?" Teriak Ziena
Belum sempat dokter menjawab Ziena sudah menerobos masuk ke ruangan itu. Di dalam ruangan itu terlihat dua orang yang sangat Ziena sayangi telah ditutup kain berwarna putih.
Dia berdiri mematung di depan pintu, kakinya memberat seakan enggan untuk melangkah masuk. Hatinya sangat sakit melihat kenyataan di depannya. "bi Ani " ucap Ziena lirih dengan air mata yang terus mengalir
bi Ani langsung memeluk Ziena. "non Nana harus kuat di sini ada bi Ani" ucap bi Ani seolah tahu apa yang akan Ziena katakan
"bi Ani ini mimpikan? katakan kalau ini hanya mimpi bi?" tanya Ziena dengan tatapan mata yang masih fokus menatap ke arah kain putih yang menutupi kedua orang tuanya
bi Ani hanya diam dan memeluk Ziena dengan erat. Ziena berbalik menatap Irfan seolah mencari kebenaran. "om Irfan" ucap Ziena yang sudah berbalik menatap Irfan
Irfan hanya diam sama seperti yang lainnya, mereka bisa merasakan kesedihan yang dirasakan Ziena saat ini. Pasti berat bagi gadis seperti Ziena untuk menerima kenyataan ini.
__ADS_1
Dengan kaki gemetar Ziena berjalan mendekati kedua orang tuanya, perlahan-lahan ia menarik kain putih yang menutupi wajah kedua orang tuanya itu, tampak wajah pucat sedang menutup mata.
Seketika tubuh Ziena ambruk terjatuh di lantai tatapannya kosong entah sedang menerawang apa.
"seharusnya hari ini menjadi hari ulang tahunku yang menyenangkan, kita akan makan kue bersama, meniup lilin ulang tahun, bernyanyi lagu selamat ulang tahun untukku tapi kenapa semua malah begini?"
"kenapa kalian sangat jahat, kenapa memberikan aku kado yang sangat menyakitkan seperti ini"
"KENAPA KENAPA KENAPA" teriak Ziena sejadi-jadinya dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya
FLASHBACK OFF
Ziena terbangun dari tidurnya. "astaghfirullah" ucap Ziena yang tersadar dari mimpinya
Ia kemudian berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, setelah selesai mandi dan sholat ia kemudian menuju meja makan untuk makan malam.
"buatkan aku sup dan susu hangat" perintahnya kepada salah satu pelayan yang ada di dapur
"baik nona" jawab si pelayan
Setelah selesai makan malam Ziena menuju ruang kerjanya. Ruangan kerja Ziena bersebelahan dengan ruang kerja milik papanya dan kamar kedua orang tuanya.
Meskipun bersebelahan Ziena tak pernah masuk ke dalam ruangan papanya maupun kamar kedua orang tuanya Hatinya belum kuat untuk melihat kenangan-kenangan di dalamnya, hanya pelayan saja yang masuk ke dalam untuk membersihkan.
Di dalam ruangannya Ziena mengerjakan beberapa tugas kantor yang belum selesai dan menghabiskan waktunya untuk menggambar, jika pagi dia menghabiskan waktunya untuk mengurusi masalah kantor maka saat malam Ziena akan menyempatkan waktunya untuk menggambar, karena itu memang hobinya untuk menghilangkan bosan.
Setiap malam bi Ani selalu memastikan semua pintu mansion sudah di tutup dan saat melewati ruangan Ziena bi Ani melihat pintu sedikit terbuka. "nona" sapa bi Ani yang berada di depan pintu
"iya" jawab Ziena tanpa menatap bi Ani
"nona sedang apa?" tanya bi Ani
"sedang menggambar" jawab Ziena yang masih fokus dengan iPad di depannya
"nona ini sudah malam sebaiknya nona segera istirahat" ucap bi Ani
"sebentar lagi bi" jawab Ziena
__ADS_1
"baiklah nona kalau begitu bibi keluar dulu" jawab bi Ani sembari berjalan keluar
Setelah bi Ani menutup pintu Ziena melirik jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam yang artinya sudah saatnya ia beristirahat. Ia mematikan iPad miliknya dan kembali menuju kamarnya.