
Lima hari sudah Dylan pulang dan menjalankan aktivitasnya seperti biasa. Mulai dari berangkat kerja pagi-pagi sekali dan pulang hampir tengah malam membuat orang yang melihatnya menjadi merasa aneh terutama Ziena. Ia merasakan dampak dari perubahan sikap suaminya.
Ziena bukanlah wanita yang bodoh, ia tahu betul bahwa perubahan sikap suaminya itu didasari karena kehadiran dirinya. "Bu Inah apa suami saya sudah berangkat kerja? tanya Ziena yang baru sampai di meja makan
Bu Inah hanya bisa menganggukkan kepalanya. "iya nona"
Ziena menghela nafasnya dengan wajah sedih. "kalau begitu saya berangkat dulu Bu" pamit Ziena
"nona tidak sarapan dulu" ucap Bu Inah
Ziena menggelengkan kepalanya. "gak Bu saya sudah telat, nanti saya pulangnya sore jadi Bu Inah gak perlu siapkan makan siang untuk saya" ucapnya sebelum akhirnya berlalu pergi
Setelah kepergian Ziena bu Inah langsung mengirim pesan ke Alex. Ia memberitahukan bahwa Ziena sudah berangkat dan dia juga menolak untuk sarapan terlebih dahulu. Setelah mengirim pesan itu Bu Inah langsung melanjutkan pekerjaannya.
Masalah yang Dylan alami juga berimbas pada Alex. Sebagai sekretaris pribadinya Alex menjadi ikut mengurusi rumah tangga bosnya. Setelah pulang dari Moskow Dylan memang menyuruh Bu Inah melaporkan setiap kegiatan Ziena di rumah tapi melalui Alex sekretarisnya.
Jika waktu di Moskow Dylan langsung yang menerima pesan dari Bu Inah berbeda lagi setelah kepulangannya. Ia menyuruh Alex sebagai perantara Bu Inah melaporkan segala aktivitas Ziena kepadanya. Dan sebagai seorang sekretaris kepercayaan sekaligus sahabatnya Dylan, Alex hanya bisa mengiyakan setiap perintah Dylan
Alex yang baru saja sampai di ruangannya lantas membuka handphonenya saat mendengar ada notifikasi pesan masuk. "lagi-lagi nona gak sarapan, lagi-lagi gue juga yang ikut mengurusi hubungan rumah tangga mereka" batin Alex sambil menghela nafasnya
Ia langsung bangkit dari duduknya dan bergegas menemui Dylan. Saat tiba di sana ia malah melihat kemesraan antara Dylan dan Mela di pagi hari begini. "astaga si Dylan istri di rumah di biarin eh di sini malah enak-enakan mesra-mesraan sama wanita lain sedangkan gue di suruh mengurusi rumah tangganya, dasar bajingan Lo Lan" batin Alex sambil mengumpat
Alex kemudian berdehem membuat kedua orang di depannya menoleh ke arahnya. "kalau mau masuk itu ketuk pintu dulu" sindir Mela
"udah gue ketuk-ketuk pintunya tapi gak ada jawaban, gue kira cuman ada Dylan aja di dalam eh gak taunya ada Lo juga" balas Alex
"ada apa Lo jam segini udah masuk ke ruangan gue?" tanya Dylan
"ada urusan penting yang harus gue sampaikan ke Lo" jawab Alex sambil melirik ke arah Mela seolah-olah memberi isyarat kode untuk Dylan menyuruh Mela pergi dari ruangan ini
Dylan yang paham dengan kode yang Alex berikan kemudian menoleh ke arah Mela. "kamu pulang sekarang Mel" perintah Dylan
"T-tapi"
__ADS_1
"pulang sekarang Mel, nanti sore aku temui kamu lagi"
Mela akhirnya mengangguk meski di dalam hatinya ia merasa sebal. Pagi tadi ia baru sampai di bandara dan langsung pergi ke kantor Dylan secara khusus tapi baru beberapa menit tiba-tiba Alex masuk dan membuatnya harus kembali pulang.
Setelah memastikan Mela benar-benar pergi Alex baru menjelaskan maksudnya pagi-pagi ke ruangan Dylan. "gue cuman mau lapor aja kalau nona hari ini gak sarapan lagi dan katanya Bu Inah tadi nona bakal pulang sore"
Dylan menghela nafas. "oke"
"Lex apa Lo tau orang yang pernah gue pekerjaan untuk mengikuti Ziena?"
