Pesta Di Masa Depan

Pesta Di Masa Depan
BAB 66


__ADS_3

Suara mobil memasuki area rumah terdengar ditelinga ketiga orang ini. Selang beberapa waktu kemudian Dylan masuk ke dalam. Ia sudah tahu jika kedua orang tuanya datang karena melihat mobil milik papanya terparkir rapi di depan rumah. "assalamualaikum" salam Dylan


"waalaikumsalam" jawab mereka serempak


"ada acara apa mama sama papa datang ke mari?" tanya Dylan


"mau bertemu dengan menantu mama, kamu sendiri kenapa baru pulang?" jawab mama Ana sedikit sewot karena pertanyaan yang anaknya ajukan


"aku lagi banyak kerjaan ma" jawab Dylan


"mas Dylan lebih baik mandi dulu deh, habis itu kita makan malam bersama" perintah Ziena


Dylan berlalu pergi menuju kamar miliknya sedangkan ketiga orang ini menunggu di ruang makan sambil berbincang-bincang ringan. "anak mama memperlakukan kamu dengan baik atau tidak?" tanya mama Ana dengan nada bicara sedikit pelan


"baik ma" jawab Ziena


"jika ada apa-apa kamu boleh kok cerita sama mama atau sama papa" balas mama Ana


"jadikan kami sebagai orang tuamu nak, jangan hanya anggap kami sebagai mertuamu saja" sahut papa Juna

__ADS_1


"baik pa" jawab Ziena dengan senyumannya


Tak lama kemudian Dylan ikut bergabung menikmati makan malam yang sudah Ziena masak. "ada yang mau mama sama papa bicarakan sama kalian" ucap mama Ana setelah menghabiskan makan malamnya


"ada apa ma?" tanya Ziena yang ikut menyudahi makan malamnya


"mama dan papa sudah menyiapkan tiket bulan madu buat kalian, anggap saja ini hadiah pernikahan dari kami" ucap mama Ana


"bulan madu?" tanya Ziena heran


"iya nak, kami sudah menyiapkan semuanya dan kalian tinggal berangkat besok pagi ke Belanda" jelas mama Ana


"kayaknya gak usah deh ma, mas Dylan juga lagi sibuk-sibuknya ditambah lagi aku juga harus mempersiapkan diri sebagai mahasiswa baru" tolak Ziena dengan lembut


Ziena tadi menolak bulan madu ini karena pikirannya Dylan akan menolak makanya ia menolak terlebih dahulu sebelum suaminya. Tapi ucapan Dylan benar-benar membuat ketiga orang ini terkejut campur senang, apa lagi mama Ana terlihat sangat senang saat anaknya sendiri mengiyakan hadiah yang ia siapkan.


Ada juga yang membuat mama Ana dan papa Juna terkejut yaitu saat yang menolak hadiah ini adalah Ziena bukannya Dylan. Sebelum berangkat ke sini kedua orang tua ini sudah membayangkan penolakan yang akan anaknya ucapkan tapi siapa sangka malah anaknya sendiri yang menyetujui. "ok karena kalian sudah setuju mama sama papa habis ini mau pulang" ucap mama Ana


"na habis ini ikut papa ke taman samping ya, ada yang mau papa bicarakan" ucap papa Juna pada Ziena

__ADS_1


"iya pa" balas Ziena


Sekarang papa Juna dan Ziena sudah duduk di taman. Mereka meninggalkan mama Ana dan Dylan di dalam. "na apa Dylan berlaku tidak baik sama kamu?" tanya papa Juna


"mas Dylan berlaku baik denganku pa" jawab Ziena


"papa tau Dylan berlaku baik denganmu, tapi yang papa maksud apa Dylan berlaku baik dengan hatimu?" jelas papa Juna


Ziena lebih memilih diam dan enggan untuk mengatakan yang sejujurnya. "papa tau Dylan anak papa masih berhubungan dengan kekasihnya, papa juga tau bagaimana perasaanmu nak, pasti kamu merasa sakit hati ketika melihat suamimu masih menjalin hubungan dengan kekasihnya" lanjut papa Juna saat melihat respon yang Ziena berikan


"sakit hati itu pasti ada pa tapi papa gak perlu khawatir, saat Nana memilih menikah dengan mas Dylan maka Nana harus siap menerima konsekuensinya bukan?" jawab Ziena


papa Juna mengangguk. "jangan sungkan-sungkan bicara sama papa kalau ada masalah" balas papa Juna


"iya pa"


"oh iya apa kamu sudah bicara jujur tentang siapa kamu na?" tanya laki-laki paruh baya ini


"belum pa, tapi mas Dylan sepertinya sedang mencari tahu" jawab Ziena

__ADS_1


"mungkin kamu punya alasan tersendiri kenapa kamu belum mau membuka identitas dirimu, tapi saran papa segeralah bicarakan ini ke suamimu karena lebih baik mendengar langsung dari mulut orang itu dari pada mendengar dari orang lain" tutur papa Juna


"iya pa, terima kasih sudah mengingatkan Nana" ucap Ziena


__ADS_2