Alex mengangguk. "tolong Lo suruh mereka untuk berhenti mengikuti Ziena lagi" perintah Dylan
"kenapa Lo tiba-tiba berubah pikiran begini Lan?" tanya Alex
"tolong Lo beritahu mereka" jawab Dylan tanpa mau menjawab pertanyaan Alex
mendengar jawaban Dylan yang seolah-olah tidak mau memberitahukan alasannya membuat Alex juga tidak mau memaksakan sahabat ini untuk selalu jujur kepadanya. Ia berpikir Dylan memang perlu menyelesaikan masalahnya sendiri dan dia hanya perlu membantu memberi masukan saja. "oke Lan"
"oh iya Lex setelah ini tolong Lo bawakan laporan yang kemarin" ucap Dylan
Setelah jam mata kuliah terakhirnya berakhir Ziena langsung bergegas untuk pergi. "zie kamu langsung pulang?" tanya Dea
Beberapa hari ini Dea merasa Ziena selalu bergegas untuk pergi setelah jam kuliah habis. Mereka jadi jarang berkumpul bersama padahal mereka sekelas. "iya De" jawab Ziena sambil mengangguk
"kamu gak mau ikut gabung ke kantin"
"maaf De beberapa hari ini aku lagi banyak urusan"
"ya udah gak apa-apa zie, sebenarnya banyak banget yang mau aku ceritain salah satunya tentang kakak tingkat dan temen sekelas kita" jelas Dea dengan sedikit kecewa
mendengar ucapan Dea membuat Ziena merasa tidak enak karena hampir setiap hari ia langsung bergegas pulang setelah jam kuliah habis. Tapi urusan dia juga sangat penting karena menyangkut banyak orang.
Tanggung jawab Ziena lebih besar dan berat dari pada teman-teman sebayanya. Jika teman-temannya setelah pulang kuliah bisa pergi bersama-sama tidak dengan dia karena banyak orang bergantung pada perusahaan miliknya. Apalagi beberapa hari ini ia sedang membahas proyek besar jadi ia harus bekerja ekstra keras lagi.
__ADS_1
Mungkin bisa diartikan jika setiap waktu yang Ziena miliki sangatlah berharga. Makanya Ziena sangatlah memanajemen waktunya sebaik mungkin. "aku benar-benar minta maaf, aku gak bisa ikut gabung tapi besok-besok aku usahakan untuk bisa ikut" jawab Ziena
Dea juga bukanlah teman yang egois. Ia juga tahu kesibukan Ziena dan dia juga memakluminya. "iya udah zie gak apa-apa, tapi lain kali ikut ya" jawab Dea
Setelah itu mereka berdua keluar dari kelas bersamaan dan kemudian berpisah di dekat musala. "aku duluan ya De" ucap Ziena sebelum akhirnya mereka berpisah
Saat berjalan keluar kampus tidak sengaja seseorang menabrak Ziena dari samping. Ziena yang kaget langsung terjatuh. "aww" jerit Ziena sambil memegangi sikunya yang sedikit terluka
Orang yang menabrak Ziena tadi langsung menoleh dan membantu Ziena untuk bangun. "maaf banget tadi aku gak sengaja" ucapnya meminta maaf
"iya gak apa-apa"
"Ziena" ucap orang yang menabrak Ziena
"Riski" ucap Ziena setelah menatap wajah orang yang menabraknya
Riski adalah salah satu teman sekelasnya, meski mereka jarang berinteraksi namun mereka sudah cukup mengenal satu sama lain. "ya ampun sorry banget Zie aku tadi benar-benar gak sengaja nabrak kamu soalnya aku lagi buru-buru banget" jelas Riski
"iya gak apa-apa Ki tapi lain kali jangan kayak gini lagi ya" jawab Ziena
Riski mengangguk sambil sedikit tertawa menanggapi ucapan Ziena. "terus luka kamu itu gimana? mau aku obatin dulu" tawar Riski
Ziena menggelengkan kepalanya. "gak usah nanti aku obatin sendiri aja"
Riski kemudian teringat sesuatu dan dia langsung membuka tasnya mencari sesuatu. "ini zie plester buat luka kamu" ucap Riski sambil memberikan plester itu ke Ziena
"makasih" jawab Ziena sambil menerima plester itu
Kemudian Ziena hendak memasang plester itu ke siku tangannya namun ia agak sedikit kesulitan dan Riski yang melihatnya pun langsung mengambil alih plester itu dari tangan Ziena dan membantunya memasangkan ke lukanya. "udah beres" ucap Riski setelah selesai memasangkan plester itu ke siku Ziena
"makasih Ki"
"sama-sama"
__ADS_1
"oh iya mau aku anterin pulang sekalian sebagai tanda minta maaf aku karena sudah tidak sengaja menabrak kamu dan membuat siku tangan kamu terluka" tawar Riski dengan tertawa di akhir kalimatnya namun ia benar-benar menawarkan tumpangan untuk Ziena
Ziena menggelengkan kepalanya sambil tersenyum menanggapi tawaran Riski. "tidak usah Ki sebentar lagi jemputan aku juga bakal datang" jawab Ziena dan benar saja setelah itu sopir yang menjemputnya baru tiba